Selasa, 30 Agustus 2011

PENGORBANAN CINTA (Cerpen by Fara"dilla"(dilla) nuraga)

Oik’s POV.
Hai, kenalin. Aku Oik Cahya Ramadlani. Aku seorang gadis biasa. Kini aku sedang menyukai seorang lelaki yang sangat sangat tampan. Namun ia seorang playboy. Ya, meskipun begitu, aku tetap menyukainya. Sampai kapanpun.
>>>
Ketika aku melewati taman belakang sekolah..tiba-tiba langkahku berhenti karena mendengar seseorang mengatakan sesuatu yang begitu menyakitkan hati...
“Gue cinta sama lo vi....”
Nyuuuuuuuuuuuut.... Aku melihatnya... dia sedang berdua bersama orang lain... hatiku hancur berkeping-keping... salahkah aku terlalu mencintainya?
“Gue juga cinta sama lo cakka...”
Oh Tuhaaaann...lagi-lagi hatiku terasa remuk... bagaikan belati yang menusuk hatiku...menyayatnya tanpa henti...
tanpa ku sadari, perutku tiba-tiba sakit dan kepalaku mulai terasa pening. Beberapa saat kemudian, aku terjatuh tak jauh dari mereka berada...
“Bruukk....”
                Tak lama kemudian, samar-samar aku melihat 2 insan yang tak asing bagiku....dia orang yang kucintai dan orang yang dicintainya....namun setelah itu mataku terasa berat dan semua berubah menjadi gelap.....
>>>
                Ketika kubuka mataku, bayangan yang pertama kali kulihat adalah...Sivia...sahabatku, dan juga seseorang yang menghianatiku....
“Lo nggak papa ik?” tanya Sivia khawatir. Aku menatapnya dengan tatapan super tajam. Dengan sekuat tenaga, aku mengungkapkan kekesalanku padanya.
“Puas lo udah bikin gue menderita? Lo bilang, lo bakal bantuin gue buat ngedapetin Cakka, tapi apa? lo malah jadian kan sama dia? Hati gue sakit vi...” emosiku benar-benar memuncak. Tak peduli aku ada dimana.
“Oh, jadi lo nggak terima gue pacaran sama cakka? setelah gue pikir-pikir, nggak ada untungnya juga gue bantuin lo buat dapetin cakka, toh cakka juga lebih suka gue, dia nggak suka cewek cupu kayak lo! Yang cuma modal kepinteran doang!” balas Sivia yang membuatku tercengang. Teganya dia melakukannya padaku. Ya, aku memang tak secantik dia, aku memang tak semodis dia, tapi aku...hmm...yah, aku hanya seorang gadis yang tak patut untuk mendapatkan seseorang yang menyayangiku...
“Oke, kalo gitu, mulai sekarang kita nggak ada hubungan apapun!” ucapku lalu beranjak dari ranjang tempat tidur. Aku baru menyadari bahwa aku ada di UKS sekolah.
                Dengan langkah gontai aku berjalan menuju kelas 12 Ipa 3, kelasku. Rupanya ini masih jam istirahat. Syukurlah aku tak sadarkan diri hanya sebentar. Ketika aku memasuki kelas, tak sengaja aku berpapasan dengan Cakka, dia memang teman sekelasku, tetapi Sivia tak sekelas denganku.
“Loh? Oik? Udah nggak papa?” tanya Cakka sedikit khawatir. Aku hanya tersenyum tipis padanya. Kemudian melanjutkan perjalananku menuju kursiku. Ku lihat Cakka telah menghilang. Mungkin ia pergi mencari sivia. Ah...sudahlah...
 “Hei ik...gue lihat tadi di UKS, lo bertengkar sama sivia?” tiba-tiba seseorang menghampiriku. Aku menoleh ke sumber suara, ternyata Ify...teman sebangkuku yang sangat baik... ramah dan peduli sesama...
“hn...ya begitulah...” jawabku sekenanya. Kemudian ify duduk di sampingku.
“sabar ya ik...gue tahu kok...lo pasti nggak terima kan cakka itu pacaran sama sivia?” tanya Ify sedikit pelan. Aku mengangguk lesu.
“Ya udahlah ik...lagian kan cuma cakka ini... dia kan playboy...ngapain disukai...kok bisa sih cewek pinter kayak lo suka sama cakka?” heran Ify. Aku hanya cengengesan. Memang benar aneh. Aku sendiri tak tahu mengapa bisa menyukai cakka begitu saja, namun cakka tak pernah mengetahui bahwa aku menyukainya....padahal dulu aku sangat membencinya karena satu hal, yah...karena dia playboy...sudah banyak mantannya di sekolah ini maupun di sekolah lain...
“hn....gue nggak tahu fy...yang jelas gue ngerasa sakit kalo lihat dia sama cewek lain....” ucapku sejujurnya. Ify menghela nafasnya.
“Gue sih cuma nyaranin aja...lo mending sama Ray kek yang sama-sama pinter, atau sama Alvin tuh yang jago banget kimianya...nggak pantes banget lo sama cakka...” ucap Ify yang membuatku tertawa kecil.
“Nggak pantes ya? Gue nggak cantik sih memang...” ucapku lesu.
“He? Bukan itu yang gue maksud...cakka itu kan nggak pinter-pinter amat ik...paling dia cuma jago main basket, udah kan cuma itu kelebihannya...” cerocos Ify.
“Teeeeeeet...teeeeeet...teeeeeeeeet.....” bel masuk menghentikan perbincanganku dengan Ify. Tak lama kemudian beberapa temanku yang lain mulai memasuki kelas.
>>>
                Sepulang sekolah, seperti biasa aku menunggu bus di halte untuk pulang ke rumah. Aku merasa ada makhluk lain selain diriku, akupun melirik ke samping kananku.
“cakka...” lirihku ketika aku melihatnya berada di sampingku. Sepertinya dia juga sedang menunggu bus.
“Iya?” sahut cakka sambil menoleh ke arahku. Aku menelan ludah. Tatapannya begitu dalam.
“eh nggak kok...ehm, lo nunggu bus?” tanyaku gugup. Cakka mengangguk.
“nggak biasanya...perasaan lo selalu pake motor CBR lo itu, emang dia kemana?” tanyaku. Cakka tertawa pelan.
“lagi di bengkel, makanya gue naik bus..” jawab cakka sambil tersenyum. Ah manisnya!
 “Eh, itu busnya...” celetuk cakka kemudian. Aku pun tersadar dan segera menaiki bus yang sudah berhenti di depanku dan cakka. Kami berdua pun masuk ke bus tersebut dan sejurus kemudian, bus melesat ke arah barat.
                Aku dan cakka berdiri karena tak ada tempat duduk yang kosong. Kami berdiri beriringan sambil berpegangan pada gantungan besi.
“Cakka, lo baru jadian sama Sivia ya?” tanyaku hati-hati. Cakka tersenyum lalu mengangguk. Ah betapa sakitnya hatiku!
“selamat ya...” ucapku tak niat. Heuh...annoyed!
“Iya, makasih...” jawabnya dengan senyum mengembang. Aku hanya membalas senyumnya sedikit tak ikhlas.
                Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Ah, hujan membuatku pusing! Oh Tuhan mengapa kau turunkan hujan? ;(
“Ik, lo kenapa? Masih sakit ya?” tanya cakka sambil menatapku. Aku melepas peganganku dan memeluk tubuhku sendiri. Rasanya aku tak kuat melihat air hujan yang begitu deras. Aku benci...aku benci hujan!! Aku menundukkan kepalaku dalam-dalam sambil terus memeluk tubuhku.
“Lo kedinginan ik? duh gue nggak bawa jaket lagi....” kata cakka yang nampak khawatir. tiba-tiba dia menarik tanganku dan membuatku berdiri berhadapan dengannya. Mata kami pun saling bertemu. Sepertinya phobia hujanku hilang dengan menatap mata cakka yang begitu lembut. Kemudian cakka merengkuh tubuhku dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya masih berpegangan pada gantungan besi.
Deg...deg....deg....
Oh Tuhaaan...jantungku seperti mau copot!! Aku dapat mendengar degub jantung cakka. ah begitu hangatnya pelukan cakka. Saking nyamannya, aku sampai memejamkan mataku.
“Sebenarnya lo kenapa ik?” tanya cakka tiba-tiba. Aku pun segera membuka mataku dan ternyata cakka sedang menatapku. Aku pun membalas menatapnya.
“aku, phobia  hujan...” jawabku malu-malu.
“Oh, jadi phobia hujan...pantes waktu sebelum hujan lo nggak papa tapi waktu udah hujan lo kayak kedinginan plus ketakutan gitu...” kata cakka, “hm...nggak papa kan gue peluk lo gini? Daripada lo ketakutan gitu...gue nggak tega ngelihatnya...” lanjutnya.
“ng...ng..nggak papa kok kka, makasih ya...” ucapku gugup. Cakka hanya tersenyum dan mengangguk.
“Ya udah, kalo mau tidur, tidur aja...ini masih hujan...gue tahu rumah lo kok...ntar gue pasti bangunin lo kalo udah nyampe...lagian masih lama...” kata cakka.
“hm...” gumamku lalu memejamkan mataku. Tak berapa lama, aku pun terlelap dalam pelukan cakka.
>>>
Ketika aku bangun, ternyata aku sudah berada di dalam kamarku, he?? Kamar?
“huaaam...” aku menguap lebar-lebar dan memperhatikan seluruh ruangan. Ternyata benar ini kamarku. Tapi siapa yang membawaku ke kamar? Bukannya tadi aku...ah iya! Aku tadi tertidur di pelukan cakka, dan hah? Cakka? membawaku pulang ke rumah? Ah baiknya dia!! :D
“eh udah bangun ya sayang...” ucap seseorang sembari masuk ke dalam kamarku. Itu mama...:)
“iya ma, mm..ma, tadi yang bawa aku ke rumah siapa?” tanyaku. Mama tersenyum dan duduk di sampingku. Aku pun mengubah posisiku menjadi duduk.
“Temen sekelas kamu, kalo nggak salah namanya cak..cakka..iya cakka...” jawab mama. Aku pun tersenyum.
“Serius ma?” tanyaku tak percaya. Mama mengangguk mantap. Aku pun tersenyum lebar. Ternyata cakka sangat baik. Ehm..tunggu, atau cakka sudah mulai menyukaiku? Ah jangan kegeeran dulu! Cakka itu kan playboy, dia mungkin biasa memperlakukan semua cewek seperti itu...
>>>
                Hari demi hari berlalu. Semenjak kejadian itu, aku dan cakka menjadi dekat. Dan itu semua tanpa sepengetahuan Sivia yang notabenenya pacar cakka. Ternyata cakka sangat asik untuk diajak mengobrol. Setiap hari, cakka pergi ke rumahku untuk berlajar bersama. Karena di rumahku sepi, aku bisa berduaan dengan cakka sampai sore hari karena mama pulang pukul 5 sore. Aku takut ketahuan mama, hehe...jangan tanyakan keberadaan papaku, ia mungkin sudah tenang di alam sana...:)
                Ketika itu aku dan cakka telah selesai mengerjakan tugas bersama. Tiba-tiba cakka mengajakku untuk pergi ke kolam renang. Aku pun menurutinya. Kemudian aku dan cakka duduk di tepi kolam renang. Lalu ia mencelupkan setengah kakinya ke dalam kolam renang.
“lo suka berenang ik?” tanya cakka. Aku menggeleng.
“nggak, gue nggak begitu suka air...” jawabku.
“terus yang biasa berenang di sini siapa?” tanya cakka sambil menatapku.
“hmm...paling saudara kalo lagi main di sini...hehe...” jawabku dengan tampang innocent.
“jiahaha...” cakka hanya tertawa. Hening sejenak.......
“bosen...main basket yuk?” ajak cakka kemudian. Aku pun mengangguk setuju. Lalu kami pergi ke lapangan basket yang ada di samping rumahku. Cakka mengambil bola basketnya yang ada di tepi lapangan dan melemparnya padaku. Aku pun menangkapnya dengan sigap.
“ayo, 1 on 1...!” seru cakka. aku mengangguk.
“ayo siapa takut!” balasku. Kemudian aku mulai mendrible bola basket yang aku pegang menuju ring lawan. Cakka mencoba menghalangiku namun aku lebih gesit dan shoot! Masuk!!
“Yeaaay! Masuk!!” seruku senang. Ku lihat Cakka tersenyum.
“Wow jago juga lo! Ayo lanjut!” seru cakka.
Kami berdua pun bermain basket dengan semangat. Cakka memang benar-benar jago. Aku sampai tersihir dengan kekerenannya dalam bermain basket. Kecolongan bro!!
Setelah lelah bermain basket, aku memutuskan untuk duduk di tepi lapangan, namun cakka menahannya.
“apa kka? Gue mau duduk, capek...” ucapku. Cakka tersenyum tipis.
 “duduk di sana yuk,” ajak cakka sambil menarik tanganku.
Akupun mengikuti cakka berjalan. Kemudian Cakka menyuruhku duduk sila di tepi lapangan paling pojok lalu cakka juga duduk sila di hadapanku.
“Hari ini cerah banget ya...” kata Cakka. aku mengangguk setuju.
“Iya, banget malah... udaranya juga nggak terlalu panas,” tambahku.
“eh kok mama gak pulang-pulang ya? Udah jam 5 deh perasaan...” kataku.
“Ik, gue mau tanya dong,” kata cakka tak menggubris perkataanku.
“tanya apa?” tanyaku penasaran.
“Lo nggak pernah pacaran ya?” tanya cakka. aku tertawa kecil.
“Nggak..karena  gue nggak tahu pacaran itu sebenernya apaan...” jawabku polos.
“Lo mau tahu pacaran itu apa?” tanya cakka lagi. Aku berpikir sejenak kemudian mengangguk.
“serius?” tanya cakka memastikan. Aku lagi-lagi mengangguk. Tiba-tiba cakka menarik tanganku, kemudian menatapku lekat. Lalu dia mulai mendekatiku sambil memiringkan kepalanya ke arah kiri dan memejamkan matanya ....... eh dia mau ngapain?
“Cakka....”
Cup!
                Seketika mataku membulat! Aku terkejut! Sumpah! Dia...memberikanku sebuah kiss??
Aaaaaaaaaaahhhhhh mamaaaaaaa.... Cakka menggenggam tangan kiriku dan tangan kanannya mulai terjulur ke arah kepalaku kemudian menekan sedikit kepalaku ke arahnya. Ah, aku tak bisa berontak!! 
Ya Tuhan Cakka menciumku dengan lembut dan penuh perasaan. Aku menjadi semakin terjatuh ke dalam suasana. Tangan cakka begitu lembut. Apalagi bibir Cakka...aaaah mamaaaaa....!!!!
1 detik...
2 detik...
3 detik...
4 detik...
5 detik...
6 detik...
7 detik...
8 detik...
9 detik...
10 detik...
Cakka pun melepas bibirnya dan tersenyum manis padaku. Aku pun membalas senyumannya.
“Gimana? Lo udah tahu kan yang namanya pacaran itu apa?” tanya cakka. Aku hanya cengo.
“Oik...Gue cinta sama lo....” ucap cakka kemudian.
“hah?? Maksudnya? Sivia gimana?” tanyaku beruntun. Namun Cakka malah tersenyum.
“Biarin aja lah...Lagian gue nggak suka-suka banget sama dia...Gue juga bentar lagi putus kok...” kata Cakka enteng.“Lo mau kan jadi pacar gue?” sambungnya. Aku berpikir sejenak.
“Iya gue mau....” jawabku akhirnya. Kemudian Cakka mengambil sebuah kotak kecil lalu dibukanya kotak itu. Ternyata berisikan sebuah cincin emas putih yang sangat bagus. Ah indahnya!
“Ini sebagai tanda bahwa lo adalah milik gue...” kata cakka kemudian memakaikan cincin itu di jari manis tangan kiriku. Aku melihat cincin itu sambil tersenyum.
“Terima kasih cakka...” ucapku senang.
“Iyaa sama-sama...” sahut cakka.
                Oh tidaaaak! Aku dan Cakka kini telah berpacaran! Bagaimana kata Sivia nanti kalau dia mengetahuinya? Ah biarin...dulu juga dia udah ngecewain aku...:P
                Tiba-tiba aku merasa perutku sakit. Entah mengapa rasa sakit itu semakin lama semakin menjadi.
‘”Arrrgggh...aduh, sakit...” rintihku sambil memegangi perutku.
“Lo kenapa ik? sakit? Ik?” cakka tampak sangat khawatir. Aku sudah tak tahan dengan rasa sakitnya. Dan kepalaku mulai terasa pening. Aauhh...kenapa ini? beberapa saat kemudian, ku lihat perlahan cahaya mulai meredup dan akhirnya menjadi gelap.
>>>>>
                Ketika aku bangun, orang yang pertama kali ku lihat adalah cakka. dia ada di sampingku sambil menggenggam jemari tanganku dengan erat.
“Oik, lo udah sadar?” tanya cakka khawatir. Aku tersenyum tipis.
“Iya, daritadi ya gue pingsan?”
“Iya ik, 1 jam yang lalu...” jawab cakka.
“sebenarnya gue kenapa kka?” tanyaku. Cakka terdiam sejenak.
“ik, pokoknya lo harus kuat ya...Gue akan bantu lo biar sembuh...” kata cakka yang aku sendiri tak mengerti maksudnya. Apa aku mempunyai penyakit?
“Maksud  lo apa kka? Gue punya penyakit serius?” tanyaku yang sudah berkaca-kaca. Terlihat cakka menahan air mata.
“I..iya ik, tapi tenang, lo akan sembuh kok...” kata cakka yang membuatku semakin takut. Aku? Terkena penyakit serius? Apa?
“Apa penyakit gue kka?” tanyaku sambil menahan tangis. Cakka menggigit bibir bawahnya.
“Gagal ginjal...” jawabnya yang membuatku tercengang.
“Gagal ginjal?” tanyaku sekali lagi. Kurasakan tubuhku lemas, tak berdaya.
“Iya, tapi gue akan coba bantu lo ik...” kata cakka berusaha meyakinkan. Aku memejamkan mataku berharap ini hanya mimpi. Namun ternyata ini adalah suatu kenyataan. Bukan mimpi!
>>>>>
                Sudah berhari-hari aku berada di rumah sakit. Setiap hari cakka datang menjengukku. Teman-temanku juga banyak yang menjengukku, kecuali Sivia. Mungkin ia memang sudah benar-benar tak peduli padaku. Ku dengar Cakka juga sudah memutuskan hubungannya dengan Sivia. Suatu ketika, aku mendengar percakapan dokter dan mama. Kata dokter umurku sudah tak lama lagi bila aku tak dapat pendonor ginjal. Aku semakin ketar-ketir. Aku akan mati? Meninggalkan dunia ini? meninggalkan semuanya termasuk cakka? Tuhan...jangan panggil aku dulu...:(
                Sore ini Cakka datang menjengukku lagi. Merasa jenuh memikirkan gagal ginjal yang kuderita, aku pun mengajak cakka untuk pergi ke taman rumah sakit dengan menggunakan kursi roda. Tentu saja cakka yang mendorongnya. Sesampainya di taman, cakka berhenti mendorong kursi roda dan memandangi taman yang lumayan indah ini. sedangkan pikiranku masih melayang ke arah gagal ginjalku ini.
“Cakka...apa lo nggak putus sama gue aja dan lo bisa nyari pengganti gue yang nggak penyakitan?” tanyaku ngawur. Cakka menatapku lekat.
“Buat apa gue nyari pengganti lo sementara gue cuma cinta sama lo?” cakka bertanya balik. Aku menghela nafas.
“Mau sampai kapan lo jadi pacar gue? Kalo dalam waktu dekat gue nggak dapat pendonor ginjal, gue bakal mati dan ninggalin lo...” ucapku sambil menatap cincin yang cakka berikan. Kemudian cakka berjongkok di hadapanku dan menggenggam tanganku erat.
“Asal lo tahu, selama ini gue jadi playboy bukan karena gue suka mainin perasaan cewek, gue cuma pengen ngebedain lo sama cewek lain...ternyata lo memang bener-bener beda, lo itu istimewa banget ik...gue nggak akan pernah ninggalin lo...” kata cakka mantap.
“Tapi gue penyakitan cakka, gue nggak pantes jadi pacar lo...” kataku merendah.
“Oik...gue bakal jadi pendonor ginjal buat lo...” kata cakka yang membuatku terperangah.
“Lo yakin? Apa lo bisa hidup dengan 1 ginjal? Apa iya ginjal lo cocok?” tanyaku beruntun. Cakka mengangguk mantap.
“Gue udah bilang sama dokter dan setelah di tes hasilnya cocok...” jawab cakka.
“Nggak, lo nggak boleh ngedonorin ginjal lo buat gue...kalo seandainya lo yang bakal mati gimana? Gue nggak mau pokoknya...” bantahku.
“Percaya sama gue ik...” kata cakka. Aku menggeleng cepat.
“Nggak...pokoknya gue nggak mau terima dari lo, lebih baik gue yang mati cakka...” kataku yang hampir menangis.
“terserah...” kata cakka acuh tak acuh. Kemudian ia mendorong kursi rodaku menuju kamar kembali.
>>>>
                Ternyata cakka tetap bersikeras ingin mendonorkan ginjal itu padaku. Aku hanya tidak ingin sesuatu yang tak diinginkan terjadi. Aku tak ingin kehilangan cakka, karena aku sangat mencintainya. Sampai akhirnya hari dimana aku akan ditransplantasi ginjal pun datang. Aku tak dapat berontak untuk menolak donor ginjal dari cakka. Cakka terlalu baik. Bagaimana aku bisa membalasnya?
                Di dalam kamar aku masih tak dapat tenang. Diam-diam aku kabur dari kamar dan melarikan diri. Namun ternyata ketika aku telah hampir sampai di gerbang rumah sakit, aku bertemu dengan cakka. ah sialnya!
“Oik...” panggilnya. Aku berhenti berlari. Tubuhku masih terasa lemas dan entah mengapa suara cakka membuatku enggan berlari. Aku berbalik dan menghadap cakka. jarak diantara kita sekitar 2 meter. Aku menatapnya dengan pilu.
“Lo mau kemana?” tanya cakka dengan tatapan tajamnya. Aku hanya menundukkan kepala. Aku tak berani menatap mata cakka.
“Gue udah bilang kan...Lo harus percaya sama gue, gue nggak akan mati kalo gue donorin ginjal gue buat lo...apapun yang akan terjadi nanti, itu urusan Tuhan yang mengatur...kalo lo hidup, gue juga akan hidup, dan kalo lo mati, gue juga akan mati...” ucap cakka tegas kemudian ia mendekatiku. Lalu ia memegang kepalaku dan mengecup keningku dengan lembut. Jantungku berdegub dengan kencang. Aku memejamkan mataku.
“Lo percaya kan sama gue?” tanya cakka sambil menahan tangisnya. Aku mengangguk dalam tangisku.
“sekarang tenangin diri lo dan kita lakukan operasi...” ajak cakka kemudian merangkul pundakku dan menuntunku kembali ke kamar rawatku. Sesampainya, aku berbaring di ranjang dan menenangkan diri. Mungkin ini memang jalan yang terbaik.
>>>>>
Author’s POV.
                Operasi telah berjalan cukup lancar dan berhasil. Sehingga mama Oik dan kedua orang tua Cakka pun dapat bernafas lega. Selesai operasi, cakka dan oik masih tak sadarkan diri. Mereka berdua masih ada di dalam paviliun yang terpisah. Setelah beberapa jam kemudian, Cakka telah sadarkan diri. Ia langsung teringat pada Oik. Ia pun pergi ke paviliun dimana oik berada dengan menggunakan kursi roda yang didorong oleh bundanya. Di dalam paviliunnya, Oik masih terbaring lemas dan belum sadarkan diri. Tak lama kemudian, Cakka dan bundanya masuk ke dalam pavilun Oik dan menghampiri Oik.
“Oik, cepet sadar ya...” lirih cakka. Tak berapa lama, jemari tangan Oik bergerak. Cakka yang melihat itu langsung tersenyum.
“Oik...” ucap cakka sambil tersenyum. Perlahan Oik membuka matanya.
“Cak..ka...” lirih Oik terbata-bata. Kemudian cakka menggenggam erat tangan Oik.
“udah gue bilang lo bakal sembuh kan...dan kita sama-sama hidup...” kata cakka sambil tersenyum.
“Makasih yah kka...gue nggak tahu harus gimana membalas kebaikan lo...” kata Oik yang hampir menangis.
“Hanya dengan tetap bersama gue maka lo udah membalasnya...” ucap cakka. Oik beralih menatap bunda cakka. tampak bunda cakka menyunggingkan senyumnya.
“Iya Oik...tante akan setuju apabila kamu tetap berada di sisi cakka...” ucap bunda cakka. Oik tersenyum dan kembali menatap cakka.
“Baik cakka...gue akan selalu ada di sisi lo...” ucap Oik akhirnya.
                Kemudian mereka pun berpelukan. Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang menatap mereka. Ia menangis namun ada sedikit senyuman di bibirnya.
“Lo emang lebih pantes sama dia daripada gue kka...” lirih orang itu kemudian pergi.
                Cinta itu butuh pengorbanan dan juga keikhlasan. Cinta juga harus dapat menerima seseorang dengan apa adanya. Bukan karena fisik ataupun materi, tapi karena hati yang tulus.
 The End

0 komentar:

Posting Komentar

 

Caikers Family Official Blog. Design By: SkinCorner