Selasa, 30 Agustus 2011

KEPERGIANMU (Cerpen by mawarfatmah)

“oik, jangan lari kamu yah” teriak seorang remaja laki-laki yang sedang mengejar gadis yang seusia dengannya. Sekitar 16 tahun
“ayo kejar kalau bisa” kata gadis itu. Oik
“awas yah‼. Kalau aku tangkap gk akan aku lepasin” ancam laki-laki itu. Cakka
Lama berkejaran ditaman. Akhirnya cakka berhasil menangkap oik
“tumben kamu menang” kata oik. Kejar-kejaran memang sudah menjadi aktivitas mereka setiap sore. Oik selalu punya ide untuk menjaili cakka dan biasa cakka lelah untuk mengejar oik yang larinya sangat kencang
“gk seneng amat kalau aku menang hhh”
“yah aneh aja gitu”
“hhhh” cakka tak menjawab ia hanya mengatur napasnya
“kamu capek kka?”
“iyalah, aku juga manusia kale ik”
“huh kalah ama aku, kamu”
“yaelah ik. Kalau urusan lari kan kamu emang jagonya”
Oik memang bersifat seperti seorang lelaki. Tomboy, dan nakal itulah dia. Berbeda dengan cakka. Lembut, sopan, dan baik. Oik suka bolos cakka tidak. Oik tidak suka bhs inggris Dan matematik. Berbeda dengan cakka yang sangat senang dengan kedua pelajaran itu. Semua siswi di SMU Nusa Bangsa iri dengan oik. Cakka adalah orang yang perfect dan betapa beruntungnya oik bisa memiliki cakka
“eh kka pulang yuk”
“entar ik. Istirahat dulu”
“sini aku gendong kalau kamu gk kuat jalan”
Cakka cengo. Dimana-mana cowo yang gendong cewe bukan sebaliknya
“udah gk usah. Aku bisa jalan koq. yuk”
“kenapa? Gk suka di gendong ama cewe”
“ik, ntar apa kata orang kalau lihat aku di gendong? Ama cewe pula?”
“hahahaha. Iya, iya aku ngerti. Yaudah istirahat aja dulu”
Lama beristirahat. Caik akhirnya pulang ke rumah. Rumah cakka tak jauh dari rumah oik. Hanya beda satu blog
“makasih. Oh iya gk mampir dulu kka” tanya oik. Cakka memperhatikan rumah oik
“gk usah deh ik. Kayaknya rumahmu sepi lagi. Ntar orang bilang apa? Apalagi ini udah mau gelap!” tolak cakka lembut
“hm.. yaudah kamu hati-hati. Bye” pesan oik. Cakka mengangguk, lalu mengayuh sepedanya. Oik melambaikan tangannya. Setelah cakka berbelok di pertigaan didepan. Ia membuka gerbang rumahnya lalu masuk

****

“pagi oik, pagi kak” sapa cakka pada oik dan dayat. Kakak oik,
“pagi” balas oik dan dayat
“kamu mau menjemput oik?” tanya dayat
“iya kak” jawab cakka
“yasudah kalian hati-hati” pesan dayat lalu pergi ke kantor menggunakan mobilnya. Oik lalu naik ke jok  belakang motor cakka
“kamu udah makan obat” tanya oik setelah memakai helm-nya. Cakka menatap oik
“obatku udah habis” jawab cakka lalu menstater motornya
“yaudah sepulang sekolah kita ke apotik” kata oik
“ik kalau bergantung ama obat terus. Sama aja”
“yaudah besok kamu harus kemoterapi, besokkan jadwalnya”
“terserah” balas cakka lalu melaju. Oik sudah angkat tangan melihat tingkah cakka

****

“ik, Mau ikut lomba karate lagi?” tanya cakka. Oik menoleh lalu tersenyum
“iya dunk” jawabnya lalu kembali memakan baksonya
Oik memang nakal tapi bukan berarti dia tak berprestasi, ia sudah sering mengikuti kejuaraan karate. Tingkat provinsi maupun asia. dan ia kembali tidak dengan tangan kosong, ia selalu membawa pulang juara 1, dan 2. Itulah prestasi oik
“yah ditinggal deh aku” ucap cakka lesuh. Oik kembali menoleh ke arahnya, mengelus pundaknya
“gk lama koq say” balas oik
“iya gk lama paling cuman 1 minggu kan?” sindir cakka
“itu cuman sebentar kale”
“huft… dokter pribadiku pergi deh”
“konsultasi lewat ponselkan bisa”
“tapi gk sama kalau secara langsung”
“lho apa bedanya?”
“kan kalau secara langsung. Aku bisa juga lihat wajah kamu. Kalau lewat ponsel. Cuman denger suara kamu. Kalau cuman denger suara kamu yang ada aku tambah sakit”
Oik merangkul cakka “jangan kebanyakan gombal. Kubiarin mati tahu rasa kamu”
“hih jahat banget sih kamu say” kata cakka manja
“woy… ngapain pacaran disini. ini kantin bukan café‼” seru segerombolan orang yang mendekat ke arah mereka, oik segera melepas rangkulannya
“kalian berdua tuh yah. Gk care banget. Ke kantin cuman berdua. Gk ada lagi yang manggil kita” protes Gabriel. Salah satu sahabat cakka. Ia lalu duduk diantara cakka dan oik
“iya nih. Disekolahkan bukan tempat pacaran. Jadi kalau di sekolah inget kita donk” kata sivia. Kekasih gabriel juga sabahat karib oik. Oik pindah dari tempatnya dan duduk di depan cakka tepat disamping sivia
“ih kalian apaan sih” kesal oik
“ik, jangan marah ntar cepat tua” nasehat Ify. Sahabat oik
“iya nih. Gabriel juga sih kenapa pake duduk disitu itu kan tempat oik. Marah deh oiknya” kata rio. sahabat cakka
“udah deh. Pada mau panas-panasin aku atau makan mau makan?” tanya oik yang sudah mulai naik darah
“ya makanlah‼” seru keempat sahabatnya
“yaudah sana pesan makanan. Jangan tinggal disini aja”
“iya mbak‼”

****

To : Cakka
Hri in gk mau main??

From : Cakka
Gk, gmna klu kmu aja yg kerumahq

To : Cakka
Oh yaudah. Klau gtu tggu ak.

10  menit kemudian. Oik sampai dirumah cakka. Oik memberi salam, lalu masuk kerumah cakka, cakka sedang menonton tv. Sebagai tuan rumah yang ramah ia berdiri dan mempersilahkan oik duduk.
“siang ik, ayo duduk” Oik hanya membelakangi cakka, Wajah oik memerah. Bukan karna cakka mempersilahkannya
“kamu kenapa?” tanya cakka bingung
“i… itu” oik menunjuk ke arah cakka
“itu apa ik?” tanya cakka tak mengerti
“aduh! Itu cakka”
“itu apa sih?”
“celana kamu!”
“celana aku kenapa?”
“kereta api kamu gk jalan!” ucap oik malu-malu. Cakka segera menunduk
Ow..ow..‼ sembraut rona merah Menjalar di wajah cakka
“hehehe tadi habis dari toilet trus lupa” balas cakka yang sudah selesai menjalankan kereta apinya. Oik berbalik dengan sisa rona merah di wajahnya dan segera menjatuhkan dirinya di sofa
“teledor!” komentarnya. Cakka duduk disampingnya
“kamu lihat?” goda cakka. Oik manyun
“lihat apa?” tanya oik kesal. Cakka hanya tersenyum, oik mengerti maksud cakka
“yah gk lah. Kamu kan pake celana boxer didalamnya. Huh!”
“iya. Iya becanda. Jangan marah lagi dunk”
“kamu sih”
“maap!”
“iya aku maafin” baals oik. Cakka lalu merangkul oik membisikkan sesuatu pada oik
“tapi sebenarnya kamu senengkan kalau lihat?” goda cakka. Dalam hitungan detik oik melepas rangkulan cakka lalu memukul cakka
“hih dasar kamu yah‼” cakka berusaha menghindar dari pukulan oik
“ampun ik… janji deh aku gk bakal ngomong gitu lagi”
“dari tadi juga kamu minta ampun tapi tetap aja”
“kali ini beneran ik” oik berhenti memukul cakka.
“janji” tanya oik. Cakka berpikir
“gk janji sayang!” kata cakka sambil memencet hidung oik lalu berlari. oik mengejar cakka. Akhirnya mereka kejar-kejaran di ruang tengah.
Lama berkejaran cakka kembali duduk disofa
“ok! Kamu menang lagi” kata cakka pasrah. Oik duduk disampingnya. Tidur dipangkuan cakka
“mengalah nih?” tanya oik sambil menatap wajah cakka. Cakka menunduk menatapnya
“bukannya mengalah hhh tapi kamu emang menang” cakka mengatur napasnya
“kamu cepat lelah pasti karna penyakitmu. Kita chek up yuk”
“besok aja. Kan besok aku kemoterapi” oik mengubah posisinya. Ia bangun dari tidurnya
“yaudah janji yah kamu mau pergi”
“janji. Semua yang menurutmu terbaik. Akan kulakukan ik” kata cakka
Oik memeluknya. Cakka membalas pelukan oik “makasih cakka. Kamu harus kuat, kamu harus bertahan yah”
“aku gk akan biarin kamu sedih ik. Demi kamu aku akan coba” cakka mengelus punggung oik. Oik menangis dalam pelukan cakka. Ia belum siap, belum siap menghadapi kenyataan jika orang yang sangat ia sayangi harus pergi

****

“bi oik udah bangun?” tanya cakka pada pembantu oik yang sedang menyiapkan sarapan untuk oik dan dayat. Dayat adalah kakak oik, tapi gk tau lagi kemana. Mungkin masih dikamar. Sekarang dia mau jemput oik ke sekolah
“belum den. Tadi saya bangunkan tapi non oik masih tidur” jawab pembantu oik
“yaudah aku ke kamarnya yah bi”
“silahkan den” cakka berjalan ke lantai dua. Memasuki kamar yang serba pink. dan mendapati cewe mungil yang masih betah bersembunyi di balik selimut pink-nya sambil memeluk guling yg juga berwarna pink
“aku gk pernah ngerjain kamu ik” lirih cakka. Ia ada niat untuk membalas oik. Sekilas ia memperhatikan wajah oik
“sekalipun lagi tidur. Masih aja tetap imuet” lirih cakka lalu mengambil napas
“GEMPA BUMIII!!!!!!!” teriak cakka tepat di telinga oik. Seketika oik bangun dan berlari mengambil boneka doraemonnya. Cakka menahan tawa melihat tingkah kekasihnya
“kenapa tinggal diam aja?” tanya oik yang masih ribet mengambil barang-barangnya
“trus aku harus ngapain” tanya cakka balik
“selamatin barang-barang”
cakka menghampiri oik “untuk apa oik”
“kamu bilang kan gempa bumi” tanya oik polos
“cuman becanda sayang biar kamu cepat bangun” jawab cakka santai. Oik mengambil ancang-ancang untuk memukul cakka
“hih kamu tuh yah… huh dasar‼” oik tak berhenti memukuli cakka
“ampun… iya deh… gk akan ku ulangi lagi… ampun ik…”
“awas kamu yah‼”
“udah deh. Sana mandi. Ntar telat. Manjat gerbang lagi kita”
“yaudah kamu juga keluar sana”
“aku disini aja” balas cakka. Oik kembali mengambil ancang-ancang
“he iya iya aku keluar” lanjut cakka lalu keluar dari kamar oik
“huh” kesal oik lalu masuk ke kamar mandi

****

“huh pelajaran pertama matematik. Gk mau belajar ah” gumam oik. Cakka yang kebetulan duduk disampingnya menoleh
“mau bolos lagi?” tanyanya
“yup” jawab oik
“ikutin aja ik. Sekali aja”
“gk berubah kka. Tetap sama aja. Aku gk akan bisa matematik”
“coba yah ik”
“kalau bu winda sedang menjelaskan sedangkan aku tertidur kamu mau tanggung kalau aku dimarahi?”
“oik ayolah. Jangan bolos yah, kali ini aja” bujuk cakka. Oik tampak berpikir.
“iya deh demi kamu. Ntar nangis lagi klau aku bolos”
“yes!” seru cakka
“lebay” kata oik, cakka hanya nyengir
Tak lama bel berbunyi. Bu winda pun masuk ke kelas
“pagi anak-anak” sapanya
“pagi bu!!!!!” seru seluruh siswa. Bu winda mengamati bangku kedua di sudut ruangan
“oik? Tumben masuk?” tanya bu winda
“gk seneng nih bu kalau saya ikut pelajaran ibu” tanya oik balik. Bu winda tersenyum. Lalu berjalan ke mejanya
“ibu sangat senang kalau kamu ikut pelajaran saya. Baiklah semua keluarkan buku catatan kalian. Kalian akan mencatat beberapa rumus penting dalam matematika”
“iya bu!!”
Dengan malas oik mengeluarkan buku catatan matematiknya yang masih kosong, sebenarnya gk juga sih, tapi catatan oik masih dua lembar beda dengan buku catatan teman yang lain. Mungkin sudah setengah buku
“selama cakka pacaran dengan oik. Oik sudah jarang membolos ketika pelajaran saya” batin bu winda. Dia bangga pada murid kesayangannya itu. Karna sudah membuat oik ingin belajar matematik. Bisa dibilang oik itu haters matematik

****                                                                 

Bel istirahat pertama sudah berdering tapi Oik masih ada di dalam kelas. Mengamati catatan matematika cakka. Sivia teman sebangku oik. Melirik ke arahnya
“ngapain ik? Tumben gk ke kantin? Cakka udah pergi tuh!” tanya sivia
“bentar via. Aku lagi sibuk!” jawab oik tetap fokus pada buku didepannya
“ngapain sih ik?” tanya sivia lagi. Oik lalu menoleh ke arahnya
“koq bisa sih cakka itu jago banget hapal rumus-rumus ini” tanya oik sambil memperlihat buku cakka pada sivia
“tanya cakkanya. soalnya aku juga gk tau”
“cakka hebat yah. Tapi sayang”
“ik. Cakka lagi happy-happy-nya sekarang. Jadi jangan ungkit itu”
“aku cuman gk mau dia kenapa-kenapa. Aku gk tahu kenapa dia sangat keras kepala. Setiap dia jadwal kemoterapi. Dia pasti selalu mencari alasan. Entah motornya rusaklah. Dia sengaja kempesin bannya lah atau apalah”
“tapi dia rajin kan minun obatnya?”
“rajin buang obatnya iya”
“yaudah sabar aja ik. Suatu saat nanti cakka akan nurut koq ama kamu”
“hm.... kemarin sih dia bilang mau kemoterapi. Tapi gk tahu kalau ntar dia berubah pikiran. Aku bingung” oik menunduk lemas. Mengingat umur cakka yang mungkin tak bertahan lama. Sivia merangkul oik berusaha menguatkannya
“konsentrasilah pada perlombaanmu. percayakan cakka padaku dan yang lain. Aku janji akan merawatnya selama kau di jepang”
“makasih via”

****                                                                 

“kak aku mau temenin cakka kemoterapi yah” pamit oik
“hati-hati dek” balas dayat. Oik lalu mengayuh sepedanya ke rumah cakka. Mengharapkan cakka untuk menjemputnya itu tidak mungkin. Kalau ia tak memaksa cakka untuk kemoterapi cakka tak akan mau. 10 menit kemudian oik sampai dirumah cakka. Ia langsung saja masuk kedalam rumah karna pintu rumah terbuka.
“cakka” oik menghampiri cakka di ruang tengah yang sedang asyik nonton tv. Cakka berbalik
“kenapa?” tanyanya
“koq belum siap”
“masih jam 2 ik, lagipula kamu belum menelpon dokter rendra kan?”
“udah,,, udah dari kemarin. Sana ganti pakaian”
“oik aku…” belum selesai cakka berbicara oik sudah memotongnya
“cakka kalau emang kamu gk mau buat aku sedih plis jangan egois. Kamu punya segalanya, tapi kenapa kamu gk mau kemoterapi untuk menyembuhkan penyakit kamu. Apa kamu mau meninggalkan aku. Apa kamu mau aku sendiri disini. ok memang aku sering meninggalkanmu jika aku pergi kejuaraan tapi setelah itu aku kembali. Tapi coba kamu pikirin kalau kamu pergi apa bisa kamu kembali lagi untuk aku” jelas oik. Matanya berkaca-kaca
Cakka berdiri lalu menghampiri oik. Memeluknya erat “gk, aku gk akan ninggalin kamu. Aku gk akan biarin kamu sendiri. Aku gk marah koq kalau kamu pergi keluar kota bahkan keluar negri untuk mengikuti kejuaraan. Justru Aku sangat senang” tutur cakka lalu melepas pelukannya. Menatap oik dalam. Lalu menghapus sisa air mata di pipi oik
“jangan nangis. Bukan oik kalau ia menangis” kata cakka lalu mengecup kening oik dan kembali memeluknya. Oik membalas pelukan cakka
“andai saja bisa aku meminta tuhan. Kumohon cabutlah penyakit cakka. Buatlah dia hidup lebih lama. Buatlah dia berada lebih lama disisiku” batin oik

****                                                                 

“bagaimana dok? Apa ada kemajuan dari cakka?” tanya oik pada seorang dokter. Dokter itu menghela napas dengan berat
“karna cakka sangat jarang melakukan kemoterapi dan jarang meminum obat. Leukimia yang diderita cakka semakin parah, kalau hanya di bantu dengan obat-obatan leukimia cakka bisa jadi stadium 4, Dan itu sudah sangat parah. jadi secepatnya harus dilakukan operasi tulang sum-sum belakang”
“maksud dokter? Leukimia yang diderita cakka sudah stadium 3?”
“berat untuk mengatakannya. Tapi kamu harus menghubungi orang tua cakka. Dan beritahu mereka tentang keadaan cakka sekarang ini”
“apa tulang sum-sum seorang ibu itu akan cocok dengan anaknya?”
“tidak semua”
“jadi dok?”
“jangan berpikir negatif, optimis bahwa cakka akan selamat”
“baik dok”

****                                                                 

“tante, apa tante bisa pulang sekarang?”
“ada apa ik?”
“cakka tante!”
“cakka kenapa oik?” terdengar suara khawatir oleh ibu cakka
“leukimia cakka sudah stadium 3. Dan dokter menyarankan agar cakka segera diberi donor tulang sum-sum belakang, dan tulang sum-sum yang cocok itu hanya ada pada ibu cakka”
“cakka”
“dokter memberi waktu 1 minggu tante”
“baiklah tante segera pulang”

****                                                                 

Oik duduk diatas ranjangnya. Memeluk kedua lututnya dan menundukkan kepalanya di antaranya. Dayat menghampirinya
“kamu kenapa??” tanya dayat. Oik mengangkat wajahnya
“cakka!” jawab oik singkat
“cakka kenapa?”
“leukimia!”
“kakak tahu kalau cakka itu leukimia ik”
“tapi kak leukimia cakka sudah stadium 3 kak. Dokter bilang kalau tidak dilakukan donor tulang sum-sum belakang penyakit cakka akan semakin parah”
Dayat memeluk adiknya “kamu  yang sabar yah ik”
“kakak!”

****

Hari ini oik berangkat ke jepang untuk mengikuti kejuaraan. Oik adalah salah satu wakil dari indonesia yang dipilih untuk mengikuti kejuaraan di jepang
“cakka jangan lupa minum obatmu yah” kata oik mengingatkan
“iya. Kamu jga jangan sampai telat makan” balas cakka juga mengingatkan oik
“kamu baik-baik disana ik”
“bye…”

****

From : Oik
Udah minum obat syng ??
^_^

To : Oik
Udah kq!
Kmu ndri. Dah makan??

From : Oik
Bener??
Iy. Ak dh makan‼

To : Oik
Iya ak bener! Gk bohong! Mati aku klau bohng!
Kamu jga bener udah makan??

From : Oik
Hush jgn bilang mati ah! Smua org kan pasti mati!
Iy ak dah makan. Ak gk juara klau bhng

To : Oik
Klau gk juara. Mencetak rekor dunk!

From : Oik
Iy..
hehehehe

****

Esok paginya cakka berangkat sekolah sendirian tanpa oik.
“kka. Udah minum obat?” tanya gabriel saat cakka duduk di kursinya. Lalu menoleh ke arah gabriel yang duduk disebelahnya
“koq kamu jadi kayak oik sih?” tanya cakka. Gabriel tersenyum
“disuruh sama oik!” jawab gabriel
“dia terlalu khawatir padaku” komentar cakka. Rio lalu menghampiri mereka
“kamu harusnya bersyukur bisa dapat oik. Jarang lho cewek yang mau on time ingetin cowoknya buat minum obat.” Kata rio
“bener kka. Cuman oik cewe yang selalu mensport kamu”
Cakka tersenyum “iya juga sih”
“lakuin yang terbaik untuk oik selagi kamu bisa” kata gabriel
“Dan itu adalah turuti kemauan dia. Kalau dia kamu kemo. Kamu harus lakuin itu. Apapun yang oik minta selagi itu bermanfaat untuk kondisi kamu, turuti. Jangan buat dia kecewa karna ke egoisanmu” tambah rio. cakka sudah kehabisan kata-kata untuk membalasnya. Ia memutuskan diam
“bagi oik kamu itu adalah sebagian dari hidupnya. Walau jalan kalian selalu berlawanan, tapi oik selalu mementingkanmu.”
“janji jangan pernah kecewain dia” tanya rio. cakka mengangguk

****

1 minggu kemudian, oik sudah kembali dari jepang dengan membawa pulang juara 2. Tak apalah sebenarnya bagi oik kejuaraan itu bukan untuk menjadi yang juara 1 tapi untuk mencari pengamalan. Karna menurut oik pengalaman adalah guru yang sangat berharga. Dan oik sangat menjaga cakka, karna ia juga berpengalaman dengan penyakit itu, sebelum cakka ibunya yang tersayang juga mengidap penyakit leukimia, untung saja penyakit itu tak turun kepadanya, tapi sialnya cakka lah yang terkena penyakit itu. Oik sangat tahu semua tentang penyakit itu, jadi ia ingin terus berada disamping cakka, sampai cakka sembuh. Walau iya tahu hanya 40% orang yang mengidap penyakit leukimia stadium 3 bertahan hidup. Tapi bagi oik tak ada salahnya berharap. Toh iya mengharapkan hal yang positif

****

“selamat yah ik. Lagi-lagi, tidak dengan tangan kosong” puji sivia
“jangan terlalu banyak memuji. Ntar aku salting” balas oik
“iya kalau oik salting. Semuanya dibanting lho” ledek cakka. Oik menyikut lengannya
“apadeh kamu?” tanya oik kesal. Cakka merangkulnya
“jangan marah. Kan becanda” kata cakka
“gk lucu becandanya” kesal oik
“ckckck tumben amat berantem. Biasanya juga selalu akur?” tanya ify
“akur darimana orang oik selalu ngerjain aku” kata cakka
“kalau kamu lagi tidur aja” ralat oik
“ih gk deh. Waktu itu aku lagi baca komik trus komiknya kamu ambil trus diceburin di kolam” kata cakka. Sivia, gabriel, rio, dan ify hanya geleng-geleng kepala
“diskusiin deh. Yuk kita pindah” celetuk rio
“ngambek?” tanya CaIk
“kalian sih. Sibuk berdua. Gk nyadar apa disini ada kita?” tanya gabriel
“hehehe maaf deh kalau gitu. Yuk lanjutin makan semua”
“daritadi juga kita udah makan gk pernah di pending kalian aja gk nyadar. Sibuk berantem sih”
“oh gitu yach yaudah diterusin”
“apa bedanya?”
“lanjutin kan depannya L kalau terusin depannya T” balas cakka
“tapi intinya sama kan?”
“iya sih”
“io. Cakka. Udah jgn diskusiin itu makan tuh baksonya ntar bel” tegur sivia
“iya”

****

“assalamu alaikum” oik memberi salam. Tapi tak ada jawaban dari sang pemilik rumah
“cakka… cakka… cakka” panggil oik. Sore ini oik datang kerumah cakka karna cakka tak bisa bermain dengannya, ia jadi khawatir dengan cakka. Tak ada jawaban dari dalam. Oik menerobos masuk kerumah cakka. Itu hal biasa bagi oik. Apalagi cakka tak punya pembantu jadi klau tidak menerobos, mustahil mengetahui hal apa yang terjadi didalam
“cakka” panggil oik lagi
“kamu dirumah kan?” tanya oik. Ia sampai di ruang tengah. Bersiap menaiki anak tangga. Lalu menoleh ke arah tv
“tv-nya menyala? Pasti ada di sofa” batin oik. Arah tangga dan sofa memang berlawanan jadi kalau cakka asyik molor di sofa tak ada yang bisa melihat. Oik berjalan ke arah sofa. dan benar saja ia menemukan makhluk yang sedang asyik dimimpinya. Ide jail pun muncul di otak liciknya. Dengan segera ia meniban badan cakka
“aduh…” rintih cakka. oik tak memperdulikannya dan berpaling untuk mematikan tv di depan
“oik sakit tahu‼” kesal cakka
“kamunya sendiri koq tidur. Tahu gk ini jam berapa?” tanyaku
“emang jam berapa?” cakka malah balik nanya. oik menoleh ke arah cakka
“jam 3. Ini tuh jam main kita. Oh iya satu lagi. Aku kan udah bilang berapa kali ama kamu kalau kamu tuh gk boleh tidur di sofa. ntar badanmu sakit. Kalau mau tidur di kamar. Paham!”
“iya” balas cakka
“udah sana. Cuci muka” pinta oik lalu beranjak. Cakka menahan lengannya. oik berbalik menatapnya
“kamu mau pulang?” tanya cakka nampak sedih. oik membelai kedua pipinya
“sayang. Kamu kenapa sih? Aku cuman mau ke dapur ambil minum!”
“kak dayat lagi gk dirumah kan? Malam ini temenin aku disini. soalnya orang tua aku sedang tugas keluar kota. Jadi aku sendirian dirumah dan aku takut kalau kamu pulang sekarang”
“iya deh!” balas oik
“udah sana cuci muka. Biar tambah ganteng!” oik berlalu. Cakka hanya tersenyum dan berjalan ke kamar mandi

****

“nih makan malam kamu. Makan ini habis itu obatnya diminum” jelas oik sambil menaruh nampan berisi makanan di meja yang terletak disamping ranjang cakka. Cakka bangkit dari tidurnya lalu mengambil nampan tersebut. Oik duduk disampingnya
“kamu gk makan?” tanya cakka
“aku udah” jawab oik
“dimana?”
“tadi dibawah”
“koq gk bareng aku”
“aku lagi laper banget. Kamu kan makannya harus tepat waktu. Gk boleh kecepatan dan gk boleh kelewatan. Beda ama aku yang kapanpun boleh”
“kamu juga harus mengatur pola makanmu”
“udah tenang aja. Cepat dimakan. Sebelum supnya dingin”
Cakka tersenyum sambil menoleh ke arah oik “suapin” pinta cakka manja. Oik lalu mengambil sendok yang dipegang cakka
“udah besar juga. a…” kata oik lalu menyuapi cakka
“masakanmu enak! Belajar dimana?” tanya cakka
“waktu bunda masih ada, setiap dirawat di rumah sakit. Dokter selalu memberi ini. dan dokter bilang makanan ini sangat cocok untuk penderita leukimia.Jadi aku mencoba mempelajarinya dengan koki rumah sakit itu lalu memberinya setiap hari pada bunda sekaligus berharap ini mempercepat penyembuhan bunda tapi sayang baru 1 minggu bunda mencicipi sup buatanku dia harus pergi” cerita oik. Matanya berkaca-kaca ia teringat saat ibunya masih ada tak ingin cakka mengetahuinya ia kembali menyuapi cakka
“maaf ik” pinta cakka
“untuk apa?” tanya oik
“udah buat kamu sedih” balas cakka lalu air mata yang berlinangan dimata oik pun tumpah. Cakka pun menghapusnya
“gpp koq” kata oik. Cakka tersenyum
“jangan sedih yah” oik mengangguk
“aku benar-benar semakin cinta sama kamu ik” batin cakka.
Selesai makan n minum obat. Oik bercerita tentang pengalamannya di jepang kemarin. Banyak hal yang menarik, saat ia menemukan orang korea yang tersesat dan orang tersebut mengira dia adalah orang jepang. Oik sangat bingung ketika orang itu berbahasa jepan. Bahasa jepang yang oik tahu hanya arigato. Setiap dia mengucapkan itu ia menahan tawanya sendiri. Karna dia sendiri bingung apa benar dia harus berterima kasih pada orang yang bertanya padanya.
Lama bercerita cakka pun mengantuk dan berbaring
Setelah oik memastikan bahwa cakka sudah tertidur. Ia lalu ke kamarnya tepat disamping kamar cakka. Cakka yang meminta orang tuanya untuk membuatkan oik kamar tepat disamping kamarnya.
“semakin lama. Bukannya tambah dewasa cakka hanya tambah manja padaku” lirihnya lalu memejamkan matanya

****

Matahari sudah menampakkan sinarnya, karna hari ini hari minggu, tentu saja para anak muda masih betah ditempat tidurnya. Begitupun dengan cakka, yang masih asyik dengan mimpinya. Sinar mentari masuk kekamar oik melewati cela-cela gorden. Oik yang merasakan silau pun bangun ia mereganggakan otot-ototnya lalu menoleh kesampingnya
“Cakka?” tanya oik lalu mengucek matanya
“beneran cakka” oik memastikan bahwa cakka sedang asyik tidur disampingnya. Ia lalu menarik selimutnya juga guling yang dipeluk cakka. Cakka tersadar. Lalu bangun dan mengucek kedua matanya
“kenapa sih ik. Inikan hari minggu aku masih ngantuk” tanya cakka
“sejak kapan kamu tidur dikamar aku?” tanya oik balik
“oh itu. Semalam mati lampu. Sedangkan kamu tahukan aku takut sama gelap yaudah aku mengendap-endap aja ke kamar kamu”
“cakka nyebelin deh” kesal oik
“trus aku harus gimana. Masa’ aku harus teriak minta tolong, mana mungkin ada yang dengar apalagi udah pukul 3 subuh, yaudah karna aku tahu kamu gk suka kunci pintu kamar. Jalan satu-satunya mengendap-endap kesini” jelas cakka. Oik tampak marah
“Jangan marah dulu aku cuman meluk guling koq bukan meluk kamu” lanjutnya lalu kembali tidur
“Cakka” panggil oik manja. Cakka menoleh kearahnya
“kenapa lagi??”
“sana mandi”
“entar aja masih pagi. Kamu aja duluan”
“kita jogging. Kamu juga harus banyak olahraga”
“ntar sore aja ik. Aku masih ngantuk”
“yaudah kalau kamu memang masih mau tidur aku gk maksa koq” kata oik lalu beranjak. Ia berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah itu keluar ntah kemana.
Lama cakka tertidur ia teringat sesuatu
“Jangan buat dia kecewa karna ke egoisanmu”
“oik” gumamnya lalu bangun dan keluar mencari oik
Tempat pertama yang ia datangi adalah dapur. Mungkin oik menyiapkan sarapan tapi nihil oik tak ada disana
“atau oik udah pulang” lanjutnya. Lalu ia menjatuhkan dirinya ke lantai
“aku egois. Lagi-lagi aku buat oik kecewa” lirihnya. Matanya menatap lurus kedepan. Tepat dimana tamannya berada. Ia tersenyum lalu berjalan ketaman
“oik” lirih cakka lembut sambil memeluk oik dari belakang. Oik mendongak lalu memegang kedua tangan cakka
“kenapa?” tanya oik. Cakka menyadarkan kepalanya di punggung
“maaf”
“maaf untuk apa”
“untuk yang tadi. Aku terlalu kasar padamu”
Oik tersenyum lalu memutar badannya menghadap ke cakka “kamu gk salah koq. lagipula kamu juga gk kasar. Sama sekali tidak. Mungkin aku yang salah terlalu memaksamu”
“tidak ik. Kamu tidak salah tapi aku yang salah”
“sudahlah, ini gk akan selesai kalau aku gk ngalah”
“hehehe aku egois lagi yah”
“itu memang sudah kebiasaanmu”
“tapi kamu bisa merubahnya”
“tapi hanya sebentar kan?”
“iya sih tapi itu kan udah berubah”

****

“kka. Koq aku udah gk pernah lihat kamu tanding atau latihan basket” tanya oik lalu duduk disamping cakka
“aku udah keluar”
“ah keluar. Kenapa emang? Ada yang suka gangguin kamu? Siapa? Bilang sama aku” tanya oik. Cakka tertawa melihat reaksi oik
“kamu lebay deh!”
“eh oh hehehe” oik jadi salting. Cakka geleng-geleng melihatnya
“jadi kenapa kamu keluar dari tim basket. Harusnya kan kamu banyak olahraga”
“aku gk mau nyusahin mereka. Kalau aku kemo pasti aku gk latihan. Daripada mereka ngandelin aku yang udah gk mampu lebih baik aku keluar”
“cakka jangan bilang gitu ah. Bagi aku kamu itu tetap yang terbaik”
“bagi kamu tapi bagi mereka”
“jangan pernah menyerah karna kekuranganmu kka”
“aku pasti main basket koq. tapi hanya dikamar. Tidak ikut pertandingan seperti dulu”
Oik menatap cakka. Ia tersenyum cakka membalasnya “kenapa harus kamu sih kka. Kenapa harus orang yang kusayangi” tanya oik sambil menunduk. Cakka memegang dagunya lalu mengangkat wajahnya perlahan
“tuhan punya rencananya sendiri” kata cakka lalu mengecup bibir oik
“cakka” lirih oik.
“maaf kufikir itu bisa menenangkanmu” kata cakka.
“bukan cakka tapi bibir kamu” tanya oik yang melihat bibir cakka merah. Cakka pun memperhatikan bibir oik
“kamu pake lipstik ik” tanya cakka. Oik lalu menyentuh bibirnya
“apa ini darah?” tanyanya dalam hati
“aku gk pake lipstik. Kita harus kerumah sakit”
“untuk apa”
“kamu mimisan”
“aku?”
“ini darah dari kamu. Bukan lipstik aku”
“aku gpp ik”
“tuhan kepalaku kenapa” batin cakka
Cakka tersenyum sambil memegangi kepalanya “cakka kamu kenapa”  tanya oik. Tak ada jawaban dari cakka. Oik berusaha membantu cakka berdiri tapi pada saat itu cakka pun ambruk
“cakka” pekik oik
“kka bangun” oik terus mengguncang badan cakka
“mustahil” lirihnya lalu mengeluarkan ponselnya

****

“jadi dok kapan cakka bisa melakukan operasi itu” tanya mama cakka
“maaf bu. Sekarang ini operasi sama saja dengan membunuh cakka secara tidak langsung”
“maksud dokter?”
“penyakit cakka sudah kronis. Leukimia stadium 3 sudah parah. Di tahap ini sel darah putih semakin ganas dan leukimia yang diderita dalam waktu satu minggu akan menjadi stadium 4 Dan operasi hanya sia-sia”
“jadi dokter apa kita harus diam saja”
“berdoa. Minta yang terbaik pada allah. Nyawa cakka berada ditangannya” saran dokter tersebut lalu keluar
Oik menunduk perlahan air matanya menetes. Ia bersandar dipintu, ia baru saja mendengar percakapan dokter dengan mama cakka. Hati oik terasa tersambar petir. Pedih mendengar pengakuan itu
“gk mungkin” lirihnya lalu pergi

****

Sudah 3 hari cakka berbaring di ruang ICU. Oik tak sanggup menunggui cakka didalam, ia tak kuat menahan air matanya. Ia hanya memperhatikan cakka dari pintu. Membiarkan cakka tenang dalam tidurnya
“ik” panggil dayat
“apa kak” tanya oik tapi tetap memandangi cakka
“kamu tak mau melihatnya lebih dekat” tanya dayat
“aku tak kuat kak”
“kuatkan dirimu. Cakka masih koma, percaya kalau kamu kuat cakka juga akan bertahan”
“kakak yakin”
“yah kakak yakin. Masuklah, cakka pasti kesepian, mama dan papanya tak berada disampingnya. Jadi cakka membutuhkanmu” oik diam
“masuklah temui cakka” suruh kak dayat. Perlahan oik membuka pintu lalu menemui cakka setelah ia memakai pakaian khusus. Ia duduk disamping cakka. Menggenggam tangan cakka
“cakka, aku disini. maaf aku tak selalu ada disampingmu. Kamu akan bertahankan. Kamu gk akan ninggalin aku kan? Kamu udah janji sama aku kka kalau kamu akan selalu ada disamping aku! Kamu harus tepati janji kamu! Kka, kamu pasti tahu perasaanku saat ini, kumohon sadarlah, jangan terlalu lama kamu terlelap”
“cakka bangun” pinta oik air matanya mengalir. Oik menangis
“huhu… cakka”

****

“kak oik mana” tanya sivia yang melihat di kursi hanya ada dayat
“tuh didalam” kata dayat sambil menunjuk kedalam ruangan
“dia belum pernah istirahat” tanya ify yang melihat oik tertidur didalam
“iya. Kakak sudah berkali-kali membujuknya tapi ia tetap menolak. Sekalipun istrahat itu hanya sebentar” Balas dayat
“pasti tidurnya oik gk nyaman” tanya rio
“setiap kali tidur. Oik selalu saja menyebut nama cakka, setelah itu ia kembali terbangun. Kakak sendiri tidak tahu bagaimana cara mengatasinya”
“oik gk mau kehilangan orang-orang yang ia sayangi”
“kakak sendiri kasihan dengannya, oik tak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ayah. Walaupun selama 12 belas tahun oik tinggal dengan bunda, itu belum cukup. Oik masih muda untuk merasakan kehilangan”
“iya kak. berat berada diposisi dia”
“kami mengerti keadaan oik”

****

Sudah satu minggu cakka terbaring lemah. Oik benar-benar sudah putus asa. Sulit baginya untuk ber+thinking di saat seperti ini.
“mustahil cakka bisa bertahan saat keadaannya seperti ini” kata oik
“apa tidak bisa kamu bilang mustahil cakka bisa pergi saat kamu masih membutuhkannya” tanya ify
“aku selalu membutuhkan cakka. Tapi kenapa cakka tak pernah bangun” balas oik
“cakka stabil saat ini, tapi dokter tidak memastikan apa yang terjadi 10 menit kedepan” kata mama cakka yang baru saja keluar dari ruang ICU. Oik menoleh kedalam. Cakka sedang ditangani oleh para medis
“apa mustahil cakka akan pergi” bisik oik pada ify. Lagi-lagi oik meneteskan air matanya. Ify menghapusnya
“jangan nangis. Cakka gk suka kalau kamu cengeng” kata ify. Lalu dayat keluar dari ruang ICU
“tante cakka udah sadar. Dan ingin bertemu dengan tante” kata dayat. Senyum manis mengembang dibibir oik. Dayat menoleh ke arah adiknya
“cakka juga ingin bertemu denganmu”
Oik segera masuk kedalam “ik” panggil cakka. Oik tersenyum
“iya. Aku disini” balas oik sambil menggenggam tangan cakka
“aku senang lihat kamu tersenyum” kata cakka lalu memeluk oik, oik balas memeluk cakka
“pelukan terakhir untuk orang tersayangku” gumam cakka
“jangan bilang seperti itu. Kamu sudah sehat” balas oik. Cakka melepas pelukannya.
“kamu nangis” tanya cakka yang melihat sisa air mata dipipi oik
“siapa bilang? Gk koq”
“lalu ini apa” tanya cakka lalu menghapus air mata oik
“jangan nangis saat aku pergi”
“maksudmu”
“aku tak lama. Aku tak ingin melihatmu bersedih. Berjanjilah kau akan tersenyum tanpa diriku disampingku” kata cakka, oik diam tak memberi jawaban cakka lalu menoleh ke arah orang tuanya
“ma, pa. makasih. Aku sayang sama kalian” kata cakka. Orang tuanya tersenyum
“kami juga sayang sama kamu” balas kedua orang tua cakka
“I love you ik”
“love you too cakka” balas oik.
“janji yah ik” kata cakka
“gk” balas oik
“kamu harus janji jangan tetap tersenyum dan jangan sedih” Perlahan cakka menutup matanya, hingga akhirnya jiwanya lepas dari raganya. Mata oik pun berkaca-kaca
“CAKKA” pekik oik sambil mengguncang badan cakka. Air matanya pun mengalir dengan derasnya
“kumohon bangun” pinta oik
 “ik” dayat memegang kedua bahu adiknya tapi oik menepisnya
“ayo kka bangun” pinta oik. Dengan keras dayat menarik adiknya agar menjauh dari cakka. Sahabat oik turut sedih melihat keadaan oik
Dayat memeluk adiknya
“kak cakka hanya tidur kan? Cakka belum pergi kan?” tanya oik disela tangisnya
“ik”
“kak jawab. Cakka hanya tidur kan?”
Dayat mengelus punggung adiknya
“sabar dek. Kuatkan hatimu. Kamu harus tabah menghadapi cobaan ini”
“gk mungkin. Cakka gk mungkin ninggalin aku” lirih oik. Ia lalu berlutut dihadapan kakaknya
“huhuhu kak kenapa harus oik. Dari kecil oik gk pernah lihat ayah. Setelah itu bunda pergi. Sekarang cakka juga harus pergi. Tuhan gk adil ama oik kak” dayat menunduk lalu mengangkat wajah adiknya
“tuhan adil. Buktinya tuhan belum mengambil kakak. kamu harus kuat agar cakka tenang” kata dayat lalu memeluk oik. Oik pun menangis sejadi-jadinya dalam pelukan dayat

****

Selama cakka pergi. Setelah pemakaman. Oik jadi pemurung. Sekolahnya pun tak jelas. Tapi syukurlah nasib baik berpihak padanya. Sekalipun tak belajar saat mengikuti ujian ia bisa menjawab soal dengan baik jadi dia tetap lulus sma
“ik, besok ada reunian, kamu mau pergi” tanya alvin. Selama cakka pergi, alvin hadir untuk menggantikan posisi cakka. Tapi bagi oik cakka takkan tergantikan oleh siapapun. Oik hanya menganggap kebaikan alvin sebagai angin lalu
“apa sih urusan kamu?”
“yah aku hanya bertanya. Karna reunian besok kayaknya gk afdol kalau gk ada pasangan”
“jadi maksud kamu. Kamu mau ngajakin aku”
“iya”
“kalau gitu maaf. Aku bisa pergi sendiri” kata oik lalu pergi. Alvin menahannya
“kumohon kali ini saja ik”
“ngerti gk sih vin? Aku gk bisa yah gk bisa” bentak oik lalu pergi
“apa sih hebatnya cowok penyakitan itu. Udah mati juga oik masih suka sama dia” kesal alvin

****

“ik udah siap?” tanya ify
“iya. Yuk berangkat” jawab oik
“kak, kakak ngasih apa ama oik koq dia mau pergi” bisik sivia pada dayat
“ada aja. Udah cepat pergi sana nanti dia berubah pikiran”
“ok”

Reuni diadakan di aula sekolah. Sebenarnya acara ini hanya acara perpisahan antara para guru dan teman SMA yang sudah lulus. acara reuni di SMA mereka selalu ada penampilan dari siswa yang telah lulus. Setelah kepsek mengucapkan sepatah dua patah kata acara pun dimulai. dan penampilan pertama rio dengan ify. Ify membaca puisi yang sudah dimusikalisasi. Sedangkan rio mengiringnya
“Tersenyumlah saat kau mengingatku.
Karna saat itu, aku sangat merindukanmu
Dan menangislah saat kau merindukanku.
Karna saat itu aku tak berada disampingmu
Tetapi, Pejamkanlah mata indahmu itu.
Karna saat itu aku akan terasa ada didekatmu,
karna aku telah berada di hatimu untuk selamanya
Tak ada yang tersisa lagi untukku,
selain kenangan-kenangan yang indah bersamamu
Mata indah yang dengannya aku biasa melihat keindahan cinta
Mata indah yang dahulu adalah milikku,
kini semuanya terasa jauh meninggalkanku
Kehidupan terasa kosong tanpa keindahanmu,
hati cinta dan rinduku adalah milikku” ify  begitu menghayati puisi yang ia baca. Membuat hati oik merasa tersentuh. Sivia menggenggam tangan oik berusaha menguatkannya
“Cintamu takkan pernah membebaskanku
bagaimana mungkin aku terbang mencari cinta yang lain
saat sayap-sayapku tlah patah karenamu.
Cintamu akan tetap tinggal bersamaku hingga akhir hayatku
dan, setelah  kematian, hingga tangan tuhan akan menyatukan kita lagi.
Betapa pun hati tlah terpikat pada sosok terang dalam kegelapan,
yang tengah menghidupkan sinar redupku,
namun tak dapat menyinari, dan menghangatkan perasaanku yang sesungguhnya.
aku tidak pernah. bisa menemukan cinta yang lain selain cintamu,
karna mereka tak tertandingi oleh sosok dirimu dalam jiwaku.
Kau takkan pernah terganti.
Bagai pecahan logam memecahkan
kesunyian, kesendirian, dan kesedihanku. kini aku telah kehilanganmu” ify mengakhiri puisinya.
“Hilang semua janji semua mimpi, mimpi indah
Hancur hati ini melihat semua ini,
lenyap telah lenyap kebahagiaan di hati.
Ku hanya bisa menangisi, semua ini.
Hancur hati ini melihat kau telah pergi.
Langit menjadi gelap berkelabu,
Menyelimuti hatiku mengubah seluruh hidupku
Mengapa semua jadi begini
Perpisahan yang terjadi diantara kita berdua,
Ku akan menanti sebuah keajaiban yang membuat kita bisa bersama kembali” ify dan rio pun menyanyikan sebuah lagu yang penulis sendiri gk tau siapa penyanyinya. Air mata oik sudah tak terbendung lagi
“ik, kamu gpp?” tanya sivia. Oik tak menjawab. Ia segera meninggalkan tempat duduknya dan berlari ke taman. Alvin yang melihat oik pergi segera menyusul oik. Gabriel pun mengikuti alvin. Kebetulan dayat juga pergi, ia khawatir kalau terjadi apa-apa pada oik
Sesampai ditaman oik tertunduk, ia menangis. Ia teringat akan sosok cakka dalam hidupnya. Alvin mencoba mendekatinya tapi tangan seseorang menahan lengannya
“dia ingin sendiri” kata dayat.
“tapi, oik butuh…” belum selesai alvin berbicara dayat sudah memotongnya
“oik butuh sendiri. Aku kakaknya aku lebih tahu apa yang oik inginkan saat dia sedang sedih” potong dayat
“aku hanya ingin menghiburnya”
“oik juga tak butuh hiburanmu vin”
“alvin jangan egois. Lebih baik kita kembali ke aula” ajak gabriel lalu menarik alvin pergi
“huhuhu… cak..kka” lirih oik. Dayat memegang pundak oik
“dek” panggil dayat. Oik tetap saja menangis
“cakka apa benar suatu saat nanti kita akan bertemu. Apa keajaiban akan mempersatukan kita. Aku benar tak bisa mencari pengganti dirimu” tanya oik sambil menatap langit yang bertaburan bintang. Dayat diam membiarkan imajinasi adiknya bekerja
Bintang pun membentuk rasi seseorang yang sangat berharga bagi hidup oik
“do you believe a miracle” tanya sosok tersebut. Oik mengangguk
“percayalah. Kalau kamu percaya, besar kemungkinan kita akan bersama lagi” pesannya. Lalu langit pun menjadi hitam. Membuat bintang-bintang bersembunyi dibalik awan hitam. Langit mendung, angin pun berhembus dengan kencang
“kita pulang yah. Udaranya dingin, nanti kamu sakit, kalau kamu sakit cakka pasti sedih” bujuk dayat. Oik mengusap air matanya lalu mengangguk. Ia dan dayat pun kembali ke rumah


Ku ungkap perasaanku semua isi hatiku
Aku telah jatuh cinta, sungguh jatuh cinta
Mengapa sekejab saja setelah menunggu lama
Terlalu cepat tuk berlalu dan meninggalkanku
Tuhan dengarkanlah pintaku sampaikan padanya
Walau takkan mungkin bersatu
Di hatiku selalu mencintainya
Andai ku mampu kembali mengulang sekali lagi
Namun telah kau tentukan harus ku terima



_The End_

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Caikers Family Official Blog. Design By: SkinCorner