Selasa, 30 Agustus 2011

HATI (Cerpen by 1 :: yessoy_Bebeh)

 Oik POV
  Hari ini Alvin mengajaku berangkat bersama kesekolah,aku sangat senang mendengarnya dan tentu saja aku tak keberatan sama sekali dengan tawarannya itu.Hari ini juga hari pertama aku resmi menjadi gadis alvin.Ya,kemarin didepan semua anak-anak dikelas,alvin menyatakan cintanya padaku.Karena aku merasa nyaman didekat Alvin dan kami sudah cukup lama berteman,disamping itu alvin adalah anak yang sangat pintar disekolah,akhirnya aku menerima pernyataan cinta Alvin.Tapi ketika aku berkata ‘Ya’ malah terasa aneh,hatiku malah terasa sakit,berdenyut seolah tak menerima perkataanku,tapi aku tak menghiraukan itu.
----------------------------------------------------

Tiiiiiin ...tiiiin..
Suara klakson mobil terdengar didepan rumahku,pasti Alvin !

Aku bergegas memakai sepatu dan langsung menghambur menemui Alvin.Aku tak sempat berpamitan pada Bunda karena memang dia belum pulang,lembur katanya.

Ketika aku hendak membuka pintu gerbang,alvin sudah bersandar didepan mobilnya,dan ketika mendengar suara pagar bergesekan dia menoleh dan tersenyum.

“Pagi Cantik  “ Sapanya padaku
“Pagi jugaaaa “Jawabku lembut dan langsung berdiri dihadapannya
“Berangkat yuk ?! udah lumayan siang nih.”ajakku pada Alvin yang masih memperhatikanku

“Hey ! “ aku melambaikan tangan tepat didepan wajah alvin untuk menyadarkannya.
Alvin malah tersenyum dan menuntunku kebangku depan mobil.
“Ayoooo deh” responnya dan membukakan pintu untukku.

Dasar Alvin ! aku hanya tersenyum mendapat perlakuannya seperti ini.

Ketika mobil Alvin menuju sekolah,aku memeriksa PR ku untuk pagi ini,rasanya aku sudah mengerjakannya.Ketika aku melihat sampul buku yang tulisannya ‘MATEMATIKA’,pelajaran yang aku sukai tapi sulit untuk mengerjakannya,aneh memang kenapa aku menyukai matematika tetapi untuk mengerjakannya cukup sulit.

Aku membuka halaman buku yang semalam aku kerjakan.

“Ya ! ampun ?!” seruku kaget ketika melihat hasil pekerjaanku semalam
“Kenapa Ik?” Tanya alvin heran
“PR ku Vin ,”
“PR kamu kenapa ? belum dikerjain ?” Tanya Alvin lembut dan memandangku sekilas
“iyaaaa,heheh”jawabku cengengesan seperti anak kecil
“ckckc,kamu ini gak pernah berubah.jam pelajaran keberapa emang ? “
“Abis istirahat ini sih,tapi kan ini tugas remedial ulangan kemarin setiap anak dikasih soal yang beda.” Celotehku seperti mengadu

Yaaah,walaupun aku menyukai matematika,tapi kalau ulangan pasti kena remed,selalu !
“ckckckc,yaudah jam istirahat kita kerjain bareng-bareng deh,okeh ?” tawar alvin tersenyum dan tangan kirinya mengacak rambutku pelan.
“beneran ? asikkkkkk,hahah “ Jawabku senang dan kembali memasukan buku matematika ku.

----------------------------------------------------
Cakka POV

“Wah pasangan baru dateng tuh “ ucap Debo melihat sebuah mobil memasuki gerbang sekolah
“hah siapa ? si Alvin ? sama siapa ?” ucapku menyadari bahwa itu adalah kendaraan milik alvin
“Lo belum tau kka ? kemaren kan anak-anak sekelas geger sama tingkahnya si Alvin yang berani itu?”
“Nggak lah,orang kemaren gue sakit.emang kemaren ada apaan sih? ceweknya si alvin siapa?” Tanyaku penasaran
“Oh pantes aja,itu kemaren si Alvin nembak si Oik didepan anak-anak kelas kita.Gila tuh si Alvin ngambil resiko banget.Untung diterima kalo ditolak ? harga diri broow “ Ucap Debo terus memperhatikan Mobil Alvin yang sekarang berhenti diparkiran

Nyuuuuuuuuut..hatiku seakan berdenyut dan rasanya itu sakit,ketika mendengar Oik menerima cinta Alvin.Aneh,tapi memang setiap aku mendengar berita tentang Oik hatiku selalu terasa aneh.

“Hey ! kka lo ngelamunin apa ?! “ Debo menyadarkanku dari entah lamunan atau apa.
“nggak,udah yuk cabut ah ! bentar lagi bel” Elakku mengajak Debo pergi dari tempat tongkrongan kami dibangku dekat gerbang.
“Aneh lu ! “ jawan Debo dan menuruti ajakanku

Entah ketepatan waktu,enath takdir atau apa,ketika aku melewati parkiran,saat itu juga Alvin membukakan pintu untuk Oik dan entah kenapa aku melirik kejadian itu.Hati semakin berdenyut dan sakit,refleks aku memegang bagian dadaku.
Debo berjalan disebelahku dan tiba-tiba dia mendahului langkah ku berjalan menuju Alvin dan Oik.Astaga ! Debo ! terpaksa aku mengikutinya,karena kalau aku tak mengikutinya terlihat aneh saja.

“Hey brooo ! masih anget-angetnya nih ? “ sapa Debo merangkul bahu Alvin sekilas kemudian melepaskannya lagi.
“hahaa bisa aja Lo “ jawab Alvin sedikit canggung
“Hallooo Oik,tambah manis aja sih “ Goda Debo ,aku hanya tersenyum mendengarnya
“hahah bisa aja lo , tapi makasiiih ,heheh “ jawab Oik manis
“Kka lo ko diem sih kaya orang bego gitu ? “ Heran Alvin melihat Cakka hanya menyaksikan adegan didepannya
“biasa lagi PMS dia,jadi males ngomong “ Goda Debo
“sialan lo ! “ jawab Cakka
“ahahah “ Alvin dan Debo tertawa mendengar reaksi Cakka
“Oh iya gue duluan ya “ Pamit Alvin pada Cakka dan Debo dan menggenggam tangan kanan Oik
“Yuk Ik ! “ ajak Alvin

Nyuuuuuttt ,Lagi-lagi Cakka merasakan sakit di ulu hatinya
“Duluan ya Deb....” pamit Oik pada Debo
“kka...”tambah Oik sedikit aneh dengan ekspresinya

Ah aku ini kenapa,antara aku dan Oik itu udah gak ada apa-apa lagi,forget it Caka ! Oik udah milik orang lain,harusnya kamu bahagia ngeliat Oik bisa bahagia.Yah !
-------------------------------------------------------
Jam istirahat Alvin sudah mengajak Oik kekantin,dan aku merasakan hal aneh itu lagi disini ! dihatiku ! Mereka berdua sangat ceria kelihatannya sih bahagia ? entahlah itu urusan mereka.

“Hey kka ! bengong aja , kantin yuk ! “ Debo mengagetkan lamunanku
“Ah elu kebiasaan banget ngagetin gue gini.Pergi deh ntar gue yusul.”
“Ah gak asik lu,ayo deh kka ! “ Debo memaksaku
“Ah kaya cewek lu bawel setengah idup “ Jawabku dan bangkit menuju kantin bersama Debo
“Nah gitu dong ! itu baruu sohib gue haha “ Ucap Debo senang
“ya ya ya “

Saat memasuki kantin lagi-lagi aku harus melihat hal yang sangat tak ingin kulihat.Alvin dan Oik , terlihat mesra ketika ‘sepertinya’ Alvin membantu Oik mengerjakan sesuatu.
“kka duduk sebelah sini aja ya ! “ Debo langsung duduk dimeja yang berjarak satu meja dari meja Oik dan Alvin.
“serah deh “ ucapku pasrah,apa boleh buat tempatnya udah lumayan penuh

Sepertinya Oik menyadari kedatanganku,dan sekilas dia memandangku dan tersenyum,dengan kikuk aku membalas senyumannya kemudian dia melanjutkan kegiatannya bersama Alvin.
Debo kusuruh untuk memesankan makanan dan minumanku ke etalase kantin.

Tiba-tiba seorang wanita menghampiri mejaku,dan ternyata dia lagi.
“Halooo cakka,boleh ikutan duduk sini gak ? tempatnya udah penuh semua nih “ Sapa dan pintanya manis membawa sepiring makanan dan minuman pesanannya.
Karena tak tega aku persilahkan saja,toh kantin ini milik sekolah,dan fasilitas untuk muridnya.
“Oh,silahkan “ jawabku ramah
“makasiiih “ jawabnya tak kalah ramah

Dia Shilla,kata anak-anak sih Shilla menyukaiku.Tapi,entahlah aku tak peduli.Karena selama ini sikapnya biasa-biasa saja ketika dekat denganku,Cuma sedikit lebih ‘perhatian’.
--------------------------------------------
Oik POV

Sejak tadi aku tak bisa fokus pada soal Matematika didepanku ini,lebih tepatnya tak fokus pada penjabaran Alvin.Kasian Alvin udah capek-capek ngejelasin eh aku nya malah gak fokus gini.

Apa perlu pindah ke kelas aja supaya aku fokus ? karena jujur sejak Shilla duduk dimeja Cakka,mata ku tak pernah berhenti untuk terus memperhatikannya.Walaupun hanya sekilas-sekilas karena takut yang diperhatikan menydarinya.
Ketika kali ini aku melirik kearah meja Cakka,Shilla menyuapi Cakka dengan makanan miliknya.

Nyuuuut ulu hatiku mendadak berdenyut sakit seperti kemarin-kemarin dan refleks aku memegang dadaku cukup kuat untuk menahan nyeri itu.Ketika aku menahan nyeri didadaku,cakka melihatku.Melihatku sedang memperhatikannya,melihatku tak fokus dengan pekerjaanku,melihatku sedang menahan sakit ini.Dan ekspresinya diluar dugaan ku,wajahnya terlihat peduli dengan keadaanku,dan terlebih sepertinya dia senang aku perhatikan.

Aneh,tadinya kukira Cakka sudah tak peduli dengan keberadaanku,dengan apapun yang terjadi padaku.Tapi kali ini cara dia menatapku menggoyahkan hatiku.Ya tuhan ! apa yang aku fikirkan ini aku sudah mempunyai Alvin,aku sudah bukan apa-apanya Cakka lagi.

Aku mengalihkan pandanganku kepada buku matematika ku setelah sepersekian detik mataku beradu dengan mata Cakka.
“Vin ...” ucapku pada Alvin yang sedang asik menerangkan
“Ya ? kenapa ik ? “ Alvin mengalihkan perhatiannya padaku
“bisa gak kalo kita kekelas aja , disini terlalu rame,aku gak fokus. “ pintaku pada Alvin sedikit berbohong
“Oh yaudah,aku lupa kalo kamu paling gak bisa belajar ditempat kaya gini.Maaf ya sayang “ Jawab Alvin mengacak rambutku pelan dan memanggilku ‘sayang’ ?! baru pertama kali Alvin memanggilku dengan sebutan ‘sayang’.

And then ? hatiku gak bereaksi apa-apa ketika alvin manggil aku ‘sayang’.Beda dengan Cakka.
Setiap kata yang cakka ucapkan untukku pasti hatiku berdesir,sependek apapun kata yang dia ucapkan.Ah ! kenapa lagi-lagi Cakka yang aku fikirkan ! Ayo Oik,kamu harus bisa lupain dia,kamu harus bisa melangkah tanpa Cakka.

“Hey ! ayo kenapa kamu malah bengong ?! “ Alvin membuyarkan lamunanku
“Aaah,iya iya “ Aku melangkah dibelakang alvin dan tangan kiriku seperti biasa digenggamnya
Fikiranku tak bisa kukendalikan,lagi-lagi hatiku yang mengendalikan,aku menengok kearah Cakka.Dan dia pun memperhatikanku melangkah digandeng Alvin keluar dari kantin.

Gimana aku bisa lupain Cakka kalo hati sama fikiranku gak pernah sejalan ?! selalu berbeda kehendak !Fikiranku selalu berusaha keras untuk melupakan yang pernah terjadi antara Cakka dan aku,tapi hatiku menuntunku kearah yang  berlawanan.Sangat menyiksaku !

-------------------------------------------------------

Writer POV

Hal yang dialami Oik terjadi persis pada Cakka.Keduanya sama –sama menolak kata hati mereka masing-masing bahwa mereka masing saling membutuhkan,masing saling mencintai,masih saling ingin menyayangi satu sama lain.Mereka lebih mementingkan ego masing-masing.
Dulu ketika masih SMP,Cakka dan Oik adalah pasangan kekasih yang sangat serasi,keduanya membuat iri semua pasangan yang melihatnya karena mereka saling melengkapi.
Dan sesuatu hal datang dan membuat mereka seperti sekarang ini.Sama-sama diam tak ada yang mau mengalah,padahal dihatinya mereka sudah sangat merindukan masa-masa ketika berdua.
Seseorang telah mengadu domba mereka berdua,sehingga Oik sempat membenci Cakka.Tapi ketika Oik mengetahui semua kebenarannya,dia terlambat.Oik sudah terlanjur mengucapkan sumpah serapah yang tak sepantasnya ia ucapkan kepada cakka dan ditambah kabarnya Cakka sudah mempunyai pengganti Oik.Dan itu semua membuat Oik putus asa.
“oh..jadi ?! selama ini kamu Cuma jadiin aku barang taruhan ? gitu ! “ marah Oik meledak ketika mendengar percakapan antara Cakka dan beberapa teman Cakka ditempat tongkrongannya semasa SMP.
“Oik ?! “ Cakka sangat kaget melihat Oik telah ada dibelakangnya
“Loh,Ik ini semua gak seperti apa yang kamu denger dan kamu fikirin Ik,aku bisa jelasin “ Cakka memohon dan menggenggam tangan Oik,tapi naas Oik melepaskannya dan langsung berlinang air mata.
Merasa dibohongi habis-habisan oleh Cakka.
“eh,syad bilang dong kalo gue gak jadiin Oik taruhan .Jangan diem aja lo ! “ marah Cakka pada Irsyad sang profokator
“Loh ? emang itu kenyataannya kan kka ? udah lah udah ketauan ini.” Jawab Irsyad kalem,sungguh jawaban diluar dugaan Cakka.
Cakka memandang Oik dan Irsyad bergantian,sorot matanya mengatakan bahwa ‘please Ik,percaya sama aku’. Oik melangkah mundur hendak meninggalkan Cakka dan teman-temannya.
Cakka mengejarnya tapi Oik malah berlari dan menghentikan Taksi,dan Cakka tak berhasil mengejar Oik.Dia kembali pada Irsyad dan teman-temannya.
“Eh syad ! maksud lo apa HAH ?! lo mau fitnah gue didepan Oik ?! gitu ?! “ Habis sudah kesabaran Cakka,kini dia menggenggam erat kerah baju irsyad.
Yang ditanya malah tersenyum penuh kemenangan
“Hah ! anjing lo ! brengsek ! “ Sebuah pukulan melayang tepat di pipi kanan irsyad
-----------------------------------------
Mulai dari situ,Oik selalu menghindar ketika Cakka akan menjelaskan hal yang sesungguhnya.Hingga kini mereka SMA dan bersekolah disekolah yang sama lagi.
Tak ada kesempatan untuk Cakka,itu fikir Oik.Tapi lama kelamaan dia semakin tak bisa menahan keinginan hatinya untuk mendengarkan semua yang akan dijelaskan oleh Cakka.
Dan sekarang setelah semuanya menjadi seperti ini,setelah dia mempunyai Alvin setelah Cakka dekat dengan Shilla,Oik malah menunggu-nunggu penjelasan dari Cakka atas kejadian beberapa tahun yang lalu.Yang bisa dibilang hubungan yang menggantung dan masalah yang menggantung juga.Karena ego Cakka yang terus mengejar Oik tapi tak direspon Oik,dan ego Oik karena merasa dipermalukan sebagai barang taruhan itu.

-----------------------------------------------------------
Cakka POV

Hari ini sudah cukup membuatku sangat tersiksa,melihat Alvin dan Oik seperti itu,rasanya sangat tak rela.
Bingung harus bagaimana.Apakah tidak terlambat kalau aku menjelaskan peristiwa beberapa tahu yang lalu ? apakah Oik mau mendengarkan penjelasanku ? Tapi , gimana sama Alvin ? dia statusnya sudah menjadi pacar Oik ? Tapi aku juga gak mau tersiksa gini terus... ahhh
“Debo ! ya Debo ! “ Aku teringat akan keberadaan sahabatku yang satu itu
Aku mengambil BB ku dan men-dial No Handphone Debo di phonebook ku.
“Hey Deb ! lagi sibuk gak lu ? “ serobotku sebelum Debo mengatakan hallo dan sebagainya
“setdah ! ada angin apa lu tumben-tumbenan nelpon gue ? “
“Gue mau minta pendapat sekaligus solusi lu nih “
“solusi tentang apa ? “
“gue cerita ya nih,tapi lu janji harus kasih gue solusi “
“iya,iya..”
“Jadi gini,sebenernya Oik itu........”
Satu jam aku menghabiskan waktu untuk menceritakan semuanya pada Debo,entah dia mengerti duduk permasalahannya atau nggak,yang jelas aku merasa lega telah menceritakan beban ku ini.
Awalnya Debo tak percaya kalau aku dan Oik pernah menjalin hubungan ketika masih SMP,tapi setelah aku menceritakan semuanya,akhirnya dia percaya.
“jadi ? solusi lo gimana nih ? jujur gue gak sanggup lagi harus mendem semuanya  “
“ini menurut gue ya sob ya , lo kudu ngajak Oik ketemuan,tapi tanpa Alvin pastinya.Dan lo harus minta maaf sama dia,jelasin semuanya.Dan yang terpenting,lo harus ngungkapin perasaan lo sama dia selama ini “ saran Debo
“Gila aja lo ? Oik kan udah punya cowok,nanti kesannya gue ngancurin hubungan mereka dodol ! “
“elu yang dodol,gue bilangkan Cuma ngungkapin perasaan aja,bukan nembak ! lagian PD amat lo kalo Oik juga masih punya perasaan kaya dulu sama lo ? “
“ya gak tau Deb,tiba-tiba aja hati gue yakin banget kalo Oik tuh masih sayang sama gue “
“Yaudah deh terserah lo,intinya gue udah kasih solusi sama lo,udah dulu ya gue ngantuk ! bye ! “
“eh Deb ! Deb ! Debo ! ah resek nih, gue mau bilang makasih malah ditutup “

---------------------------------------------------------------------
Oik POV

Ini malam minggu pertamaku menjadi pacar Alvin,tapi sayang,katanya dia tak bisa kerumah seperti halnya kekasih mengunjungi kekasihnya di malam minggu.Dia harus menemani oma nya yang sendiri dirumah,ya jadilah aku hanya menghabiskan waktu dengan menonton DVD.Mana Bunda lembur lagi,jadi sendiri deh di rumah.Udah biasa juga sih.
Tapi tiba-tiba ada yang ngetok pintu tuh !
“siapa ? “ Tanyaku pada orang yang diluar tapi tak ada jawaban dan aku melihatnya dari balik jendela,tapi dia memunggungi pintu.Tapi sepertinya orang ini tak asing.
Aku memutuskan membukakan pintu .
“mau cari siapa ya ? “ Tanyaku pada orang itu yang masih memunggungiku.
Orang itu mengenakan jaket ungu dan celana jins yang mengecil dipergelangan kaki,terlihat keren sih dari belakang.Dan ketika Orang itu berbalik menghadapku,Ya tuhan !
“Malem Ik ... “ Sapa Cakka lembut dengan sorot mata yang mampu menggoyahkan hatiku,sorot mata yang sangat aku rindukan
“eh ? ma..malem “ jawabku kikuk
“bo..boleh bicara sebentar ? “ Cakka mengucapkan maksud tujuannya kesini
Sempat heran sih,tapi semuanya langsung jelas,Cakka pasti akan menjelaskan sesuatu hal yang sempat tertunda itu.Hatiku tak karuan,antara senang bercampur sedih dan tak sabar juga.
“boleh ? dimana ? diteras atau didalem ? “ Jawabku lebih santai dan rileks
“Di luar aja ya Ik ? “ jawab Cakka tak memilih tawaranku
“Oh yaudah,aku eh mmm gue ngambil switer dulu ,duduk aja dulu “ Jawab merasa bingung dengan aku atau gue
“oke ..” jawab Cakka kalem
Setelah beberapa menit,aku kembali keteras.
“udah siap ? “ Tanya Cakka ketika aku keluar dari dalam
Aku hanya mengangguk
“Bunda kamu masih lembur ? “ Tanya Cakka melihat kedalam rumah
Cakka,Cakka... masih inget aja kalo bundaku suka lembur.
“iya...” jawabku tersenyum
“Oh yaudah ayoo “ Cakka mempersilahkanku manaiki boncengan motornya
Dengan Canggung aku menuruti Cakka,dan tak lama kemudian Cakka menjalankan motornya dan membawa kami entah kemana,yang jelas hanya Cakka yang tahu.Entah kenapa aku tak menolak sedikitpun permintaan Cakka ini,padahal kalo difikir-fikir dengan hubungan kami yang kurang baik,harusnya aku tak mau diajak Cakka keluar rumah seperti ini pada malam minggu pula.Tapi hatiku kembali menjadi pemenang,aku menuruti kata hatiku dibawah alam sadarku.
-----------------------------------------------
Setelah 15 menit menyusuri jalanan dimalam hari,sepertinya aku mengenal tempat ini,dulu.Jalanan yang sepertinya penuh dengan kenangan-kenangan kami.Jalan menuju sekolah SMP ku dulu.
Tak lama setelah aku menydari dimana aku berada,Cakka menepikan motornya di depan bangku pinggir jalan tepat di depan sekolah SMP kami dulu.
Tempat ini ? Hatiku sakit sekaligus senang karena dengan berada disini,semua kejadian ketika kami SMP terputar begitu saja diingatanku.
Dan lagi-lagi refleks aku memegang dadaku,menahan denyutan dihatiku yang terasa linu,dan tanpa aku sadari Cakka melihatnya.
Kami sudah duduk dibangku favorit kami dulu.Beberapa menit tak ada yang memulai untuk berbicara,aku menunggu Cakka berbicara karena memang dia yang ingin mengatakan sesuatu padaku.
“emmm Ik ? “ mulai Cakka dengan nada entah bagaimana,karena aku tidak fokus karena menahan hatiku yang tak lagi berdenyut nyeri,kali ini rasanya tak tergambarkan.
“ya ? “ jawabku menoleh kearahnya dan dia pun menoleh kearahku,otomatis mata kami beradu disatu titik.
“kamu inget tempat ini ? “
“Inget,dan rasanya sakit inget ini semua .” Jawabku dengan nada memilukan
“maaf “ Kata Cakka dengan nada bersalah
“Maaf buat jadiin aku taruhan ? “ timpal ku ringan
“bukan itu,karena aku emang gak pernah jadiin kamu barang taruhan .” jelasnya pilu
“terus ? “
“maaf karena udah buat kamu menderita karena aku,maaf karena udah buat kamu sakit hati,maaf karena aku udah buat kamu nangis,maaf karena... “ cerocos Cakka yang membuat aku melongo,tapi ditengah perkataannya aku memotongnya
“maaf juga udah nuduh kamu yang nggak-nggak,maaf juga udah bikin kamu nyesel kaya gini..” Aku menghentikan kalimatku dan menoleh kearahnya,dia menatapku bingung
“aku udah tahu semuanya..” ucapku menggantung dan membuatnya melongo
“Aku tahu ketika kamu udah punya pengganti aku,jadi aku milih buat nyimpen semuanya sampai waktu yang tepat,dan aku fikir ini waktu yang tepat .”
“kamu tahu semuanya ? irsyad ? fitnah dan ngadu domba kita ? “ jawab Cakka senang
“ya..” jawabku tersenyum
Dadaku semakin bergetar hebat entah karena apa,lagi-lagi aku memegangnya untuk meredam getarannya,lagi-lagi Cakka melihatnya.
“kamu juga ngerasain itu ? “ tanya Cakka , membuatku tak mengerti
“dada kamu,kaya berdenyut gitu ?” tambah Cakka yang langsung membuat ku mengerti
“kamu kok tau ? “ aku malah balik bertanya
“aku sering ngerasain itu ketika kamu mesra-mesraan sama Alvin,entah kenapa tiba-tiba hati aku ngilu...nyeri...berdenyut gitu” penjabaran Cakka yang membuatku terperangah tak percaya.
“kok bisa kebetulan sama gini ya ? “ tanya ku tak mengerti,dan obrolan diantara kami sudah mulai tak kaku lagi
“mana aku tahu,mungkin tuhan nakdirin kita buat sama-sama kali “ Cakka malah menggodaku
“ih,apaan ? aku udah punya Alvin “ ceplosku yang berhasil membuat Cakka kembali memasang muka duka nya
Aku yang menyadari perubahan air mukanya,entah kenapa lagi aku malah berbicara apa kata hatiku
“Tapi aku ngerasa bersalah sama dia...” Cakka menatapku tak mengerti
“Aku gak bisa ngasih hati aku sama Alvin,karena hati aku milih yang lain.” Jawab ku menggantung
“siapa orangnya ? “ Tanya Cakka putus asa
“Hati aku...mungkin ketinggalan disini,disekolah yang ada didepan kita “ jawabku tersenyum menggoda Cakka
“Maksud kamu ? hati kamu masih ada buat aku ?! aku Ik ? “ Tebak dan Tanya Cakka sangat antusias.
“aku gak bilang kamu,aku bilang disekolah ini “
Cakka yakin karena memang waktu SMP aku hanya pernah berpacaran dengannya,hanya mempercayai hatiku untuk dimilikinya.
Cakka merangkul pundakku,mendekapku dalam pelukannya.
“Aku...sayang kamu “ Ucap Cakka mencium kepalaku
“Aku juga “ kataku mendongakan kepala dan mata kami saling bertemu dan kemudian tersenyum bersama.
Entah kenapa berada didekat Cakka membuat hatiku hangat dan nyaman,tak ada yang bisa menggantikan Cakka dihatiku,itu yang baru aku sadari sekarang.
Sekuat-kuatnya fikiranku menolak Cakka,tapi hatiku lebih berkuasa,hatiku menginginkan Cakka.
Entahlah bagaimana Alvin akan memafkan aku atau tidak , biar nanti aku fikirkan jalan keluarnya.Yang jelas maaf banget buat Alvin,karena aku gak bisa buat jadi pacar kamu lagi.Hatiku lebih memilih Cakka.


 -----------------------------S E L E S A I ---------------------------

KEPERGIANMU (Cerpen by mawarfatmah)

“oik, jangan lari kamu yah” teriak seorang remaja laki-laki yang sedang mengejar gadis yang seusia dengannya. Sekitar 16 tahun
“ayo kejar kalau bisa” kata gadis itu. Oik
“awas yah‼. Kalau aku tangkap gk akan aku lepasin” ancam laki-laki itu. Cakka
Lama berkejaran ditaman. Akhirnya cakka berhasil menangkap oik
“tumben kamu menang” kata oik. Kejar-kejaran memang sudah menjadi aktivitas mereka setiap sore. Oik selalu punya ide untuk menjaili cakka dan biasa cakka lelah untuk mengejar oik yang larinya sangat kencang
“gk seneng amat kalau aku menang hhh”
“yah aneh aja gitu”
“hhhh” cakka tak menjawab ia hanya mengatur napasnya
“kamu capek kka?”
“iyalah, aku juga manusia kale ik”
“huh kalah ama aku, kamu”
“yaelah ik. Kalau urusan lari kan kamu emang jagonya”
Oik memang bersifat seperti seorang lelaki. Tomboy, dan nakal itulah dia. Berbeda dengan cakka. Lembut, sopan, dan baik. Oik suka bolos cakka tidak. Oik tidak suka bhs inggris Dan matematik. Berbeda dengan cakka yang sangat senang dengan kedua pelajaran itu. Semua siswi di SMU Nusa Bangsa iri dengan oik. Cakka adalah orang yang perfect dan betapa beruntungnya oik bisa memiliki cakka
“eh kka pulang yuk”
“entar ik. Istirahat dulu”
“sini aku gendong kalau kamu gk kuat jalan”
Cakka cengo. Dimana-mana cowo yang gendong cewe bukan sebaliknya
“udah gk usah. Aku bisa jalan koq. yuk”
“kenapa? Gk suka di gendong ama cewe”
“ik, ntar apa kata orang kalau lihat aku di gendong? Ama cewe pula?”
“hahahaha. Iya, iya aku ngerti. Yaudah istirahat aja dulu”
Lama beristirahat. Caik akhirnya pulang ke rumah. Rumah cakka tak jauh dari rumah oik. Hanya beda satu blog
“makasih. Oh iya gk mampir dulu kka” tanya oik. Cakka memperhatikan rumah oik
“gk usah deh ik. Kayaknya rumahmu sepi lagi. Ntar orang bilang apa? Apalagi ini udah mau gelap!” tolak cakka lembut
“hm.. yaudah kamu hati-hati. Bye” pesan oik. Cakka mengangguk, lalu mengayuh sepedanya. Oik melambaikan tangannya. Setelah cakka berbelok di pertigaan didepan. Ia membuka gerbang rumahnya lalu masuk

****

“pagi oik, pagi kak” sapa cakka pada oik dan dayat. Kakak oik,
“pagi” balas oik dan dayat
“kamu mau menjemput oik?” tanya dayat
“iya kak” jawab cakka
“yasudah kalian hati-hati” pesan dayat lalu pergi ke kantor menggunakan mobilnya. Oik lalu naik ke jok  belakang motor cakka
“kamu udah makan obat” tanya oik setelah memakai helm-nya. Cakka menatap oik
“obatku udah habis” jawab cakka lalu menstater motornya
“yaudah sepulang sekolah kita ke apotik” kata oik
“ik kalau bergantung ama obat terus. Sama aja”
“yaudah besok kamu harus kemoterapi, besokkan jadwalnya”
“terserah” balas cakka lalu melaju. Oik sudah angkat tangan melihat tingkah cakka

****

“ik, Mau ikut lomba karate lagi?” tanya cakka. Oik menoleh lalu tersenyum
“iya dunk” jawabnya lalu kembali memakan baksonya
Oik memang nakal tapi bukan berarti dia tak berprestasi, ia sudah sering mengikuti kejuaraan karate. Tingkat provinsi maupun asia. dan ia kembali tidak dengan tangan kosong, ia selalu membawa pulang juara 1, dan 2. Itulah prestasi oik
“yah ditinggal deh aku” ucap cakka lesuh. Oik kembali menoleh ke arahnya, mengelus pundaknya
“gk lama koq say” balas oik
“iya gk lama paling cuman 1 minggu kan?” sindir cakka
“itu cuman sebentar kale”
“huft… dokter pribadiku pergi deh”
“konsultasi lewat ponselkan bisa”
“tapi gk sama kalau secara langsung”
“lho apa bedanya?”
“kan kalau secara langsung. Aku bisa juga lihat wajah kamu. Kalau lewat ponsel. Cuman denger suara kamu. Kalau cuman denger suara kamu yang ada aku tambah sakit”
Oik merangkul cakka “jangan kebanyakan gombal. Kubiarin mati tahu rasa kamu”
“hih jahat banget sih kamu say” kata cakka manja
“woy… ngapain pacaran disini. ini kantin bukan cafĂ©‼” seru segerombolan orang yang mendekat ke arah mereka, oik segera melepas rangkulannya
“kalian berdua tuh yah. Gk care banget. Ke kantin cuman berdua. Gk ada lagi yang manggil kita” protes Gabriel. Salah satu sahabat cakka. Ia lalu duduk diantara cakka dan oik
“iya nih. Disekolahkan bukan tempat pacaran. Jadi kalau di sekolah inget kita donk” kata sivia. Kekasih gabriel juga sabahat karib oik. Oik pindah dari tempatnya dan duduk di depan cakka tepat disamping sivia
“ih kalian apaan sih” kesal oik
“ik, jangan marah ntar cepat tua” nasehat Ify. Sahabat oik
“iya nih. Gabriel juga sih kenapa pake duduk disitu itu kan tempat oik. Marah deh oiknya” kata rio. sahabat cakka
“udah deh. Pada mau panas-panasin aku atau makan mau makan?” tanya oik yang sudah mulai naik darah
“ya makanlah‼” seru keempat sahabatnya
“yaudah sana pesan makanan. Jangan tinggal disini aja”
“iya mbak‼”

****

To : Cakka
Hri in gk mau main??

From : Cakka
Gk, gmna klu kmu aja yg kerumahq

To : Cakka
Oh yaudah. Klau gtu tggu ak.

10  menit kemudian. Oik sampai dirumah cakka. Oik memberi salam, lalu masuk kerumah cakka, cakka sedang menonton tv. Sebagai tuan rumah yang ramah ia berdiri dan mempersilahkan oik duduk.
“siang ik, ayo duduk” Oik hanya membelakangi cakka, Wajah oik memerah. Bukan karna cakka mempersilahkannya
“kamu kenapa?” tanya cakka bingung
“i… itu” oik menunjuk ke arah cakka
“itu apa ik?” tanya cakka tak mengerti
“aduh! Itu cakka”
“itu apa sih?”
“celana kamu!”
“celana aku kenapa?”
“kereta api kamu gk jalan!” ucap oik malu-malu. Cakka segera menunduk
Ow..ow..‼ sembraut rona merah Menjalar di wajah cakka
“hehehe tadi habis dari toilet trus lupa” balas cakka yang sudah selesai menjalankan kereta apinya. Oik berbalik dengan sisa rona merah di wajahnya dan segera menjatuhkan dirinya di sofa
“teledor!” komentarnya. Cakka duduk disampingnya
“kamu lihat?” goda cakka. Oik manyun
“lihat apa?” tanya oik kesal. Cakka hanya tersenyum, oik mengerti maksud cakka
“yah gk lah. Kamu kan pake celana boxer didalamnya. Huh!”
“iya. Iya becanda. Jangan marah lagi dunk”
“kamu sih”
“maap!”
“iya aku maafin” baals oik. Cakka lalu merangkul oik membisikkan sesuatu pada oik
“tapi sebenarnya kamu senengkan kalau lihat?” goda cakka. Dalam hitungan detik oik melepas rangkulan cakka lalu memukul cakka
“hih dasar kamu yah‼” cakka berusaha menghindar dari pukulan oik
“ampun ik… janji deh aku gk bakal ngomong gitu lagi”
“dari tadi juga kamu minta ampun tapi tetap aja”
“kali ini beneran ik” oik berhenti memukul cakka.
“janji” tanya oik. Cakka berpikir
“gk janji sayang!” kata cakka sambil memencet hidung oik lalu berlari. oik mengejar cakka. Akhirnya mereka kejar-kejaran di ruang tengah.
Lama berkejaran cakka kembali duduk disofa
“ok! Kamu menang lagi” kata cakka pasrah. Oik duduk disampingnya. Tidur dipangkuan cakka
“mengalah nih?” tanya oik sambil menatap wajah cakka. Cakka menunduk menatapnya
“bukannya mengalah hhh tapi kamu emang menang” cakka mengatur napasnya
“kamu cepat lelah pasti karna penyakitmu. Kita chek up yuk”
“besok aja. Kan besok aku kemoterapi” oik mengubah posisinya. Ia bangun dari tidurnya
“yaudah janji yah kamu mau pergi”
“janji. Semua yang menurutmu terbaik. Akan kulakukan ik” kata cakka
Oik memeluknya. Cakka membalas pelukan oik “makasih cakka. Kamu harus kuat, kamu harus bertahan yah”
“aku gk akan biarin kamu sedih ik. Demi kamu aku akan coba” cakka mengelus punggung oik. Oik menangis dalam pelukan cakka. Ia belum siap, belum siap menghadapi kenyataan jika orang yang sangat ia sayangi harus pergi

****

“bi oik udah bangun?” tanya cakka pada pembantu oik yang sedang menyiapkan sarapan untuk oik dan dayat. Dayat adalah kakak oik, tapi gk tau lagi kemana. Mungkin masih dikamar. Sekarang dia mau jemput oik ke sekolah
“belum den. Tadi saya bangunkan tapi non oik masih tidur” jawab pembantu oik
“yaudah aku ke kamarnya yah bi”
“silahkan den” cakka berjalan ke lantai dua. Memasuki kamar yang serba pink. dan mendapati cewe mungil yang masih betah bersembunyi di balik selimut pink-nya sambil memeluk guling yg juga berwarna pink
“aku gk pernah ngerjain kamu ik” lirih cakka. Ia ada niat untuk membalas oik. Sekilas ia memperhatikan wajah oik
“sekalipun lagi tidur. Masih aja tetap imuet” lirih cakka lalu mengambil napas
“GEMPA BUMIII!!!!!!!” teriak cakka tepat di telinga oik. Seketika oik bangun dan berlari mengambil boneka doraemonnya. Cakka menahan tawa melihat tingkah kekasihnya
“kenapa tinggal diam aja?” tanya oik yang masih ribet mengambil barang-barangnya
“trus aku harus ngapain” tanya cakka balik
“selamatin barang-barang”
cakka menghampiri oik “untuk apa oik”
“kamu bilang kan gempa bumi” tanya oik polos
“cuman becanda sayang biar kamu cepat bangun” jawab cakka santai. Oik mengambil ancang-ancang untuk memukul cakka
“hih kamu tuh yah… huh dasar‼” oik tak berhenti memukuli cakka
“ampun… iya deh… gk akan ku ulangi lagi… ampun ik…”
“awas kamu yah‼”
“udah deh. Sana mandi. Ntar telat. Manjat gerbang lagi kita”
“yaudah kamu juga keluar sana”
“aku disini aja” balas cakka. Oik kembali mengambil ancang-ancang
“he iya iya aku keluar” lanjut cakka lalu keluar dari kamar oik
“huh” kesal oik lalu masuk ke kamar mandi

****

“huh pelajaran pertama matematik. Gk mau belajar ah” gumam oik. Cakka yang kebetulan duduk disampingnya menoleh
“mau bolos lagi?” tanyanya
“yup” jawab oik
“ikutin aja ik. Sekali aja”
“gk berubah kka. Tetap sama aja. Aku gk akan bisa matematik”
“coba yah ik”
“kalau bu winda sedang menjelaskan sedangkan aku tertidur kamu mau tanggung kalau aku dimarahi?”
“oik ayolah. Jangan bolos yah, kali ini aja” bujuk cakka. Oik tampak berpikir.
“iya deh demi kamu. Ntar nangis lagi klau aku bolos”
“yes!” seru cakka
“lebay” kata oik, cakka hanya nyengir
Tak lama bel berbunyi. Bu winda pun masuk ke kelas
“pagi anak-anak” sapanya
“pagi bu!!!!!” seru seluruh siswa. Bu winda mengamati bangku kedua di sudut ruangan
“oik? Tumben masuk?” tanya bu winda
“gk seneng nih bu kalau saya ikut pelajaran ibu” tanya oik balik. Bu winda tersenyum. Lalu berjalan ke mejanya
“ibu sangat senang kalau kamu ikut pelajaran saya. Baiklah semua keluarkan buku catatan kalian. Kalian akan mencatat beberapa rumus penting dalam matematika”
“iya bu!!”
Dengan malas oik mengeluarkan buku catatan matematiknya yang masih kosong, sebenarnya gk juga sih, tapi catatan oik masih dua lembar beda dengan buku catatan teman yang lain. Mungkin sudah setengah buku
“selama cakka pacaran dengan oik. Oik sudah jarang membolos ketika pelajaran saya” batin bu winda. Dia bangga pada murid kesayangannya itu. Karna sudah membuat oik ingin belajar matematik. Bisa dibilang oik itu haters matematik

****                                                                 

Bel istirahat pertama sudah berdering tapi Oik masih ada di dalam kelas. Mengamati catatan matematika cakka. Sivia teman sebangku oik. Melirik ke arahnya
“ngapain ik? Tumben gk ke kantin? Cakka udah pergi tuh!” tanya sivia
“bentar via. Aku lagi sibuk!” jawab oik tetap fokus pada buku didepannya
“ngapain sih ik?” tanya sivia lagi. Oik lalu menoleh ke arahnya
“koq bisa sih cakka itu jago banget hapal rumus-rumus ini” tanya oik sambil memperlihat buku cakka pada sivia
“tanya cakkanya. soalnya aku juga gk tau”
“cakka hebat yah. Tapi sayang”
“ik. Cakka lagi happy-happy-nya sekarang. Jadi jangan ungkit itu”
“aku cuman gk mau dia kenapa-kenapa. Aku gk tahu kenapa dia sangat keras kepala. Setiap dia jadwal kemoterapi. Dia pasti selalu mencari alasan. Entah motornya rusaklah. Dia sengaja kempesin bannya lah atau apalah”
“tapi dia rajin kan minun obatnya?”
“rajin buang obatnya iya”
“yaudah sabar aja ik. Suatu saat nanti cakka akan nurut koq ama kamu”
“hm.... kemarin sih dia bilang mau kemoterapi. Tapi gk tahu kalau ntar dia berubah pikiran. Aku bingung” oik menunduk lemas. Mengingat umur cakka yang mungkin tak bertahan lama. Sivia merangkul oik berusaha menguatkannya
“konsentrasilah pada perlombaanmu. percayakan cakka padaku dan yang lain. Aku janji akan merawatnya selama kau di jepang”
“makasih via”

****                                                                 

“kak aku mau temenin cakka kemoterapi yah” pamit oik
“hati-hati dek” balas dayat. Oik lalu mengayuh sepedanya ke rumah cakka. Mengharapkan cakka untuk menjemputnya itu tidak mungkin. Kalau ia tak memaksa cakka untuk kemoterapi cakka tak akan mau. 10 menit kemudian oik sampai dirumah cakka. Ia langsung saja masuk kedalam rumah karna pintu rumah terbuka.
“cakka” oik menghampiri cakka di ruang tengah yang sedang asyik nonton tv. Cakka berbalik
“kenapa?” tanyanya
“koq belum siap”
“masih jam 2 ik, lagipula kamu belum menelpon dokter rendra kan?”
“udah,,, udah dari kemarin. Sana ganti pakaian”
“oik aku…” belum selesai cakka berbicara oik sudah memotongnya
“cakka kalau emang kamu gk mau buat aku sedih plis jangan egois. Kamu punya segalanya, tapi kenapa kamu gk mau kemoterapi untuk menyembuhkan penyakit kamu. Apa kamu mau meninggalkan aku. Apa kamu mau aku sendiri disini. ok memang aku sering meninggalkanmu jika aku pergi kejuaraan tapi setelah itu aku kembali. Tapi coba kamu pikirin kalau kamu pergi apa bisa kamu kembali lagi untuk aku” jelas oik. Matanya berkaca-kaca
Cakka berdiri lalu menghampiri oik. Memeluknya erat “gk, aku gk akan ninggalin kamu. Aku gk akan biarin kamu sendiri. Aku gk marah koq kalau kamu pergi keluar kota bahkan keluar negri untuk mengikuti kejuaraan. Justru Aku sangat senang” tutur cakka lalu melepas pelukannya. Menatap oik dalam. Lalu menghapus sisa air mata di pipi oik
“jangan nangis. Bukan oik kalau ia menangis” kata cakka lalu mengecup kening oik dan kembali memeluknya. Oik membalas pelukan cakka
“andai saja bisa aku meminta tuhan. Kumohon cabutlah penyakit cakka. Buatlah dia hidup lebih lama. Buatlah dia berada lebih lama disisiku” batin oik

****                                                                 

“bagaimana dok? Apa ada kemajuan dari cakka?” tanya oik pada seorang dokter. Dokter itu menghela napas dengan berat
“karna cakka sangat jarang melakukan kemoterapi dan jarang meminum obat. Leukimia yang diderita cakka semakin parah, kalau hanya di bantu dengan obat-obatan leukimia cakka bisa jadi stadium 4, Dan itu sudah sangat parah. jadi secepatnya harus dilakukan operasi tulang sum-sum belakang”
“maksud dokter? Leukimia yang diderita cakka sudah stadium 3?”
“berat untuk mengatakannya. Tapi kamu harus menghubungi orang tua cakka. Dan beritahu mereka tentang keadaan cakka sekarang ini”
“apa tulang sum-sum seorang ibu itu akan cocok dengan anaknya?”
“tidak semua”
“jadi dok?”
“jangan berpikir negatif, optimis bahwa cakka akan selamat”
“baik dok”

****                                                                 

“tante, apa tante bisa pulang sekarang?”
“ada apa ik?”
“cakka tante!”
“cakka kenapa oik?” terdengar suara khawatir oleh ibu cakka
“leukimia cakka sudah stadium 3. Dan dokter menyarankan agar cakka segera diberi donor tulang sum-sum belakang, dan tulang sum-sum yang cocok itu hanya ada pada ibu cakka”
“cakka”
“dokter memberi waktu 1 minggu tante”
“baiklah tante segera pulang”

****                                                                 

Oik duduk diatas ranjangnya. Memeluk kedua lututnya dan menundukkan kepalanya di antaranya. Dayat menghampirinya
“kamu kenapa??” tanya dayat. Oik mengangkat wajahnya
“cakka!” jawab oik singkat
“cakka kenapa?”
“leukimia!”
“kakak tahu kalau cakka itu leukimia ik”
“tapi kak leukimia cakka sudah stadium 3 kak. Dokter bilang kalau tidak dilakukan donor tulang sum-sum belakang penyakit cakka akan semakin parah”
Dayat memeluk adiknya “kamu  yang sabar yah ik”
“kakak!”

****

Hari ini oik berangkat ke jepang untuk mengikuti kejuaraan. Oik adalah salah satu wakil dari indonesia yang dipilih untuk mengikuti kejuaraan di jepang
“cakka jangan lupa minum obatmu yah” kata oik mengingatkan
“iya. Kamu jga jangan sampai telat makan” balas cakka juga mengingatkan oik
“kamu baik-baik disana ik”
“bye…”

****

From : Oik
Udah minum obat syng ??
^_^

To : Oik
Udah kq!
Kmu ndri. Dah makan??

From : Oik
Bener??
Iy. Ak dh makan‼

To : Oik
Iya ak bener! Gk bohong! Mati aku klau bohng!
Kamu jga bener udah makan??

From : Oik
Hush jgn bilang mati ah! Smua org kan pasti mati!
Iy ak dah makan. Ak gk juara klau bhng

To : Oik
Klau gk juara. Mencetak rekor dunk!

From : Oik
Iy..
hehehehe

****

Esok paginya cakka berangkat sekolah sendirian tanpa oik.
“kka. Udah minum obat?” tanya gabriel saat cakka duduk di kursinya. Lalu menoleh ke arah gabriel yang duduk disebelahnya
“koq kamu jadi kayak oik sih?” tanya cakka. Gabriel tersenyum
“disuruh sama oik!” jawab gabriel
“dia terlalu khawatir padaku” komentar cakka. Rio lalu menghampiri mereka
“kamu harusnya bersyukur bisa dapat oik. Jarang lho cewek yang mau on time ingetin cowoknya buat minum obat.” Kata rio
“bener kka. Cuman oik cewe yang selalu mensport kamu”
Cakka tersenyum “iya juga sih”
“lakuin yang terbaik untuk oik selagi kamu bisa” kata gabriel
“Dan itu adalah turuti kemauan dia. Kalau dia kamu kemo. Kamu harus lakuin itu. Apapun yang oik minta selagi itu bermanfaat untuk kondisi kamu, turuti. Jangan buat dia kecewa karna ke egoisanmu” tambah rio. cakka sudah kehabisan kata-kata untuk membalasnya. Ia memutuskan diam
“bagi oik kamu itu adalah sebagian dari hidupnya. Walau jalan kalian selalu berlawanan, tapi oik selalu mementingkanmu.”
“janji jangan pernah kecewain dia” tanya rio. cakka mengangguk

****

1 minggu kemudian, oik sudah kembali dari jepang dengan membawa pulang juara 2. Tak apalah sebenarnya bagi oik kejuaraan itu bukan untuk menjadi yang juara 1 tapi untuk mencari pengamalan. Karna menurut oik pengalaman adalah guru yang sangat berharga. Dan oik sangat menjaga cakka, karna ia juga berpengalaman dengan penyakit itu, sebelum cakka ibunya yang tersayang juga mengidap penyakit leukimia, untung saja penyakit itu tak turun kepadanya, tapi sialnya cakka lah yang terkena penyakit itu. Oik sangat tahu semua tentang penyakit itu, jadi ia ingin terus berada disamping cakka, sampai cakka sembuh. Walau iya tahu hanya 40% orang yang mengidap penyakit leukimia stadium 3 bertahan hidup. Tapi bagi oik tak ada salahnya berharap. Toh iya mengharapkan hal yang positif

****

“selamat yah ik. Lagi-lagi, tidak dengan tangan kosong” puji sivia
“jangan terlalu banyak memuji. Ntar aku salting” balas oik
“iya kalau oik salting. Semuanya dibanting lho” ledek cakka. Oik menyikut lengannya
“apadeh kamu?” tanya oik kesal. Cakka merangkulnya
“jangan marah. Kan becanda” kata cakka
“gk lucu becandanya” kesal oik
“ckckck tumben amat berantem. Biasanya juga selalu akur?” tanya ify
“akur darimana orang oik selalu ngerjain aku” kata cakka
“kalau kamu lagi tidur aja” ralat oik
“ih gk deh. Waktu itu aku lagi baca komik trus komiknya kamu ambil trus diceburin di kolam” kata cakka. Sivia, gabriel, rio, dan ify hanya geleng-geleng kepala
“diskusiin deh. Yuk kita pindah” celetuk rio
“ngambek?” tanya CaIk
“kalian sih. Sibuk berdua. Gk nyadar apa disini ada kita?” tanya gabriel
“hehehe maaf deh kalau gitu. Yuk lanjutin makan semua”
“daritadi juga kita udah makan gk pernah di pending kalian aja gk nyadar. Sibuk berantem sih”
“oh gitu yach yaudah diterusin”
“apa bedanya?”
“lanjutin kan depannya L kalau terusin depannya T” balas cakka
“tapi intinya sama kan?”
“iya sih”
“io. Cakka. Udah jgn diskusiin itu makan tuh baksonya ntar bel” tegur sivia
“iya”

****

“assalamu alaikum” oik memberi salam. Tapi tak ada jawaban dari sang pemilik rumah
“cakka… cakka… cakka” panggil oik. Sore ini oik datang kerumah cakka karna cakka tak bisa bermain dengannya, ia jadi khawatir dengan cakka. Tak ada jawaban dari dalam. Oik menerobos masuk kerumah cakka. Itu hal biasa bagi oik. Apalagi cakka tak punya pembantu jadi klau tidak menerobos, mustahil mengetahui hal apa yang terjadi didalam
“cakka” panggil oik lagi
“kamu dirumah kan?” tanya oik. Ia sampai di ruang tengah. Bersiap menaiki anak tangga. Lalu menoleh ke arah tv
“tv-nya menyala? Pasti ada di sofa” batin oik. Arah tangga dan sofa memang berlawanan jadi kalau cakka asyik molor di sofa tak ada yang bisa melihat. Oik berjalan ke arah sofa. dan benar saja ia menemukan makhluk yang sedang asyik dimimpinya. Ide jail pun muncul di otak liciknya. Dengan segera ia meniban badan cakka
“aduh…” rintih cakka. oik tak memperdulikannya dan berpaling untuk mematikan tv di depan
“oik sakit tahu‼” kesal cakka
“kamunya sendiri koq tidur. Tahu gk ini jam berapa?” tanyaku
“emang jam berapa?” cakka malah balik nanya. oik menoleh ke arah cakka
“jam 3. Ini tuh jam main kita. Oh iya satu lagi. Aku kan udah bilang berapa kali ama kamu kalau kamu tuh gk boleh tidur di sofa. ntar badanmu sakit. Kalau mau tidur di kamar. Paham!”
“iya” balas cakka
“udah sana. Cuci muka” pinta oik lalu beranjak. Cakka menahan lengannya. oik berbalik menatapnya
“kamu mau pulang?” tanya cakka nampak sedih. oik membelai kedua pipinya
“sayang. Kamu kenapa sih? Aku cuman mau ke dapur ambil minum!”
“kak dayat lagi gk dirumah kan? Malam ini temenin aku disini. soalnya orang tua aku sedang tugas keluar kota. Jadi aku sendirian dirumah dan aku takut kalau kamu pulang sekarang”
“iya deh!” balas oik
“udah sana cuci muka. Biar tambah ganteng!” oik berlalu. Cakka hanya tersenyum dan berjalan ke kamar mandi

****

“nih makan malam kamu. Makan ini habis itu obatnya diminum” jelas oik sambil menaruh nampan berisi makanan di meja yang terletak disamping ranjang cakka. Cakka bangkit dari tidurnya lalu mengambil nampan tersebut. Oik duduk disampingnya
“kamu gk makan?” tanya cakka
“aku udah” jawab oik
“dimana?”
“tadi dibawah”
“koq gk bareng aku”
“aku lagi laper banget. Kamu kan makannya harus tepat waktu. Gk boleh kecepatan dan gk boleh kelewatan. Beda ama aku yang kapanpun boleh”
“kamu juga harus mengatur pola makanmu”
“udah tenang aja. Cepat dimakan. Sebelum supnya dingin”
Cakka tersenyum sambil menoleh ke arah oik “suapin” pinta cakka manja. Oik lalu mengambil sendok yang dipegang cakka
“udah besar juga. a…” kata oik lalu menyuapi cakka
“masakanmu enak! Belajar dimana?” tanya cakka
“waktu bunda masih ada, setiap dirawat di rumah sakit. Dokter selalu memberi ini. dan dokter bilang makanan ini sangat cocok untuk penderita leukimia.Jadi aku mencoba mempelajarinya dengan koki rumah sakit itu lalu memberinya setiap hari pada bunda sekaligus berharap ini mempercepat penyembuhan bunda tapi sayang baru 1 minggu bunda mencicipi sup buatanku dia harus pergi” cerita oik. Matanya berkaca-kaca ia teringat saat ibunya masih ada tak ingin cakka mengetahuinya ia kembali menyuapi cakka
“maaf ik” pinta cakka
“untuk apa?” tanya oik
“udah buat kamu sedih” balas cakka lalu air mata yang berlinangan dimata oik pun tumpah. Cakka pun menghapusnya
“gpp koq” kata oik. Cakka tersenyum
“jangan sedih yah” oik mengangguk
“aku benar-benar semakin cinta sama kamu ik” batin cakka.
Selesai makan n minum obat. Oik bercerita tentang pengalamannya di jepang kemarin. Banyak hal yang menarik, saat ia menemukan orang korea yang tersesat dan orang tersebut mengira dia adalah orang jepang. Oik sangat bingung ketika orang itu berbahasa jepan. Bahasa jepang yang oik tahu hanya arigato. Setiap dia mengucapkan itu ia menahan tawanya sendiri. Karna dia sendiri bingung apa benar dia harus berterima kasih pada orang yang bertanya padanya.
Lama bercerita cakka pun mengantuk dan berbaring
Setelah oik memastikan bahwa cakka sudah tertidur. Ia lalu ke kamarnya tepat disamping kamar cakka. Cakka yang meminta orang tuanya untuk membuatkan oik kamar tepat disamping kamarnya.
“semakin lama. Bukannya tambah dewasa cakka hanya tambah manja padaku” lirihnya lalu memejamkan matanya

****

Matahari sudah menampakkan sinarnya, karna hari ini hari minggu, tentu saja para anak muda masih betah ditempat tidurnya. Begitupun dengan cakka, yang masih asyik dengan mimpinya. Sinar mentari masuk kekamar oik melewati cela-cela gorden. Oik yang merasakan silau pun bangun ia mereganggakan otot-ototnya lalu menoleh kesampingnya
“Cakka?” tanya oik lalu mengucek matanya
“beneran cakka” oik memastikan bahwa cakka sedang asyik tidur disampingnya. Ia lalu menarik selimutnya juga guling yang dipeluk cakka. Cakka tersadar. Lalu bangun dan mengucek kedua matanya
“kenapa sih ik. Inikan hari minggu aku masih ngantuk” tanya cakka
“sejak kapan kamu tidur dikamar aku?” tanya oik balik
“oh itu. Semalam mati lampu. Sedangkan kamu tahukan aku takut sama gelap yaudah aku mengendap-endap aja ke kamar kamu”
“cakka nyebelin deh” kesal oik
“trus aku harus gimana. Masa’ aku harus teriak minta tolong, mana mungkin ada yang dengar apalagi udah pukul 3 subuh, yaudah karna aku tahu kamu gk suka kunci pintu kamar. Jalan satu-satunya mengendap-endap kesini” jelas cakka. Oik tampak marah
“Jangan marah dulu aku cuman meluk guling koq bukan meluk kamu” lanjutnya lalu kembali tidur
“Cakka” panggil oik manja. Cakka menoleh kearahnya
“kenapa lagi??”
“sana mandi”
“entar aja masih pagi. Kamu aja duluan”
“kita jogging. Kamu juga harus banyak olahraga”
“ntar sore aja ik. Aku masih ngantuk”
“yaudah kalau kamu memang masih mau tidur aku gk maksa koq” kata oik lalu beranjak. Ia berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah itu keluar ntah kemana.
Lama cakka tertidur ia teringat sesuatu
“Jangan buat dia kecewa karna ke egoisanmu”
“oik” gumamnya lalu bangun dan keluar mencari oik
Tempat pertama yang ia datangi adalah dapur. Mungkin oik menyiapkan sarapan tapi nihil oik tak ada disana
“atau oik udah pulang” lanjutnya. Lalu ia menjatuhkan dirinya ke lantai
“aku egois. Lagi-lagi aku buat oik kecewa” lirihnya. Matanya menatap lurus kedepan. Tepat dimana tamannya berada. Ia tersenyum lalu berjalan ketaman
“oik” lirih cakka lembut sambil memeluk oik dari belakang. Oik mendongak lalu memegang kedua tangan cakka
“kenapa?” tanya oik. Cakka menyadarkan kepalanya di punggung
“maaf”
“maaf untuk apa”
“untuk yang tadi. Aku terlalu kasar padamu”
Oik tersenyum lalu memutar badannya menghadap ke cakka “kamu gk salah koq. lagipula kamu juga gk kasar. Sama sekali tidak. Mungkin aku yang salah terlalu memaksamu”
“tidak ik. Kamu tidak salah tapi aku yang salah”
“sudahlah, ini gk akan selesai kalau aku gk ngalah”
“hehehe aku egois lagi yah”
“itu memang sudah kebiasaanmu”
“tapi kamu bisa merubahnya”
“tapi hanya sebentar kan?”
“iya sih tapi itu kan udah berubah”

****

“kka. Koq aku udah gk pernah lihat kamu tanding atau latihan basket” tanya oik lalu duduk disamping cakka
“aku udah keluar”
“ah keluar. Kenapa emang? Ada yang suka gangguin kamu? Siapa? Bilang sama aku” tanya oik. Cakka tertawa melihat reaksi oik
“kamu lebay deh!”
“eh oh hehehe” oik jadi salting. Cakka geleng-geleng melihatnya
“jadi kenapa kamu keluar dari tim basket. Harusnya kan kamu banyak olahraga”
“aku gk mau nyusahin mereka. Kalau aku kemo pasti aku gk latihan. Daripada mereka ngandelin aku yang udah gk mampu lebih baik aku keluar”
“cakka jangan bilang gitu ah. Bagi aku kamu itu tetap yang terbaik”
“bagi kamu tapi bagi mereka”
“jangan pernah menyerah karna kekuranganmu kka”
“aku pasti main basket koq. tapi hanya dikamar. Tidak ikut pertandingan seperti dulu”
Oik menatap cakka. Ia tersenyum cakka membalasnya “kenapa harus kamu sih kka. Kenapa harus orang yang kusayangi” tanya oik sambil menunduk. Cakka memegang dagunya lalu mengangkat wajahnya perlahan
“tuhan punya rencananya sendiri” kata cakka lalu mengecup bibir oik
“cakka” lirih oik.
“maaf kufikir itu bisa menenangkanmu” kata cakka.
“bukan cakka tapi bibir kamu” tanya oik yang melihat bibir cakka merah. Cakka pun memperhatikan bibir oik
“kamu pake lipstik ik” tanya cakka. Oik lalu menyentuh bibirnya
“apa ini darah?” tanyanya dalam hati
“aku gk pake lipstik. Kita harus kerumah sakit”
“untuk apa”
“kamu mimisan”
“aku?”
“ini darah dari kamu. Bukan lipstik aku”
“aku gpp ik”
“tuhan kepalaku kenapa” batin cakka
Cakka tersenyum sambil memegangi kepalanya “cakka kamu kenapa”  tanya oik. Tak ada jawaban dari cakka. Oik berusaha membantu cakka berdiri tapi pada saat itu cakka pun ambruk
“cakka” pekik oik
“kka bangun” oik terus mengguncang badan cakka
“mustahil” lirihnya lalu mengeluarkan ponselnya

****

“jadi dok kapan cakka bisa melakukan operasi itu” tanya mama cakka
“maaf bu. Sekarang ini operasi sama saja dengan membunuh cakka secara tidak langsung”
“maksud dokter?”
“penyakit cakka sudah kronis. Leukimia stadium 3 sudah parah. Di tahap ini sel darah putih semakin ganas dan leukimia yang diderita dalam waktu satu minggu akan menjadi stadium 4 Dan operasi hanya sia-sia”
“jadi dokter apa kita harus diam saja”
“berdoa. Minta yang terbaik pada allah. Nyawa cakka berada ditangannya” saran dokter tersebut lalu keluar
Oik menunduk perlahan air matanya menetes. Ia bersandar dipintu, ia baru saja mendengar percakapan dokter dengan mama cakka. Hati oik terasa tersambar petir. Pedih mendengar pengakuan itu
“gk mungkin” lirihnya lalu pergi

****

Sudah 3 hari cakka berbaring di ruang ICU. Oik tak sanggup menunggui cakka didalam, ia tak kuat menahan air matanya. Ia hanya memperhatikan cakka dari pintu. Membiarkan cakka tenang dalam tidurnya
“ik” panggil dayat
“apa kak” tanya oik tapi tetap memandangi cakka
“kamu tak mau melihatnya lebih dekat” tanya dayat
“aku tak kuat kak”
“kuatkan dirimu. Cakka masih koma, percaya kalau kamu kuat cakka juga akan bertahan”
“kakak yakin”
“yah kakak yakin. Masuklah, cakka pasti kesepian, mama dan papanya tak berada disampingnya. Jadi cakka membutuhkanmu” oik diam
“masuklah temui cakka” suruh kak dayat. Perlahan oik membuka pintu lalu menemui cakka setelah ia memakai pakaian khusus. Ia duduk disamping cakka. Menggenggam tangan cakka
“cakka, aku disini. maaf aku tak selalu ada disampingmu. Kamu akan bertahankan. Kamu gk akan ninggalin aku kan? Kamu udah janji sama aku kka kalau kamu akan selalu ada disamping aku! Kamu harus tepati janji kamu! Kka, kamu pasti tahu perasaanku saat ini, kumohon sadarlah, jangan terlalu lama kamu terlelap”
“cakka bangun” pinta oik air matanya mengalir. Oik menangis
“huhu… cakka”

****

“kak oik mana” tanya sivia yang melihat di kursi hanya ada dayat
“tuh didalam” kata dayat sambil menunjuk kedalam ruangan
“dia belum pernah istirahat” tanya ify yang melihat oik tertidur didalam
“iya. Kakak sudah berkali-kali membujuknya tapi ia tetap menolak. Sekalipun istrahat itu hanya sebentar” Balas dayat
“pasti tidurnya oik gk nyaman” tanya rio
“setiap kali tidur. Oik selalu saja menyebut nama cakka, setelah itu ia kembali terbangun. Kakak sendiri tidak tahu bagaimana cara mengatasinya”
“oik gk mau kehilangan orang-orang yang ia sayangi”
“kakak sendiri kasihan dengannya, oik tak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ayah. Walaupun selama 12 belas tahun oik tinggal dengan bunda, itu belum cukup. Oik masih muda untuk merasakan kehilangan”
“iya kak. berat berada diposisi dia”
“kami mengerti keadaan oik”

****

Sudah satu minggu cakka terbaring lemah. Oik benar-benar sudah putus asa. Sulit baginya untuk ber+thinking di saat seperti ini.
“mustahil cakka bisa bertahan saat keadaannya seperti ini” kata oik
“apa tidak bisa kamu bilang mustahil cakka bisa pergi saat kamu masih membutuhkannya” tanya ify
“aku selalu membutuhkan cakka. Tapi kenapa cakka tak pernah bangun” balas oik
“cakka stabil saat ini, tapi dokter tidak memastikan apa yang terjadi 10 menit kedepan” kata mama cakka yang baru saja keluar dari ruang ICU. Oik menoleh kedalam. Cakka sedang ditangani oleh para medis
“apa mustahil cakka akan pergi” bisik oik pada ify. Lagi-lagi oik meneteskan air matanya. Ify menghapusnya
“jangan nangis. Cakka gk suka kalau kamu cengeng” kata ify. Lalu dayat keluar dari ruang ICU
“tante cakka udah sadar. Dan ingin bertemu dengan tante” kata dayat. Senyum manis mengembang dibibir oik. Dayat menoleh ke arah adiknya
“cakka juga ingin bertemu denganmu”
Oik segera masuk kedalam “ik” panggil cakka. Oik tersenyum
“iya. Aku disini” balas oik sambil menggenggam tangan cakka
“aku senang lihat kamu tersenyum” kata cakka lalu memeluk oik, oik balas memeluk cakka
“pelukan terakhir untuk orang tersayangku” gumam cakka
“jangan bilang seperti itu. Kamu sudah sehat” balas oik. Cakka melepas pelukannya.
“kamu nangis” tanya cakka yang melihat sisa air mata dipipi oik
“siapa bilang? Gk koq”
“lalu ini apa” tanya cakka lalu menghapus air mata oik
“jangan nangis saat aku pergi”
“maksudmu”
“aku tak lama. Aku tak ingin melihatmu bersedih. Berjanjilah kau akan tersenyum tanpa diriku disampingku” kata cakka, oik diam tak memberi jawaban cakka lalu menoleh ke arah orang tuanya
“ma, pa. makasih. Aku sayang sama kalian” kata cakka. Orang tuanya tersenyum
“kami juga sayang sama kamu” balas kedua orang tua cakka
“I love you ik”
“love you too cakka” balas oik.
“janji yah ik” kata cakka
“gk” balas oik
“kamu harus janji jangan tetap tersenyum dan jangan sedih” Perlahan cakka menutup matanya, hingga akhirnya jiwanya lepas dari raganya. Mata oik pun berkaca-kaca
“CAKKA” pekik oik sambil mengguncang badan cakka. Air matanya pun mengalir dengan derasnya
“kumohon bangun” pinta oik
 “ik” dayat memegang kedua bahu adiknya tapi oik menepisnya
“ayo kka bangun” pinta oik. Dengan keras dayat menarik adiknya agar menjauh dari cakka. Sahabat oik turut sedih melihat keadaan oik
Dayat memeluk adiknya
“kak cakka hanya tidur kan? Cakka belum pergi kan?” tanya oik disela tangisnya
“ik”
“kak jawab. Cakka hanya tidur kan?”
Dayat mengelus punggung adiknya
“sabar dek. Kuatkan hatimu. Kamu harus tabah menghadapi cobaan ini”
“gk mungkin. Cakka gk mungkin ninggalin aku” lirih oik. Ia lalu berlutut dihadapan kakaknya
“huhuhu kak kenapa harus oik. Dari kecil oik gk pernah lihat ayah. Setelah itu bunda pergi. Sekarang cakka juga harus pergi. Tuhan gk adil ama oik kak” dayat menunduk lalu mengangkat wajah adiknya
“tuhan adil. Buktinya tuhan belum mengambil kakak. kamu harus kuat agar cakka tenang” kata dayat lalu memeluk oik. Oik pun menangis sejadi-jadinya dalam pelukan dayat

****

Selama cakka pergi. Setelah pemakaman. Oik jadi pemurung. Sekolahnya pun tak jelas. Tapi syukurlah nasib baik berpihak padanya. Sekalipun tak belajar saat mengikuti ujian ia bisa menjawab soal dengan baik jadi dia tetap lulus sma
“ik, besok ada reunian, kamu mau pergi” tanya alvin. Selama cakka pergi, alvin hadir untuk menggantikan posisi cakka. Tapi bagi oik cakka takkan tergantikan oleh siapapun. Oik hanya menganggap kebaikan alvin sebagai angin lalu
“apa sih urusan kamu?”
“yah aku hanya bertanya. Karna reunian besok kayaknya gk afdol kalau gk ada pasangan”
“jadi maksud kamu. Kamu mau ngajakin aku”
“iya”
“kalau gitu maaf. Aku bisa pergi sendiri” kata oik lalu pergi. Alvin menahannya
“kumohon kali ini saja ik”
“ngerti gk sih vin? Aku gk bisa yah gk bisa” bentak oik lalu pergi
“apa sih hebatnya cowok penyakitan itu. Udah mati juga oik masih suka sama dia” kesal alvin

****

“ik udah siap?” tanya ify
“iya. Yuk berangkat” jawab oik
“kak, kakak ngasih apa ama oik koq dia mau pergi” bisik sivia pada dayat
“ada aja. Udah cepat pergi sana nanti dia berubah pikiran”
“ok”

Reuni diadakan di aula sekolah. Sebenarnya acara ini hanya acara perpisahan antara para guru dan teman SMA yang sudah lulus. acara reuni di SMA mereka selalu ada penampilan dari siswa yang telah lulus. Setelah kepsek mengucapkan sepatah dua patah kata acara pun dimulai. dan penampilan pertama rio dengan ify. Ify membaca puisi yang sudah dimusikalisasi. Sedangkan rio mengiringnya
“Tersenyumlah saat kau mengingatku.
Karna saat itu, aku sangat merindukanmu
Dan menangislah saat kau merindukanku.
Karna saat itu aku tak berada disampingmu
Tetapi, Pejamkanlah mata indahmu itu.
Karna saat itu aku akan terasa ada didekatmu,
karna aku telah berada di hatimu untuk selamanya
Tak ada yang tersisa lagi untukku,
selain kenangan-kenangan yang indah bersamamu
Mata indah yang dengannya aku biasa melihat keindahan cinta
Mata indah yang dahulu adalah milikku,
kini semuanya terasa jauh meninggalkanku
Kehidupan terasa kosong tanpa keindahanmu,
hati cinta dan rinduku adalah milikku” ify  begitu menghayati puisi yang ia baca. Membuat hati oik merasa tersentuh. Sivia menggenggam tangan oik berusaha menguatkannya
“Cintamu takkan pernah membebaskanku
bagaimana mungkin aku terbang mencari cinta yang lain
saat sayap-sayapku tlah patah karenamu.
Cintamu akan tetap tinggal bersamaku hingga akhir hayatku
dan, setelah  kematian, hingga tangan tuhan akan menyatukan kita lagi.
Betapa pun hati tlah terpikat pada sosok terang dalam kegelapan,
yang tengah menghidupkan sinar redupku,
namun tak dapat menyinari, dan menghangatkan perasaanku yang sesungguhnya.
aku tidak pernah. bisa menemukan cinta yang lain selain cintamu,
karna mereka tak tertandingi oleh sosok dirimu dalam jiwaku.
Kau takkan pernah terganti.
Bagai pecahan logam memecahkan
kesunyian, kesendirian, dan kesedihanku. kini aku telah kehilanganmu” ify mengakhiri puisinya.
“Hilang semua janji semua mimpi, mimpi indah
Hancur hati ini melihat semua ini,
lenyap telah lenyap kebahagiaan di hati.
Ku hanya bisa menangisi, semua ini.
Hancur hati ini melihat kau telah pergi.
Langit menjadi gelap berkelabu,
Menyelimuti hatiku mengubah seluruh hidupku
Mengapa semua jadi begini
Perpisahan yang terjadi diantara kita berdua,
Ku akan menanti sebuah keajaiban yang membuat kita bisa bersama kembali” ify dan rio pun menyanyikan sebuah lagu yang penulis sendiri gk tau siapa penyanyinya. Air mata oik sudah tak terbendung lagi
“ik, kamu gpp?” tanya sivia. Oik tak menjawab. Ia segera meninggalkan tempat duduknya dan berlari ke taman. Alvin yang melihat oik pergi segera menyusul oik. Gabriel pun mengikuti alvin. Kebetulan dayat juga pergi, ia khawatir kalau terjadi apa-apa pada oik
Sesampai ditaman oik tertunduk, ia menangis. Ia teringat akan sosok cakka dalam hidupnya. Alvin mencoba mendekatinya tapi tangan seseorang menahan lengannya
“dia ingin sendiri” kata dayat.
“tapi, oik butuh…” belum selesai alvin berbicara dayat sudah memotongnya
“oik butuh sendiri. Aku kakaknya aku lebih tahu apa yang oik inginkan saat dia sedang sedih” potong dayat
“aku hanya ingin menghiburnya”
“oik juga tak butuh hiburanmu vin”
“alvin jangan egois. Lebih baik kita kembali ke aula” ajak gabriel lalu menarik alvin pergi
“huhuhu… cak..kka” lirih oik. Dayat memegang pundak oik
“dek” panggil dayat. Oik tetap saja menangis
“cakka apa benar suatu saat nanti kita akan bertemu. Apa keajaiban akan mempersatukan kita. Aku benar tak bisa mencari pengganti dirimu” tanya oik sambil menatap langit yang bertaburan bintang. Dayat diam membiarkan imajinasi adiknya bekerja
Bintang pun membentuk rasi seseorang yang sangat berharga bagi hidup oik
“do you believe a miracle” tanya sosok tersebut. Oik mengangguk
“percayalah. Kalau kamu percaya, besar kemungkinan kita akan bersama lagi” pesannya. Lalu langit pun menjadi hitam. Membuat bintang-bintang bersembunyi dibalik awan hitam. Langit mendung, angin pun berhembus dengan kencang
“kita pulang yah. Udaranya dingin, nanti kamu sakit, kalau kamu sakit cakka pasti sedih” bujuk dayat. Oik mengusap air matanya lalu mengangguk. Ia dan dayat pun kembali ke rumah


Ku ungkap perasaanku semua isi hatiku
Aku telah jatuh cinta, sungguh jatuh cinta
Mengapa sekejab saja setelah menunggu lama
Terlalu cepat tuk berlalu dan meninggalkanku
Tuhan dengarkanlah pintaku sampaikan padanya
Walau takkan mungkin bersatu
Di hatiku selalu mencintainya
Andai ku mampu kembali mengulang sekali lagi
Namun telah kau tentukan harus ku terima



_The End_

PENGORBANAN CINTA (Cerpen by Fara"dilla"(dilla) nuraga)

Oik’s POV.
Hai, kenalin. Aku Oik Cahya Ramadlani. Aku seorang gadis biasa. Kini aku sedang menyukai seorang lelaki yang sangat sangat tampan. Namun ia seorang playboy. Ya, meskipun begitu, aku tetap menyukainya. Sampai kapanpun.
>>>
Ketika aku melewati taman belakang sekolah..tiba-tiba langkahku berhenti karena mendengar seseorang mengatakan sesuatu yang begitu menyakitkan hati...
“Gue cinta sama lo vi....”
Nyuuuuuuuuuuuut.... Aku melihatnya... dia sedang berdua bersama orang lain... hatiku hancur berkeping-keping... salahkah aku terlalu mencintainya?
“Gue juga cinta sama lo cakka...”
Oh Tuhaaaann...lagi-lagi hatiku terasa remuk... bagaikan belati yang menusuk hatiku...menyayatnya tanpa henti...
tanpa ku sadari, perutku tiba-tiba sakit dan kepalaku mulai terasa pening. Beberapa saat kemudian, aku terjatuh tak jauh dari mereka berada...
“Bruukk....”
                Tak lama kemudian, samar-samar aku melihat 2 insan yang tak asing bagiku....dia orang yang kucintai dan orang yang dicintainya....namun setelah itu mataku terasa berat dan semua berubah menjadi gelap.....
>>>
                Ketika kubuka mataku, bayangan yang pertama kali kulihat adalah...Sivia...sahabatku, dan juga seseorang yang menghianatiku....
“Lo nggak papa ik?” tanya Sivia khawatir. Aku menatapnya dengan tatapan super tajam. Dengan sekuat tenaga, aku mengungkapkan kekesalanku padanya.
“Puas lo udah bikin gue menderita? Lo bilang, lo bakal bantuin gue buat ngedapetin Cakka, tapi apa? lo malah jadian kan sama dia? Hati gue sakit vi...” emosiku benar-benar memuncak. Tak peduli aku ada dimana.
“Oh, jadi lo nggak terima gue pacaran sama cakka? setelah gue pikir-pikir, nggak ada untungnya juga gue bantuin lo buat dapetin cakka, toh cakka juga lebih suka gue, dia nggak suka cewek cupu kayak lo! Yang cuma modal kepinteran doang!” balas Sivia yang membuatku tercengang. Teganya dia melakukannya padaku. Ya, aku memang tak secantik dia, aku memang tak semodis dia, tapi aku...hmm...yah, aku hanya seorang gadis yang tak patut untuk mendapatkan seseorang yang menyayangiku...
“Oke, kalo gitu, mulai sekarang kita nggak ada hubungan apapun!” ucapku lalu beranjak dari ranjang tempat tidur. Aku baru menyadari bahwa aku ada di UKS sekolah.
                Dengan langkah gontai aku berjalan menuju kelas 12 Ipa 3, kelasku. Rupanya ini masih jam istirahat. Syukurlah aku tak sadarkan diri hanya sebentar. Ketika aku memasuki kelas, tak sengaja aku berpapasan dengan Cakka, dia memang teman sekelasku, tetapi Sivia tak sekelas denganku.
“Loh? Oik? Udah nggak papa?” tanya Cakka sedikit khawatir. Aku hanya tersenyum tipis padanya. Kemudian melanjutkan perjalananku menuju kursiku. Ku lihat Cakka telah menghilang. Mungkin ia pergi mencari sivia. Ah...sudahlah...
 “Hei ik...gue lihat tadi di UKS, lo bertengkar sama sivia?” tiba-tiba seseorang menghampiriku. Aku menoleh ke sumber suara, ternyata Ify...teman sebangkuku yang sangat baik... ramah dan peduli sesama...
“hn...ya begitulah...” jawabku sekenanya. Kemudian ify duduk di sampingku.
“sabar ya ik...gue tahu kok...lo pasti nggak terima kan cakka itu pacaran sama sivia?” tanya Ify sedikit pelan. Aku mengangguk lesu.
“Ya udahlah ik...lagian kan cuma cakka ini... dia kan playboy...ngapain disukai...kok bisa sih cewek pinter kayak lo suka sama cakka?” heran Ify. Aku hanya cengengesan. Memang benar aneh. Aku sendiri tak tahu mengapa bisa menyukai cakka begitu saja, namun cakka tak pernah mengetahui bahwa aku menyukainya....padahal dulu aku sangat membencinya karena satu hal, yah...karena dia playboy...sudah banyak mantannya di sekolah ini maupun di sekolah lain...
“hn....gue nggak tahu fy...yang jelas gue ngerasa sakit kalo lihat dia sama cewek lain....” ucapku sejujurnya. Ify menghela nafasnya.
“Gue sih cuma nyaranin aja...lo mending sama Ray kek yang sama-sama pinter, atau sama Alvin tuh yang jago banget kimianya...nggak pantes banget lo sama cakka...” ucap Ify yang membuatku tertawa kecil.
“Nggak pantes ya? Gue nggak cantik sih memang...” ucapku lesu.
“He? Bukan itu yang gue maksud...cakka itu kan nggak pinter-pinter amat ik...paling dia cuma jago main basket, udah kan cuma itu kelebihannya...” cerocos Ify.
“Teeeeeeet...teeeeeet...teeeeeeeeet.....” bel masuk menghentikan perbincanganku dengan Ify. Tak lama kemudian beberapa temanku yang lain mulai memasuki kelas.
>>>
                Sepulang sekolah, seperti biasa aku menunggu bus di halte untuk pulang ke rumah. Aku merasa ada makhluk lain selain diriku, akupun melirik ke samping kananku.
“cakka...” lirihku ketika aku melihatnya berada di sampingku. Sepertinya dia juga sedang menunggu bus.
“Iya?” sahut cakka sambil menoleh ke arahku. Aku menelan ludah. Tatapannya begitu dalam.
“eh nggak kok...ehm, lo nunggu bus?” tanyaku gugup. Cakka mengangguk.
“nggak biasanya...perasaan lo selalu pake motor CBR lo itu, emang dia kemana?” tanyaku. Cakka tertawa pelan.
“lagi di bengkel, makanya gue naik bus..” jawab cakka sambil tersenyum. Ah manisnya!
 “Eh, itu busnya...” celetuk cakka kemudian. Aku pun tersadar dan segera menaiki bus yang sudah berhenti di depanku dan cakka. Kami berdua pun masuk ke bus tersebut dan sejurus kemudian, bus melesat ke arah barat.
                Aku dan cakka berdiri karena tak ada tempat duduk yang kosong. Kami berdiri beriringan sambil berpegangan pada gantungan besi.
“Cakka, lo baru jadian sama Sivia ya?” tanyaku hati-hati. Cakka tersenyum lalu mengangguk. Ah betapa sakitnya hatiku!
“selamat ya...” ucapku tak niat. Heuh...annoyed!
“Iya, makasih...” jawabnya dengan senyum mengembang. Aku hanya membalas senyumnya sedikit tak ikhlas.
                Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Ah, hujan membuatku pusing! Oh Tuhan mengapa kau turunkan hujan? ;(
“Ik, lo kenapa? Masih sakit ya?” tanya cakka sambil menatapku. Aku melepas peganganku dan memeluk tubuhku sendiri. Rasanya aku tak kuat melihat air hujan yang begitu deras. Aku benci...aku benci hujan!! Aku menundukkan kepalaku dalam-dalam sambil terus memeluk tubuhku.
“Lo kedinginan ik? duh gue nggak bawa jaket lagi....” kata cakka yang nampak khawatir. tiba-tiba dia menarik tanganku dan membuatku berdiri berhadapan dengannya. Mata kami pun saling bertemu. Sepertinya phobia hujanku hilang dengan menatap mata cakka yang begitu lembut. Kemudian cakka merengkuh tubuhku dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya masih berpegangan pada gantungan besi.
Deg...deg....deg....
Oh Tuhaaan...jantungku seperti mau copot!! Aku dapat mendengar degub jantung cakka. ah begitu hangatnya pelukan cakka. Saking nyamannya, aku sampai memejamkan mataku.
“Sebenarnya lo kenapa ik?” tanya cakka tiba-tiba. Aku pun segera membuka mataku dan ternyata cakka sedang menatapku. Aku pun membalas menatapnya.
“aku, phobia  hujan...” jawabku malu-malu.
“Oh, jadi phobia hujan...pantes waktu sebelum hujan lo nggak papa tapi waktu udah hujan lo kayak kedinginan plus ketakutan gitu...” kata cakka, “hm...nggak papa kan gue peluk lo gini? Daripada lo ketakutan gitu...gue nggak tega ngelihatnya...” lanjutnya.
“ng...ng..nggak papa kok kka, makasih ya...” ucapku gugup. Cakka hanya tersenyum dan mengangguk.
“Ya udah, kalo mau tidur, tidur aja...ini masih hujan...gue tahu rumah lo kok...ntar gue pasti bangunin lo kalo udah nyampe...lagian masih lama...” kata cakka.
“hm...” gumamku lalu memejamkan mataku. Tak berapa lama, aku pun terlelap dalam pelukan cakka.
>>>
Ketika aku bangun, ternyata aku sudah berada di dalam kamarku, he?? Kamar?
“huaaam...” aku menguap lebar-lebar dan memperhatikan seluruh ruangan. Ternyata benar ini kamarku. Tapi siapa yang membawaku ke kamar? Bukannya tadi aku...ah iya! Aku tadi tertidur di pelukan cakka, dan hah? Cakka? membawaku pulang ke rumah? Ah baiknya dia!! :D
“eh udah bangun ya sayang...” ucap seseorang sembari masuk ke dalam kamarku. Itu mama...:)
“iya ma, mm..ma, tadi yang bawa aku ke rumah siapa?” tanyaku. Mama tersenyum dan duduk di sampingku. Aku pun mengubah posisiku menjadi duduk.
“Temen sekelas kamu, kalo nggak salah namanya cak..cakka..iya cakka...” jawab mama. Aku pun tersenyum.
“Serius ma?” tanyaku tak percaya. Mama mengangguk mantap. Aku pun tersenyum lebar. Ternyata cakka sangat baik. Ehm..tunggu, atau cakka sudah mulai menyukaiku? Ah jangan kegeeran dulu! Cakka itu kan playboy, dia mungkin biasa memperlakukan semua cewek seperti itu...
>>>
                Hari demi hari berlalu. Semenjak kejadian itu, aku dan cakka menjadi dekat. Dan itu semua tanpa sepengetahuan Sivia yang notabenenya pacar cakka. Ternyata cakka sangat asik untuk diajak mengobrol. Setiap hari, cakka pergi ke rumahku untuk berlajar bersama. Karena di rumahku sepi, aku bisa berduaan dengan cakka sampai sore hari karena mama pulang pukul 5 sore. Aku takut ketahuan mama, hehe...jangan tanyakan keberadaan papaku, ia mungkin sudah tenang di alam sana...:)
                Ketika itu aku dan cakka telah selesai mengerjakan tugas bersama. Tiba-tiba cakka mengajakku untuk pergi ke kolam renang. Aku pun menurutinya. Kemudian aku dan cakka duduk di tepi kolam renang. Lalu ia mencelupkan setengah kakinya ke dalam kolam renang.
“lo suka berenang ik?” tanya cakka. Aku menggeleng.
“nggak, gue nggak begitu suka air...” jawabku.
“terus yang biasa berenang di sini siapa?” tanya cakka sambil menatapku.
“hmm...paling saudara kalo lagi main di sini...hehe...” jawabku dengan tampang innocent.
“jiahaha...” cakka hanya tertawa. Hening sejenak.......
“bosen...main basket yuk?” ajak cakka kemudian. Aku pun mengangguk setuju. Lalu kami pergi ke lapangan basket yang ada di samping rumahku. Cakka mengambil bola basketnya yang ada di tepi lapangan dan melemparnya padaku. Aku pun menangkapnya dengan sigap.
“ayo, 1 on 1...!” seru cakka. aku mengangguk.
“ayo siapa takut!” balasku. Kemudian aku mulai mendrible bola basket yang aku pegang menuju ring lawan. Cakka mencoba menghalangiku namun aku lebih gesit dan shoot! Masuk!!
“Yeaaay! Masuk!!” seruku senang. Ku lihat Cakka tersenyum.
“Wow jago juga lo! Ayo lanjut!” seru cakka.
Kami berdua pun bermain basket dengan semangat. Cakka memang benar-benar jago. Aku sampai tersihir dengan kekerenannya dalam bermain basket. Kecolongan bro!!
Setelah lelah bermain basket, aku memutuskan untuk duduk di tepi lapangan, namun cakka menahannya.
“apa kka? Gue mau duduk, capek...” ucapku. Cakka tersenyum tipis.
 “duduk di sana yuk,” ajak cakka sambil menarik tanganku.
Akupun mengikuti cakka berjalan. Kemudian Cakka menyuruhku duduk sila di tepi lapangan paling pojok lalu cakka juga duduk sila di hadapanku.
“Hari ini cerah banget ya...” kata Cakka. aku mengangguk setuju.
“Iya, banget malah... udaranya juga nggak terlalu panas,” tambahku.
“eh kok mama gak pulang-pulang ya? Udah jam 5 deh perasaan...” kataku.
“Ik, gue mau tanya dong,” kata cakka tak menggubris perkataanku.
“tanya apa?” tanyaku penasaran.
“Lo nggak pernah pacaran ya?” tanya cakka. aku tertawa kecil.
“Nggak..karena  gue nggak tahu pacaran itu sebenernya apaan...” jawabku polos.
“Lo mau tahu pacaran itu apa?” tanya cakka lagi. Aku berpikir sejenak kemudian mengangguk.
“serius?” tanya cakka memastikan. Aku lagi-lagi mengangguk. Tiba-tiba cakka menarik tanganku, kemudian menatapku lekat. Lalu dia mulai mendekatiku sambil memiringkan kepalanya ke arah kiri dan memejamkan matanya ....... eh dia mau ngapain?
“Cakka....”
Cup!
                Seketika mataku membulat! Aku terkejut! Sumpah! Dia...memberikanku sebuah kiss??
Aaaaaaaaaaahhhhhh mamaaaaaaa.... Cakka menggenggam tangan kiriku dan tangan kanannya mulai terjulur ke arah kepalaku kemudian menekan sedikit kepalaku ke arahnya. Ah, aku tak bisa berontak!! 
Ya Tuhan Cakka menciumku dengan lembut dan penuh perasaan. Aku menjadi semakin terjatuh ke dalam suasana. Tangan cakka begitu lembut. Apalagi bibir Cakka...aaaah mamaaaaa....!!!!
1 detik...
2 detik...
3 detik...
4 detik...
5 detik...
6 detik...
7 detik...
8 detik...
9 detik...
10 detik...
Cakka pun melepas bibirnya dan tersenyum manis padaku. Aku pun membalas senyumannya.
“Gimana? Lo udah tahu kan yang namanya pacaran itu apa?” tanya cakka. Aku hanya cengo.
“Oik...Gue cinta sama lo....” ucap cakka kemudian.
“hah?? Maksudnya? Sivia gimana?” tanyaku beruntun. Namun Cakka malah tersenyum.
“Biarin aja lah...Lagian gue nggak suka-suka banget sama dia...Gue juga bentar lagi putus kok...” kata Cakka enteng.“Lo mau kan jadi pacar gue?” sambungnya. Aku berpikir sejenak.
“Iya gue mau....” jawabku akhirnya. Kemudian Cakka mengambil sebuah kotak kecil lalu dibukanya kotak itu. Ternyata berisikan sebuah cincin emas putih yang sangat bagus. Ah indahnya!
“Ini sebagai tanda bahwa lo adalah milik gue...” kata cakka kemudian memakaikan cincin itu di jari manis tangan kiriku. Aku melihat cincin itu sambil tersenyum.
“Terima kasih cakka...” ucapku senang.
“Iyaa sama-sama...” sahut cakka.
                Oh tidaaaak! Aku dan Cakka kini telah berpacaran! Bagaimana kata Sivia nanti kalau dia mengetahuinya? Ah biarin...dulu juga dia udah ngecewain aku...:P
                Tiba-tiba aku merasa perutku sakit. Entah mengapa rasa sakit itu semakin lama semakin menjadi.
‘”Arrrgggh...aduh, sakit...” rintihku sambil memegangi perutku.
“Lo kenapa ik? sakit? Ik?” cakka tampak sangat khawatir. Aku sudah tak tahan dengan rasa sakitnya. Dan kepalaku mulai terasa pening. Aauhh...kenapa ini? beberapa saat kemudian, ku lihat perlahan cahaya mulai meredup dan akhirnya menjadi gelap.
>>>>>
                Ketika aku bangun, orang yang pertama kali ku lihat adalah cakka. dia ada di sampingku sambil menggenggam jemari tanganku dengan erat.
“Oik, lo udah sadar?” tanya cakka khawatir. Aku tersenyum tipis.
“Iya, daritadi ya gue pingsan?”
“Iya ik, 1 jam yang lalu...” jawab cakka.
“sebenarnya gue kenapa kka?” tanyaku. Cakka terdiam sejenak.
“ik, pokoknya lo harus kuat ya...Gue akan bantu lo biar sembuh...” kata cakka yang aku sendiri tak mengerti maksudnya. Apa aku mempunyai penyakit?
“Maksud  lo apa kka? Gue punya penyakit serius?” tanyaku yang sudah berkaca-kaca. Terlihat cakka menahan air mata.
“I..iya ik, tapi tenang, lo akan sembuh kok...” kata cakka yang membuatku semakin takut. Aku? Terkena penyakit serius? Apa?
“Apa penyakit gue kka?” tanyaku sambil menahan tangis. Cakka menggigit bibir bawahnya.
“Gagal ginjal...” jawabnya yang membuatku tercengang.
“Gagal ginjal?” tanyaku sekali lagi. Kurasakan tubuhku lemas, tak berdaya.
“Iya, tapi gue akan coba bantu lo ik...” kata cakka berusaha meyakinkan. Aku memejamkan mataku berharap ini hanya mimpi. Namun ternyata ini adalah suatu kenyataan. Bukan mimpi!
>>>>>
                Sudah berhari-hari aku berada di rumah sakit. Setiap hari cakka datang menjengukku. Teman-temanku juga banyak yang menjengukku, kecuali Sivia. Mungkin ia memang sudah benar-benar tak peduli padaku. Ku dengar Cakka juga sudah memutuskan hubungannya dengan Sivia. Suatu ketika, aku mendengar percakapan dokter dan mama. Kata dokter umurku sudah tak lama lagi bila aku tak dapat pendonor ginjal. Aku semakin ketar-ketir. Aku akan mati? Meninggalkan dunia ini? meninggalkan semuanya termasuk cakka? Tuhan...jangan panggil aku dulu...:(
                Sore ini Cakka datang menjengukku lagi. Merasa jenuh memikirkan gagal ginjal yang kuderita, aku pun mengajak cakka untuk pergi ke taman rumah sakit dengan menggunakan kursi roda. Tentu saja cakka yang mendorongnya. Sesampainya di taman, cakka berhenti mendorong kursi roda dan memandangi taman yang lumayan indah ini. sedangkan pikiranku masih melayang ke arah gagal ginjalku ini.
“Cakka...apa lo nggak putus sama gue aja dan lo bisa nyari pengganti gue yang nggak penyakitan?” tanyaku ngawur. Cakka menatapku lekat.
“Buat apa gue nyari pengganti lo sementara gue cuma cinta sama lo?” cakka bertanya balik. Aku menghela nafas.
“Mau sampai kapan lo jadi pacar gue? Kalo dalam waktu dekat gue nggak dapat pendonor ginjal, gue bakal mati dan ninggalin lo...” ucapku sambil menatap cincin yang cakka berikan. Kemudian cakka berjongkok di hadapanku dan menggenggam tanganku erat.
“Asal lo tahu, selama ini gue jadi playboy bukan karena gue suka mainin perasaan cewek, gue cuma pengen ngebedain lo sama cewek lain...ternyata lo memang bener-bener beda, lo itu istimewa banget ik...gue nggak akan pernah ninggalin lo...” kata cakka mantap.
“Tapi gue penyakitan cakka, gue nggak pantes jadi pacar lo...” kataku merendah.
“Oik...gue bakal jadi pendonor ginjal buat lo...” kata cakka yang membuatku terperangah.
“Lo yakin? Apa lo bisa hidup dengan 1 ginjal? Apa iya ginjal lo cocok?” tanyaku beruntun. Cakka mengangguk mantap.
“Gue udah bilang sama dokter dan setelah di tes hasilnya cocok...” jawab cakka.
“Nggak, lo nggak boleh ngedonorin ginjal lo buat gue...kalo seandainya lo yang bakal mati gimana? Gue nggak mau pokoknya...” bantahku.
“Percaya sama gue ik...” kata cakka. Aku menggeleng cepat.
“Nggak...pokoknya gue nggak mau terima dari lo, lebih baik gue yang mati cakka...” kataku yang hampir menangis.
“terserah...” kata cakka acuh tak acuh. Kemudian ia mendorong kursi rodaku menuju kamar kembali.
>>>>
                Ternyata cakka tetap bersikeras ingin mendonorkan ginjal itu padaku. Aku hanya tidak ingin sesuatu yang tak diinginkan terjadi. Aku tak ingin kehilangan cakka, karena aku sangat mencintainya. Sampai akhirnya hari dimana aku akan ditransplantasi ginjal pun datang. Aku tak dapat berontak untuk menolak donor ginjal dari cakka. Cakka terlalu baik. Bagaimana aku bisa membalasnya?
                Di dalam kamar aku masih tak dapat tenang. Diam-diam aku kabur dari kamar dan melarikan diri. Namun ternyata ketika aku telah hampir sampai di gerbang rumah sakit, aku bertemu dengan cakka. ah sialnya!
“Oik...” panggilnya. Aku berhenti berlari. Tubuhku masih terasa lemas dan entah mengapa suara cakka membuatku enggan berlari. Aku berbalik dan menghadap cakka. jarak diantara kita sekitar 2 meter. Aku menatapnya dengan pilu.
“Lo mau kemana?” tanya cakka dengan tatapan tajamnya. Aku hanya menundukkan kepala. Aku tak berani menatap mata cakka.
“Gue udah bilang kan...Lo harus percaya sama gue, gue nggak akan mati kalo gue donorin ginjal gue buat lo...apapun yang akan terjadi nanti, itu urusan Tuhan yang mengatur...kalo lo hidup, gue juga akan hidup, dan kalo lo mati, gue juga akan mati...” ucap cakka tegas kemudian ia mendekatiku. Lalu ia memegang kepalaku dan mengecup keningku dengan lembut. Jantungku berdegub dengan kencang. Aku memejamkan mataku.
“Lo percaya kan sama gue?” tanya cakka sambil menahan tangisnya. Aku mengangguk dalam tangisku.
“sekarang tenangin diri lo dan kita lakukan operasi...” ajak cakka kemudian merangkul pundakku dan menuntunku kembali ke kamar rawatku. Sesampainya, aku berbaring di ranjang dan menenangkan diri. Mungkin ini memang jalan yang terbaik.
>>>>>
Author’s POV.
                Operasi telah berjalan cukup lancar dan berhasil. Sehingga mama Oik dan kedua orang tua Cakka pun dapat bernafas lega. Selesai operasi, cakka dan oik masih tak sadarkan diri. Mereka berdua masih ada di dalam paviliun yang terpisah. Setelah beberapa jam kemudian, Cakka telah sadarkan diri. Ia langsung teringat pada Oik. Ia pun pergi ke paviliun dimana oik berada dengan menggunakan kursi roda yang didorong oleh bundanya. Di dalam paviliunnya, Oik masih terbaring lemas dan belum sadarkan diri. Tak lama kemudian, Cakka dan bundanya masuk ke dalam pavilun Oik dan menghampiri Oik.
“Oik, cepet sadar ya...” lirih cakka. Tak berapa lama, jemari tangan Oik bergerak. Cakka yang melihat itu langsung tersenyum.
“Oik...” ucap cakka sambil tersenyum. Perlahan Oik membuka matanya.
“Cak..ka...” lirih Oik terbata-bata. Kemudian cakka menggenggam erat tangan Oik.
“udah gue bilang lo bakal sembuh kan...dan kita sama-sama hidup...” kata cakka sambil tersenyum.
“Makasih yah kka...gue nggak tahu harus gimana membalas kebaikan lo...” kata Oik yang hampir menangis.
“Hanya dengan tetap bersama gue maka lo udah membalasnya...” ucap cakka. Oik beralih menatap bunda cakka. tampak bunda cakka menyunggingkan senyumnya.
“Iya Oik...tante akan setuju apabila kamu tetap berada di sisi cakka...” ucap bunda cakka. Oik tersenyum dan kembali menatap cakka.
“Baik cakka...gue akan selalu ada di sisi lo...” ucap Oik akhirnya.
                Kemudian mereka pun berpelukan. Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang menatap mereka. Ia menangis namun ada sedikit senyuman di bibirnya.
“Lo emang lebih pantes sama dia daripada gue kka...” lirih orang itu kemudian pergi.
                Cinta itu butuh pengorbanan dan juga keikhlasan. Cinta juga harus dapat menerima seseorang dengan apa adanya. Bukan karena fisik ataupun materi, tapi karena hati yang tulus.
 The End
 

Caikers Family Official Blog. Design By: SkinCorner