Kamis, 23 Juni 2011

PEMILIK HATI (Cerpen by mawarfatmah)

Alvin & Oik mungkin mereka adalah pasangan yang sangat bahagia. Alvin yang setia dan oik yang pengertian, benar-benar serasi. jika ada masalah dalam hubungan mereka, mereka selalu menyelesaikannya dengan kepala dingin. Semua pasangan kekasih iri melihat mereka, kenapa tidak alvin cowo oriental yang cuek tapi ngangenin, gk cuman cakep tapi juga smart. Semua gadis pasti mau jadi pacarnya. Sedangkan oik cewe mungil yang manis, sama dengan alvin gk cuman imuet dia juga smart. N pria mana yang gk mau jadi pacarnya. Hubungan mereka juga langgeng sudah berjalan hampir 3 tahun
Pagi ini sudah menjadi rutinitas alvin untuk menjemput oik, setelah selesai oik segera pamit pada bundanya dan pergi ke sekolah bersama alvin
Tiba di sekolah, oik turun dari motor alvin, setelah menyimpan motornya oik n alvin pun meninggalkan parkiran tapi tunggu dulu, sebuah mobil ferrari SA aperta berwarna merah memasuki parkiran dan berhenti di samping motor alvin.
“mobil siapa ni” batin alvin. Akhirnya sang pemilik pun turun dari mobil
“pagi ik, pagi vin” sapanya
“pagi” balas oik setengah kagum
“pagi” balas alvin. Ia lalu masuk meniggalkan alvin n oik
“ada yang aneh dengan admirermu say” kata alvin
“maksud kamu”
“baru kali ini dia gk ngajak ke kelas bareng”
“baguslah biar kamu gk cemburu trus” balas oik. Alvin dan oik segera berjalan ke kelas

“kalian makin hari makin lengket aja. Mustahil aku bisa memilikimu”

Tettt….. bel istirahat pertama berbunyi semua siswa berhamburan keluar kelas di dalam kelas XII. Ipa-A tersisa dua murid saja

“hai cakka” sapa sivia. Cewe yang eksis di SMU 5 selain karna wajah yang cantik, bakat dance juga sifat ramah n tidak sombong yang dimilikinya membuatnya dijuluki ratu di SMU 5. Sudah banyak cowo yang mau jadi pacarnya tapi hanya satu kalimat yang selalu dia ulang aku gk berminat buat pacaran
“hai” balas cakka. Cowo yang juga eksis di SMU 5 selain karna wajah yang keren, tapi juga karna bakatnya di bidang olahraga yaitu basket yang sangat hebat. Cakka juga tidak pernah menyombongkan kekayaan orang tuanya yang sudah terdaftar sebagai orang terkaya nomor 2 di indonesia#amin…
Sama dengan sivia. Sudah banyak juga cewe yang mau jadi pacarnya cakka tapi cakka cuman bisa bilang aku nunggu seseorang  jawaban cakka itu pastinya membuat para cewe gigit jari n terkapar ke lantai
“mau ke kantin” ajak sivia. Sebenarnya sivia adalah sahabat oik tapi karna sivia gk enak gangguin oik ama alvin jadi setiap hari ia lebih memilih mengajak cakka ke kantin dari pada mengajak oik
“boleh! Tunggu bentar aku rapiin dulu bukuku”  balas cakka lalu memasukkan buku-bukunya ke dalam tas
“yuk” ajak cakka. Sivia n cakka pun berjalan bersama ke kantin. Membuat puluhan pasang mata yang kebetulan ada di koridor memperhatikan mereka. Bukan hanya saat ini tpi semenjak dua hari yang lalu. Semenjak sivia merasa risih berada di antara alvin n oik. Ia merasa cemburu melihat alvin n oik. Ia juga merasa tidak enak pada alvin jika oik hanya berbicara padanya. Karna kebetulan cakka juga selalu sendiri, jadi dia mengajak cakka, dan cakka pun tak risih berjalan dengan sivia
Sesampai di kantin mereka duduk di salah satu meja kantin sekitar dua meja dari meja yang di tempati dua insan yang lagi dimabuk asmara. Siapa lagi kalau bukan oik and alvin

“via, apa komentarmu tentang mereka” tanya cakka pada sivia sambil menunjuk ovin dengan dagunya lalu kembali menikmati teh botolnya
“cocok”
“hanya itu”
“lalu apa yang harus kukatakan lagi. Bukankah mereka memang cocok”
“dan bukankah kau suka dengan alvin”
“hu’uk” sivia tersedak mendengar pertanyaan cakka
“kenapa kamu bilang seperti itu”
“aku tahu kamu pasti cemburu melihat mereka, tapi kamu berat kan dengan sahabatmu” tutur cakka. Sivia terdiam
“gk usah bohong via, kita gk jauh beda koq”
“maksud kamu”
“aku sama seperti kamu. Menyayangi orang yang sudah memiliki” balas cakka lalu menunduk. Sivia melirik meja alvin n oik. Lalu kembali menatap cakka yang duduk di hadapannya
“oik??” tanya sivia. Cakka tersentak, ia mendongak menatap sivia
“gk lah. Aku hanya kagum padanya” jawabnya tanpa rasa berat
“lalu shilla??” tanya sivia lagi. Cakka mengangkat kedua bahunya lalu menyeruput teh botolnya
“kita mungkin ditakdirkan untuk itu kka” kata sivia
“hm…”

****

“vin aku boleh pinjem pacar kamu sebentar” tanya cakka pada alvin, Alvin tampak menimbang.
“emang kamu mau kemana” tanya alvin
“cuman di depan kelas, aku mau bicara sesuatu ama pacarmu. Penting‼”
“disini bisa kan”
“kayaknya gk, soalnya ini masalah sekolah”
“yaudah tapi jangan lama”
“apa banget deh kamu vin” batin cakka. Oik lalu pergi dengan cakka.
Sesampai di luar kelas. Cakka pun mulai bercerita dengan oik tentang masalah osis. Cakka ketua osis, dan dia berniat untuk mundur karna sudah sejak kelas satu sma dia menyandang status sebagai ketos. Karna oik adalah sekertaris osis, dia ingin minta pendapat oik siapa yang bisa di usulkan untuk menggantikannya di rapat osis lusa nanti.
“yaudah thank’s yah ik” kata cakka
“masama” balas oik lalu berbalik ia sudah ingin masuk ke kelas tapi tangan cakka menahan lengannya. Ia berbalik menatap cakka
“ada apa??” tanya oik. Cakka tersenyum
“hari ini kamu cantik, aku makin suka sama kamu, walaupun kamu udah milik alvin tapi hatiku tetap untukmu dan hanya kamu pemilik hati ini” kata cakka lalu melepas tangan oik dan pergi ke kelasnya. Kelas cakka juga lagi gk belajar. Sama dgn kelas oik XII. Ipa-2
Oik masih terdiam di depan kelasnya “tak adakah yang lain selain aku kka” lirih oik

****

bel pulang sekolah baru saja berbunyi… sivia membereskan buku-bukunya lalu cakka menghampiri bangkunya dan duduk disampingnya
“via pulang bareng siapa” tanya cakka
“sendiri” jawab sivia
“kamu bawa motor” tanya cakka lagi
“gk. To the point aja deh kka. Kamu mau ngajakin aku pulang bareng kan” jawab+tanya sivia. Cakka menggaruk kepalanya yang tidak gatal
“udah ngerti rupanya” kata cakka sambil tersenyum. Setelah sivia selesai merapikan bukunya cakka n sivia berjalan ke parkiran.
“mana motor kamu” tanya sivia yang kebingungan karna disitu hanya ada mobil ferrari SA aperta berwarna merah bukan motor honda cbr warna kuning
“aku gk bawa motor tapi mobil” kata cakka. Sivia mangap
“mobil baru kka”
“udah seminggu koq. tapi baru aku pake aja”
“aku kayak orang istimewa kamu aja”
“maksud kamu”
“yah ini kan masih baru sedangkan aku hanya sahabat kamu harusnya orang yang menikmati mobil baru kamu ini pacar kamu”
“aku kan gk punya pacar”
“makanya cari”
“sebelum nyuruh aku. Suruh diri sendiri dulu”
“aku sih gk usah, mana ada yang mau ama aku”
“pasti banyak kamu kan cantik”
“gk juga koq”
“udah gk usah terlalu merendah deh via”
“mau pulang gk nih” tanya sivia yang mulai ngambek
“iya…iya…” kata cakka lalu membukakan pintu untuk sivia. Lalu ia masuk ke mobil. Saat ingin menstater mobilnya ia menoleh ke sampingnya ia melihat oik masih serius bercanda dengan alvin. Mereka belum pulang mereka masih asyik pacaran di parkiran. Melihat oik yang begitu bahagia dengan alvin, ia merasa senang
“kau tetap indah di hatiku ik” batinnya. Lalu menstater mobilnya n pergi ke rumah sivia

****

“kak cakka” panggil seseorang ia berbalik. Ia tersenyum lalu orang itu menghampirinya
“kakak masih betah untuk menunggu” katanya
“mau gimana lagi zy, kakak sudah terlanjur sayang padanya, dan sulit untuk melupakannya” jawabnya
“kalau aku lihat kak alvin n kak oik sudah sangat lengket sulit untuk memisahkan mereka”
“kalau kk ditakdirkan bersama oik, aku yakin sekuat apapun hubungan mereka kalau mereka bukan jodoh, mereka akan pisa, n oik akan berpaling pada kakak” kata ozy. Dia adalah adik cakka, adik yang selalu mendukung kebahagiaan kakaknya
Cakka tersenyum lalu merangkul adiknya
“kamu selalu mensport kk”
“demi kakak apapun akan aku lakukan oh iya jangan pernah untuk berhenti berharap yah kak bahwa oik itu hanya milik kakak”
“iya kakak gk akan berhenti berharap”

****

“alvin lusa aniv kita yang ke 3. Rayain dimana” tanya oik. Sambil memandangi alvin, alvin tampak berpikir
“jangan di pantai yah” kata oik
“kenapa” tanya alvin sambil membelai rambut oik. Sekarang oik sedang tiduran di pangkuannya. N mereka lagi ada di bawah pohon kepala. Tepatnya di pinggir pantai
“yach aku gk mau aja, gpp kan” tanya oik
“iya gpp koq, aku bakal kasih kamu suprise”
“jadi gk sabar nunggu sampai lusa”

****

“pagi oik” sapa cakka saat bertemu dengan oik di koridor kls XII
“pagi” balas oik
“alvin mana” tanya cakka
“dia ada di kelas”
“tumben gk bareng kamu”
“aku mau ke toilet”
“och”
“aku pergi yah” pamit oik
“yah” balas cakka oik lalu pergi
“gadis mungil itu, tak maukah kau jadi milikku” batin cakka
“hei! Ngapain ngelamun” tanya sivia
“sotoy deh, siapa juga yang ngelamun”
“kalau gk ngelamun apa dong namanya”
“aku tuh cuman diem”
“gitu yach” balas sivia
“pasti lagi mikirin oik kan” bisik sivia
“sotoy”
“ih aku bener kali kka. Mukamu itu bukan muka-muka yang jago acting”
“ngeledek yah” kata cakka sambil mengacak rambut sivia
“hih cakka, jangan mainin rambut aku” kesal sivia lalu melepas tangan cakka n merapikan rambutnya
“sini aku bantuin” kata cakka lalu merapikan rambut sivia
“cieee‼!” suara riuh dari dalam kelas XII. Ipa-A membuat cakka berhenti merapikan rambut sivia
“jangan pacaran di koridor woy” teriak salah satu teman sekelas cakka
“siapa juga yang pacaran” kesal cakka lalu masuk ke kelas
“sirik aja sih kalian” kata cakka lalu duduk di bangkunya. Sivia lalu masuk ke kelas
“cakka tuh cuman sahabat aku” kata sivia lalu duduk dibangkunya
“iya deh, sahabat di depan kita tapi di belakang kita cakka itu sayangnya kamu, iya gk teman-teman”
“yoi”
“terserah apa kata kalian” kesal sivia, lalu guru mata pelajaran pun masuk membuat keriuhan berubah menjadi keheningan

****

“via, besok aniv-nya ovin nich” kata cakka pada sivia
“trus masalahnya ama aku apa”
“gk mau ngucapin selamat”
“emang aku siapa? Harus kasih selamat ke mereka”
“sahabat oik”
“iya sih”
“kenapa?? Berat bilang itu untuk sahabat” tanya cakka. Sivia menunduk, cakka lalu merangkulnya
“aku tahu koq posisi kamu. Mereka udah tiga tahun bareng, artinya kecil kemungkinan bakal pisah, kamu sabar yach via, mungkin ada yang lebih baik dari alvin”
“makasih cakka kamu baik deh”
Cakka tersenyum “oh iya via bukannya mama kamu sakit, balik yuk”
“oh iya untung kamu ingetin”
“gimana sih orang tua sendiri koq lupa”
“hehehe gini aku kalau udah deket ama kamu semuanya lupa deh. Habisnya kamu selalu ajakin bercanda”
“ada-ada aja. Yuk aku antar kamu sekalian jenguk mama kamu” kata cakka lalu beranjak dari tempat duduknya, lalu menggandeng sivia ke parkiran

****

“vin, oik selamat yach. Kalian bisa bertahan selama tiga tahun. Semoga langgeng” kata cakka memberi selamat pada oik n alvin yang ada di parkiran
“thank’s yah atas doamu” balas alvin
“eh gw masuk duluan yah” pamit cakka lalu meninggalkan parkiran
“sivia” panggilnya saat melihat sivia di gerbang. Sivia mengangkat tangannya lalu menghampirinya
“hei cakka” balas sivia. Akhirnya cakka n sivia ke kelas bersama
“mereka pacaran ik” tanya alvin pada oik
“mungkin. Karna selama aku bareng kamu, sivia udah jarang jalan ama aku”
“och gitu”
“kenapa vin, nanya gitu”
“nanya aja. Cemburu??”
“menurutmu??”
“iya”
“aku tuh bukan kamu vin. Yang setiap di gombal ama cakka pasti udah nyala tuh apinya. Aku kan orangnya sabar gk kayak kamu emosional” kata oik lalu berlari. Alvin mengejarnya
“awas yah kamu ik”

“serasi‼ aku berat untuk memisahkan kalian”

****

Malam harinya, alvin membawa oik ke danau, danau favorit oik. Lake Love. Danau tempat alvin menyatakan cintanya. Alvin mempersilahkan oik duduk di kursi yang sudah dia sediakan, ia duduk di depan oik. Meja berisi makanan. Pinggir danau dipenuhi dengan lilin. Disekitar meja mereka juga banyak lilin
“ini??”
“kamu masih ingat tempat ini” tanya alvin oik mengangguk
“indah bukan??”
“makasih vin” balas oik. Alvin lalu mengeluarkan sesuatu dari saku jas-nya sebuah kotak Ia membuka kotak itu sambil menggenggam tangan oik
“cincin??” batin oik. Alvin lalu memakaikan cincin itu di jari manis tangan kiri oik
“ik. Udah tiga tahun kita bareng. Aku berharap kita bisa terus bersama. Aku sayang sama kamu. Dan aku gk mau kamu pergi dari hidupku. Mau kan jadi milikku untuk selamanya” tanya alvin.
Oik tampak berpikir. Lalu mengangguk malu-malu. Alvin lalu mengecup tangan oik
“makasih ik”
“sama-sama vin”

****

Sivia baru saja mendapat telpon dari pembantunya bahwa mamanya kritis, dengan segera ia berjalan ke parkiran, tanpa sengaja cakka yang ada di lapangan basket yang tak jauh dari kelas XII. Ipa-A melihat sivia berjalan terburu-buru. Ia lalu melempar bolanya ke arah ozy yang juga sedang bermain dengannya
“via” panggil cakka sivia menoleh dan berhenti
“cakka ada apa”
“mau kemana koq buru-buru. Kan bel 10 menit lagi” tanya cakka
“mama kritis” jawab sivia
“biar aku anter kamu ke rumah sakit. Tunggu bentar yah aku ambil tas dulu, kamu nunggu dimobil aku aja” kata cakka sivia mengangguk. Cakka segera berlari ke kelasnya. Sedangkan ozy menghampiri sivia
“mau balik kak” tanya ozy
“iya, mau ikut”
“gk usah nanti aku dicariin ama bu guru. Lagian bentar lagi juga bel koq. semoga mama kakak cepat sembuh yah”
“makasih yah dek”
“zy, nanti kalau kk telat pulang bilang ama bunda yah kakak jenguk mamanya kak sivia”
“sip kak! Kakak hati-hati”
“iya. Yuk via” aja cakka. Lalu masuk ke mobil, sivia juga masuk. N cakka pun pergi ke rumah sakit
“kalau aku bisa milih aku lebih suka kak cakka ama kak sivia, mereka kan sama-sama mencintai orang yang sudah memiliki” batin ozy

****

Sesampai dirumah sakit tanpa menunggu lama, sivia dan cakka segera berjalan ke ruang ICU. Perlahan-lahan sivia memegang handel pintu didepannya.
Cakka memegang kedua bahu sivia “via, ayo masuk. Apapun keadaan mama kamu, kamu harus kuat” cakka berusaha menenangkan sivia.
Sivia menatap cakka “temani aku. Kamu mau kan” tanya sivia
Cakka mengangguk “aku gk akan tinggalin kamu”
Lalu, sivia membuka handel pintu. Suasana hening menyambutnya. Sivia melangkah perlahan menuju ranjang yang terletak di tengah ruangan itu. Mamanya tengah berbaring disana
Keadaanya memprihatinkan. Di tangan kirinya, terdapat impus darah. Di hidungnya, terdapat selang oksigen, sebagai alat pembantu pernapasan. Sementara di dadanya,ada alat yang menghubungkannya dengan monitor pemancar jantung
Mama sivia terkena penyakit kanker hati. Operasi sudah dilakukan di singapura untuk menyembuhkannya tapi hasilnya nihil. Sivia tak berhenti sampai disitu, ia lagi-lagi membawa mamanya ke australia untuk di sembuhkan tapi hasilnya tetap sama, penyakit itu tak bisa sembuh. Bahkan hingga isi tabungan terakhir sivia. Penyakit itu pun tak sembuh
“ma.. ini via… via ada disamping mama” kata sivia lemah. Ia menggenggam erat tangan mamanya. Ia menangis
“ma ayo bangun… jangan tinggalin via sendiri” sivia menunduk, air matanya mengalir deras. Cakka mendekat, memegang kedua bahu sivia, berusaha menguatkan sosok itu
“sivia…” gumam mama sivia pelan
“mama‼” seru sivia sambil menyeka air matanya
“kamu jangan nangis sayang. Mama baik-baik aja sayang”
“via gk nangis koq ma. Ma… mama harus janji jangan pergi. Sivia gk mau sendiri, papa udah pergi ninggalin sivia, dan aku gk mau mama harus pergi. Mama yach, tetap disini ama via, temani via” balas sivia
“kalau mama udah gk kuat temani kamu. Kamu gk keberatan kan kalau cakka yang menemanimu” tanya mama sivia lalu melirik ke arah cakka
“cakka” panggil mama sivia.
Cakka mendekat ke ranjang “iya tante” balasnya
“kamu mau kan jagain sivia”
“ya tante”
“makasih”
“sivia udah aku anggap seperti saudaraku sendiri tante”
Mama sivia tersenyum lalu kembali menatap sivia
“sivia” mama sivia menggeggan tangan sivia “makasih udah mau jadi anak yang hebat. Makasih kamu udah berjuang untuk menyembuhkan mama. Mama sayang sama kamu via. Tetaplah jadi yang terbaik untuk mama dan papa walaupun kami gk ada disampingmu” kata mama sivia lalu mengecup kening sivia
Saat itu juga, grafik di monitor mulai bergerak naik turun dengan cepat, hingga akhirnya
Niiittttttt……. Garisnya berubah menjadi lurus
“MAMA‼” teriak sivia. Ia mengguncan tubuh mamanya
“mama, bangun. Jangan tinggalin via ma‼” sivia berteriak. Air matanya tak mau berhenti mengalir. Ia tertunduk lemah, satu-satunya harta terindah yang dimilikinya pergi. Cakka mengelus pundak sivia
“kka. Mama pergi ninggalin” lirih sivia. Cakka tak kuat melihat kondisi sivia ia lalu memeluk sivia
“huhu… mama kka” sivia terisak dalam pelukan cakka
“via. Aku ada disini, aku akan menemanimu. Kamu harus kuat. Kirimkan doa terindahmu untuk mamamu biarkan dia tenang disana bersama papamu” kata cakka sambil mengelus rambut sivia. Sivia menangis dalam pelukan cakka

****
sejak pemakan selesai. Sivia selalu menyendiri, ia masih berat atas kepergian mamanya, ia tersenyum jika cakka menghiburnya, tapi sesungguhnya ia masih merasa kehilangan
“kka. Hari ini aku mau lake love. Kamu gk usah anter aku pulang” kata sivia pada cakka. Lake love memang bukan danau milik oik dan alvin, tapi danau itu milik sivia dan oik
“kalau gitu aku antar ke lake love yah”
“hm…”
“aku tahu kamu pasti ingin menenangkan diri” batin cakka

****

“vin kita ke lake love yuk”
“kita ketemunya disana aja. Aku lagi pengen naik sepeda nih. Kan jaraknya gk terlalu jauh dari rumahku
“jangan telat yah vin”
“bye” oik menutup pembicaraannya dengan alvin lalu mengambil tasnya dan segera pergi ke lake love. Ia ingin memberi sesuatu pada alvin. Alvin juga ingin memberi sesuatu padanya

****

Sesampai di lake love alvin tak mendapati siapa-siapa akhirnya ia memutuskan untuk duduk di pinggir danau, ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar berusaha menghirup udara segar yang masih ada, lalu ia melihat sosok gadis sedang duduk di pinggir danau, ia lalu menghampirinya
“hei ik” panggilnya. Yang dipanggil lalu menoleh
“via? Kiran oik! Sendirian aja nih” tanya alvin lalu duduk disamping sivia. Sivia tak bergeming
Alvin lalu memandang sivia. Mata yang bengkak dan sisa air mata di pipi
“kamu kenapa” tanya alvin. Sivia tetap diam
“cakka udah nyakitin kamu” tanya alvin lagi kali ini sivia menggeleng
“lalu kamu kenapa” tanya alvin. Sivia meneteskan air mata membuat alvin teringat akan dua hari yang lalu
“kamu ingat mamamu” tanya alvin pelan. Sivia lalu menoleh ke arah alvin
“bagaimana rasanya memiliki orang tua vin” tanya sivia
“via, aku lebih senang melihatmu yang dulu. Apa ketika mamamu pergi kau harus seperti ini. Tidak via, perjalananmu masih panjang, kau harus tetap bertahan. Aku yakin mamamu pasti punya mimpi yang ingin kamu wujudkan. Aku bisa membantumu jika kau tak sanggup” jelas alvin, ia menatap sivia dalam
“makasih” balas sivia sambil tersenyum.
“gitu donk senyum. Kan lebih cantik” kata alvin. Wajah sivia memerah, ia lalu memalingkan wajahnya
“bisa aja kamu” balas sivia.
“via, lihat aku” pinta alvin, sivia jadi bingun, ia lalu menoleh ke arah alvin
“kenapa” tanya sivia
“kamu harus kuat yah walaupun tanpa orang tua di sampingmu. Aku akan menemanimu, oik juga. Aku lebih senang melihatmu tersenyum daripada menangis” kata alvin, sivia hanya membalasnya dengan senyuman, alvin menatap sivia dalam. Tatapan mata alvin semakin dalam  seolah sivia jatuh kedalamnya. Tatapan yang sangat tulus, mata mereka saling bertaut.
Hingga 15 menit berlalu
Sivia menyentuh bibirnya dengan kedua jari tangan kanannya sambil menunduk ia meneteskan air mata “alvin” lirihnya. Alvin masih memegang kedua pundak sivia ia juga menunduk “maaf” lirihnya lalu memeluk sivia
“maafin aku via” pintanya. Sivia berusaha melepas pelukan alvin, tapi alvin tak ingin melepasnya
“kamu jahat vin” teriak sivia dalam pelukan alvin, ia menangis
“kamu jahat” sivia terus meronta agar alvin melepas pelukannya
“via kumohon maafin aku”
“alvin” teriak seorang gadis mungil. Matanya berkaca-kaca menyaksikan pemandangan di depannya. Pemandangan yang seharusnya indah berubah menjadi pemandangan yang terburuk untuknya. Indahnya air danau tertutup oleh pemandangan didepannya
Mendengar suaru itu alvin segera melepas pelukannya, dan sivia dengan linangan air mata ia berlari dari tempat itu
“aku bisa jelasin ik” kata alvin
“kamu??” tanya oik, air matanya jatuh, membasahai pipinya
“ik, kamu salah paham, semua gk sesuai dengan apa yang kamu lihat”
“gk sesuai? Alvin! aku lihat semua, aku lihat kamu nyium via, aku lihat kamu meluk via, n aku lihat kamu buat sivia nangis”
“oik”
“kita putus vin‼” teriak oik lalu menyeka air matanya dan berlari pergi dari danau itu,
“ik denger dulu” teriak alvin sambil mengejar oik, tapi sayang oik sudah menghilang. di dekat sebuah pohon besar sesosok tangan lembut menahannya dan membawanya pergi tapi alvin tak melihat itu
Alvin menunduk “bodoh‼ kamu vin. Apa yang udah kamu lakuin. Itu sivia” alvin mencaci maki dirinya sambil memukul kepalanya
Ditempat lain
“cakka” kaget oik yang melihat bahwa orang yang menariknya tadi adalah cakka. Ia lalu memeluk cakka, ia tahu cakka satu-satunya tempatnya saat ini untuk menampung air matanya
“menangislah sepuasmu ik”
“kenapa kau begitu baik padaku kka. Padahal aku tak pernah menganggapmu”
“karna kamu pemilik hatiku”
“cakka kenapa alvin nyakitin aku” cakka hanya mampu mengelus rambut oik, berusaha menenangkannya
“huhuhuhu” oik terisak dalam pelukan cakka
“oik udah jangan nangis lagi. Ini semua tuh kecelakaan gk ada yang menginginkan ini terjadi” kata cakka sambil mengelus rambut oik
“tapi kka, alvin lakuin itu sama sivia, sahabat aku. Dan di depan aku kekasihnya”
Cakka melepas pelukan oik “tapi ik, kamu gk akan marah kan ama sivia” tanya cakka. Oik terdiam
“ik, ini bukan salah sivia. Tapi aku juga gk nyalahin alvin. Tapi semua ini bukan salah sivia. Sivia masih bersedih karna kehilangan mamanya, Dan kalau harus kehilangan kamu sahabatnya itu akan membuatnya tambah sedih”
Oik menggeleng “aku gk nyalahin sivia koq kka, aku cuman kecewa sama alvin” kata oik lalu melirik cincin yang masih melingkar manis di jari manis tangan kirinya
“alvin juga manusia biasa yang tak pernah lepas dari sebuah kesalah, jangan benci dia ik, jangan marah sama dia. Kalau kamu gk mau ngasih dia kesempatan kedua anggap saja dia sebagai sahabatmu” jelas cakka. Oik tersenyum
“kamu gk jauh beda dari alvin. Seharusnya aku memilihmu dari dulu”
“tak ada kata terlambat ik” oik lalu memeluk cakka, cakka membalasnya
“aku sayang sama kamu ik, siapapun kamu, apapun kamu, bagiku kau selalu terindah”

****

Cakka perlahan mendekat ke ranjang sivia. Sivia sedang duduk dengan posisi memeluk kedua lututnya dan menunduk, cakka tau sivia sedang menangis. Perlahan dia duduk disamping sivia, mengelus rambut gadis itu
“sivia” panggil cakka, perlahan sivia mengangkat kepalanya, matanya sipit, merah, dan bengkak
“cakka” balas sivia lalu memeluk cakka, cakka tersenyum lalu membalas pelukan sivia
“aku gk ngelakuin itu kka”
“via”
“kka. Aku jahat banget jadi sahabatnya oik, aku gk bisa jaga perasaan oik”
“via”
“aku gk pantas disebut sahabat yang baik”
“via udah. Kamu gk salah koq, Dan kamu pantas disebut sebagai sahabat yang baik untuk oik. Semua ini kecelakaan via. Lagipula oik gk marah koq sama kamu”
“kamu juga gk marah sama aku”
“aku tahu siapa kamu, lagipula aku ada ditempat itu saat alvin nyium kamu, alvin tulus. Aku yakin alvin itu sayang sama kamu. Cuman selama ini, dia mengartikan sayangnya ke kamu itu hanya sebagai seorang teman”
“tapi alvin itu kekasih oik” cakka melepas pelukan sivia. Menghapus sisa air mata gadis itu, lalu memegang kedua pipi sivia
“asal kamu tahu yang tadi itu first kiss-nya alvin. First kiss yang hanya untuk orang tersayang. Oik tadi cerita bahwa alvin sama sekali gk pernah nyium dia, dipipi apalagi di bibir. Di kening juga gk pernah. Yang pernah hanya di tangan. Dan oik iri denganmu via-chan” kata cakka lalu menyolek hidung sivia
“cakka kau selalu bisa membuatku tersenyum. Kenapa oik tidak suka padamu, kamu orangnya funny” batin sivia
“cakka apaan sih” wajah sivia memerah ia lalu mengambil bantal dan bersembunyi dibalik bantal
“ah pipinya merah. Lucu deh kayak tomat ceri” kata cakka berusaha melepaskan bantal yang menghalangi wajah sivia
“ih cakka” lirih sivia di balik bantal
“oh iya siv jadi gimana nih. Kamu mau jadi cewenya alvin” tanya cakka. Masih bersembunyi dibalik bantal
“nanti aku dituduh merebut pacar sahabat sendiri. Temen makan temen. Pagar makan taneman”
“gk akan. Oik sudah melepas alvin dan kini giliranmu untuk menangkap alvin”
“dan giliranmu juga untuk mengambil oik” cakka tersenyum, sivia melepas bantal yang menutupi wajahnya
“kamu memang bisa yah mengalihkan pembicaraan” kata cakka sambil mengacak rambut sivia
“ini kesempatan emasmu. Hibur oik, aku yakin oik sedang sedih dan dia membutuhkan bahumu untuk menampung air matanya”
“alvin juga sedang terpukul karna kehilangan oik. dia juga butuh tempat untuk bersandar”
“tapi cakka, aku masih gk bisa lupain kejadian tadi”
“besok disekolah aku yakin alvin akan meminta maaf padamu. Kumohon maafkan dia”
“cakka”
“oik tak akan jadi milikku kalau kamu belum bersama alvin” sivia kembali memeluk cakka
“you are my best friend ever”

****

“via, soal yang kemarin kumohon maafin aku”
“lupain aja masalah itu vin”
“tapi kamu maafin aku kan. Kemarin aku gk sengaja”
“iya aku maafin kamu koq”
“makasih sivia”
“sama-sama”
“selesai” lirih seseorang lalu meninggalkan taman belakang sekolah
“gimana” tanya oik
“berhasil” jawab cakka
“tapi mereka belum jadian yah ik” kata cakka
“iya aku tahu” balas oik berat
“kamu masih sayang sama alvin kan”
“gk”
“jangan bohongin perasaan kamu. Jangan terima aku karna kamu kasihan sama aku” kata cakka lalu pergi. Oik menahan lengan cakka, ia memeluk cakka dari belakang
“aku tulus kka. Aku sadar ternyata selama ini aku sayang sama alvin hanya sebagai seorang sahabat, aku hanya tak pernah menganggapmu jadi aku merasa bahwa sayangku ke alvin itu adalah sayang seorang kekasih. Aku sayang sama kamu. TULUS” ucap oik. Cakka lalu membalikkan badannya
Cakka tersenyum lalu meraih salah satu tangan oik “aku percaya. Makasih yah udah mau tulus sayang sama aku” ucapnya
"kamu pemilik hatiku selamanya ik" lanjut cakka. oik tersenyum
“oik memang pantas untukmu kka” kata alvin tiba-tiba cakka lalu melepas tangan oik
“kalian lebih cocok” kata sivia dari balik punggung alvin
“kalian juga lebih cocok. Matanya sama-sama sipit” kata oik
“hih oik” sivia manyun
“via, jangan gitu jelek tau” kata cakka, alvin lalu merangkul sivia
“udah kita pergi yuk jangan gangguin orang yang lagi pacaran” kata alvin lalu melangkah
Plakk‼ satu jitakan mendarat dengan mulus di kepala alvin
“aduh! Cakka sakit tau” kesal alvin sambil mengelus kepalanya
“memangnya kalian juga gk lagi pacaran” tanya cakka lalu membawa oik pergi
“yuk susul mereka” kata alvin, sivia mengangguk

And then cakka dan oik bersatu, menjadi pasangan yang bahagia bahkan mengalahkan kebahagiaan oik saat bersama alvin, cakka selalu ada untuk oik dan oik selalu menghargai cakka. hubungan yang sangat langgeng, dari status pasangan kekasih hingga status sebagai pasangan suami-istri. Terlebih lagi mereka dikaruniai seorang bayi perempuan yang sangat lucu dan di beri nama Kasih. Lengkap sudah kebahagiaan oik saat ini,  cakka dan kasih adalah kebahagiaan terbesar yang pernah oik miliki.
Sama dengan CaIk, Alvin dan Sivia pun bersatu. Membuat sivia sadar bahwa kepergian mama bukanlah akhir dari kebahagiaannya, masih ada alvin yang tulus sayang padanya. Masih ada CaIk yang mau jadi sahabatnya. Hidup bersama alvin, bersumpah sehidup semati, membuat sivia bersemangat untuk hidup, ditambah lagi dengan sosok bayi laki-laki dalam keluarganya, Bian. Seorang yang membuat sivia tambah bahagia. Membuat sivia melupakan masa lalu yang sudah menguras air matanya. Dirinya, tanpa Alvin dan Bian, mungkin ia akan lebih sedih lagi dibanding dengan kehilangan mamanya
17 tahun kemudian, saat Kasih dan Bian sudah berumur 17 tahun. Caik n Alvia memutuskan untuk menjodohkan mereka. Kalau ovin gk bisa bersatu mungkin kasih dan bian bisa . walaupun alvin tak bisa memiliki hati oik, setidaknya dia bisa menjadi orang tua kedua dari anak oik



The End

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Caikers Family Official Blog. Design By: SkinCorner