Selasa, 07 Juni 2011

THE PART OF MY LIFE WITH YOU (Cerpen by Innezdhe Ayang Marhaeni)

            Jika cinta yang membuat segalanya yang ada ini menjadi indah, aku mau mencintai sepenuh hati. Aku ingin menyayangi sepenuh raga dan jiwaku. Agar mimpi yang disebut kehidupan ini dapat lebih baik dari sekarang. Sungguh bukan kehendakku untuk terdampar dalam kejadian ini. Aku sama sekali tak menginginkannya. Begitu pula denganmu. Dan dengannya.
            Ulang tahunku yang ke-14, kamu datang. Membawakan kado sebuah boneka beruang besar berwarna merah jambu yang begitu lembut. Sejenak aku marah padamu, sudahkah kubilang aku benci warna merah jambu? Namun apa katamu?
            ”Karena aku ingin akulah yang mengganti hal yang kau benci itu menjadi hal yang begitu indah dalam hidupmu,” ujarmu sambil tersenyum penuh arti.
            Aku tak begitu menangkap ucapanmu. Yang kurasa hanya rona merah yang tertoreh pada pipiku.
            Kau mengelus pipiku lembut, sekali lagi menyerahkan boneka beruang yang tadi kutolak. Ragu kuterima boneka itu, seolah melanggar apa yang selama ini kupegang.
            Setelah itu, pada setiap ulang tahunku kau selalu membawa berbagai macam kado yang beraneka ragam.
            Ulang tahunku yang ke-15, kau datang dengan sekotak jepit rambut berwarna-warni. Padahal kau tahu sendiri rambutku tak pernah lebih panjang dari bahuku.
            ”Biarpun itu sederhana dan mungkin tak berharga, aku yakin kau akan selalu menyimpannya, bukan? Akulah yang akan mengubah keyakinanmu,” kau berkata.
            Aku menyerah dan menerimanya.
            Di ulang tahunku yang ke-16, aku was-was menunggu kado darimu. Ketika kau datang, aku langsung menghambur menghampirimu. Sementara kau tersenyum simpul melihatku.
            ”Gaun berwarna merah jambu dan jepit rambut berwarna-warni. Sungguh menawan,” belum-belum kau sudah memuji.
            Aku tersipu malu. Memang kaulah yang mambu mengubahku.
            Lalu kau mengeluarkan kadomu. Sebuah kamera digital. Lagi-lagi aku menatapmu tak mengerti.
            ”Usiamu sudah 16 tahun. Gunakan ini untuk menyimpan memori masa-masa SMA yang sangat berharga dalam hidupmu,” pesanmu.
            Aku mengangguk berterima kasih padamu. Kadomu tahun ini begitu jelas.
            Dan saat ini, kurang dua jam dari hari Selasa, 7 Juni 2015. Seharusnya besok adalah ulang tahunku yang ke 17 dirayakan. Tapi aku sama sekali tak menghendakinya. Aku memilih mengurung diri di kamar. Menunggu detik-detik menjelang saat ulang tahunku yang kabarnya paling berarti dan berharga seumur hidup kita. Pun memutar semua resolusi gambar yang telah tersimpan baik dalam memori otakku ataupun kamera digital di tanganku.
            Bayangmu masih basah terkenang. Sama sekali belum kulupakan. Begitupun nanti, esok, esok lusa, seminggu lagi, dan seterusnya. Entah bagaimana caranya dapat melalui hidup ini tanpamu. Tanpamu disisiku.
            Aku masih tak mengerti bagaimana semua ini bisa terjadi begitu saja. Begitu cepatnya, menyayat hati, meremukkan jantung dan nadi yang selama ini berdetak karenamu. Apakah ini arti sebuah persahabatan?

~ ~ ~

            ”Oik, mau sandwich?” Cakka bertanya riang.
            Oik menatapnya sejenak. Lalu menggeleng. Ia asyik memeluk boneka beruang putihnya, mengelus bulu-bulu yang halus.
            ”Ngapain disini, sih? Sudah sore lho. Nggak pulang?” Cakka mau tak mau akhirnya melahap sandwich yang dibawanya.
            ”Nggak. Di rumah nggak ada orang. Cuma simbok,” jawab Oik seperti biasa.
            Cakka jatuh kasihan dan duduk di sampingnya.
            ”Sabar ya. Kan ada aku. Cakka bakalan temenin Oik terus deh,” Cakka menepuk bahu Oik.
            Oik tersenyum dan mengangguk riang. Keduanya duduk, menikmati senja yang perlahan bergulir turun seiring dengan naiknya sang bulan ke singgasana malam.
            ”Malam ini mau kutemani?” tawar Cakka begitu keadaan sudah berubah gelap.
            ”Temani gimana?” Oik balik bertanya.
            “Aku akan tinggal dirumahmu. Lalu nanti setelah kamu tidur aku akan dijemput Papa. Eh, atau kamu menginap di rumahku, yuk! Mama pasti senang,” ajak Cakka.
            Oik terdiam sejenak.
            “Sudahlah.. nanti biar Mamaku yang menelepon Mamamu kalau kau tinggal di rumah. Seperti biasa,” bujuk Cakka.
            “Baiklah. Tapi.. kita pulang dulu, ya. Aku mau mandi dan pamit sama simbok,” Oik pun akhirnya setuju.
            Kedua anak berusia 11 tahun itu berlarian melewati lapangan yang sudah sepi menuju rumah Oik.
            Rumah Oik tampak lengang. Rumah mewah itu tampak sunyi. Namun sebuah mobil sedan hitam terparkir di halaman, di dekat taman yang selalu dirawat oleh Papa Oik.
            “Lho.. ini kan, mobil Papa,” Oik bergumam melihat mobil itu.
            ”Tapi mereka kok nggak bilang kalau mau pulang sih?” lanjut Oik sambil terus melangkah. Cakka mengikutinya memasuki rumah.
            ”....saya sudah muak tinggal sama kamu! Selalu main kasar, mabuk, main perempuan! Kamu pikir saya patung, hah?!”
            ”Diam kamu! Kamu pikir saya juga nggak tahu kalau kamu selalu beli perhiasan-perhiasan mahal? Hah?! Kamu pikir saya buta? Saya tahu kamu sering jalan ke mall sama lelaki itu. Lelaki muda yang pantasnya jadi kakaknya Oik! Nggak tahu malu!”
            Langkah Oik dan Cakka terhenti di teras mendengar pertengkaran dari dalam kamar itu.
            ”D, dia Cuma anak teman saya! Menemani saya belanja saja! Saya nggak seperti kamu, tukang serong!”
            “Jaga mulut kamu, ya! Jangan bicara sembarangan! Saya selalu kerja keras demi kamu, demi Oik!”
            ”Puih. Kerja keras apanya? Yang ada selalu kencan dan tidur di rumah sekretaris kamu yang keganjenan itu, kan?!”
            ”Sekali lagi kamu bilang begitu, saya pukul kamu!”
            ”Pukul kalau berani! Kamu pikir saya takut?! Saya sudah capek jadi istri kamu! Harus menahan marah gara-gara ulah kamu yang kurang ajar!”
            Oik menggigit bibir bawahnya yang mulai gemetar. Biarpun ia masih belum mengerti sepenuhnya kata-kata yang terucap dari pertengkaran itu, ia tahu hal itu bukan hal yang baik untuk diketahui.
            Tiba-tiba tangan Cakka mendekapnya erat, menyandarkan kepalanya ke dada sambil menutupi telinga Oik dengan tangannya yang lain.
            ”Sssst...” bisik Cakka menenangkan.
            Oik terdiam, menuruti ucapan Cakka. Tak berapa lama, Cakka melepaskan tangannya. Ia menarik tangan Oik.
            ”Eh...”
            ”Ayo, ikut aku saja,” ajak Cakka. Mereka kembali berlarian pergi dari rumah Oik, ke jembatan di dekat lapangan tempat mereka bermain.
            ”Ngapain kesini?” tanya Oik heran.
            Cakka menatapnya.
            ”Aku tahu, makanya sini, peluk aku,” Cakka membuka lengannya. Sontak saja hal itu membuat Oik terheran-heran sekaligus malu.
            ”Ap.. apa?”
            ”Kamu mau nangis, kan? Sini, nangis di bahu aku. Aku nggak bakalan biarin kamu sendirian. Setiap orang punya porsi kebahagiaan sendiri-sendiri. Biarin aku kasih ke kamu porsi kebahagiaan aku. Asal kamu bisa tersenyum.”
            Oik tersenyum sedih, menyambut lengan Cakka. Serentak saja kehangatan menjalari tubuhnya yang sedari tadi menggigil. Cakka mengelus rambutnya.
            ”Setiap sedih, selalu ada aku. Tenanglah.”

~ ~ ~

            Di suatu siang, Cakka tengah asyik membaca komik di dalam kelas. AC yang menyala membuatnya tambah kerasan menikmati jam istirahat di kelasnya yang bersih dan sepi.
            ”Cakka!” terdengar panggilan dari luar. Lalu seraut wajah manis tampak menyembul dari balik pintu yang setengah terbuka.
            ”Oik!” sambut Cakka senang. Ia langsung melepas headset yang menempel di telinganya.
            ”Nggak keluar?” tanya Oik.
            ”Nggak ah. Males. Aku bawa bekal. Kamu lapar?” tanya Cakka.
            Oik mengangguk.
            ”Sini deh. Makan bareng. Mama udah titipin buat kamu,” Cakka mengayunkan wadah kotak berwarna putih.
            ”Nggak apa-apa nih, masuk kelas kamu?” tanya Oik. Matanya tertuju pada seorang lelaki yang tengah asyik di depan laptop yang menyala sambil memakai headset juga.
            ”Nggak apa-apa kok. Alvin lagi asyik tuh,” Cakka mengedik ke arah lelaki itu, mengerti maksud Oik.
            Akhirnya Oik pun masuk ke dalam kelas Cakka. Ia duduk di samping Cakka.
            “Nih,” Cakka mengangsurkan sandwich pada Oik.
            Oik menerimanya dan memakannya pelan-pelan.
            ”Baru sekali ini kita nggak sekelas, dan rasanya nggak enak, ya,” kata Cakka.
            Oik mengangguk. ”Maklumlah. Kita kan, udah SMA.”
            ”Terus, apa hubungannya?”
            ”Hehe.. di SMA kan, kelasnya lebih banyak. Kemungkinan buat sekelas itu kecil tahu,” balas Oik.
            Cakka angkat bahu saja menanggapi Oik.
            ”Eh, aku belum balikin kamus Perancis ke perpustakaan! Aku pergi dulu, ya, Cak!” pamit Oik.
            ”Mau ditemenin?” tawar Cakka.
            Oik menggeleng sambil terus melangkah menuju pintu kelas.
            ”Nanti Shilla marah,” ia mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum manis.
            ”Makasih rotinya. Sampaikan ke Tante Mira, sandwich-nya kebanyakan salad,” pesan Oik lagi, lalu gadis itu keluar.
            Cakka menghela napas. Sudah berulang kali dibilang, aku sama Shilla nggak ada hubungan apa-apa! Eh, dia tetep aja!
            ”Err.. Cak!”
            ”Eh, ya, Vin?” Cakka menoleh ke arah Alvin yang memanggilnya. Headsetnya sudah terlepas.
            ”Itu tadi temen kamu?” tanya Alvin.
            Cakka mengangguk. ”Oik dari X – 2. Kenapa?”
            ”Cantik, manis. Kenalin boleh, nggak?” tanya Alvin berani.
            Cakka terperangah mendengarnya.
            ”Kenalin?”
            Alvin mengangguk. ”Atau jangan-jangan, dia pacar kamu, ya?” selidik Alvin.
            Cakka sontak menggeleng.
            ”Nggak! Kata siapa? Oik itu bukan pacar aku. Kita nggak ada hubungan apa-apa kok. Cuma sebatas berteman biasa. Aku nggak ada perasaan apapun sama Oik,” sanggah Cakka tegas.
            ”Yakin?”
            ”Iya! Aku lebih suka sama Shilla, kok, Vin,” ujar Cakka.
            Tanpa disadari oleh keduanya, Oik tengah berdiri di depan pintu yang setengah tertutup. Ia hendak membawakan air mineral untuk Cakka karena tiba-tiba disadarinya cowok itu tidak membawa air minum. Namun begitu mendengar kata-kata ’pacar’, Oik terdiam di tempatnya.
            Diletakkannya air mineral yang dibawanya di depan pintu kelas Cakka, lalu ia langsung berbalik pergi. Menahan haru yang entah kenapa tiba-tiba menyeruak.
            Gita dan Olivia mendapati air mineral di depan pintu kelas mereka seusai jajan di kantin langsung membawa masuk botol itu.
            ”Ini punya siapa, ya? Kok ada di depan pintu?” tanya Gita pada Alvin dan Cakka yang ada di kelas, sambil mengacungkan botol minuman.
            Cakka terperangah. Ia hafal betul itu botol milik Oik. Ia langsung berlari keluar kelas, namun tak mendapati sosok Oik dimanapun.
            ”Punya aku,” Cakka berujar pada Gita.
            Gita dan Olivia hanya saling pandang.

~ ~ ~

            Sejak saat itu, lelaki bernama Alvin itu mulai rajin mengirimi Oik pesan singkat dari ponselnya. Awalnya sekedar say-hello, saling kenal, hinggu menjadi rutinitas dari masing-masing.
            Pagi, siang, sore, malam. Tak pernah sms Alvin absen menghiasi inbox ponsel Oik. Padahal sebelumnya, nama-nama yang mengisi inbox itu hanyalah sebatas teman-teman sekelas yang tanya tugas, teman-teman cewek, pengumuman, dan paling sering dari Cakka. Entah kenapa cowok itu seolah tak pernah muncul lagi.
            Cakka jadi sering bersama Shilla daripada Oik. Padahal biasanya ia selalu bersama Oik. Kemanapun dan kapanpun.
            Oik tak mengerti apa kesalahannya hingga Cakka seolah menjauhinya, merentangkan jarak yang lebar antara mereka. Apalagi Cakka tak pernah bicara dengannya. Oik sudah beberapa kali mengirimkan pesan singkat pada Cakka, namun hanya dijawab singkat pula oleh cowok itu. Semisal ’nggak ada apa-apa’, ’aku Cuma lagi sibuk,’ atau ’sorry kalo gitu’.
            Mendapari respon dingin dari Cakka, Oik pun menyerah di minggu keduanya berjauhan dengan Cakka. Ia tak lagi berusaha menghubungi Cakka ataupun mengajaknya bicara. Mengikuti sikap cuek Cakka.
            Seolah direncanakan, Oik jadi dekat dengan Alvin dan Cakka pun semakin dekat dengan Shilla. Entah siapa yang menginginkannya, karena semua sama-sama tak mau tahu.
            Apalagi dengan kedatangan Alvin disaat Oik membutuhkan seseorang disampingnya. Diorama yang biasanya diisi oleh Cakka, Cakka dan Cakka kini perlahan tertutup. Dan tergantikan oleh sosok Alvin. Hal itu sedikit banyak membuat perasaan simpati Oik beralih kepada cowok oriental yang begitu baik itu.

~ ~ ~

            ”Kok kamu tahu semua, sih, Vin?”
            ”Ya, aku kan, guardian angel kamu,” jawab Alvin sambil tersenyum.
            Oik geleng-geleng kepala tak percaya. Alvin bisa mengetahui semua kesukaannya, hal yang dibencinya, pengalamannya sejak kecil. Padahal yang mengetahui itu semua hanya...
            ”Vin, jujur dong. Kok tahu?” ulang Oik.
            ”Jujur nih? Nggak seru dong.. ya udah deh. Dari Cakka. Dia yang selalu kasih tahu aku semua itu. Pun kalau sewaktu-waktu smsku nggak kamu balas, karena apa. Dia sahabat kamu banget ya, Ik? Dia bener-bener tahu kamu luar dalam,” ujar Alvin.
            Oik terdiam mendengarnya.
            Saat itu, mendadak muncul rasa kecewa, sedih, kesal, dan marah dari hati Oik. Semua yang selama ini dipendamnya sedikit demi sedikit ketika melihat kemesraan Cakka dan Shilla, kini terlepas karena hal yang baru saja disadarinya.
            Kalau saja Cakka benar-benar melakukan itu, lalu untuk apa?
Oik sama sekali tidak mengharapkannya. Ia tak ingin Alvin mengetahui semua itu secara instan. Kalau memang Alvin menyukainya, dan ingin bersamanya sebagai lebih dari teman, tentu Alvin bisa tanya langsung ataupun tahu dari setiap waktu yang dilewatinya bersama Oik.
Lalu, satu demi satu cerita terucap dari mulut Alvin.
Tentang ketika Oik sedih karena Papanya berencana menikah lagi, Alvin yang tiba-tiba hadir memupus kesedihannya, karena diberitahu Cakka yang mendapat firasat entah dari siapa. Ketika Oik sedang sibuk dan lelah, Alvin yang datang menghampiri karena diberitahu Cakka. Dan semuanya, banyak lagi.
Mendengarnya, bagi Oik sama seperti mendengar cerita yang selama ini tersembunyi begitu saja dari balik kelopak matanya. Cakka yang menggerakkan Alvin agar selalu bersamanya.
Oik makin tak mengerti jalan pikiran Cakka. Padahal dikiranya Cakka sudah benar-benar tak peduli lagi padanya, dan hanya mengurusi Shilla saja, karena mereka sudah seperti sepasang kekasih. Lalu, untuk apa...
            Malam itu juga, sepulangnya Alvin dari rumahnya, Oik mendatangi rumah Cakka.
            ”Ya?” kebetulan, Cakka sendiri yang membuka pintu.
            ”Oik?” Cakka tampak kaget melihat Oik di depan pintu rumahnya.
            ”Kamu jahat, Cak,” tuduh Oik tiba-tiba.
            ”Apa...”
            ”Selalu kamu yang mengkondisikan Alvin untuk selalu ada untuk aku. Padahal kamu lebih dulu tahu kalau aku sedang butuh seseorang disisiku. Dan kamu malah bilang pada Alvin? Kamu memberitahukan semuanya tentang aku pada Alvin, padahal seharusnya ia mencari tahu sendiri jika ia benar-benar menyukaiku. Bukan seperti itu caranya, Cakka!”
            Oik menangis. Bulir-bulir air mata turun di pipinya. Ia mengapusnya dengan lengan bajunya.
            ”Sekarang, aku jadi tidak tahu, kan, apakah Alvin benar-benar serius denganku atau tidak? Karena apa? Karena semua yang dimilikinya tentangku adalah dari kamu. Bukan dari usahanya sendiri. Puas kau, sekarang?” sentak Oik.
            ”Maaf, Ik.. aku nggak bermaksud begitu. Sungguh.. aku hanya ingin kau bahagia..” Cakka berujar pelan.
            ”Nggak! Dengan ini aku nggak bahagia. Aku sakit hati, Cak. Aku kecewa denganmu. Kau yang sudah membuatku tertipu oleh Alvin. Ternyata kau dalangnya. Sebenarnya kau yang menyanggupi permintaan Alvin untuk mendekatkan ia denganku, kan? Cakka.. ini benar-benar tidak lucu. Kamu tidak hanya mempermainkan drama ini. Tapi juga mempermainkan perasaanku. Rupanya ini yang kau berikan sebagai kado di ulang tahunku yang ke 17 tiga hari lagi, kan?”
            Oik makin deras menangis.
            Cakka maju, hendak menyentuh bahunya, ketika sebuah suara lain mengagetkan mereka.
            ”Sayang, siapa yang datang?”
            Oik dan Cakka sama-sama menoleh, dan mendapati Shilla berdiri di samping Cakka, di ambang pintu.
            Oik terkejut melihat Shilla. Ia menahan isaknya dan berlari pergi tanpa mempedulikan panggilan Cakka.

~ ~ ~

            Oh, andai saja aku bisa memilih. Aku bisa berputar kembali ke masa itu. Ketika aku tanpa sengaja mendengar percakapanmu dan Alvin ketika aku pertama kali bertemu dengan Alvin, aku akan memutar semuanya.
            Aku akan tetap masuk ke dalam kelasmu, membawakan minum dan ikut dalam obrolan, bercanda dengan kalian berdua hingga semua tidak jadi begini. Akan kutegaskan kalau sebenarnya.. aku mencintaimu. Kamu.
            Bertahun-tahun bersahabat denganmu, mengajarkanku betapa aku mengerti arti kasih sayang yang tak sempat diajarkan oleh Papa dan Mama yang super sibuk dengan urusan masing-masing. Aku mengenal cinta darimu. Dan jatuh cinta padamu.
            Shilla. Padahal kukira selama ini gadis itu hanya teman dekatmu lainnya. Yah.. lelaki setampan kau punya segudang teman dekat. Dan hanyalah aku satu-satunya dari sekian itu yang mampu ada disampingmu. Meskipun sekarang aku pun harus menelan kepahitan bahwa kau tak sebaik yang kukira.
            Aku harus menerima semua ini. Mau tak mau. Biarpun hatiku memberontak, apalagi karena perbuatanmu, namun aku tetap harus berdiri. Aku tak mau jadi orang lemah. Sudah cukup masa lemahku ketika kau selalu ada disisiku. Kini kau tak ada lagi dan aku harus ingat itu selalu.
            Sekeras apapun kucoba, memang takkan bisa melupakan sosokmu yang sungguh berarti dalam hidupku. Semakin kucoba melupakan, ada rasa bergemuruh di hati ini, yang meneriakkan betapa aku rindu senyumanmu, aku rindu tawa dan suaramu. Aku rindu kau, Cakka.
            Entah bagaimana dengan Alvin. Aku tersesat sekarang. Tak tahu harus berbuat apa pada kau dan ia yang ada disisiku. Alvin. Kami akrab dan dekat. Bahkan lebih dari aku dan kau dulu. Ia bahkan berperan layaknya kamu. Selalu ada saat kubutuhkan. Meskipun kutahu akhirnya itu bukan karena naluri, melainkan informasi.
            Kau tahu, sejak aku datang kerumahmu, aku tak lagi berhubungan dengan dunia luar. Ponsel kumatikan, dan aku berpesan pada simbok untuk mengatakan pada semua orang yang mencariku bahwa aku berlibur keluar kota untuk menyambut ulang tahunku yang ke 17.
            Kembali ke ulang tahun ke 17. Ulang tahun terindah sepanjang hidup. Masa dimana kita benar-benar terpanggang dalam api kedewasaan menuju kehidupan sesungguhnya. Melampaui batas renggang remaja yang selama ini membuai kita pada kehidupan super teenlit. Namun menjelang saat itu, aku malah harus kesepian begini. Menahan perih dan kecewa yang membuncah di hatiku atas semua sikap dan perlakuanmu.
            Pedih pula rasanya harus mandek di awal kehidupan sesungguhnya ini. Saat seharusnya aku bersenang-senang mengangkat gelas mengikuti countdown ulang tahunku seperti biasa bersama sahabat-sahabat terdekat. Sivia, Acha, Ify, Rio, Ray, Ozy dan terutama kau, Cakka. Kali ini, aku tak bisa. Aku tak tahu sampai kapan bisa menyembuhkan luka yang lebih dulu terlukis di hati ini.
            Sayang memang rasanya menyia-nyiakan masa remajaku dengan hal-hal seperti asmara begini. Namun apa daya. Aku pun tak sanggup menolak ketika cinta, hal terindah itu datang begitu saja meskipun aku belum genap 17 tahun.
            Simbolisme kedewasaan yang terpaksa kulewati dengan keterpurukan.
            Oh, Tuhan.. aku begitu tak ingin begini.
            Aku menyayangimu, mencintaimu. Sesimpel itu, meski sebenarnya tidak. Namun bisakah kau tak mempersulit semua ini? Hah? Bisakah kau membuatnya tak lagi tumbuh atau bahkan menyiraminya dengan air yang membuatnya semakin mekar? Cukup ya dan tidak.
            Dan bodohnya aku, akupun tak sanggup mengatakan semua itu padamu. Aku tak mampu mengungkapkan semua isi hatiku pada dirimu. Semuanya hanya terpendam disini. Disudut setiap senyum dan candamu tersimpan. Di lorong setiap lakumu dan sorot matamu terukir. Dan di kelok-kelok ucapanmu dan suaramu yang merdu terekam. Tentu saja kau tak pernah tahu, bukan? Aku memang bodoh.
            Dan inilah aku, si bodoh yang satu jam lagi akan menginjak usia 17 tahun. Yang dilaluinya tanpa sahabat-sahabat tercinta. Tanpa seorangpun disisinya. Tanpa Mama dan Papa yang selalu lupa. Tanpa orang-orang yang sekedarnya saja. Bodoh yang mencintaimu. Bodoh menyayangimu.
            Cakka Kawekas Nuraga...
            Aku masih ingat betul janjimu untuk selalu ada disisiku. Dan aku kagum padamu, yang selalu mengingatnya kendati kau jadi pujaan sekolah. Sementara aku, aku hanyalah aku. Si bodoh yang beruntung – meskipun akhirnya naas – yang mencintaimu.
            Rhyme in June.
            Bulan Juni. Bulan dimana aku selalu menantikan kado darimu. Menikmati deguup-degup tak karuan dari jantungku setiap kau datang untuk tradisi countdown kita dan membawakan kado terindah. Yang anehnya selalu mampu mengubahku. Menjadi gadis yang lebih baik lagi. Secara bertahap.
            Hei
            Ingatkah kau
            Akan angka ini?
            Akan waktu ini?
            Akan tempat ini?
            Namun, aku sangsi
            Bisakah kau ingat semua itu
            Saat janjimu pun kau ingkari
            Saat ketenangan yang kau bawa pun kau dustai
            Lalu salahkah diriku
            Jika tetap dirimu yang ada
            Dalam relung
            Dalam palung
            Dalam kedalaman selaksa air mata?
            Ah! Apa itu? Saat kulongok dari jendela kamarku, ada kembang api diluar. Aku langsung melonjak senang. Sejenak lupa denganmu dan deritaku. Aku menghambur ke balkon kamarku untuk melihat kembang api itu secara lebih jelas.
            Dan aku melihat…
            ”...happy birthday to you... happy birthday to you.. happy birthday happy birthday.. happy birthday to you…”
            Cakka?
            Kembang api terus meluncur dari pipa di tangan Cakka. Cowok itu menembakkan kembang api ke angkasa, yang seolah meledak di angkasa luas. Menghasilkan binar-binar berwarna-warni yang bermekaran. Gemericik seperti air mancur. Kembang api kesukaan Oik.
            Senyum, sorot mata, dan lakunya, benar-benar membuat Oik terpaku.
            Begitu kembang api ditangannya habis, Cakka melangkah ke bawah balkon kamar Oik. Jam di kamar Oik menunjukkan pukul 00.01.
            ”Selamat ulang tahun, malaikat manisku. Sekarang usiamu sudah 17 tahun. Semakin lama selalu bertambah, kan? Artinya semakin pendek saja usia kita. Aku berharap malaikat manisku selalu mendapat yang terbaik disepanjang usianya. Selalu bersamaku, dalam suka dan duka..” ucap Cakka sambil memejamkan mata dan menengadah ke langit luas.
            Oik masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat itu. Ia terus menatap Cakka.
            ”..amin,” dan Cakka pun membuka matanya. Ia memamerkan senyum manisnya.
            Malaikat manis? Kau masih mengingatnya dengan baik, anak gembalaku. Tentu saja, aku masih ingat dongeng ’Malaikat dan Si Penggembala’ yang seringkali kita baca bersama.
            ”Maafkan aku, Ik. Sungguh nggak ada maksud untuk menyakiti kamu hingga seperti ini. Aku hanya ingin kau mendapatkan yang terbaik. Dan kurasa Alvin yang cocok untukmu. Meskipun aku harus sedikit terkesan memaksa untuk menyandingkanmu dengannya,” ujar Cakka akhirnya.
            Oik tetap diam.
            ”Oik Cahya Ramadlani... turun dan jawablah...” pinta Cakka sambil menunduk.
            ”Tunggulah,” ujar Oik akhirnya. Dengan hati deg-degan ia melangkah keluar kamarnya untuk menemui Cakka di halaman depan. Hatiku makin tak karuan melihat sosoknya berdiri tegak di tempatnya tadi. Seolah menungguku.
            ”Karena sejujurnya.. dilubuk hatiku. Adalah kau, Oik. Kau yang tertera di dalamnya. Mungkin tak perlu kau bayangkan rasanya jika sahabatmu memintamu untuk mendekatkan gadis yang kau cintai dengannya. Semua ini demi persahabatan, Ik. Meskipun aku sadar. Aku sama sekali nggak bisa.. membiarkan kamu dan Alvin,” ucap Cakka begitu aku berdiri di depannya.
            Benarkah pendengaranku ini? Atau ini hanya ilusi atas kesedihanku yang terlalu mendalam?
            ”Hal yang paling membuatku sakit adalah, ketika aku tahu kau melakukan semua itu demi Alvin. Karena saat itu kau sama sekali tidak memikirkan perasaanku. Perasaan bahwa aku pun mencintaimu. Dalam,” ujar Oik akhirnya.
            Cakka menatapnya tak percaya.
            ”Kau... tidak bercanda, kan?”
            Oik menggeleng. Tangannya mengelus rambut Cakka.
            ”Tentu saja tidak. Tahukah kau, betapa aku sedih melihatmu dengan Shilla? Ketika Shilla memanggilmu dengan sebutan paling memabukkan di dunia, ’sayang’,” sahut Oik.
            ”Aku jadian dengan Shilla semata-mata agar aku tak terus memikirkanmu. Aku memang jahat, malaikat manisku. Aku menyakiti Shilla, menyakitimu, menyakiti Alvin pula,” keluh Cakka.
            ”Bukan masalah seberapa banyak orang yang kau sakiti. Yang perlu kau ingat adalah bagaimana kau bisa mengatasi rasa sakit yang timbul itu,” kata Oik.
            Cakka tersenyum dan mengangguk.
            ”Bolehkah...”
            Oik menatap Cakka penuh tanya.
            ”Bolehkah aku memelukmu?” tanya Cakka sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
            Oik tersenyum dan mengangguk. Keduanya berpelukan.
            ”Ciieeee...!” terdengar suara sorakan dari halaman rumah Oik.
            Cakka dan Oik serentak melepaskan pelukan mereka. Tampak Sivia, Acha, Ify, Ozy, Ray, dan Rio menghampiri mereka.
            ”Ckckck... ternyata ada yang jadian di persahabatan kita,” decak Ray.
            ”Sampai-sampai pengen ngadain countdown ulang tahun sendirian..” timpal Acha.
            ”Iya, nih. Curang.. udah lupa sama kita, ya?” tuduh Sivia.
            ”Nggak kok. Sorry, ya,” ucap Oik sambil menghapus air mata yang ternyata sedari tadi berlelahan di pipinya. Cakka membantunya menghapus air mata di wajahnya.
            ”So... sebagai gantinya, harus ada pesta meriah besok malam,” ujar Ify.
            ”Ah, Ify. Ultahnya Oik kan selalu meriah. Malam ini kita begadang yuk. Nonton film sambil makan cemilan gitu. Lama nggak ngumpul,” kata Ray.
            ”Aku setuju sama Ray,” sahut Cakka.
            ”Ya udah. Ayo masuk,” ajak Oik. Mereka semua masuk, meninggalkan hawa dingin diluar rumah. Mengganti semua itu dengan kehangatan persahabatan dan kasih sayang di dalam rumah yang biasanya gersang itu.

~ ~ ~

            Tidak pernah sekalipun aku menyangka akan berakhir begini. Yang tersisa hanyalah kasih sayang, persahabatan, dan pengertian. Yah.. meskipun kutahu ini bukanlah akhir. Perjalananku, kamu, dan sahabat-sahabat kita yang lain masih panjang.
            Kendati melukai Alvin dan Shilla, aku nggak pernah menyesalinya. Aku mencerna dengan baik maksud perkataanmu. Bahwa setiap orang punya porsi kebahagiaannya sendiri-sendiri.
            Mungkin sekarang saatnya kita mengecapnya.  Dan mungkin esok waktunya Shilla dan Alvin yang mendapatkannya. Semuanya seperti roda, dan takkan berhenti untuk selamanya. Selalu ada poros yang berputar.
            Sejenak aku berusaha menghangatkan diriku dalam dekapmu, Cakka. Dan tentu saja berhasil. Semua yang ada padamu, yang selama ini begitu dekat denganku, namun entah kenapa tak terjamah, begitu membuatku semakin sadar. Biarpun aku tak mendapat kebahagiaan mutlak dari Papa dan Mama yang sibuk, selalu ada orang lain yang akan berikan tumpuan. Entah itu hanya seonggok tulang bahu, atau segunung cinta dan kasih sayang. Dan semua itu ada padamu.
            Biarlah. Biarlah poros dunia itu berputar seberapa kencangnya, seberapa seringnya, seperapa tak tentunya. Yang terpenting adalah dimana aku dan kau tetap bersama. Tak peduli sebesar apa kerikil hidup ini menerjang.
            Terima kasih, sudah jadikan ulang tahunku kali ini menjadi lebih berwarna. Sungguhpun aku tak pernah mengira semua akan berubah dalam jangka waktu 2 jam.  Rupanya saat itu aku dan kamu sama-sama sedang dilanda kegalauan. Aku begitu mengagumi keputusanmu untuk melepas keraguan itu dan mengatakan semuanya.  Karena tanpa itu, aku tetap akan menangis di balik jendela kamarku.
Kali ini lebih cerah dari tahun-tahun sebelumnya. Karena kado yang kau bawa jauh lebih berharga. Yakni cinta yang jujur. Yang semestinya.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Caikers Family Official Blog. Design By: SkinCorner