Minggu, 29 Mei 2011

MUSIC IN DECEMBER (Cerpen by amaliyaNurul)

Music in December
.
.
Cakka, bertemu dengan Oik di bulan desember, menyakiti gadis itu di bulan desember dan kehilangan gadis itu di bulan desember pula. Kini, dibulan desembernya yang ke tujuh belas, gadis itu kembali. Bisakah ia kembali mendapatkan gadis itu di bulan desembernya kali ini?




.

.

Psst : Bold and Italic menandakan flash back.

Music in December

Jakarta, 06:00 AM.

Cakka membuka kedua bola matanya saat merasakan cahaya mentari pagi mulai menyeruak masuk ke dalam kamarnya, pria berumur tujuh belas tahun itu sedikit menggigil saat merasakan suhu yang lebih rendah dari semalam. Mungkin karena perubahan musim yang agak aneh sehingga kali ini suhunya bak musim dingin. Ahk, rupanya ini sudah awal bulan desember.

Cakka benci bulan desember, mengapa? Karena bulan inilah yang selalu mengingatkannya pada seseorang yang kini mengisi hatinya. Seseorang itu adalah Oik cahya Ramadlani, gadis berambut hitam panjang yang sangat periang-setidaknya begitulah gadis itu sebelum ia menyakitinya-.

Oik cahya Ramadlani, Cakka pertama bertemu dengan gadis itu di bulan desembernya yang ketujuh.

'Hey, kau penduduk sini?'

'Hn.'

'Apa kau bisa memberitahuku jalan menuju bandara? Tampaknya aku terpisah dengan keluargaku karena terlalu asik melihat pemandangan di sini. Hehehe.'

Saat itu yang ada di fikiran Cakka adalah seorang gadis berambut panjang dan sedikit bodoh. Ya, bodoh. Meski begitu, Cakka juga merasa kagum dengan gadis itu, setidaknya dia bisa dengan riangnya bertanya disaat dia tersesat, umumnya anak berumur tujuh tahun yang tersesat di tempat asing pasti akan menangis bukan?

Setelah memberitahu gadis itu jalan menuju bandara, Oikpun menghilang. Saat itu Cakka tidak terlalu memikirkan gadis itu, yang dia fikirkan gadis itu hanyalah salah seorang turis yang akan segera kembali ke negaranya.

Meski tidak dapat dipungkiri bahwa gadis itu beberapa kali masuk ke dalam mimpi masa kecilnya.

Cakka tidak akan menyangka, bahwa di bulan desembernya yang ke sebelas, ia akan kembali bertemu dengan gadis pink itu. Kali ini gadis itu menjelma menjadi tetangga barunya yang baru saja pindah dari Jepang.

'Aaa.. kau yang waktu itu 'kan? Kali ini kita bertemu lagi! Salam kenal, aku Oik cahya Ramadlani, tetangga barumu yang baru saja tiba dari Jepang."

Bunda Idha, ibunya, langsung jatuh cinta kepada gadis itu dan merekapun menjadi sangat akrab. Oikpun bersekolah di tempat yang sama dengannya hingga mau tidak mau hubungan mereka bisa dikatakan semakin dekat.

Awalnya Cakka tidak peduli dengannya, baginya gadis itu sangatlah berisik dan mengganggu. Akan tetapi, saat beberapa pria di sekolahnya mulai mendekati Oik, pemuda   itupun mulai merasa terganggu.

'Cak! Ayo berangkat bareng!'

'Cak, makan siang bareng yuk!'

'Cak…'

'Cakka…'

'Cak, kenapa kau dingin sekali sih?'

'Cak, lihat! Kak Alvin memberiku coklat!’
'
DEG.

Cakka masih ingat bagaimana perasaannya saat pertama kali mendengar kalimat Oik tersebut, di alam bawah sadarnya, Cakka tidak menginginkan Oik berada di dekat pria lain. Entah mengapa ia merasa sangat kesal jika Oik memerhatikan pria lain selain dirinya.

Cakka yang tidak mau repot dengan perasaannya itupun segera menembak Oik, membuat gadis itu terpengarah lalu merona hebat.

'Cak, ada apa?'

'Mau jadi pacarku?'

'Ap-apa? Ka-kau bercanda?'

'Jawabannya cukup ya atau tidak.'

'Te-tentu saja ya!'

Sejak itu, Oikpun selalu berada di sisinya. Saat itu Cakka sama sekali tidak mengerti dengan apa yang ia lakukan, yang ada di dalam fikirannya hanyalah bagaimana caranya agar Oik terikat padanya, tanpa ia tahu bahwa dirinya belum siap untuk terikat dengan siapapun.

Cakka Kawekas Nuraga, cowok tampan, kaya nan jenius. Siapapun pasti menginginkannya menjadi kekasihnya, tidak peduli bahwa sang idola sudah mempunyai kekasih. Cakka yang memang tidak ingin terikat dan ingin menikmati masa mudanyapun merespon gadis-gadis itu.

Ia berkencan dengan gadis yang berbeda setiap harinya tanpa sepengetahuan Oik, karena ia yakin, jika gadis itu tahu, pastilah gadis itu akan menangis dan membuatnya kerepotan.

Walau begitu, berita tentangnya pastilah menyebar dengan cepat. Benar saja, Oik menangkapnya basah sedang berkencan dengan salah satu siswi di sekolahnya beberapa bulan kemudian.

'Cak? Ja-jadi benar kalau kau suka berselingkuh di belakangku…'

'Hn.'

'Ke-kenapa? Ap-apa salahku? Padahal aku begitu menyukaimu.'

'Aku tidak mau terikat denganmu.'

'Ta-tapi kau se-'

'Kau pulang saja, aku masih ada acara setelah ini, dan aku tidak ingin kau mengganggu acaraku.'

Setelah mengatakan hal itu, Cakkapun segera beranjak pergi meninggalkan Oik. Begitu juga dengan gadis itu, tanpa berkata apapun lagi ia segera berlari menjauh.

Sehari, dua hari. Selama itu Cakka tidak pernah melihat wajah Oik di manapun, dan betapa kagetnya ia saat mendengar Bundanya menangis di ruang tengah dengan Ayahnya di sampingnya.

Saat itulah Cakka mengetahui fakta, bahwa keluarga Oik telah pindah entah kemana. Bunda Idha terus menangis sedih karena kepergian Oik yang tiba-tiba tanpa mengabarinya sedikitpun, keluarga itu hilang tanpa jejak seolah memang tak pernah ada sejak awal.

Sama seperti saat itu, saat di mana Cakka telah menunjukkan jalan kepada Oik, gadis itu tiba-tiba saja menghilang dari pandangannya seolah ditelan bumi. Oik Cahya Ramadlani, gadis itu kembali hilang dari hidupnya di bulan desembernya yang ke tiga belas.

Music in December

.

"Cakka? Kau sudah bangun?" suara teriakan Bunda Idha menyadarkan Cakka dari lamunan akan kenangan bulan desembernya. Dengan malas, pria itupun segera beranjak dari bawah selimutnya dan menuju kamar mandi.

"Hn, aku sudah bangun," ucapnya sebelum memasuki kamar mandi.

Jalan menuju sekolahnya masih sangat putih dengan salju yang baru saja turun tadi malam, udaranya pun sangat dingin menusuk tulang, sedingin hatinya.

Cakka kembali teringat pada Oik. Ia sadar, sejak kepergian Oik hatinya menjadi hampa, dan semakin hampa bila bulan desember tiba.

Cakka baru menyadari fakta bahwa Oik Cahya Ramadlani telah menduduki tempat yang sangat berarti di hatinya. Suara gadis itu sudah menjelma menjadi musik indah yang menghangatkan hatinya, terutama di bulan desember seperti ini.

Cakka merindukan senyuman gadis itu, senyuman yang dapat menenangkannya. Ia merindukan suara gadis itu, musik hangat yang selalu didengarnya disetiap harinya dulu. Ahk, Cakka Nuraga benar-benar merindukan Oik Cahya Ramadlani.

Music in December

.

Jam pelajaran pertama adalah sejarah, pelajaran yang kurang diminati oleh beberapa murid termasuk Cakka. Pria   itu lebih memilih memandang keluar jendela kelasnya dan mengabaikan teman-temannya yang mulai berceloteh.

Cakka sangat menikmati pemandangan putih-biru di hadapannya sehingga tidak sadar akan kedatangan guru mereka. Tidak, bukan tidak sadar. Tapi pura-pura tidak sadar, pria itu mengerti betul bahwa dirinya hanya akan merasa bosan bila memerhatikan guru tersebut.

" Selamat pagi anak-anak," sapa Pak Duta saat memasuki kelas.

" Selamat pagi Pak!" jawab seluruh murid serempak minus Cakka yang masih asik memandang keluar jendela.

"Hari ini kalian kedatangan murid baru, silahkan masuk."

Cakka mendengar jelas tentang murid baru tersebut, meski begitu ia tetap tidak mengalihkan perhatiannya. Baginya tidak ada yang menarik lagi setelah kepergian Oik dari hidupnya.

"Dia pernah tinggal di Jakarta empat tahun yang lalu, mungkin beberapa dari kalian masih ada yang mengenalinya. Baiklah, perkenalkan dirimu," perintah Pak Duta.

" Selamat pagi minna, watashi wa Oik Cahya Ramadlani Panggrahito desu. Yoroshiku ne."  #selamat pagi semua, saya Oik Cahya. Salam kenal… *jitak bareng-bareng yuk,, sok ke-Jepang-an ni author. #
DEG.

Jantung Cakka seakan berhenti berdetak melihat author honey-nya dijitak. #Ditampar, dilempar, mau dibantai para reader# (Cakka sayaaaang toloooong) hehehe..piiiiis. OK! Stop bercandanya!!

*back to the story*

 Jantung Cakka seakan berhenti berdetak saat mendengar suara yang sangat familiar baginya. Tidak, bukan familiar lagi. Tapi inilah musiknya, musik di bulan desember yang selalu menghangatkannya, suara Oik.

Cakka segera mengalihkan pandangannya ke arah murid baru tersebut, benar saja, ia dapat melihat dengan jelas sosok Oik yang kini tengah berdiri seraya tersenyum lembut ke arah teman-temannya.

Cakka tidak bisa untuk tidak terus menatap sosok Oik, gadis itu masih sama seperti dulu, periang dan murah senyum. Tapi Cakka masih belum mengetahui, bagaimana kini pancaran mata Oik saat memandangnya. Ya, dia belum tahu karena sampai saat ini Oik tidak mau melihat ke arahnya.

Music in December

.

"Kau tahu, katanya di kelas sebelah juga ada anak baru loh. Dia pria, wajahnya tampan bangettz, coooolll." Ujar salah satu siswi di kelas Cakka.
“unyuuuuu, udah gitu, murah senyum bikin dia makin kereeeen” ujar siswi lain.
"Aku tahu! Kalau tidak salah namanya Yohanes Baptista Obiet Panggrahito 'kan?"

Cakka tidak memedulikan sisiwi-siswi kelasnya yang tengah asik bergosip dengan suara nyaring itu, sejak tadi pria   itu terus mengedarkan pandangannya mencari sosok Oik, dan hasilnya nihil.

Padahal baru lima menit berlalu sejak bel istirahat berbunyi, kemana gadis itu? Dengan perasaan gusar, Cakkapun memutuskan untuk menenangkan hatinya di atap sekolah. Ia perlu menyusun kata untuk memperbaiki hubungannya dengan Oik.

Cakka sedikit heran saat melihat para siswi yang berkerumun di pintu kelas yang berjarak dua kelas dari kelasnya. Rupanya para siswi itu tengah mengerumuni seorang pria dengan wajah yang… yeah, lumayan imut.

Langkah Cakka berhenti saat melihat pemandangan di hadapannya. Bukan karena terpesona, Cakka bahkan yakin kalau ketenarannya tetap tak akan kalah dengan pria tersebut. Matanya terpaku pada sosok gadis yang tengah memeluk manja lengan pria itu, yang dibalas dengan elusan lembut di pipi oleh sang pria, membuat para siswi di sekitar mereka menjadi iri.

"Obietku, aku lapar!"

Tak bisa dipungkiri, bahwa Cakka sangat kesal mendengar suara manja Oik pada pria itu. Musik yang selalu menghangatkan hatinya kini tertuju pada orang lain.

"Iya iya. Sini aku temani kau ke kantin, Oikku," ucap sang pria, dan keduanyapun melangkah pergi menuju kantin sekolah.

Cakka yang melihat pemandangan itu menjadi panas, ia cemburu. Cemburu karena musiknya kini beralih pada pria lain, cemburu karena musik itu kini tidak lagi untuknya, dan sangat kesal karena pelantun musik tersebut bahkan tidak mau memandangnya.

Music in December

.

Bel masuk sudah berbunyi sejak setengah jam yang lalu, dan Cakka sama sekali tidak berniat untuk masuk ke kelasnya. Pria itu lebih memilih untuk tidur-tiduran di atap sekolah seraya menenangkan perasaannya yang sangat kacau.

Kembali ia teringat akan pemuda yang dekat dengan Oik itu. Tunggu! Kalau tidak salah nama pria itu Yohanes baptista Obiet Panggrahito 'kan? Cakka juga yakin, saat memperkenalkan diri tadi, Oik menyebut namanya Oik Panggrahito, padahal setahu Cakka marga Oik tidak begitu khusus.

Kalau marga mereka sama, kemungkinan mereka bersaudara bukan. Tapi Cakka juga masih ingat bahwa Oik merupakan anak tunggal di keluarganya dulu. Jadi, mungkinkah mereka saudara tiri?

Cakka sedikit tenang saat menyimpulkan bahwa mereka adalah saudara, tetapi ketenangan itu kembali hancur saat menyadari mereka tak ada hubungan darah. Jika tak ada hubungan darah, berarti mereka bisa saja… arrgghh! Cakka tidak ingin memikirkannya, sial! |

I’m so glad you made time to see me
How’s life, tell me how’s your family?

I haven’t seen them in a while

DEG.

Suara ini… perlahan, Cakka bangkit dari tidurnya, mencari dalam diam dimanakah kiranya sumber suara yang menghangatkannya itu. Benar saja, Cakka mendapati sosok Oik yang kini tengah berdiri membelakanginya seraya memandang pemandangan di bawah sana dengan berpegang pada pagar kawat.

You’ve been good, busier than ever
We small talk, work and the weather

Your guard is up and I know why


Cakka ingat lagu ini, lagu yang sangat sering dinyanyikan Oik jika bulan desember tiba. Perlahan dan tanpa menimbulkan suara, Cakkapun berjalan mendekat ke arah gadis itu.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Cakka tiba-tiba mengagetkan Oik. Gadis itupun segera berbalik dan sedikit terkejut mendapati Cakka di belakangnya.

"Aa.. halo Nu-Nuraga-san," sapa Oik seraya tersenyum canggung.

"Nuraga-san? Panggil saja aku seperti dulu, Oik," ucap Cakka seraya memandang tajam kearah Oik.

"A-aku tidak mengerti, Nura -"

"Cakka, panggil aku Cakka."

"Ng… Cakka …"

"Ca-Kka…"

"Hn, kenapa kau bersikap seolah tidak mengenalku?"

"Karena aku memang tidak mengenalmu."

"Jangan bercanda!"

"Mengenalmu adalah kenangan lama bagiku, dan kini aku hidup dengan membuang segala kenangan lama tersebut," ucap Oik tegas.

"Kenapa kau menghilang tiba-tiba? Kau sama sekali tidak memberitahuku apapun," tanya Cakka mengabaikan kalimat Oik yang terakhir.

"Perlu kah? Memang apa arti diriku untukmu, heh?" tantang Oik.

"Aku merindukanmu," ujar Cakka lembut seraya mengelus pipi Oik.

"Jangan mengatakan hal yang tidak mungkin!" ucap Oik ketus seraya menepis tangan Cakka.

Merasa di tolak, Cakka tiba-tiba saja menarik Oik ke dalam pelukannya dan memperdalam pelukannya terhadap gadis itu.
Oik sangat terkejut dengan tindakan Cakka tersebut, ia berusaha melawan, tapi apa daya tenaganya terlalu lemah untuk melawan Cakka.

"Apa-apaan kau?"

"Hanya menyambut kekasihku yang baru saja pulang."

"Kekasih? Sejak kapan aku ini kekasihmu?"

"Sejak lima tahun yang lalu, bahkan masih terus menjadi kekasihku meski kau meninggalkanku empat tahun yang lalu."

"Kita sudah tidak punya hubungan apa-apa, Cakka!"

"Kau salah, Oik. Kau ingat? Kau menghilang tiba-tiba tanpa mengucapkan kalimat apapun sebelumnya, termasuk kalimat putus."

"Kalau begitu, sekarang aku tegaskan. Kita putus!"

"Hn, percuma saja kau mengatakannya. Karena bagiku, kau milikku selamanya. Musikku yang telah lama hilang, dan kini kembali. Aku tidak akan melepasmu."

"Masih pantas kau mengatakan itu setelah kelakuannmu empat tahun yang lalu?" Tanya Oik sengit.

"Aku menyesal, percayalah. Saat itu aku sama sekali tidak menyadari bahwa kau begitu berarti untukku," ujar Cakka lembut.

"Cih, kau brengsek!" ujar Oik seraya beranjak pergi dari tempat itu.

"Jangan lupa kalau kau adalah milikku, Oik," ucap Cakka setengah teriak sebelum Oik benar-benar meninggalkannya.

Music in December

.

"Oik! Kapan kau kembali?" Tanya Bunda Idha haru saat Saat Oik mengunjunginya.

"Aa.. baru saja Bunda. Maaf, aku tidak mengatakan apapun sebelum kepergianku empat tahun lalu." Ya, Oik memang sudah menganggap Bunda Idha sebagai ibunya sendiri dan memanggilnya Bunda.

"Tidak apa-apa sayang, yang penting kau sudah kembali," kata Bunda Idha lembut.

Mereka berduapun duduk manis di ruang tengah seraya membicarakan beberapa hal, Bunda Idha terlihat sangat bahagia, begitu juga dengan Oik.

"Bunda sangat merindukanmu sayang, sayang sekali kau bukan anak kandung Bunda, jadi Bunda tidak punya hak untuk mencegah kepergianmu saat itu," ujar Bunda Idha sedikit sedih.

"Jangan berkata seperti itu, aku sudah menganggap Bunda sebagai ibu kandungku sendiri," ujar Oik seraya tersenyum.

"Hmm.. tapi rasanya Bunda belum puas. Ah, bagaimana kalau kau tunangan saja dengan Cakka? Lalu kalian menikah. Dengan begitu kita akan benar-benar mempunyai hubungan keluarga," ucap Bunda Idha riang.

"E-eh? Ta-tapi Bun-"
"Hn, aku setuju." Sebuah suara menginterupsi perkataan Oik.

"Cakka? Sejak kapan kau di situ?" Tanya Bunda Idha senang.

"Baru saja," jawab Cakka singkat seraya duduk di sofa yang berhadapan dengan Oik.

"Tuh, Cakka saja setuju. Bagaimana, Oik? Kau mau 'kan?" Tanya Bunda Idha dengan mata yang berbinar-binar.

Dan Oikpun hanya bisa sweatdrop, tidak tega menolak permintaan Bunda Idha yang terlihat sangat berharap ia mengatakan 'ya' itu. well, Cakkapun menyeringai.

"Oik," panggil Cakka saat Oik telah berada di luar rumah hendak pulang.
"…" tidak ada jawaban dari gadis itu, meski begitu gadis itu menghentikan langkahnya tanda ia mendengarkan.

"Aku mencintaimu," ujar Cakka mantap.
"…" tetap tak ada jawaban, gadis itu malah melenggang pergi menyisakan raut kekecewaan di wajah Cakka.

Music in December

.

Cakka lagi-lagi menggeram pelan saat dilihatnya Oik yang tengah bergelayut manja di lengan Obiet, dia tidak habis fikir, kenapa gadis itu bisa jadi begitu manja? Padahal saat bersamanya dulu gadis itu terlihat begitu dewasa.

"Oik," ujar Cakka seraya mendekati Oik dan Obiet.

"Temanmu?" Tanya Obiet saat melihat Cakka.

"Aaa.. ya, dia teman sekelasku. Ada apa?" Tanya Oik dengan nada kesal dan membuat Cakka lagi-lagi menggeram kesal.

"Ikut aku," kata Cakka yang langsung menarik tangan Oik ke atap sekolah. Oikpun hanya bisa pasrah mengikuti karena tenaganya yang tidak cukup untuk melawan, sedangkan Obiet hanya menatap keduanya bingung.

"Apa-apaan kau?" Tanya Oik marah.

"Kau bersikap seolah tidak mengenalku, apa kau bermaksud menyembunyikan hubungan kita dulu, eh?"

"Kalau ya, kenapa?"

"Oh, jadi kau tidak ingin Obietmu itu tahu tentang kita? Tentang apa yang terjadi antara kita dulu, begitu?"

"Aku tidak mengerti dengan sikapmu, kalau ya kenapa? Aku memang tidak ingin siapapun di sini tahu tentang masa laluku, tentang aku yang kau campakkan empat tahun yang lalu!" ujar Oik dengan sedikit meninggikan suaranya. Kini terlihat jelas genangan air yang siap meluncur di kedua pelupuk matanya.

"Kau masih mencintaiku," ucap Cakka kemudian.

"Tidak, kau salah. Aku membencimu," sanggah Oik.

"Matamu tidak bisa berbohong, Oik. Kau masih mencintaiku," ucap Cakka tegas.

"Aku tidak-"

"Sampai kapan kau mau membohongi perasaanmu?"

"Kyaa!"

Oik sangat terkejut saat pria di hadapannya itu mendorongnya hingga ke dinding dan menghimpitnya. Cakka menempelkan dahinya ke dahi Oik, nafas pria itu terdengar sangat berat dan matanya memerah.

"-Cakka?" Tanya Oik sedikit takut.

"Aku mencintaimu, Oik. Kumohon, jangan siksa aku lebih dari ini. Aku tidak bisa melihatmu dengan pria lain, aku tidak bisa jika kau tidak bersamaku," ujar Cakka sendu.

"Ka-kau sendiri yang mencampakkanku empat tahun yang lalu," ujar Oik berusaha untuk tidak terisak meski air mata sudah mengucur di pipinya.

"Ya, itu salahku. Kau tahu? Aku sangat menyesal setelahnya, aku kehilanganmu, kehilangan musikku, dan disini terasa sangat hampa karenanya," kata Cakka seraya meremas pelan bagian dadanya, sedang tangan satunya menghapus lembut air mata Oik.

Oik sedikit terkejut dengan penuturan Cakka, pria itu begitu rapuh di hadapannya. Segini kacaunya kah seorang Cakka Nuraga hanya karenanya? Selama ini, ia fikir Cakka bahkan tidak peduli dengan kepergiannya, dia bahkan sangat takut untuk bertemu lagi dengan Cakka saat pindah ke Jakarta kembali.

Oik sama sekali tidak menyangka, bahwa Cakka akan begitu sangat merindukannya, menunggunya, dan menyesali perbuatannya kepadanya dulu.

Melihat Cakka, Oik tidak dapat lagi membohongi perasaannya yang memang masih sangat mencintai pemuda di hadapannya itu. Cakka begitu menyesali perbuatannya, dan itu tampak jelas di kedua onyxnya.

"Ku mohon, beri aku kesempatan. Biarkan aku memiliki musikku lagi, biarkan aku menjagamu sekali lagi. Jadilah milikku sekali lagi, Oik." Lanjut Cakka lagi saat Oik tidak juga meresponnya.

Jujur, ia sangat takut jika Oik menolaknya, ia sangat mencintai gadis itu, tidak menutup kemungkinan dia akan melakukan segala cara bila gadis itu menolaknya.

"Ka-kau janji tidak akan menyakitiku lagi?" Tanya Oik kemudian, membuat kedua mata Cakka kini menatapnya tajam.

"Aku janji, kau boleh melakukan apa saja padaku bila aku melanggarnya," jawab Cakka tegas.

Oik pun tidak dapat membendung tangisnya lebih lama lagi, ia segera memeluk pria di hadapannya. Membuat secercah senyuman mengembang di wajah sang pria.

"Terima kasih, Oik." Ujar Cakka seraya tersenyum lembut.

Music in December

.
"Kenapa saat itu kau menghilang tanpa mengatakan apapun? Kau membuat semua penghuni rumah ini panik mencarimu," tanya Cakka tiba-tiba.

Saat ini, kedua sejoli itu tengah berada di kamar Cakka. Cakka yang tengah duduk di atas ranjangnya dengan sebuah buku kecil di tangannya, dan Oik yang duduk di atas sebuah kursi di hadapannya.

"Aaa… aku belum pernah bilang ya? Kedua orang tuaku adalah mata-mata negara Jepang, itu sebabnya keberadaan kami tidak boleh diketahui orang banyak," ucap Oik dengan senyum innocentnya.

SIINNGG.

Hening. Cakka memandang tajam ke arah Oik dengan tatapan tidak percaya. Mata-mata? Bagaimana mungkin?

"Kau kenapa, Cakka?" Tanya Oik heran saat Cakka memandangnya terus menerus tanpa mengatakan apapun.

"Kau bercanda," ujar Cakka kemudian yang terkesan untuk menangkan dirinya sendiri.

"Aku memang bercanda."

SIINNGG.

Kini sudut siku-siku sudah muncul di dahi Cakka, dia tidak habis fikir, bagaimana mungkin Oik mengatakannya dengan tampang polos seperti itu?

"Lalu?" Tanya Cakka lagi, berusaha tetap mempertahankan wajah stoicnya.

"Ayahku penulis lepas. Itu sebabnya kami sekeluarga sering berpindah-pindah demi mencari sumber inspirasi Ayah, terkadang begitu mendadak sampai kami tidak sempat lagi berpamitan pada para tetangga," ujar Oik menjelaskan.

"Hn, lalu apa hubunganmu dengan Obiet?" Tanya Cakka yang memang sudah sangat penasaran dengan hubungan mereka.

"Kami bersaudara, dua tahun yang lalu Bunda dan Ayah bercerai dan aku ikut Ayah. Setahun yang lalu, Ayah tunangan lagi dengan Mamanya Obiet," jawab Oik seraya menerawang.

Cakka sedikit menghela nafas berat, lalu dengan gerakan ringan ia menaruh buku yang sedari tadi ia pegang di meja yang berada di samping tempat tidurnya. Cakka lalu menarik Oik dan mendudukkan gadis itu disofa kamarnya.

"Oik, kita tunangan sekarang." Ucap Cakka tegas seraya mendongak memandang wajah Oik yang juga tengah menunduk memandangnya.

"E-eh? Me-tunangan? Se-sekarang?" Tanya Oik tidak percaya

"Hn."

"Ta-tapi,. Kita 'kan masih kelas tiga SMA," protes Oik.

"Hn, aku tidak bisa melihatmu terus bersama Obiet. Aku ingin mengikatmu sekarang juga agar kau tidak lagi melihat pria lain," ujar Cakka.

"Ta-tapi aku dan obiet 'kan hanya saudara. Masa kau cemburu dengan obiet sih?" ujar Oik seraya mengerucutkan bibirnya.

"Kau manja sekali sama Obiet, kau tidak pernah semanja itu padaku dulu," ucap Cakka ketus, terlihat jelas di wajahnya kalau dia cemburu.

"Wajar 'kan? Selama ini aku anak tunggal, dan begitu ada obiet, aku jadi bisa merasakan bagaimana rasanya mempunyai seorang kakak, meski usia kami hanya terpaut beberapa bulan. "

"Tetap saja. Pokoknya kita tunangan saja sekarang!"

"Eh? Setidaknnya tunggu sampai tamat SMA dong!" ujar Oik panik, pasalnya Cakka terlihat begitu yakin saat mengatakannya.

"Tidak," tolak Cakka tegas.

"Cak, kalau tunangan sekarang ,Ayah dan Bunda mungkin tidak akan mengizinkan," ujar Oik berusaha membujuk Cakka.

Cakka tampak memikirkan perkataan Oik tersebut, pria itu terdiam sebentar lalu kembali memandang Oik.

"Hn, baiklah. Setamat SMA," ujar Cakka mantap.

Oik sedikit bisa bernafas lega sekarang, untunglah Cakka mau mendengarkan perkataannya yang terakhir.

"Tapi kau harus janji untuk tidak terlalu dekat dengan Obiet lagi," perintah Cakka kemudian.
"I-iya,"

"Tidak ada acara makan bareng di kantin lagi."

"I-iya."

"Jangan memeluk lengannya lagi."

"I-iya."

"Jangan memanggilnya dengan nada manja lagi, panggil dia Kakak."

"I-iya."

"Hhh… kita tunangan saja sekarang."

"I-iy- eh? Cak! 'kan janjinya setamat SMA!" protes Oik.
.
Sekarang gadis itu sudah kembali menjadi miliknya, musiknya. Cakka tidak akan bisa membayangkan jika gadis itu kembali pergi dari hidupnya. Beberapa kali di bulan desembernya ia kehilangan musiknya tersebut, dan ia bertekad untuk kini mengikatnya dengan ikatan yang lebih kuat di bulan desember pula.

Music in December
.
.
.
~END~

2 komentar:

Anonim mengatakan...

KNPA HRUS OIK SIH,KYAK GAK DA YANG LAIN JA,SKALI"DONG JANGAN OIK TEUZ YANG LAIN AJA.................................:)

Anonim mengatakan...

KNPA HRUS OIK SIH,KYAK GAK DA YANG LAIN JA,SKALI"DONG JANGAN OIK TEUZ YANG LAIN AJA.................................:)

Poskan Komentar

 

Caikers Family Official Blog. Design By: SkinCorner