Minggu, 29 Mei 2011

DUA HATI SATU CINTA (Cerpen by Innezdhe Ayang Marhaeni)

“Mungkin kamu nggak tahu, apa yang kulakukan selama ini hanya untuk kamu! Untuk kamu seorang. Mungkin kamu nggak tahu, tangisku saat ini karena untuk kamu. Untukmu!” tangis Shilla.
            Ia pun menangis lagi.
            Cakka yang berdiri di depannya menatapnya. Ia sendiri bingung, apa yang harus dilakukannya. Ia belum pernah menghadapi gadis yang menangis.
            “Berbuatlah sesuatu!” kata Shilla.
            Dan kata-kata itu membuat Cakka semakin bingung.
            “Kau tak mau berbuat apapun?! Pengecut!” seru Shilla.
            Cakka tak marah. Ia sendiri sadar dirinya seorang pengecut, karena tak bisa melakukan apapun, bahkan untuk menghibur dan menghentikan tangisan gadis cantik di hadapannya.
            “Cak, jangan buat aku memohon…”
            Cakka makin tersudut. Tangannya gemetar.
            “Pengecut!” desis Shilla, lalu berlari pergi.
            Cakka merasakan nyeri di ulu hatinya. Ia jatuh terduduk di lantai yang dingin. Ia merasakan napasnya mulai sesak. Putaran di kepalanya, dan bulir hening di pipinya membuatnya tampak semakin kacau. Cakka menarik napas, berusaha tenang.
            Dan kejadian demi kejadian itu muncul dalam bayang ingatannya.
Dua bulan yang lalu…
            Cakka berjalan diantara keramaian department store.
            Ia sedang menghitung barang belanjaan yang dibawanya dan kemudian menyadari ada yang kurang dari barang-barang itu.
            “Ya ampun, sabun mandi!” Cakka menepuk dahinya, dan langsung berbalik.
            Akibat ulah cerobohnya itu, ia menabrak seorang gadis yang berjalan santai di belakangnya.
            “Aduh!” pekik gadis itu.
            “Eh, maaf maaf..” Cakka segera mengambil barang belanjaannya yang tercecer, memasukkannya ke dalam tas plastik.
            “Hati-hati dong,” kata gadis itu.
            “Maaf, ya. Aku emang teledor,” kata Cakka.
            “Hhh…” gadis itu mendengus, lalu segera bangkit.
            “Kamu nggak apa-apa?” Tanya Cakka sambil menatap gadis berambut panjang dan mengenakan dress midi itu.
            “Nggak, sih. Cuma agak sakit aja. Kamu keras banget nabraknya,” keluh gadis itu sambil memeriksa bagian tubuhnya.
            “Maaf..” ucap Cakka.
            Gadis itu ikut lega melihat tubuhnya tidak terluka, lalu menatap Cakka.
            “Emang kenapa sih, kok buru-buru?” Tanya gadis itu.
            “Sebenernya aku kesini karena pesenan Mamaku. Kami baru pindah ke kota ini. Jadi Mama masih repot beres-beres rumah. Makanya aku yang pergi belanja. Tapi, aku lupa beli sabun. Emm.. numpang nanya, tempat sabun dimana, ya?” jelas Cakka.
            Gadis yang berdiri di depannya itu menatapnya aneh.
            “Oh.. ayo, aku tunjukin. Kebetulan aku lagi jalan-jalan aja. Nama kamu siapa?” Tanya gadis itu sambil mengulurkan tangannya.
            “Cakka. Kamu?” Cakka menyambut uluran tangan itu.
            “Shilla. Ayo,” gadis bernama Shilla itu menarik tangan Cakka.
            Tak lama, keduanya sudah berputar mengelilingi mall.
            Sejak saat itu, Cakka jadi dekat dengan gadis bernama Shilla yang ditemuinya di mall itu. Shilla mengaku heran karena sikap Cakka yang masih polos dan sopan untuk ukuran remaja sekeren dirinya.
            Hingga Cakka sekolah, meskipun berbeda sekolah dengan Shilla, ia dan Shilla masih sering smsan, telepon-teleponan, dan keluar berdua.
            “Jadi, status lo sama Cakka itu apa sih, Shil?” Tanya Zahra, sahabat Shilla, suatu kali.
            “Iya. Tiap hari smsan. Telepon sampe’ dua jam. Keluar bareng hampir 4 kali seminggu. Tapi kok nggak ada ikrar pacaran, sih?” timpal Angel.
            Shilla diam saja.
            “Kok diem sih, Shil? Jawab dong.. kita kan, pengen tahu..” rajuk Zahra.
            “Gue juga nggak tahu sih, hubungan kita itu apa, Zah, Ngel. Tapi gue nyaman di deket dia. Dan gue tahu dia pun juga gitu. Mungkin, dengan adanya pacaran bikin dia nggak nyaman, makanya terus dia enjoy aja kayak gini sama gue, gue nggak tahu pasti. Yang jelas, tentang status gue sekarang, secara nggak langsung, gue udah jadi pacarnya Cakka,” tegas Shilla.
            Zahra dan Angel saling pandang.
            “Yakin lo, Shil?” Tanya Angel.
            “Yakinlah, Angel. Apa lagi yang bikin gue nggak yakin sama Cakka?”
            “Dia belum bilang kan, kalau suka sama lo?” tukas Zahra.
            Shilla terdiam.
            “Sorry deh, Shil.. bukan maksudnya ngancurin perasaan lo. Cuma kita nggak mau lo nantinya juga bingung sama status kalian. Mungkin sekarang nggak, tapi yakin, ntar pasti lo bakalan terganggu sama hal itu,” jelas Zahra.
^ ^ ^
            Cakka sedang mengunjungi rumah Rio, ketika pintu gerbang rumah Rio terbuka, dan sebuah motor masuk.
            “Kakak gue, Cak,” kata Rio tanpa ditanya.
            Cakka hanya menatap motor kakak Rio.
            “Woi, nih,” tahu-tahu Rio sudah menyodorkan segelas orange juice pada Cakka.
Cakka menerimanya dan meminumnya sedikit.
Motor itu berhenti, dan turunlah pengemudi serta gadis yang duduk di boncengan motor. Mereka membuka helm dan menghampiri Rio dan Cakka yang duduk-duduk di teras.
“Hei,” sapa seorang lelaki.
“Hei, Mas. Hai, Oik,” jawab Rio.
Cakka hanya mengangguk sambil tersenyum sopan.
“Mas, ini temenku. Cakka. Dia baru pindah dari Jogja sebulan yang lalu,” kata Rio.
Cakka dan Kakak Rio bersalaman.
“Cakka,” kata Cakka.
“Elang,” jawab kakak Rio.
“Ini…” Cakka menatap gadis yang berdiri di samping Elang.
“Oh, sahabat kakak gue, Cak. Oik,” jawab Rio.
Cakka mengulurkan tangannya, dan gadis itu menyambutnya.
“Cakka.”
“Oik,” gadis itu tersenyum.
“Yuk, Ik,” ajak Elang.
Elang dan Oik pun masuk.
“Itu tadi.. sahabat kakak lo, Yo?” Tanya Cakka.
“Oik? Iya. Sahabat kakak gue sejak dulu. Padahal dia masih kelas 3 SMP lho, Cak. Tapi lengket banget sama abang gue,” jelas Rio.
“Jadi masih kelas 3 SMP? Makanya, kok kayak bukan sepantaran sama abang lo. Emang abang lo kelas berapa, Yo?” Tanya Cakka lagi.
“Kelas 3 SMA,” jawab Rio.
Cakka manggut-manggut.
“Sebenernya, gue juga nggak ngerti sih, Cak. Kok bisa abang gue segitu deketnya sama cewek. Masalahnya, nih cewek masih SMP. Tapi nggak pacaran. Sahabatan deket,” cerita Rio.
“Abang lo kenal Oik dimana, sih?” Tanya Cakka.
“Kalau nggak salah, dulu abang gue pernah cerita, dia ketemu sama Oik itu di rumah sakit,” jawab Rio sambil mengingat-ingat.
“Rumah sakit?” ulang Cakka.
“Iya. Rumah sakit. Waktu itu abang gue jenguk temennya yang kena kanker. Terus ketemu sama Oik deh disana. Nyokapnya Oik itu dokter. Terus ya.. sampe’ sekarang mereka jadi bestfriend deh,” cerita Rio.
“Oh, gitu. Eh.. kalau nggak salah, nyokapnya sahabat gue Shilla juga dokter. Eh, lo nggak naksir gitu, sama dia? Kan dia deket banget sama abang lo, kan enak tuh, abang lo bisa Bantu PDKT,” kata Cakka.
“Haha.. nggaklah. Lo tahu sendiri cewek gue Cuman Ify, dari jaman baheula sampe’ jaman modern. Kenapa, sih, Cak?”
“Ah, nggak..”
“Hmm.. lo naksir Oik, ya?” Tanya Rio sambil tersenyum jahil.
“Nggak lah, Yo. Cuma suka lihatnya aja. Mukanya lucu,” kata Cakka.
“Cieee.. tanda-tanda deh, nih! Lucu apa manis..” goda Rio.
“Siapa, Yo?” sebuah suara tiba-tiba muncul.
Elang dan Oik sudah berdiri di belakang Rio.
“Eh…”
“Oik, Mas. Tuh, kata si Cakka,” tunjuk Rio.
Elang tersenyum, wajah Oik memerah. Cakka langsung salah tingkah.
“Beneran suka, Cak? Nggak apa-apa kok. Aku kasih restu aja,” jawab Elang, ia nyengir lebar.
“Gimana, Ik?” Elang berpaling pada Oik.
“Apa sih, Mas…” sanggah Oik.
Elang dan Rio saling pandang jahil.
Dan mulai sejak itulah, Cakka dan Oik mulai mengenal dan mulai dekat satu sama lain. Awalnya hanya sekedar sms basa-basi, hingga menjadi rutinitas keduanya. Baik Elang maupun Rio tidak menunjukkan adanya tanda ketidaksetujuan. Mereka iya-iya saja. Sangat setuju malah.
Dua minggu smsan, Cakka mulai berani menelepon, lalu menawarkan jasa antar-jemput pada Oik. Jemput les, antar beli buku, antar les piano, dan lain-lainnya.
            Oik gadis yang pemalu dan benar-benar memiliki kepribadian yang manis. Jika berdua dengan Oik, Cakka bisa diam kehabisan kata. Tapi itu membuatnya nyaman.
^ ^ ^
            Shilla kelimpungan. Hampir sebulan Cakka tidak menghubunginya. Ia jadi agak uring-uringan akhir-akhir ini.
            Sebenarnya ia ingin mengirim sms ataupun menelepon Cakka, tapi.. gengsinya yang besar sebagai perempuan terusik. Ia malu dan gengsi untuk sekedar mengirim sms lebih dulu. Karena biasanya selalu Cakka yang lebih dulu mengirimnya sms.
            Shilla nggak mau terlihat seperti cewek keganjenan yang suka mengejar-ngejar cowok. Apalagi cowok itu Cakka, cowok yang satu tahun lebih muda darinya. Ugh, bisa malu berat Shilla. Mau ditaruh dimana mukanya!
            Tapi dibiarkan begini juga, Shilla kesal sekali. Ia selalu menunggu-nunggu sms Cakka, dan selalu terkejut tiap ponselnya berdering. Dan ia selalu kecewa karena itu bukanlah yang diharapkannya.
            Hingga suatu sore, Shilla memberanikan diri untuk miscall nomor ponsel Cakka. Siapa tahu, Cakka sedang sakit, hingga tak sempat memberi kabar padanya.
            Dan…
            Tuut.. tuut.. tuut.. tuut..
            Shilla langsung mematikan panggilan itu. Aktif! Nomor ponsel Cakka masih aktif! Sorak Shilla dalam hati. Tapi, disisi lain, ia juga heran. Apa pasalnya hingga Cakka tak mengirimkan pesan ataupun menelepon seperti biasanya.
            Di lain tempat, Cakka mencari-cari ponselnya di dalam tas. Tadi ia merasakan vibra dan mendengar bunyi panggilan dari ponselnya yang ada di dalam tasnya.
            Tak lama, ia menemukan ponselnya.
            One Missed Call : Shilla
     Shilla? Ngapain dia nelepon aku? Batin Cakka heran. Ada yang penting mungkin. Apa aku telepon balik?
            “Kenapa, Cak?” Tanya Oik.
            “Eh, nggak apa-apa kok, Ik. Ada missed call,” ujar Cakka.
            “Kenapa nggak telepon balik? Mungkin penting?” Tanya Oik lagi.
            “Iya juga sih. Bentar ya, Ik,” pamit Cakka sambil berjalan menjauh. Oik mengangguk, lalu kembali meneruskan tugasnya.
            Cakka menelepon Shilla.
            Shilla langsung terlonjak kegirangan begitu mendapati Cakka menelepon balik. Ah, nggak sia-sia juga miscall tadi. Ntar bilang aja kepencet.. batin Shilla.
            “Halo, ada apa, Shil?” Tanya Cakka begitu Shilla mengangkat telepon.
            “Ehm, maaf, Cak. Ganggu ya?” ujar Shilla dengan nada bersalah.
            “Eh.. nggak juga sih. Aku nggak lagi sibuk banget. Ada apa?” jawab Cakka.
            “Maaf tadi kepencet. Aku nggak sengaja..”
            “Oh.. nggak apa-apa kok. Nggak ada yang penting, kan?” kata Cakka.
            “Hmm.. nggak sih. Kan udah kubilang tadi Cuma kepencet,” ucap Shilla.
            “Ya udah kalau gitu ya, Shil.” Dan telepon diputus.
            Shilla terbelalak menatap ponselnya. Ia tak menyangka, Cakka akan sebegitu lugasnya bertanya, bahkan menutup teleponnya! Arrrgghhh…
            Cakka sendiri langsung kembali ke Oik.
            “Gimana, Ik?” Tanya Cakka.
            “Oh.. udah, Cak? Aku lumayan bisa, sih. Tapi.. kayaknya salah,” jawab Oik.
            Cakka pun melihat buku gambar Oik. Ia tersenyum.
            “Ja, jangan ngejek…” ucap Oik malu.
            “Eh, siapa yang ngejek. Nggak kok, Oik manis.. aku nggak ngejek,” jawab Cakka.
            “Terus, kenapa tadi senyum?” Tanya Oik.
            “Cuma mau bilang, gambar kamu manis, kayak kamu,” puji Cakka.
            Pipi Oik bersemu merah.
            “Ayo kita ke tahap pewarnaan,” Cakka mengeluarkan cat-cat air dari dalam tasnya.
^ ^ ^
            Suatu hari, Cakka dan Oik baru saja keluar dari toko buku ketika sepasang mata menatap mereka dengan pandangan terkejut. Keduanya sedang jalan, menyambut satu minggu jadian mereka.
            “Cakka!” geram Shilla.
            Yang dipanggil menoleh, kemudian menatap Shilla setengah terkejut.
            “Shilla!” jawabnya campur senang.
            Shilla tak menjawab, ia menarik lengan Cakka, untuk melihat siapa gadis yang bersama Cakka, dan ia langsung terperanjat.
            “Hei, ada apa?” Tanya Cakka, ketika melihat air mata Shilla mengalir.
            “Oik??!!” ucap Shilla tak percaya.
            “Hei, kalian saling kenal?” kata Cakka. Ia melihat raut terkejut yang sama di wajah Oik.
            “Saling kenal? Apa maksud kamu? Oik!” Shilla berteriak kalap, mengundang perhatian orang sekitar.
            Shilla langsung menarik Oik, menyingkir dari keramaian, ke basement parkir. Cakka mengikuti dengan penuh tanda Tanya.
            “Oik! Apa maksud semua ini? Cakka?” seru Shilla.
            Oik menatap Cakka dan Shilla bergantian.
            “Aku.. aku nggak..”
            “Kenapa kamu bisa sama dia? Jawab!!” seru Shilla sambil menghentakkan lengan Oik.
            Cakka langsung menepis tangan Shilla dari tubuh Oik.
            “Kamu nggak berhak nyakitin dia. Dia pacar aku,” kata Cakka.
            “Aku berhak, Cak! Aku kakaknya Oik! Kalian pacaran?! Aku kakak kandungnya Oik dan aku berhak untuk nampar dia atas ini!” seru Shilla sambil menunjuk Oik.
            Cakka langsung mundur beberapa langkah, menatap Oik dan Shilla bergantian.
            “Kalian..”
            “Ik, kasih tahu dia. Apa hubungan kita!” tegas Shilla pada Oik.
            “Iya, Cak.. Shilla kakakku..” ucap Oik.
            “Tapi, Mbak.. aku nggak ada maksud untuk…”
            “Apa?? Untuk ngerebut pacar aku?” tantang Shilla.
            Air mata Oik mulai turun. “Aku bahkan nggak tahu dia pacar Mbak! Aku nggak tahu kalau pacar Mbak adalah dia! Aku nggak pernah tahu, Mbak…”
            “Apa-apaan ini!!” teriak Shilla. Ia berbalik dan menangkupkan wajahnya di balik kedua tangannya.
            Oik menahan tangisnya, mundur perlahan, lalu pergi.
            Cakka terdiam, tak tahu harus berbuat apa. Ia bahkan tak mengerti posisinya disini apa. Ia merasa tak pernah mengatakan cinta pada Shilla, jadi ia bukan pacar Shilla. Dan baru satu minggu ia jadian dengan Oik. Tapi hal ini benar-benar tak diduganya.
            Entah kenapa Shilla yang selama ini dianggap sahabatnya sejak tinggal di kota ini menganggap – lebih tepat mengklaim – dirinya sebagai pacar. Ia malah merasa akan bahagia jika memiliki pacar dan sahabat kakak beradik, jika mengetahui ini sebelumnya. Tapi.. anggapan Shilla telanjur keliru, dan itu menghancurkan semuanya.
            Kini ingatan Cakka terbuka begitu saja. Dan ia masih berlutut. Ia berusaha menjabarkan apa yang terjadi. Ini bukan kesalahpahaman Shilla saja, tapi karena ketegasannya sebagai lelaki, yang membuat kakak beradik itu salah paham.
            Harusnya Cakka menegaskan batas hubungannya dengan Shilla, agar gadis itu tak salah paham. Harusnya Cakka pun tidak begitu saja melupakan Shilla. Harusnya Cakka menceritakan tentang perasaannya pada Shilla. Harusnya Cakka pun menceritakan tentang Shilla pada Oik. Harusnya Cakka bersikap tegas!
            Dan Cakka mulai tergugu sendiri. Sahabat dan kekasihnya seolah lepas. Karena ketidaktegasannya. Ia terlalu lugu, terlalu naif.
            Cakka menyesali kebodohannya.
            Sebuah tangan menyentuh bahunya lembut.
            “Cakka…”
            Cakka mengangkat wajahnya yang dihiasi air mata.
            Oik berdiri di belakangnya, kemudian berlutut dan merangkul bahunya lembut.
            “Oik…”
            “Tadinya aku berfikir untuk membiarkan kamu dan Mbak Shilla bicara. Tapi saat aku lihat Mbak Shilla nyetop taksi sambil nangis, aku tahu nggak ada pembicaraan disini. Nggak ada penyelesaian. Tadinya juga aku nggak akan berani deketin kamu lagi. Tapi aku ingat sesuatu…” ucapan Oik mengambang.
            Cakka menyentuh tangan Oik. “Apa?”
            “Aku pacar kamu,” jawab Oik. “Aku pacar kamu, dan aku harus ada saat kamu sedih ataupun seneng. Aku bener-bener.. malu untuk ketemu kamu, tapi aku ingat hal itu. Kamu pacar aku dan masih pacar aku. Seenggaknya.. sampai kamu sama Mbak Shilla,” rangkulan Oik mengendur, hingga lepas sama sekali.
            “Nggak akan. Aku masih pacar kamu,” tukas Cakka.
            Oik menatapnya sejenak. Gadis itu ikut duduk.
            “Aku nggak tahu kalau kamu pacarnya Mbak Shilla,” ujar Oik.
            “Bukan gitu, Ik!” dan Cakka pun menceritakan awal pertemuannya dengan Shilla, hingga persahabatannya dengan gadis itu. Oik mendengarkan sambil memainkan jemarinya.
            “Jadi gitu…” hanya itu komentar Oik.
            “Aku mohon, Ik.. aku sayang sama kamu. Aku mohon kamu tetap sama aku, Ik. Dan Bantu aku, Ik.. untuk buat Shilla mengerti. Apa arti persahabatan buat aku…” ucap Cakka.
            Oik menatapnya haru. Gadis itu mengangguk.
            Cakka memegang tangan Oik, dan menciumnya. “Makasih, Ik..”

0 komentar:

Posting Komentar

 

Caikers Family Official Blog. Design By: SkinCorner