Minggu, 29 Mei 2011

DUA HATI SATU CINTA (Cerpen by Innezdhe Ayang Marhaeni)

“Mungkin kamu nggak tahu, apa yang kulakukan selama ini hanya untuk kamu! Untuk kamu seorang. Mungkin kamu nggak tahu, tangisku saat ini karena untuk kamu. Untukmu!” tangis Shilla.
            Ia pun menangis lagi.
            Cakka yang berdiri di depannya menatapnya. Ia sendiri bingung, apa yang harus dilakukannya. Ia belum pernah menghadapi gadis yang menangis.
            “Berbuatlah sesuatu!” kata Shilla.
            Dan kata-kata itu membuat Cakka semakin bingung.
            “Kau tak mau berbuat apapun?! Pengecut!” seru Shilla.
            Cakka tak marah. Ia sendiri sadar dirinya seorang pengecut, karena tak bisa melakukan apapun, bahkan untuk menghibur dan menghentikan tangisan gadis cantik di hadapannya.
            “Cak, jangan buat aku memohon…”
            Cakka makin tersudut. Tangannya gemetar.
            “Pengecut!” desis Shilla, lalu berlari pergi.
            Cakka merasakan nyeri di ulu hatinya. Ia jatuh terduduk di lantai yang dingin. Ia merasakan napasnya mulai sesak. Putaran di kepalanya, dan bulir hening di pipinya membuatnya tampak semakin kacau. Cakka menarik napas, berusaha tenang.
            Dan kejadian demi kejadian itu muncul dalam bayang ingatannya.
Dua bulan yang lalu…
            Cakka berjalan diantara keramaian department store.
            Ia sedang menghitung barang belanjaan yang dibawanya dan kemudian menyadari ada yang kurang dari barang-barang itu.
            “Ya ampun, sabun mandi!” Cakka menepuk dahinya, dan langsung berbalik.
            Akibat ulah cerobohnya itu, ia menabrak seorang gadis yang berjalan santai di belakangnya.
            “Aduh!” pekik gadis itu.
            “Eh, maaf maaf..” Cakka segera mengambil barang belanjaannya yang tercecer, memasukkannya ke dalam tas plastik.
            “Hati-hati dong,” kata gadis itu.
            “Maaf, ya. Aku emang teledor,” kata Cakka.
            “Hhh…” gadis itu mendengus, lalu segera bangkit.
            “Kamu nggak apa-apa?” Tanya Cakka sambil menatap gadis berambut panjang dan mengenakan dress midi itu.
            “Nggak, sih. Cuma agak sakit aja. Kamu keras banget nabraknya,” keluh gadis itu sambil memeriksa bagian tubuhnya.
            “Maaf..” ucap Cakka.
            Gadis itu ikut lega melihat tubuhnya tidak terluka, lalu menatap Cakka.
            “Emang kenapa sih, kok buru-buru?” Tanya gadis itu.
            “Sebenernya aku kesini karena pesenan Mamaku. Kami baru pindah ke kota ini. Jadi Mama masih repot beres-beres rumah. Makanya aku yang pergi belanja. Tapi, aku lupa beli sabun. Emm.. numpang nanya, tempat sabun dimana, ya?” jelas Cakka.
            Gadis yang berdiri di depannya itu menatapnya aneh.
            “Oh.. ayo, aku tunjukin. Kebetulan aku lagi jalan-jalan aja. Nama kamu siapa?” Tanya gadis itu sambil mengulurkan tangannya.
            “Cakka. Kamu?” Cakka menyambut uluran tangan itu.
            “Shilla. Ayo,” gadis bernama Shilla itu menarik tangan Cakka.
            Tak lama, keduanya sudah berputar mengelilingi mall.
            Sejak saat itu, Cakka jadi dekat dengan gadis bernama Shilla yang ditemuinya di mall itu. Shilla mengaku heran karena sikap Cakka yang masih polos dan sopan untuk ukuran remaja sekeren dirinya.
            Hingga Cakka sekolah, meskipun berbeda sekolah dengan Shilla, ia dan Shilla masih sering smsan, telepon-teleponan, dan keluar berdua.
            “Jadi, status lo sama Cakka itu apa sih, Shil?” Tanya Zahra, sahabat Shilla, suatu kali.
            “Iya. Tiap hari smsan. Telepon sampe’ dua jam. Keluar bareng hampir 4 kali seminggu. Tapi kok nggak ada ikrar pacaran, sih?” timpal Angel.
            Shilla diam saja.
            “Kok diem sih, Shil? Jawab dong.. kita kan, pengen tahu..” rajuk Zahra.
            “Gue juga nggak tahu sih, hubungan kita itu apa, Zah, Ngel. Tapi gue nyaman di deket dia. Dan gue tahu dia pun juga gitu. Mungkin, dengan adanya pacaran bikin dia nggak nyaman, makanya terus dia enjoy aja kayak gini sama gue, gue nggak tahu pasti. Yang jelas, tentang status gue sekarang, secara nggak langsung, gue udah jadi pacarnya Cakka,” tegas Shilla.
            Zahra dan Angel saling pandang.
            “Yakin lo, Shil?” Tanya Angel.
            “Yakinlah, Angel. Apa lagi yang bikin gue nggak yakin sama Cakka?”
            “Dia belum bilang kan, kalau suka sama lo?” tukas Zahra.
            Shilla terdiam.
            “Sorry deh, Shil.. bukan maksudnya ngancurin perasaan lo. Cuma kita nggak mau lo nantinya juga bingung sama status kalian. Mungkin sekarang nggak, tapi yakin, ntar pasti lo bakalan terganggu sama hal itu,” jelas Zahra.
^ ^ ^
            Cakka sedang mengunjungi rumah Rio, ketika pintu gerbang rumah Rio terbuka, dan sebuah motor masuk.
            “Kakak gue, Cak,” kata Rio tanpa ditanya.
            Cakka hanya menatap motor kakak Rio.
            “Woi, nih,” tahu-tahu Rio sudah menyodorkan segelas orange juice pada Cakka.
Cakka menerimanya dan meminumnya sedikit.
Motor itu berhenti, dan turunlah pengemudi serta gadis yang duduk di boncengan motor. Mereka membuka helm dan menghampiri Rio dan Cakka yang duduk-duduk di teras.
“Hei,” sapa seorang lelaki.
“Hei, Mas. Hai, Oik,” jawab Rio.
Cakka hanya mengangguk sambil tersenyum sopan.
“Mas, ini temenku. Cakka. Dia baru pindah dari Jogja sebulan yang lalu,” kata Rio.
Cakka dan Kakak Rio bersalaman.
“Cakka,” kata Cakka.
“Elang,” jawab kakak Rio.
“Ini…” Cakka menatap gadis yang berdiri di samping Elang.
“Oh, sahabat kakak gue, Cak. Oik,” jawab Rio.
Cakka mengulurkan tangannya, dan gadis itu menyambutnya.
“Cakka.”
“Oik,” gadis itu tersenyum.
“Yuk, Ik,” ajak Elang.
Elang dan Oik pun masuk.
“Itu tadi.. sahabat kakak lo, Yo?” Tanya Cakka.
“Oik? Iya. Sahabat kakak gue sejak dulu. Padahal dia masih kelas 3 SMP lho, Cak. Tapi lengket banget sama abang gue,” jelas Rio.
“Jadi masih kelas 3 SMP? Makanya, kok kayak bukan sepantaran sama abang lo. Emang abang lo kelas berapa, Yo?” Tanya Cakka lagi.
“Kelas 3 SMA,” jawab Rio.
Cakka manggut-manggut.
“Sebenernya, gue juga nggak ngerti sih, Cak. Kok bisa abang gue segitu deketnya sama cewek. Masalahnya, nih cewek masih SMP. Tapi nggak pacaran. Sahabatan deket,” cerita Rio.
“Abang lo kenal Oik dimana, sih?” Tanya Cakka.
“Kalau nggak salah, dulu abang gue pernah cerita, dia ketemu sama Oik itu di rumah sakit,” jawab Rio sambil mengingat-ingat.
“Rumah sakit?” ulang Cakka.
“Iya. Rumah sakit. Waktu itu abang gue jenguk temennya yang kena kanker. Terus ketemu sama Oik deh disana. Nyokapnya Oik itu dokter. Terus ya.. sampe’ sekarang mereka jadi bestfriend deh,” cerita Rio.
“Oh, gitu. Eh.. kalau nggak salah, nyokapnya sahabat gue Shilla juga dokter. Eh, lo nggak naksir gitu, sama dia? Kan dia deket banget sama abang lo, kan enak tuh, abang lo bisa Bantu PDKT,” kata Cakka.
“Haha.. nggaklah. Lo tahu sendiri cewek gue Cuman Ify, dari jaman baheula sampe’ jaman modern. Kenapa, sih, Cak?”
“Ah, nggak..”
“Hmm.. lo naksir Oik, ya?” Tanya Rio sambil tersenyum jahil.
“Nggak lah, Yo. Cuma suka lihatnya aja. Mukanya lucu,” kata Cakka.
“Cieee.. tanda-tanda deh, nih! Lucu apa manis..” goda Rio.
“Siapa, Yo?” sebuah suara tiba-tiba muncul.
Elang dan Oik sudah berdiri di belakang Rio.
“Eh…”
“Oik, Mas. Tuh, kata si Cakka,” tunjuk Rio.
Elang tersenyum, wajah Oik memerah. Cakka langsung salah tingkah.
“Beneran suka, Cak? Nggak apa-apa kok. Aku kasih restu aja,” jawab Elang, ia nyengir lebar.
“Gimana, Ik?” Elang berpaling pada Oik.
“Apa sih, Mas…” sanggah Oik.
Elang dan Rio saling pandang jahil.
Dan mulai sejak itulah, Cakka dan Oik mulai mengenal dan mulai dekat satu sama lain. Awalnya hanya sekedar sms basa-basi, hingga menjadi rutinitas keduanya. Baik Elang maupun Rio tidak menunjukkan adanya tanda ketidaksetujuan. Mereka iya-iya saja. Sangat setuju malah.
Dua minggu smsan, Cakka mulai berani menelepon, lalu menawarkan jasa antar-jemput pada Oik. Jemput les, antar beli buku, antar les piano, dan lain-lainnya.
            Oik gadis yang pemalu dan benar-benar memiliki kepribadian yang manis. Jika berdua dengan Oik, Cakka bisa diam kehabisan kata. Tapi itu membuatnya nyaman.
^ ^ ^
            Shilla kelimpungan. Hampir sebulan Cakka tidak menghubunginya. Ia jadi agak uring-uringan akhir-akhir ini.
            Sebenarnya ia ingin mengirim sms ataupun menelepon Cakka, tapi.. gengsinya yang besar sebagai perempuan terusik. Ia malu dan gengsi untuk sekedar mengirim sms lebih dulu. Karena biasanya selalu Cakka yang lebih dulu mengirimnya sms.
            Shilla nggak mau terlihat seperti cewek keganjenan yang suka mengejar-ngejar cowok. Apalagi cowok itu Cakka, cowok yang satu tahun lebih muda darinya. Ugh, bisa malu berat Shilla. Mau ditaruh dimana mukanya!
            Tapi dibiarkan begini juga, Shilla kesal sekali. Ia selalu menunggu-nunggu sms Cakka, dan selalu terkejut tiap ponselnya berdering. Dan ia selalu kecewa karena itu bukanlah yang diharapkannya.
            Hingga suatu sore, Shilla memberanikan diri untuk miscall nomor ponsel Cakka. Siapa tahu, Cakka sedang sakit, hingga tak sempat memberi kabar padanya.
            Dan…
            Tuut.. tuut.. tuut.. tuut..
            Shilla langsung mematikan panggilan itu. Aktif! Nomor ponsel Cakka masih aktif! Sorak Shilla dalam hati. Tapi, disisi lain, ia juga heran. Apa pasalnya hingga Cakka tak mengirimkan pesan ataupun menelepon seperti biasanya.
            Di lain tempat, Cakka mencari-cari ponselnya di dalam tas. Tadi ia merasakan vibra dan mendengar bunyi panggilan dari ponselnya yang ada di dalam tasnya.
            Tak lama, ia menemukan ponselnya.
            One Missed Call : Shilla
     Shilla? Ngapain dia nelepon aku? Batin Cakka heran. Ada yang penting mungkin. Apa aku telepon balik?
            “Kenapa, Cak?” Tanya Oik.
            “Eh, nggak apa-apa kok, Ik. Ada missed call,” ujar Cakka.
            “Kenapa nggak telepon balik? Mungkin penting?” Tanya Oik lagi.
            “Iya juga sih. Bentar ya, Ik,” pamit Cakka sambil berjalan menjauh. Oik mengangguk, lalu kembali meneruskan tugasnya.
            Cakka menelepon Shilla.
            Shilla langsung terlonjak kegirangan begitu mendapati Cakka menelepon balik. Ah, nggak sia-sia juga miscall tadi. Ntar bilang aja kepencet.. batin Shilla.
            “Halo, ada apa, Shil?” Tanya Cakka begitu Shilla mengangkat telepon.
            “Ehm, maaf, Cak. Ganggu ya?” ujar Shilla dengan nada bersalah.
            “Eh.. nggak juga sih. Aku nggak lagi sibuk banget. Ada apa?” jawab Cakka.
            “Maaf tadi kepencet. Aku nggak sengaja..”
            “Oh.. nggak apa-apa kok. Nggak ada yang penting, kan?” kata Cakka.
            “Hmm.. nggak sih. Kan udah kubilang tadi Cuma kepencet,” ucap Shilla.
            “Ya udah kalau gitu ya, Shil.” Dan telepon diputus.
            Shilla terbelalak menatap ponselnya. Ia tak menyangka, Cakka akan sebegitu lugasnya bertanya, bahkan menutup teleponnya! Arrrgghhh…
            Cakka sendiri langsung kembali ke Oik.
            “Gimana, Ik?” Tanya Cakka.
            “Oh.. udah, Cak? Aku lumayan bisa, sih. Tapi.. kayaknya salah,” jawab Oik.
            Cakka pun melihat buku gambar Oik. Ia tersenyum.
            “Ja, jangan ngejek…” ucap Oik malu.
            “Eh, siapa yang ngejek. Nggak kok, Oik manis.. aku nggak ngejek,” jawab Cakka.
            “Terus, kenapa tadi senyum?” Tanya Oik.
            “Cuma mau bilang, gambar kamu manis, kayak kamu,” puji Cakka.
            Pipi Oik bersemu merah.
            “Ayo kita ke tahap pewarnaan,” Cakka mengeluarkan cat-cat air dari dalam tasnya.
^ ^ ^
            Suatu hari, Cakka dan Oik baru saja keluar dari toko buku ketika sepasang mata menatap mereka dengan pandangan terkejut. Keduanya sedang jalan, menyambut satu minggu jadian mereka.
            “Cakka!” geram Shilla.
            Yang dipanggil menoleh, kemudian menatap Shilla setengah terkejut.
            “Shilla!” jawabnya campur senang.
            Shilla tak menjawab, ia menarik lengan Cakka, untuk melihat siapa gadis yang bersama Cakka, dan ia langsung terperanjat.
            “Hei, ada apa?” Tanya Cakka, ketika melihat air mata Shilla mengalir.
            “Oik??!!” ucap Shilla tak percaya.
            “Hei, kalian saling kenal?” kata Cakka. Ia melihat raut terkejut yang sama di wajah Oik.
            “Saling kenal? Apa maksud kamu? Oik!” Shilla berteriak kalap, mengundang perhatian orang sekitar.
            Shilla langsung menarik Oik, menyingkir dari keramaian, ke basement parkir. Cakka mengikuti dengan penuh tanda Tanya.
            “Oik! Apa maksud semua ini? Cakka?” seru Shilla.
            Oik menatap Cakka dan Shilla bergantian.
            “Aku.. aku nggak..”
            “Kenapa kamu bisa sama dia? Jawab!!” seru Shilla sambil menghentakkan lengan Oik.
            Cakka langsung menepis tangan Shilla dari tubuh Oik.
            “Kamu nggak berhak nyakitin dia. Dia pacar aku,” kata Cakka.
            “Aku berhak, Cak! Aku kakaknya Oik! Kalian pacaran?! Aku kakak kandungnya Oik dan aku berhak untuk nampar dia atas ini!” seru Shilla sambil menunjuk Oik.
            Cakka langsung mundur beberapa langkah, menatap Oik dan Shilla bergantian.
            “Kalian..”
            “Ik, kasih tahu dia. Apa hubungan kita!” tegas Shilla pada Oik.
            “Iya, Cak.. Shilla kakakku..” ucap Oik.
            “Tapi, Mbak.. aku nggak ada maksud untuk…”
            “Apa?? Untuk ngerebut pacar aku?” tantang Shilla.
            Air mata Oik mulai turun. “Aku bahkan nggak tahu dia pacar Mbak! Aku nggak tahu kalau pacar Mbak adalah dia! Aku nggak pernah tahu, Mbak…”
            “Apa-apaan ini!!” teriak Shilla. Ia berbalik dan menangkupkan wajahnya di balik kedua tangannya.
            Oik menahan tangisnya, mundur perlahan, lalu pergi.
            Cakka terdiam, tak tahu harus berbuat apa. Ia bahkan tak mengerti posisinya disini apa. Ia merasa tak pernah mengatakan cinta pada Shilla, jadi ia bukan pacar Shilla. Dan baru satu minggu ia jadian dengan Oik. Tapi hal ini benar-benar tak diduganya.
            Entah kenapa Shilla yang selama ini dianggap sahabatnya sejak tinggal di kota ini menganggap – lebih tepat mengklaim – dirinya sebagai pacar. Ia malah merasa akan bahagia jika memiliki pacar dan sahabat kakak beradik, jika mengetahui ini sebelumnya. Tapi.. anggapan Shilla telanjur keliru, dan itu menghancurkan semuanya.
            Kini ingatan Cakka terbuka begitu saja. Dan ia masih berlutut. Ia berusaha menjabarkan apa yang terjadi. Ini bukan kesalahpahaman Shilla saja, tapi karena ketegasannya sebagai lelaki, yang membuat kakak beradik itu salah paham.
            Harusnya Cakka menegaskan batas hubungannya dengan Shilla, agar gadis itu tak salah paham. Harusnya Cakka pun tidak begitu saja melupakan Shilla. Harusnya Cakka menceritakan tentang perasaannya pada Shilla. Harusnya Cakka pun menceritakan tentang Shilla pada Oik. Harusnya Cakka bersikap tegas!
            Dan Cakka mulai tergugu sendiri. Sahabat dan kekasihnya seolah lepas. Karena ketidaktegasannya. Ia terlalu lugu, terlalu naif.
            Cakka menyesali kebodohannya.
            Sebuah tangan menyentuh bahunya lembut.
            “Cakka…”
            Cakka mengangkat wajahnya yang dihiasi air mata.
            Oik berdiri di belakangnya, kemudian berlutut dan merangkul bahunya lembut.
            “Oik…”
            “Tadinya aku berfikir untuk membiarkan kamu dan Mbak Shilla bicara. Tapi saat aku lihat Mbak Shilla nyetop taksi sambil nangis, aku tahu nggak ada pembicaraan disini. Nggak ada penyelesaian. Tadinya juga aku nggak akan berani deketin kamu lagi. Tapi aku ingat sesuatu…” ucapan Oik mengambang.
            Cakka menyentuh tangan Oik. “Apa?”
            “Aku pacar kamu,” jawab Oik. “Aku pacar kamu, dan aku harus ada saat kamu sedih ataupun seneng. Aku bener-bener.. malu untuk ketemu kamu, tapi aku ingat hal itu. Kamu pacar aku dan masih pacar aku. Seenggaknya.. sampai kamu sama Mbak Shilla,” rangkulan Oik mengendur, hingga lepas sama sekali.
            “Nggak akan. Aku masih pacar kamu,” tukas Cakka.
            Oik menatapnya sejenak. Gadis itu ikut duduk.
            “Aku nggak tahu kalau kamu pacarnya Mbak Shilla,” ujar Oik.
            “Bukan gitu, Ik!” dan Cakka pun menceritakan awal pertemuannya dengan Shilla, hingga persahabatannya dengan gadis itu. Oik mendengarkan sambil memainkan jemarinya.
            “Jadi gitu…” hanya itu komentar Oik.
            “Aku mohon, Ik.. aku sayang sama kamu. Aku mohon kamu tetap sama aku, Ik. Dan Bantu aku, Ik.. untuk buat Shilla mengerti. Apa arti persahabatan buat aku…” ucap Cakka.
            Oik menatapnya haru. Gadis itu mengangguk.
            Cakka memegang tangan Oik, dan menciumnya. “Makasih, Ik..”

MUSIC IN DECEMBER (Cerpen by amaliyaNurul)

Music in December
.
.
Cakka, bertemu dengan Oik di bulan desember, menyakiti gadis itu di bulan desember dan kehilangan gadis itu di bulan desember pula. Kini, dibulan desembernya yang ke tujuh belas, gadis itu kembali. Bisakah ia kembali mendapatkan gadis itu di bulan desembernya kali ini?




.

.

Psst : Bold and Italic menandakan flash back.

Music in December

Jakarta, 06:00 AM.

Cakka membuka kedua bola matanya saat merasakan cahaya mentari pagi mulai menyeruak masuk ke dalam kamarnya, pria berumur tujuh belas tahun itu sedikit menggigil saat merasakan suhu yang lebih rendah dari semalam. Mungkin karena perubahan musim yang agak aneh sehingga kali ini suhunya bak musim dingin. Ahk, rupanya ini sudah awal bulan desember.

Cakka benci bulan desember, mengapa? Karena bulan inilah yang selalu mengingatkannya pada seseorang yang kini mengisi hatinya. Seseorang itu adalah Oik cahya Ramadlani, gadis berambut hitam panjang yang sangat periang-setidaknya begitulah gadis itu sebelum ia menyakitinya-.

Oik cahya Ramadlani, Cakka pertama bertemu dengan gadis itu di bulan desembernya yang ketujuh.

'Hey, kau penduduk sini?'

'Hn.'

'Apa kau bisa memberitahuku jalan menuju bandara? Tampaknya aku terpisah dengan keluargaku karena terlalu asik melihat pemandangan di sini. Hehehe.'

Saat itu yang ada di fikiran Cakka adalah seorang gadis berambut panjang dan sedikit bodoh. Ya, bodoh. Meski begitu, Cakka juga merasa kagum dengan gadis itu, setidaknya dia bisa dengan riangnya bertanya disaat dia tersesat, umumnya anak berumur tujuh tahun yang tersesat di tempat asing pasti akan menangis bukan?

Setelah memberitahu gadis itu jalan menuju bandara, Oikpun menghilang. Saat itu Cakka tidak terlalu memikirkan gadis itu, yang dia fikirkan gadis itu hanyalah salah seorang turis yang akan segera kembali ke negaranya.

Meski tidak dapat dipungkiri bahwa gadis itu beberapa kali masuk ke dalam mimpi masa kecilnya.

Cakka tidak akan menyangka, bahwa di bulan desembernya yang ke sebelas, ia akan kembali bertemu dengan gadis pink itu. Kali ini gadis itu menjelma menjadi tetangga barunya yang baru saja pindah dari Jepang.

'Aaa.. kau yang waktu itu 'kan? Kali ini kita bertemu lagi! Salam kenal, aku Oik cahya Ramadlani, tetangga barumu yang baru saja tiba dari Jepang."

Bunda Idha, ibunya, langsung jatuh cinta kepada gadis itu dan merekapun menjadi sangat akrab. Oikpun bersekolah di tempat yang sama dengannya hingga mau tidak mau hubungan mereka bisa dikatakan semakin dekat.

Awalnya Cakka tidak peduli dengannya, baginya gadis itu sangatlah berisik dan mengganggu. Akan tetapi, saat beberapa pria di sekolahnya mulai mendekati Oik, pemuda   itupun mulai merasa terganggu.

'Cak! Ayo berangkat bareng!'

'Cak, makan siang bareng yuk!'

'Cak…'

'Cakka…'

'Cak, kenapa kau dingin sekali sih?'

'Cak, lihat! Kak Alvin memberiku coklat!’
'
DEG.

Cakka masih ingat bagaimana perasaannya saat pertama kali mendengar kalimat Oik tersebut, di alam bawah sadarnya, Cakka tidak menginginkan Oik berada di dekat pria lain. Entah mengapa ia merasa sangat kesal jika Oik memerhatikan pria lain selain dirinya.

Cakka yang tidak mau repot dengan perasaannya itupun segera menembak Oik, membuat gadis itu terpengarah lalu merona hebat.

'Cak, ada apa?'

'Mau jadi pacarku?'

'Ap-apa? Ka-kau bercanda?'

'Jawabannya cukup ya atau tidak.'

'Te-tentu saja ya!'

Sejak itu, Oikpun selalu berada di sisinya. Saat itu Cakka sama sekali tidak mengerti dengan apa yang ia lakukan, yang ada di dalam fikirannya hanyalah bagaimana caranya agar Oik terikat padanya, tanpa ia tahu bahwa dirinya belum siap untuk terikat dengan siapapun.

Cakka Kawekas Nuraga, cowok tampan, kaya nan jenius. Siapapun pasti menginginkannya menjadi kekasihnya, tidak peduli bahwa sang idola sudah mempunyai kekasih. Cakka yang memang tidak ingin terikat dan ingin menikmati masa mudanyapun merespon gadis-gadis itu.

Ia berkencan dengan gadis yang berbeda setiap harinya tanpa sepengetahuan Oik, karena ia yakin, jika gadis itu tahu, pastilah gadis itu akan menangis dan membuatnya kerepotan.

Walau begitu, berita tentangnya pastilah menyebar dengan cepat. Benar saja, Oik menangkapnya basah sedang berkencan dengan salah satu siswi di sekolahnya beberapa bulan kemudian.

'Cak? Ja-jadi benar kalau kau suka berselingkuh di belakangku…'

'Hn.'

'Ke-kenapa? Ap-apa salahku? Padahal aku begitu menyukaimu.'

'Aku tidak mau terikat denganmu.'

'Ta-tapi kau se-'

'Kau pulang saja, aku masih ada acara setelah ini, dan aku tidak ingin kau mengganggu acaraku.'

Setelah mengatakan hal itu, Cakkapun segera beranjak pergi meninggalkan Oik. Begitu juga dengan gadis itu, tanpa berkata apapun lagi ia segera berlari menjauh.

Sehari, dua hari. Selama itu Cakka tidak pernah melihat wajah Oik di manapun, dan betapa kagetnya ia saat mendengar Bundanya menangis di ruang tengah dengan Ayahnya di sampingnya.

Saat itulah Cakka mengetahui fakta, bahwa keluarga Oik telah pindah entah kemana. Bunda Idha terus menangis sedih karena kepergian Oik yang tiba-tiba tanpa mengabarinya sedikitpun, keluarga itu hilang tanpa jejak seolah memang tak pernah ada sejak awal.

Sama seperti saat itu, saat di mana Cakka telah menunjukkan jalan kepada Oik, gadis itu tiba-tiba saja menghilang dari pandangannya seolah ditelan bumi. Oik Cahya Ramadlani, gadis itu kembali hilang dari hidupnya di bulan desembernya yang ke tiga belas.

Music in December

.

"Cakka? Kau sudah bangun?" suara teriakan Bunda Idha menyadarkan Cakka dari lamunan akan kenangan bulan desembernya. Dengan malas, pria itupun segera beranjak dari bawah selimutnya dan menuju kamar mandi.

"Hn, aku sudah bangun," ucapnya sebelum memasuki kamar mandi.

Jalan menuju sekolahnya masih sangat putih dengan salju yang baru saja turun tadi malam, udaranya pun sangat dingin menusuk tulang, sedingin hatinya.

Cakka kembali teringat pada Oik. Ia sadar, sejak kepergian Oik hatinya menjadi hampa, dan semakin hampa bila bulan desember tiba.

Cakka baru menyadari fakta bahwa Oik Cahya Ramadlani telah menduduki tempat yang sangat berarti di hatinya. Suara gadis itu sudah menjelma menjadi musik indah yang menghangatkan hatinya, terutama di bulan desember seperti ini.

Cakka merindukan senyuman gadis itu, senyuman yang dapat menenangkannya. Ia merindukan suara gadis itu, musik hangat yang selalu didengarnya disetiap harinya dulu. Ahk, Cakka Nuraga benar-benar merindukan Oik Cahya Ramadlani.

Music in December

.

Jam pelajaran pertama adalah sejarah, pelajaran yang kurang diminati oleh beberapa murid termasuk Cakka. Pria   itu lebih memilih memandang keluar jendela kelasnya dan mengabaikan teman-temannya yang mulai berceloteh.

Cakka sangat menikmati pemandangan putih-biru di hadapannya sehingga tidak sadar akan kedatangan guru mereka. Tidak, bukan tidak sadar. Tapi pura-pura tidak sadar, pria itu mengerti betul bahwa dirinya hanya akan merasa bosan bila memerhatikan guru tersebut.

" Selamat pagi anak-anak," sapa Pak Duta saat memasuki kelas.

" Selamat pagi Pak!" jawab seluruh murid serempak minus Cakka yang masih asik memandang keluar jendela.

"Hari ini kalian kedatangan murid baru, silahkan masuk."

Cakka mendengar jelas tentang murid baru tersebut, meski begitu ia tetap tidak mengalihkan perhatiannya. Baginya tidak ada yang menarik lagi setelah kepergian Oik dari hidupnya.

"Dia pernah tinggal di Jakarta empat tahun yang lalu, mungkin beberapa dari kalian masih ada yang mengenalinya. Baiklah, perkenalkan dirimu," perintah Pak Duta.

" Selamat pagi minna, watashi wa Oik Cahya Ramadlani Panggrahito desu. Yoroshiku ne."  #selamat pagi semua, saya Oik Cahya. Salam kenal… *jitak bareng-bareng yuk,, sok ke-Jepang-an ni author. #
DEG.

Jantung Cakka seakan berhenti berdetak melihat author honey-nya dijitak. #Ditampar, dilempar, mau dibantai para reader# (Cakka sayaaaang toloooong) hehehe..piiiiis. OK! Stop bercandanya!!

*back to the story*

 Jantung Cakka seakan berhenti berdetak saat mendengar suara yang sangat familiar baginya. Tidak, bukan familiar lagi. Tapi inilah musiknya, musik di bulan desember yang selalu menghangatkannya, suara Oik.

Cakka segera mengalihkan pandangannya ke arah murid baru tersebut, benar saja, ia dapat melihat dengan jelas sosok Oik yang kini tengah berdiri seraya tersenyum lembut ke arah teman-temannya.

Cakka tidak bisa untuk tidak terus menatap sosok Oik, gadis itu masih sama seperti dulu, periang dan murah senyum. Tapi Cakka masih belum mengetahui, bagaimana kini pancaran mata Oik saat memandangnya. Ya, dia belum tahu karena sampai saat ini Oik tidak mau melihat ke arahnya.

Music in December

.

"Kau tahu, katanya di kelas sebelah juga ada anak baru loh. Dia pria, wajahnya tampan bangettz, coooolll." Ujar salah satu siswi di kelas Cakka.
“unyuuuuu, udah gitu, murah senyum bikin dia makin kereeeen” ujar siswi lain.
"Aku tahu! Kalau tidak salah namanya Yohanes Baptista Obiet Panggrahito 'kan?"

Cakka tidak memedulikan sisiwi-siswi kelasnya yang tengah asik bergosip dengan suara nyaring itu, sejak tadi pria   itu terus mengedarkan pandangannya mencari sosok Oik, dan hasilnya nihil.

Padahal baru lima menit berlalu sejak bel istirahat berbunyi, kemana gadis itu? Dengan perasaan gusar, Cakkapun memutuskan untuk menenangkan hatinya di atap sekolah. Ia perlu menyusun kata untuk memperbaiki hubungannya dengan Oik.

Cakka sedikit heran saat melihat para siswi yang berkerumun di pintu kelas yang berjarak dua kelas dari kelasnya. Rupanya para siswi itu tengah mengerumuni seorang pria dengan wajah yang… yeah, lumayan imut.

Langkah Cakka berhenti saat melihat pemandangan di hadapannya. Bukan karena terpesona, Cakka bahkan yakin kalau ketenarannya tetap tak akan kalah dengan pria tersebut. Matanya terpaku pada sosok gadis yang tengah memeluk manja lengan pria itu, yang dibalas dengan elusan lembut di pipi oleh sang pria, membuat para siswi di sekitar mereka menjadi iri.

"Obietku, aku lapar!"

Tak bisa dipungkiri, bahwa Cakka sangat kesal mendengar suara manja Oik pada pria itu. Musik yang selalu menghangatkan hatinya kini tertuju pada orang lain.

"Iya iya. Sini aku temani kau ke kantin, Oikku," ucap sang pria, dan keduanyapun melangkah pergi menuju kantin sekolah.

Cakka yang melihat pemandangan itu menjadi panas, ia cemburu. Cemburu karena musiknya kini beralih pada pria lain, cemburu karena musik itu kini tidak lagi untuknya, dan sangat kesal karena pelantun musik tersebut bahkan tidak mau memandangnya.

Music in December

.

Bel masuk sudah berbunyi sejak setengah jam yang lalu, dan Cakka sama sekali tidak berniat untuk masuk ke kelasnya. Pria itu lebih memilih untuk tidur-tiduran di atap sekolah seraya menenangkan perasaannya yang sangat kacau.

Kembali ia teringat akan pemuda yang dekat dengan Oik itu. Tunggu! Kalau tidak salah nama pria itu Yohanes baptista Obiet Panggrahito 'kan? Cakka juga yakin, saat memperkenalkan diri tadi, Oik menyebut namanya Oik Panggrahito, padahal setahu Cakka marga Oik tidak begitu khusus.

Kalau marga mereka sama, kemungkinan mereka bersaudara bukan. Tapi Cakka juga masih ingat bahwa Oik merupakan anak tunggal di keluarganya dulu. Jadi, mungkinkah mereka saudara tiri?

Cakka sedikit tenang saat menyimpulkan bahwa mereka adalah saudara, tetapi ketenangan itu kembali hancur saat menyadari mereka tak ada hubungan darah. Jika tak ada hubungan darah, berarti mereka bisa saja… arrgghh! Cakka tidak ingin memikirkannya, sial! |

I’m so glad you made time to see me
How’s life, tell me how’s your family?

I haven’t seen them in a while

DEG.

Suara ini… perlahan, Cakka bangkit dari tidurnya, mencari dalam diam dimanakah kiranya sumber suara yang menghangatkannya itu. Benar saja, Cakka mendapati sosok Oik yang kini tengah berdiri membelakanginya seraya memandang pemandangan di bawah sana dengan berpegang pada pagar kawat.

You’ve been good, busier than ever
We small talk, work and the weather

Your guard is up and I know why


Cakka ingat lagu ini, lagu yang sangat sering dinyanyikan Oik jika bulan desember tiba. Perlahan dan tanpa menimbulkan suara, Cakkapun berjalan mendekat ke arah gadis itu.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Cakka tiba-tiba mengagetkan Oik. Gadis itupun segera berbalik dan sedikit terkejut mendapati Cakka di belakangnya.

"Aa.. halo Nu-Nuraga-san," sapa Oik seraya tersenyum canggung.

"Nuraga-san? Panggil saja aku seperti dulu, Oik," ucap Cakka seraya memandang tajam kearah Oik.

"A-aku tidak mengerti, Nura -"

"Cakka, panggil aku Cakka."

"Ng… Cakka …"

"Ca-Kka…"

"Hn, kenapa kau bersikap seolah tidak mengenalku?"

"Karena aku memang tidak mengenalmu."

"Jangan bercanda!"

"Mengenalmu adalah kenangan lama bagiku, dan kini aku hidup dengan membuang segala kenangan lama tersebut," ucap Oik tegas.

"Kenapa kau menghilang tiba-tiba? Kau sama sekali tidak memberitahuku apapun," tanya Cakka mengabaikan kalimat Oik yang terakhir.

"Perlu kah? Memang apa arti diriku untukmu, heh?" tantang Oik.

"Aku merindukanmu," ujar Cakka lembut seraya mengelus pipi Oik.

"Jangan mengatakan hal yang tidak mungkin!" ucap Oik ketus seraya menepis tangan Cakka.

Merasa di tolak, Cakka tiba-tiba saja menarik Oik ke dalam pelukannya dan memperdalam pelukannya terhadap gadis itu.
Oik sangat terkejut dengan tindakan Cakka tersebut, ia berusaha melawan, tapi apa daya tenaganya terlalu lemah untuk melawan Cakka.

"Apa-apaan kau?"

"Hanya menyambut kekasihku yang baru saja pulang."

"Kekasih? Sejak kapan aku ini kekasihmu?"

"Sejak lima tahun yang lalu, bahkan masih terus menjadi kekasihku meski kau meninggalkanku empat tahun yang lalu."

"Kita sudah tidak punya hubungan apa-apa, Cakka!"

"Kau salah, Oik. Kau ingat? Kau menghilang tiba-tiba tanpa mengucapkan kalimat apapun sebelumnya, termasuk kalimat putus."

"Kalau begitu, sekarang aku tegaskan. Kita putus!"

"Hn, percuma saja kau mengatakannya. Karena bagiku, kau milikku selamanya. Musikku yang telah lama hilang, dan kini kembali. Aku tidak akan melepasmu."

"Masih pantas kau mengatakan itu setelah kelakuannmu empat tahun yang lalu?" Tanya Oik sengit.

"Aku menyesal, percayalah. Saat itu aku sama sekali tidak menyadari bahwa kau begitu berarti untukku," ujar Cakka lembut.

"Cih, kau brengsek!" ujar Oik seraya beranjak pergi dari tempat itu.

"Jangan lupa kalau kau adalah milikku, Oik," ucap Cakka setengah teriak sebelum Oik benar-benar meninggalkannya.

Music in December

.

"Oik! Kapan kau kembali?" Tanya Bunda Idha haru saat Saat Oik mengunjunginya.

"Aa.. baru saja Bunda. Maaf, aku tidak mengatakan apapun sebelum kepergianku empat tahun lalu." Ya, Oik memang sudah menganggap Bunda Idha sebagai ibunya sendiri dan memanggilnya Bunda.

"Tidak apa-apa sayang, yang penting kau sudah kembali," kata Bunda Idha lembut.

Mereka berduapun duduk manis di ruang tengah seraya membicarakan beberapa hal, Bunda Idha terlihat sangat bahagia, begitu juga dengan Oik.

"Bunda sangat merindukanmu sayang, sayang sekali kau bukan anak kandung Bunda, jadi Bunda tidak punya hak untuk mencegah kepergianmu saat itu," ujar Bunda Idha sedikit sedih.

"Jangan berkata seperti itu, aku sudah menganggap Bunda sebagai ibu kandungku sendiri," ujar Oik seraya tersenyum.

"Hmm.. tapi rasanya Bunda belum puas. Ah, bagaimana kalau kau tunangan saja dengan Cakka? Lalu kalian menikah. Dengan begitu kita akan benar-benar mempunyai hubungan keluarga," ucap Bunda Idha riang.

"E-eh? Ta-tapi Bun-"
"Hn, aku setuju." Sebuah suara menginterupsi perkataan Oik.

"Cakka? Sejak kapan kau di situ?" Tanya Bunda Idha senang.

"Baru saja," jawab Cakka singkat seraya duduk di sofa yang berhadapan dengan Oik.

"Tuh, Cakka saja setuju. Bagaimana, Oik? Kau mau 'kan?" Tanya Bunda Idha dengan mata yang berbinar-binar.

Dan Oikpun hanya bisa sweatdrop, tidak tega menolak permintaan Bunda Idha yang terlihat sangat berharap ia mengatakan 'ya' itu. well, Cakkapun menyeringai.

"Oik," panggil Cakka saat Oik telah berada di luar rumah hendak pulang.
"…" tidak ada jawaban dari gadis itu, meski begitu gadis itu menghentikan langkahnya tanda ia mendengarkan.

"Aku mencintaimu," ujar Cakka mantap.
"…" tetap tak ada jawaban, gadis itu malah melenggang pergi menyisakan raut kekecewaan di wajah Cakka.

Music in December

.

Cakka lagi-lagi menggeram pelan saat dilihatnya Oik yang tengah bergelayut manja di lengan Obiet, dia tidak habis fikir, kenapa gadis itu bisa jadi begitu manja? Padahal saat bersamanya dulu gadis itu terlihat begitu dewasa.

"Oik," ujar Cakka seraya mendekati Oik dan Obiet.

"Temanmu?" Tanya Obiet saat melihat Cakka.

"Aaa.. ya, dia teman sekelasku. Ada apa?" Tanya Oik dengan nada kesal dan membuat Cakka lagi-lagi menggeram kesal.

"Ikut aku," kata Cakka yang langsung menarik tangan Oik ke atap sekolah. Oikpun hanya bisa pasrah mengikuti karena tenaganya yang tidak cukup untuk melawan, sedangkan Obiet hanya menatap keduanya bingung.

"Apa-apaan kau?" Tanya Oik marah.

"Kau bersikap seolah tidak mengenalku, apa kau bermaksud menyembunyikan hubungan kita dulu, eh?"

"Kalau ya, kenapa?"

"Oh, jadi kau tidak ingin Obietmu itu tahu tentang kita? Tentang apa yang terjadi antara kita dulu, begitu?"

"Aku tidak mengerti dengan sikapmu, kalau ya kenapa? Aku memang tidak ingin siapapun di sini tahu tentang masa laluku, tentang aku yang kau campakkan empat tahun yang lalu!" ujar Oik dengan sedikit meninggikan suaranya. Kini terlihat jelas genangan air yang siap meluncur di kedua pelupuk matanya.

"Kau masih mencintaiku," ucap Cakka kemudian.

"Tidak, kau salah. Aku membencimu," sanggah Oik.

"Matamu tidak bisa berbohong, Oik. Kau masih mencintaiku," ucap Cakka tegas.

"Aku tidak-"

"Sampai kapan kau mau membohongi perasaanmu?"

"Kyaa!"

Oik sangat terkejut saat pria di hadapannya itu mendorongnya hingga ke dinding dan menghimpitnya. Cakka menempelkan dahinya ke dahi Oik, nafas pria itu terdengar sangat berat dan matanya memerah.

"-Cakka?" Tanya Oik sedikit takut.

"Aku mencintaimu, Oik. Kumohon, jangan siksa aku lebih dari ini. Aku tidak bisa melihatmu dengan pria lain, aku tidak bisa jika kau tidak bersamaku," ujar Cakka sendu.

"Ka-kau sendiri yang mencampakkanku empat tahun yang lalu," ujar Oik berusaha untuk tidak terisak meski air mata sudah mengucur di pipinya.

"Ya, itu salahku. Kau tahu? Aku sangat menyesal setelahnya, aku kehilanganmu, kehilangan musikku, dan disini terasa sangat hampa karenanya," kata Cakka seraya meremas pelan bagian dadanya, sedang tangan satunya menghapus lembut air mata Oik.

Oik sedikit terkejut dengan penuturan Cakka, pria itu begitu rapuh di hadapannya. Segini kacaunya kah seorang Cakka Nuraga hanya karenanya? Selama ini, ia fikir Cakka bahkan tidak peduli dengan kepergiannya, dia bahkan sangat takut untuk bertemu lagi dengan Cakka saat pindah ke Jakarta kembali.

Oik sama sekali tidak menyangka, bahwa Cakka akan begitu sangat merindukannya, menunggunya, dan menyesali perbuatannya kepadanya dulu.

Melihat Cakka, Oik tidak dapat lagi membohongi perasaannya yang memang masih sangat mencintai pemuda di hadapannya itu. Cakka begitu menyesali perbuatannya, dan itu tampak jelas di kedua onyxnya.

"Ku mohon, beri aku kesempatan. Biarkan aku memiliki musikku lagi, biarkan aku menjagamu sekali lagi. Jadilah milikku sekali lagi, Oik." Lanjut Cakka lagi saat Oik tidak juga meresponnya.

Jujur, ia sangat takut jika Oik menolaknya, ia sangat mencintai gadis itu, tidak menutup kemungkinan dia akan melakukan segala cara bila gadis itu menolaknya.

"Ka-kau janji tidak akan menyakitiku lagi?" Tanya Oik kemudian, membuat kedua mata Cakka kini menatapnya tajam.

"Aku janji, kau boleh melakukan apa saja padaku bila aku melanggarnya," jawab Cakka tegas.

Oik pun tidak dapat membendung tangisnya lebih lama lagi, ia segera memeluk pria di hadapannya. Membuat secercah senyuman mengembang di wajah sang pria.

"Terima kasih, Oik." Ujar Cakka seraya tersenyum lembut.

Music in December

.
"Kenapa saat itu kau menghilang tanpa mengatakan apapun? Kau membuat semua penghuni rumah ini panik mencarimu," tanya Cakka tiba-tiba.

Saat ini, kedua sejoli itu tengah berada di kamar Cakka. Cakka yang tengah duduk di atas ranjangnya dengan sebuah buku kecil di tangannya, dan Oik yang duduk di atas sebuah kursi di hadapannya.

"Aaa… aku belum pernah bilang ya? Kedua orang tuaku adalah mata-mata negara Jepang, itu sebabnya keberadaan kami tidak boleh diketahui orang banyak," ucap Oik dengan senyum innocentnya.

SIINNGG.

Hening. Cakka memandang tajam ke arah Oik dengan tatapan tidak percaya. Mata-mata? Bagaimana mungkin?

"Kau kenapa, Cakka?" Tanya Oik heran saat Cakka memandangnya terus menerus tanpa mengatakan apapun.

"Kau bercanda," ujar Cakka kemudian yang terkesan untuk menangkan dirinya sendiri.

"Aku memang bercanda."

SIINNGG.

Kini sudut siku-siku sudah muncul di dahi Cakka, dia tidak habis fikir, bagaimana mungkin Oik mengatakannya dengan tampang polos seperti itu?

"Lalu?" Tanya Cakka lagi, berusaha tetap mempertahankan wajah stoicnya.

"Ayahku penulis lepas. Itu sebabnya kami sekeluarga sering berpindah-pindah demi mencari sumber inspirasi Ayah, terkadang begitu mendadak sampai kami tidak sempat lagi berpamitan pada para tetangga," ujar Oik menjelaskan.

"Hn, lalu apa hubunganmu dengan Obiet?" Tanya Cakka yang memang sudah sangat penasaran dengan hubungan mereka.

"Kami bersaudara, dua tahun yang lalu Bunda dan Ayah bercerai dan aku ikut Ayah. Setahun yang lalu, Ayah tunangan lagi dengan Mamanya Obiet," jawab Oik seraya menerawang.

Cakka sedikit menghela nafas berat, lalu dengan gerakan ringan ia menaruh buku yang sedari tadi ia pegang di meja yang berada di samping tempat tidurnya. Cakka lalu menarik Oik dan mendudukkan gadis itu disofa kamarnya.

"Oik, kita tunangan sekarang." Ucap Cakka tegas seraya mendongak memandang wajah Oik yang juga tengah menunduk memandangnya.

"E-eh? Me-tunangan? Se-sekarang?" Tanya Oik tidak percaya

"Hn."

"Ta-tapi,. Kita 'kan masih kelas tiga SMA," protes Oik.

"Hn, aku tidak bisa melihatmu terus bersama Obiet. Aku ingin mengikatmu sekarang juga agar kau tidak lagi melihat pria lain," ujar Cakka.

"Ta-tapi aku dan obiet 'kan hanya saudara. Masa kau cemburu dengan obiet sih?" ujar Oik seraya mengerucutkan bibirnya.

"Kau manja sekali sama Obiet, kau tidak pernah semanja itu padaku dulu," ucap Cakka ketus, terlihat jelas di wajahnya kalau dia cemburu.

"Wajar 'kan? Selama ini aku anak tunggal, dan begitu ada obiet, aku jadi bisa merasakan bagaimana rasanya mempunyai seorang kakak, meski usia kami hanya terpaut beberapa bulan. "

"Tetap saja. Pokoknya kita tunangan saja sekarang!"

"Eh? Setidaknnya tunggu sampai tamat SMA dong!" ujar Oik panik, pasalnya Cakka terlihat begitu yakin saat mengatakannya.

"Tidak," tolak Cakka tegas.

"Cak, kalau tunangan sekarang ,Ayah dan Bunda mungkin tidak akan mengizinkan," ujar Oik berusaha membujuk Cakka.

Cakka tampak memikirkan perkataan Oik tersebut, pria itu terdiam sebentar lalu kembali memandang Oik.

"Hn, baiklah. Setamat SMA," ujar Cakka mantap.

Oik sedikit bisa bernafas lega sekarang, untunglah Cakka mau mendengarkan perkataannya yang terakhir.

"Tapi kau harus janji untuk tidak terlalu dekat dengan Obiet lagi," perintah Cakka kemudian.
"I-iya,"

"Tidak ada acara makan bareng di kantin lagi."

"I-iya."

"Jangan memeluk lengannya lagi."

"I-iya."

"Jangan memanggilnya dengan nada manja lagi, panggil dia Kakak."

"I-iya."

"Hhh… kita tunangan saja sekarang."

"I-iy- eh? Cak! 'kan janjinya setamat SMA!" protes Oik.
.
Sekarang gadis itu sudah kembali menjadi miliknya, musiknya. Cakka tidak akan bisa membayangkan jika gadis itu kembali pergi dari hidupnya. Beberapa kali di bulan desembernya ia kehilangan musiknya tersebut, dan ia bertekad untuk kini mengikatnya dengan ikatan yang lebih kuat di bulan desember pula.

Music in December
.
.
.
~END~
 

Caikers Family Official Blog. Design By: SkinCorner