Minggu, 03 April 2011

TANPA KAU SADARI ( Cerpen by wawa_CLuversNRG)

Ini adalah kisahku , nama ku oik cahya ramadlani aku adalah seorang penulis yang bisu , banyak sudah hasil karya ku hampir semua tulisan yang ku luncurkan di terima baik oleh masyarakat , tapi tak seorang pun dari mereka yang mengenalku mereka hanya mengagumi nama dari balik buku yang aku tulis , cahya ramadlani . ya itu lah nama yang selalu melekat dari balik cover buku ku .


Tapi hampir ku pastikan para pembaca setia dari buku-buku ku tak pernah melihat aku secara langsung , bukannya jarak yang memisahkan kami melainkan aku yang tak pernah memberanikan diri untuk menyapa mereka atau bertatap muka langsung dengan mereka . aku malu dengan keadaanku , bagaimana bisa mereka memujiku perfect , cantik ,anggun tapi mereka sendiri belum pernah melihat aku . apa statement – statement itu masih akan terlontar dari bibir mereka ketika tau penulis yang mereka puji-puji ternyata bisu .


Sebenarnya bisu bukanlah bawaan lahirku tapi ini adalah ulah kekejaman ibu tiriku , beberapa tahun silam tepatnya pada saat aku masih menginjakkan bangku kelas 11 , ibu tiriku selalu memperlakukan ku layaknya babu , dia selalu menghujatku memukul ku sampai aku tak sadarkan diri . di depan ayahku dia selalu bertingkah layaknya ibu tiri yang paling baik sedunia , manis sekali dia berhasil memakai topeng di depan ayahku sampai pada saatnya tak ada orang dirumahku yang ada hanya aku dan ibu tiriku . saat aku tengah membereskan kamarku tiba-tiba ibu tiriku menarik ku dengan keras menyeretku hingga aku tergeletak di tangga , dan memaksaku untuk masuk kedalam mobilnya , mataku di tutup sepanjang perjalanan . aku menangis membayangkan apa kah ini hari terakhirku hidup di dunia ?


Aku turun dari mobil , ibu masih menyeretku dengan keadaan mata ku yang tertutup, pikiranku mulai tak karuan apa ibu akan membawaku ke jurang dan mendorong ku ? ntah lah tapi dalam hati aku selalu berdoa , agar tuhan masih melindungiku .


Tiba di suatu tempat , sepertinya itu sebuah gudang ibu membawaku kesana aku diserahkan pada orang-orang yang selama ini menjadi suruhan ibuku , mataku di buka benar saja itu adalah sebuah gudang besar , kotor , gelap . ibu meninggal kan ku di sini aku menangis .


Sampai malam tiba , seluruh ruangan terasa gelap tak ada pencahayaan sama sekali , aku ketakutan saat mendengar suara-suara binatang , aku kedinginan saat angin malam mulai menusuk . tak tau sampai kapan penderitaanku akan berakhir .


Terdengar suara , rupanya ibu datang dengan segerombolan anak buahnya tadi ibu berjalan manis kearahku dan memberiku sesuatu , yang membuatku tak sadarkan diri . sepertinya itu obat bius


Keesokan harinya , aku terbangun oleh pancaran sinar matahari yang menyilaukan mataku , aku kaget ternyata aku sudah tidak berada di dalam gudang itu melainkan aku tergeletak disebuah sungai . jadi ternyata semalam ibu sengaja memberi ku obat bius dan membuang ku ke sungai .


Aku mulai bangkit walaupun seluruh badanku masih terasa sangat lemas , aku mulai berteriak agar seseorang mau membantuku . tapi apa sekencang-kencang nya aku berteriak tak ada sedikit pun suara yang aku keluarkan , aku masih mencoba untuk berteriak tapi lagi-lagi aku tak mendengar suaraku . sekali lagi aku mencoba bereriak tapi yang keluar bukan nya suara melainkan bongkahan darah segar yang keluar dari mulut ku , aku pingsan .


Perlahan aku mulai membuka mataku , aku mengamati sekitar lagi-lagi aku berda di tempat yang berbeda , seseorang terlihat mulai mendekat padaku dan membawaku segalas air putih .


“ sudah bangun neng ? “ Tanya orang itu , aku masih terdiam



“ ini neng minum dulu airnya ? “ ucap nya lagi , aku menerima gelas yang berisikan air putih itu dan mulai meminumnya .


“ neng kenapa tadi pingsan di deket sungai “ Tanya nya lagi , saat aku mulai menjelaskan nya tapi aku tersadar ternyata aku tidak bisa bicara , aku menangis


Perlu beberapa lama aku beradaptasi dengan lingkungan yang seperti ini dan menerima bahwa pita suara ku rusak , tiga bulan berlalu aku tinggal di rumah seorang anak laki-laki yang menolong ku itu namanya cakka , aku tinggal bersamanya dan satu adiknya bernama ray, ayahnya telah lama meninggal dan ibunya sedang bekerja menjadi seorang TKW di arab .


Kami tinggal bertiga di sebuah gubuk reyot di sebuah perkampungan , sekarang hanya mereka yang aku punya , tak ada lagi ibu tiri yang selalu memperlakukan ku layaknya binatang atau ayah yang selalu sibuk dan tidak pernah memperdulikanku .


Setiap paginya cakka pergi ke sawah untuk membajak sawah orang , ia telah lama putus sekolah , padahal aku seumuran dengannya sayang jika sekolahnya ia tinggalkan , tapi apa ?  ini lah pengorbanan seorang kakak , cakka rela putus sekolah dan membiarkan adiknya ray yang bersekolah sedangkan cakka mencari uang dengan membajak sawah orang . karena kurang lebih sudah 3 tahu lamanya tak ada kabar dari ibu cakka , bahkan uang yang selalu di kirimkan untuk biaya sekolah pun sekarang sudah tidak pernah di kirim lagi .


Dari sinilah aku mulai melepaskan segala kepenatanku dengan menulis , hampir tiap hari ray membawakanku buku-buku bekas dari sekolahnya atau teman-temannya . saat cakka mulai ke sawah dan ray sudah berangkat sekolah aku mulai menulis cerita itu , ntah dari mana aku dapatkan inspirasi itu , tapi yang aku tau aku menulis nya tanpa ada hambatan sedikit pun .


Hampir setahun sudah aku menulis , hanya cakka lah yang dengan setia membaca hasil tulisanku , katanya bagus , dan katanya aku adalah penulis yang hebat di matanya . ntah betul atau hanya sekedar membuatku tak kecewa , kata-kata itu selalu aku ingat sampai sekarang , kata-kata itulah yang memotivasi ku untuk menjadi seorang penulis


Suatu hari tanpa sepengetahuan ku cakka mengambil beberapa hasil tulisan ku ke Jakarta , ia terlalu pesimis mengabulkan impian ku . jujur saat ia pergi berhari-hari lamanya aku merasa kesepian . tak ada lagi sahabat yang mengajakkku bercanda atau sahabat yang selalu care dan tentunya tak ada lagi yang membaca cerita – cerita ku tulis .


Di Jakarta perjuangan cakka sangat sulit , apalagi seorang cakka yang sebelumnya tak pernah menginjakkan kakinya di kota metropolitan ini . butuh waku berminggu – minggu samapi ia menemukan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang penerbitan cerita novel dan sebagainya (ngasal) cakka masuk kedalamnya , dan menemui seseorang yang bisa di katakana sebagai penyeleksi tulisan-tulisan dan menentukan apakah tulisan ku pantas untuk di terbitkan atau tidak .


Tak berapa lama kemudian akhirnya bapak tadi menerima hasil tulisan ku dan berjanji akan menerbitkan nya pada cakka , cakka di beri sejumlah uang dan bapak tadi berjanji kalau tulisan ini sudah di terbitkan dan tulisan ini meledak di pasar-pasar maka cakka akan di berikan sejumlah uang lagi .


Sebulan sudah cakka pergi dan akhirnya ia sudah kembali ke gubuk ini , ia sengaja membelikan ku laptop dari hasil tulisan ku itu dan sisanya ia berikan pada ku . katanya laptop ini bisa membantuku menyelesaikan semua hasil tulisan ku , mulanya aku senang mendengar kabar yang dibawakan cakka , karena secara tidak langusung aku bisa membantu perekonomian mereka dan aku tak mau di bilang hanya sebagai parasit . tapi aku juga takut , dengan profesiku sebagai penulis semua teman-teman ku bahkan ayah dan ibu tiriku tau keberadaan ku apalagi dengan keadaan ku yang sekarang ini bisu . aku malu .


3 tahun kemudian saat usiaku genap berusia 19 tahun , aku sukses menjadi seorang penulis yang di perhitungkan di kalangan remaja . hidupku pun mulai berubah aku membangun semuanya dari awal , dengan kekayaan yang berlimpah . tapi walaupun aku memiliki segalanya aku lebih memilih tinggal di daerah pegunungan tepatnya di vila sederhana karena sekali lagi aku masih tidak berani muncul di hadapan para pembaca setiaku .


Walaupun aku sekarang hidup layak tapi ini tak menjanjikan aku akan bahagia , sekarang aku benar-benar kesepian . cakka dan ray sudah tidak tinggal lagi bersama ku , sejak kejadian tiga tahun silam cakka sering bolak balik Jakarta dan tak sengaja ia di tawarkan oleh produser menjadi seorang pemain iklan dengan tampangnya yang memang tampan ,aku sendiri pun tak bisa mengelak itu . dada ku selalu berdetak kencang ketika cakka menatap ku dalam tapi sayang sekarang itu hanyalah kenangan . sekarang cakka menjadi salah satu artis papan atas di kalangan dunia entertainment .


aku dan cakka hidup terpisah cakka tinggal di jakarta sementara aku di daerah pegunungan di kawasan bandung . hari-hari ku benar-benar sangat membosankan setiap harinya aku duduk di depan laptop ku , laptop yang pertama kali di belikan cakka , aku masih memakainya hingga sekarang beberapa kali laptop ini rusak tapi selalu ku perbaiki karena hanyalah ini satu-satunya kenangan dari cakka .


setelah berpisah aku mulai menyadari ada sesuatu yang hilang dari ku , tak tau apa ? apa mungkin selama ini aku menyayangi cakka ? tak tau tapi tapi ketika mengingat kejadian itu kembali rasanya aku ingin sekali melarang cakka ke Jakarta . kalau saja aku melarangnya mungkin aku , cakka dan ray masih bisa tinggal bersama dan aku tak perlu lagi merasakan kehilangan dan kesendirian ini lagi .


tapi rasanya terlalu tinggi aku bermimpi , cakka yang sekarang aalah cakka yang mungkin lebih tampan dari sebelum-sebelumnya di luar sana banyak sekali artis yang mengejar-ngejarnya . mana mungkin dia bisa jatuh cinta pada seorang penulis yang bisu seperti ku .


lagi-lagi ketidak pedean ku menjadi musuh terbesarku , tapi memang aku harus tau diri seorang yang perfect seperi cakka tak akan mungkin bisa bersanding dengan gadis bisu bernama oik cahya ramadlani .


semua ini aku tulis dalam sebuah novel , novel yang bisa di bilang sangat sukses hampir semua remaja seusiaku mendatangi took – took buku hanya untuk membeli novel yang aku buat , novel yang menceritakan semua kisah hidupku . sampai-sampai novelku ini akan di jadikan film .


dan hal yang sangat – sangat membuatku bahagia ialah ternyata tokoh yang berada dalam novel ku itu yang akan diangkat menjadi sebuah film  di perankan oleh cakka , sosok yang memang dalam kenyataanya adalah cakka . tapi rasanya cakka tak pernah menyadari itu semua .


sampai pada saat cakka telah menyadari itu semua , ia baru sadar ternyata selama ini aku lah penulis skenario dari balik film yang diadaptasi dari novelku ku itu , cakka juga mulai menyadari bahwa ternyata tokoh yang berada dalam novelku sekaligus menjadi cinta pertama ku adalah dia . tapi rupanya sudah terlambat , pada saat itu aku sudah tak ada lagi di sebuah vila yang sederhana dan duduk di teras kamar sambil mengetik semua kisahku dari balik computer .


ternyata yang kuceritakan dalam novelku itu semua benar , aku benar-benar telah tiada , tak ada lagi seorang penulis yang sekalipun tak pernah menampakkan batang hidungnya pada khalayak ramai apalagi pada media massa tak ada lagi seorang penulis bisu yang tak pernah berbicara namun di dalam hatinya tersimpan banyak cerita-cerita yang hanya bisa ia sampaikan melalui jari-jari lentiknya yang menari di atas keyboard .


kini aku telah terkubur bersama semua kisah dan kenanganku yang masih belum sempat aku tulis , tapi aku senang walaupun terlambat setidaknya cakka tau seorang yang paling berharga dalam hidupku adalah dia , satu-satunya orang yang mengerti aku sekalipun aku bisu .

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Caikers Family Official Blog. Design By: SkinCorner