Minggu, 03 April 2011

JANGAN BERAKHIR (Cerpen by Saraa Diragha)

Jangan berakhir, aku tak ingin berakhir,
Satu jam saja…
Ku ingin diam berdua, mengenang yang pernah ada…


                Malam ini cerah. Bintang-bintang tak henti-hentinya bergantian saling memancarkan sinarnya. Berlomba-lomba membentuk ratusan rasi dengan bermacam-macam gambar. Ursa Mayor, Sirius, Scorpion, Orion. Menjadi satu mengerubungi langit. Sementara sang bulan, terus saja memancarkan cahayanya. Menambah kesemarakan indahnya malam ini.
                Dan tepat hari ini pula, Cakka berulang tahun. Suasana malam yang dingin di taman tempat ia berdiri saat ini, menambah rasa cemas dan gelisah yang bergelut di dalam dadanya sejak tadi. Karena hari ini, ia genap berusia enam belas tahun. Angka yang sangat menakutkan baginya.

                Sudah setengah jam yang lalu sejak ia menunggu Oik. Wanita yang sudah menjadi sahabat baiknya selama lima tahun terakhir ini. Wanita yang sudah mau memberikan segala supportnya. Wanita yang sudah mau ada untuknya dalam keadaan apapun. Dan wanita yang menjadi salah satu alasannya untuk tetap bertahan hidup.  Dia Oik. Sahabat karibnya.
                Dan hari ini, gadis itu berjanji akan memberikan hadiah kejutan yang istimewa untuknya. Hadiah yang bisa membuat pikirannya berubah akan kesialannya di angka enam belas. Dan Cakka berharap itu berhasil, karena ia benar-benar membutukan itu saat ini.

                Tepat disaat ia sedang memikirkan sahabat baiknya  itu, sekelebat bayangan wanita muncul dari sisi sampingnya. Sepintas saja ia bisa mengetahui kalau itu Oik.
                “Happy birthday to you…. Happy birthday to you…. Happy birthday, dear Cakka, happy birthday to you….” ujar wanita itu bernyanyi. Sebuah kue black forrest dengan angka 16 berada manis di atas kedua tangannya. Ia lalu menyodorkan kue itu ke arah Cakka. “Tiup lilinnya, Cakka,” lanjutnya.
                Pria dihadapannya terdiam.
                “Oh iya, don’t forget to make a wish,” tambah Oik.
                Cakka tersenyum tipis. Memejamkan matanya sejenak, lalu membukanya kembali. Dan, fuuhh…!!
                “Yeay….!!” seru Oik senang.

                Cakka balas tertawa.
                “Aiya, gue punya sesuatu buat lo,” kata Oik teringat sesuatu. Menaruh kue yang di pegangnya di atas kursi taman, lalu merogoh tasnya. “Nah, ini dia,” lanjut wanita itu memperlihatkan sekotak kado bewarna biru tua yag diikat rapi.
                “Apa?” tanya Cakka.
                “Kado, buat lo.” Oik menyerahkan kado yang di pegangnya.
                “Buat gue?”
                Oik mangangguk.
                Cakka terdiam. “Apa isinya?” tanya cowok itu lagi.
                “Buka aja,” suruh wanita di hadapannya.

Cakka menurut dan membuka kado yang di berikan Cakka kepadanya. Ia sedikit terkejut saat tahu hadiah apa yang di berikan wanita itu untuknya.
                “Jam?” tanyanya.
                “Iya. Habis, lo kan nggak punya jam tangan, sementara jadwal lo padat. Makanya, gue beliin lo jam tangan biar lo inget waktu,” jawabnya ringan.
                Cakka menatap jam tangan bewarna hitam itu seraya tersenyum. Lalu memeluk Oik.
                “Thanks,” katanya singkat.
               Oik mengangguk. “Ya, sama-sama,” ujarnya lalu melepaskan pelukan Cakka.
                “And now, let’s eat the cake!” seru Oik sambil mengarahkan telunjuknya ke black forrest di samping mereka.
                Cakka tertawa. Mengacak-acak rambut Oik sebentar, lalu mengangguk.
                “Yeah, let’s start the war,” ujarnya, melirik ke arah wanita di depannya, lalu dengan cepat membawa black forrest itu kabur.
                “Hei! Cakka….!!” teriak Oik lalu mengejar sahabatnya yang kini sudah mulai menghilang dari pandangan.


Jangan berakhir, karna esok tak kan lagi,
Satu jam saja…..
Hingga ku rasa bahagia, mengakhiri segalanya.


                Pagi ini mendung. Angin dingin dan kabut menyelinap melewati jendela-jendela kecil rumah setiap orang. Membuat mereka terpaksa bermalas-malasan untuk melakukan aktivitasnya. Meski ada juga yang menganggap itu sebuah hiburan. Seperti Oik.
Rumah yang berunsurkan kayu dan kaca yang dimiliknya ini sudah mengembun sejak tadi. Membuat butiran-butiran uap air yang berjatuhan dengan indahnya di tepian kaca. Dan Oik mengamati semua itu seraya tersenyum dari balik meja makannya.

                “Dimakan rotinya, Oik,” kata Mama membuyarkan lamunan Oik.
                “Hmm…. Iya, Ma,” kata Oik langsung melahap kembali rotinya.
                Mama tersenyum. Duduk di depan putrinya. “Oiya, Cakka mana? Tumben belum dateng? Dia sarapan disini kan?” tanya Mama teringat sahabat anaknya.
                Yang ditanya hanya mengangkat bahu. 
                “Loh? Kok nggak tahu? Emang dia nggak ngasih tau kamu?”

                Oik menggeleng.
                “Kok tumben?” tanya Mama bingung.
                 “Nggak tau deh. Kalau nggak, nanti biar Oik aja yang samperin ke rumahnya,” kata Oik memberi saran.
                “Ehm, yaudah, terserah kamu aja.” Mama menyetujui.
                Oik tersenyum. “Yaudah kalau gitu, Oik berangkat sekarang ya, Ma. Biar nggak terlambat,” lanjut anak itu bangkit dari kursinya. Menyelempangkan tasnya sebentar, lalu mengecup pipi ibunya.
                “Dah Mama!” serunya berlari keluar rumah.

                Suasana diluar tak sedingin yang di bayangkan Oik. Sinar matahari yang mulai terbit, menyeimbangkannya. Membuat suhu udara menjadi tampak sejuk. Meski sesekali, tak luput Oik menggosokkan kedua telapak tangannya bersamaan.
                Untungnya, jarak rumahnya dengan rumah Cakka tidak terlalu jauh. Hanya beda beberapa blok. Sehingga ia tak perlu berlama-lama merasakan angin dingin yang sejak tadi menerpa kulitnya.

                Rumah Cakka tampak sepi saat ia datang. Tak ada Mang Ujang yang setiap pagi biasa membersihkan rumput liar di halaman. Tak ada pula Bi Nah yang biasa menyapu teras sebelum tuan mudanya berangkat ke sekolah. Dan yang anehnya lagi, mobil Chevrolet putih yang biasanya di gunakan Cakka untuk mengantar jemputnya kesekolah pun tidak ada. Rumah itu benar-benar seperti sudah di tinggal pemiliknya.

                “Cakka!! Cak….!! Lo di dalam kan?” teriak Oik dari depan pintu gerbang rumah Cakka.
                Tak ada jawaban.
                “Hallo!! Cakka! Bi Nah! Mang Ujang!!” teriak wanita itu sekali lagi. Berharap mendapat respon. Tapi sayangnya, nihil. Rumah itu tetap hening.
                Kesal, Oik mengeluarkan handphonenya. Menekan tombol dua. Panggilan cepat menuju nomor handphone Cakka. Tapi sayangnya, hanya mesin penjawab yang mengangkatnya.

                “Cak, ini gue Oik. Gue nggak tau apa yang terjadi sama lo. Tapi gue mohon, setelah lo terima pesan ini, telpon balik. Gue tunggu secepatnya.” Oik mengakhiri perkataannya. Menggenggam erat handphonenya.
                Ia mendesah. Menatap rumah di hadapannya, lalu mulai melanjutkan  kembali perjalanannya menuju sekolah. Diiringi dengan sepasang mata sedang mengamatinya dari dalam rumah yang kini sedang ia tinggalkan.


Tapi kini tak mungkin lagi, katamu semua sudah tak berarti,
Satu jam saja….
Itu pun tak mungkin, tak mungkin lagi.


                SMA Putra Bangsa sudah sepi saat Oik datang. Hanya tinggal beberapa anak yang sedang main basket di lapangan, atau yang sedang pacaran di pojok taman. Ya wajar saja, karna saat itu sudah jam setengah tiga sore. Mustahil kalau sekolah itu masih ramai.

                Seseorang datang dengan tiba-tiba dan mengagetkan Oik saat ia tengah berjalan menuju areal parkir. Seorang pria tinggi dengan pakaian basketnya berdiri disana. Ia tersenyum.
                “Alvin! Ngagetin aja lo,” ujar Oik sambil memukul pundak pria di hadapannya yang jauh lebih tinggi lima centi di bandingkan pundaknya.
                “Hehe, sorry.” Pria itu terkekeh.
                “Sendirian lo?” tanya Oik.
                Alvin mengangguk. “Lo sendiri?”
                “Sama nih. Lagian mau sama siapa?”
                “Keanu kemana?”
                Nadine terdiam, mencerna perkataan Alvin. “Maksud lo? Lo liat dia?”
                “Hm? Apaan sih?” tanya Alvin menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Cakka. Dimana dia?”
                “Loh, dia kan nggak masuk. Gue pikir lo kesini mau nganter surat.”
                “Nggak masuk?” tanya Oik tersentak kaget.
                Alvin mengangguk. “Barusan, gue mau tanya kenapa dia nggak masuk. Ternyata lo juga nggak tau.”
                Cakka terdiam terpaku. Kejadian tadi pagi, secara tiba-tiba berputar kembali di depannya. Tanpa basa-basi lagi, ia berlari meninggalkan pelataran parkir SMA Putra Bangsa.
                “Loh, Oik!” teriak Alvin berusaha mencegah Nadine pergi.
                Tapi sayangnya, wanita itu sudah berlari menjauh.

                “Cakka!! Cak….!! Jawab gue Ke! Lo ada di dalam kan?” teriak Oik saat sampai di depan rumah Cakka.
                “Cak, gue mohon jangan kayak gini. Jawab gue Cak!” tambah wanita itu. Matanya mulai berkaca-kaca. Rasa takut benar-benar sedang menyerangnya saat ini.
                Untuk sesaat, sepintas ide gila muncul di pikirannya. Dan tanpa basa-basi, ia lakukan ide itu. Melompati pagar tinggi rumah Cakka yang terkunci, dan mencari celah masuk ke dalam rumahnya. Mungkin tidak bisa masuk. Tapi setidaknya, ia bisa melihat dan memastikan kalau rumah di dalamnya masih dalam keadaan utuh.

                Agak sedikit sulit memanjat ke atas gerbang rumah Cakka. Selain tinggi, dikarenakan Oik masih tengah berpakaian sekolah saat itu. Untung suasana komplek sedang sepi, sehingga tak perlu susah-susah baginya menahan rasa malu.
 Sepuluh menit kemudian, ia berhasil sampai di halaman rumah Keanu. Sesaat baru ia sadari, rumput liar di halaman itu sudah mulai meninggi. Sekumpulan ilalang juga sudah mulai terlihat di sudut-sudut taman. Berdampingan dengan anggrek, tulip dan melati. Oik bergidik untuk sesaat. Ngeri membayangkan apa yang terjadi pada rumah sahabatnya. Dengan segera ia percepat langkah menuju pintu.

“Cakka! Buka pintunya Cak! Ini gue, Oik!” teriaknya seraya mengetuk pintu di depannya.
Masih tak ada jawaban.
Oik terdiam sejenak. Lalu teringat sesuatu. ‘Pintu dapur!’ serunya dalam hati, dan langsung berlari kecil menuju bagian belakang  rumah itu. Tapi sayangnya, keadaan pintu belakang tak berbeda jauh dengan pintu depan. Membuat Oik akhirnya berputus asa.
Namun, saat ia sedang berpikir untuk meninggalkan rumah itu, sebuah suara dari lantai atas mengagetkannya.
"Cakka!” serunya menatap kearah jendela kamar Keanu.
Hening.
“Cak, gue tau lo disana. Please, Cak. Izinin gue buat bantuin lo. Apapun masalah lo. Gue mohon Cak!”
Masih tak ada sahutan.
“Cak, gue minta maaf sama lo kalo gue ada salah sama lo. Tapi gue mohon, keluar. Gue nggak suka lo kayak gini!” bujuk Oik lagi. “Oke, mungkin lo nggak mau ngomong sekarang. Gue akan ngasih waktu sampe besok. Kalo sampe besok lo juga nggak ngasih kabar ke gue, gue nggak akan segan manggil orang-orang di komplek ini buat dobrak pintu rumah lo!” lanjut wanita itu mengancam, lalu meninggalkan rumah itu.

Namun tanpa ia sadari, ada seseorang yang sejak tadi mengamatinya dari dalam rumah besar itu. Sesosok pria bertubuh tinggi, dengan raut wajah pucat dan tirus, juga mata yang memerah. Kepalanya tersandar di dekat jendela. Tangannya yang kurus dan dingin, memegang erat dadanya yang terasa sesak. Air matanya menetes. Nanar mengamati seorang wanita yang kini berusaha memanjat gerbang yang tinggi.
Sosok itu menundukkan kepalanya. “Maafin gue, Ik. Maaf banget.  Bukan maksud gue untuk ngerusak persahabatn kita. Gue cuma nggak mau lo terlibat. Maaf Ik, ” lirihnya. Mencengkram erat sebuah kertas dan juga jam tangan hitam yang ada di dekatnya, dan memejamkan matanya. Berharap hari itu segera berlalu.


Jangan berakhir, ku ingin sebentar lagi,
Satu jam saja…..
Izinkan aku merasa, rasa itu pernah ada….


                Semuanya kembali berputar di hadapanku. Kejadian yang sudah lama sekali terjadi.  Aku masih ingat hari itu. Hari Rabu, tanggal 7 Juli tahun 2004. Saat itu, aku masih berumur 10 tahun. Dan akan berulang tahun yang ke 11 pada tanggal 11 Agustus nanti.
                Aku dan ibuku, sedang duduk di bangku ruang tunggu sebuah rumah sakit. Seharusnya aku tahu, bahwa hari itu akan menjadi hari terburuk untukku. Tapi, aku tidak mengerti. Dan tetap duduk diam sampai seorang dokter menghampiriku dan ibuku. Dan tetap menunggu di ruang tunggu saat ibuku bilang, kalau aku harus menunggu disana.

                Awalnya, aku kesepian. Karena, setengah jam ibuku berada di dalam, sedangkan aku, hanya di temani perasaan yang entah aku tak tahu bagaimana cara menggambarkannya. Sampai akhirnya, seorang wanita dengan rambut di kuncir dua, datang menghampiriku dengan tiba-tiba. Di tangannya, terdapat dua buah sandwich yang salah satunya di berikan kepadaku. Aku menerimanya dengan senang hati.

                “Siapa namamu?” tanyanya.
                “Cakka,” jawabku sambil terus mengunyah. “Kau sendiri?”
                “Oik Cahya Ramadlani. Panggil aku Oik.”
                “Nama yang bagus.”
                “Terima kasih.”

                Dan dari sanalah, aku mengenalnya. Oik Cahya Ramadlani. Seorang wanita keturunan Jawa yang cuek, berani, polos dan setia. Tipe teman yang dapat diandalkan. Bahkan saat aku akan melaksanakan operasiku yang pertama. Dia ada dan selalu ada di sampingku. Padahal, hari itu hari ulang tahunnya yang ke 13.
                “Lo udah siap?” tanyanya sambil mengiris kue ulang tahunnya.
                Aku mengangguk. “Lo sendiri?”
                “Apa?”
                “Siap kalo tiba-tiba ada sesuatu terjadi sama gue?”
                “Heh, Cakka Nuraga! Sekali lagi lo ngomong macem-macem, gue lempar lilin lo,” ancamnya.
                Aku terkekeh. “Gimana kalo kuenya aja? Kayaknya lebih enak.”
                Oik mendelik.

                Yah, Oik memang bukan hanya sahabat untukku. Ia sudah seperti kakakku sendiri. Meski terkadang, aku juga menganggapnya seperti adikku sendiri akibat tingkahnya yang suka kekanak-kanakkan.
                Setelah operasiku yang pertama, aku pikir, segalanya akan berubah menjadi lebih baik. Tapi, pikiranku salah. Dokter menyatakan, kalau tumor ganas yang menyerang otakku justru bertambah parah, karna kini sudah menyerang bagian vital otak itu sendiri. Pilihannya ada dua. Operasi dengan kemungkinan hidup 10% dan juga kelumpuhan mental, atau hidup untuk tiga tahun kedepan. Dan aku juga ibuku sepakat, untuk memilih yang kedua. Setidaknya, tiga tahun cukup untuk membayar semuanya.

                Dan Oik tidak pernah mengatahui hal ini. Bahkan hingga saat ini.



Jangan berakhir, karna esok tak kan lagi….
Satu jam saja….
Hingga ku rasa bahgia, mengakhiri segalanya.


                Suara ramai dari depan rumahnya membangunkan Cakka yang tertidur lelap. Bukan di atas kasur, melainkan di atas lantai kamarnya.
                Ia berusaha bangkit. Namun rasa sakit di kepalanya, membuatnya jatuh kembali. Terpaksa ia harus merangkak ke jendela  untuk melihat apa yang terjadi.  Dan disana, belasan warga tengah berusaha untuk membuka pintu gerbang rumahnya. Dan di tengah-tengah kerumunan itu, tampak pula Oik. Wanita itu ternyata memenuhi janjinya untuk memanggil para warga apabila ia tidak memeberi tahunya apa yang terjadi.

                Dan ini berarti sudah semalaman Cakka tertidur di lantai. Ya Tuhan, batin pria itu.
                Kini, kerumunan para warga itu sudah berhasil memasuki halaman depan rumahnya. Sudah mulai pula terdengar ketukan dari arah pintu depan. Disusul dengan dentuman-dentuman keras, yang sepertinya itu berarti mereka sedang mencoba mendobrak pintu tersebut.

                Tak lama setelahnya, terdengar suara Oik. Jelas sekali. Dan semakin lama semakin dekat. Sementara Keanu semakin tidak kuat untuk menahan kepalanya yang semakin terasa sakit.
                “Cakka!!” teriak Oik lagi. Suara itu kini terdengar dari depan kamarnya.
                Dan karna pria itu lupa mengunci pintu kamarnya, terpaksa ia harus melanggar janji pada dirinya sendiri untuk tidak memberitahukan pada Oik apapun yang terjadi.

                “Ya Tuhan, Cakka!” jerit Oik lalu menghampiri sahabatnya, yang tergeletak lemah di lantai.
                “Cak, lo kenapa jadi kayak gini Cak? Plis, bertahan Ke, gue janji akan bawa lo ke rumah sakit,” ujar Oik berusaha memapah tubuh Cakka, dibantu dengan warga yang lain.

                “Ik,” gumam Cakka lirih di telinga Oik.
                “Ya, Cak?”
                “Maafin gue. Gue… bukan sahabat yang… baik buat lo. Gue… nggak bisa… jagain lo, lebih lama lagi,” kata pria itu terbata-bata.
                “Tolong ya, Cak. Lo jangan ngomong macem-macem. Lo akan selamat, dan gue janji akan nyelametin lo.” Oik berusaha menahan air matanya.
                Sementara Cakka, kembali menundukkan kepalanya, dan segalanya berubah menjadi gelap.



Tapi kini tak mungkin lagi, katamu semua sudah tak berarti,
Satu jam saja….
Itu pun tak mungkin, tak mungkin lagi….


                Tubuh Cakka sangat lemah saat ku temukan. Wajahnya pucat dan bibirnya kering. Badannya juga kurus. Matanya sedikit sembab dan merah akibat menangis. Entah karna apa. Tapi yang jelas, menurut dokter, Cakka bisa dipastikan belum makan selama tiga hari terakhir ini.
                Ya Tuhan. Kalau saja aku tau apa yang terjadi dengan Cakka sebenarnya, tidak perlu menunggu hari ini aku mendobrak pintu rumahnya.

                Bi Nah datang dengan tergopoh-gopoh saat dokter baru saja menjelaskan apa keluhan Keanu kepadaku. Dan tanpa basa-basi kulancarkan ribuan pertanyaan padanya. Dan jawabannya, membuatku tercengang.

                Semenjak hari ulang tahunnya, Cakka sudah tau kalau penyakitnya akan kambuh dan malah semakin bertambah parah. Maka dari itu, saat itu juga, ia menyuruh Bi Nah dan Mang Ujang untuk pulang kembali ke kampungnya. Sudah berakli-kali Bi Nah bertanya apa masalahnya, tapi Cakka hanya menjawab kalau semua baik-baik saja dan ia sedang ingin sendiri.
                Tapi karena rasa sayangnya pada Cakka yang sudah ia anggap seperti anak sendiri, Bi Nah menyewa sebuah rumah yang tidak jauh dari rumah tuan mudanya untuk mengawasi apa yang terjadi.
                Dan esoknya, ia melihat Cakka menjual mobil Chevrolet putih kesayangannya. Ini membuat Bi Nah semakin penasaran. Hingga akhirnya ia melihat, tuan mudanya keluar dari sebuah rumah sakit dengan membawa secarik kertas, dan jugu lusinan obat di dalam kantung plastiknya.

                Dari sini Bi Nah ingat, kalau tuan mudanya itu mengidap penyakit tumor ganas, dan ingin menyelesaikan masalahnya sendiri.
                “…mungkin,” kata Bi Nah di akhir ceritanya.
                “Termasuk Tante Melissa? Apa dia tau hal ini?” tanyaku masih tidak percaya.
                “Kalau nyonya, saya nggak tau non. Tapi pas den Cakka ulang tahun, nyonya sempet nelpon dari Belanda buat ngucapin selamat ulang tahun. Selebihnya saya nggak tau.”

                Seorang suster tiba-tiba saja datang menghampiri kami tepat saat aku akan bertanya lebih jauh. Tapi berhubung aku ingat, aku sedang ingin melihat keadaan Cakka, terpaksa ku simpan dulu pertanyaan itu, dan langsung masuk ke ruang ICU tempat Keanu di rawat saat ini.

                Bau alkohol memenuhi ruangan saat aku masuk. Dan pemandangan seorang pria dengan selang oksigen dan infus darahnya menggetarkan hatiku. Saat itu juga air mataku tumpah.
                Aku mengenalnya sangat baik. Sosok pria yang sabar, tabah, dan dewasa. Sosok yang selalu ada saat aku butuh bantuan. Selalu mendampingi aku saat aku kesusahan. Dan selalu memberikan dukungannya saat aku terpojok.
                Aku salah kalau aku bilang aku adalah sahabat yang baik. Karena pada akhirnya, aku tidak tau apa yang terjadi pada sahabatku sendiri. Dan karna pada akhirnya, ia tidak percaya padaku. Ia tidak mau berbagi masalahnya padaku.

                “Ya Tuhan,” lirihku. “Ku mohon selamatkan Cakka. Aku mohon,” tambahku dan mulai terisak. Namun tangisanku berhenti saat itu juga, kala melihat tangan Keanu mulai bergerak dan matanya mulai terbuka. Ia mentapaku.
                “Ik,” ujarnya.
                Aku mengangguk.

                “Apa gue… sahabat yang baik?” tanyanya.
                Aku mengangguk lagi. Benar-benar tak mampu mengucapkan apapun.
                “Apa gue… menurut lo… udah maksimal ngejagain lo?” tanyanya lagi.
                Aku menghapus air mataku, menguatkan hatiku, dan menjawab pertanyaannya. “Ya, lo udah ngejagain gue dengan baik, Cak. Lo selalu ada buat gue. Lo selalu mau nolongin gue. Lo selalu mau menawarkan diri lo untuk jadi yang pertama saat gue butuh temen. Dan lo, bener-bener sahabat yang baik, Cak.”

                Ku lihat wajah Cakka tersenyum. “Kalo gitu, apa lo siap?”            
                “Apa?”
                “Siap kalo tiba-tiba… ada sesuatu yang terjadi sama gue?”
                Air mataku tumpah. Aku menunduk.
                “Ik, nggak selamanya gue akan jagain lo. Ada saatnya… dimana lo harus berdiri sendiri. Dan gue yakin… lo akan mendapatkan banyak sahabat yang jauh… lebih baik daripada gue.”
                “Tapi, Cak. Lo… mau kemana?” tanyaku. Ku dengar suaraku bergetar saat aku mengucapkannya.

                “Gue nggak akan kemana-mana, Ik. Selama lo inget gue… gue akan selalu ada… di hati lo.” Cakka menenangkanku.
                Bodoh. Pada saat seperti ini seharusnya aku yang menenangkannya.     
                “Janji ya?” tanyaku seperti anak kecil menagih janji untuk di belikan lollipop.
                Cakka mengangguk. “Asal… lo juga mau janji sama gue.”
                “Hm?”
                “Jangan… pernah lupain gue…. Dan ingatlah terus… kalau pernah ada… seorang Cakka Nuraga… yang pernah jadi… sahabat lo,” katanya. Suaranya semakin terdengar berat.
                Aku mengangguk. “Janji.”
                Ia tersenyum. Menarik tubuhku yang sejak tadi gemetar, dan memeluknya.

                “Bi Nah, makasih ya… udah mau jadi… Ibu buat Cakka… selama Mama sama Papa di Amsterdam,” ucapnya di balik bahuku. Dapat ku rasakan Bi Nah tersenyum dan mengangguk.
                Ia kembali berpaling kepadaku. “Ik, makasih ya… udah jadi… sahabat gue. Lo… yang terbaik,” katanya sambil tetap memelukku.
                Aku merendahkan tubuhku untuk balas memeluknya. “Sama-sama, Cak. Makasih juga untuk selama ini,” balasku. Air mataku memebanjiri bahunya.
                Cakka memepererat pelukannya. Tangannya yang kurus membelai lembut rambutku. Hingga akhirnya, aku merasakan pelukannya melemah, dan wajahnya terasa dingin. Suara hembusan nafasnya sudah mulai menghilang.

                Saat itu juga aku tau. Cakka, sudah pergi.
                “Den Cakka!” teriak Bi Nah di belakangku saat tau garis-garis pemancar jantung di monitor sudah bergerak lurus. Ia lalu berlari keluar ruangan. Entah untuk mencari suster atau apa.
                Tapi yang jelas, tubuhku sudah begitu lemah saat ini untuk berteriak. Dan yang kubisa lakukan saat ini hanya memeluk Cakka seerat yang aku bisa. Sahabatku, Cakka. Dia pergi.

Selamat jalan Cak. Gue janji nggak akan ngelupain lo. Dan akan selalu inget kalau pernah ada seorang Cakka Nuraga di dalam hidup gue. Gue janji. Tidur yang tenang ya, Cak. Gue sayang sama lo.



Jangan berakhir, ku ingin sebentar lagi….
Satu jam saja…..
Izinkan aku merasa, rasa itu pernah ada….

****

Ik, makasih ya...
Jam tangan hadiah lo itu bagus banget
Gue sadar gue emang nggak pernah ngasih tau lo apapun
tentang penyakit ini.
Bukan karena gue egois
Tapi karena gue takut ngeliat lo sedih
Maaf ya...
Satu hal lagi.
Gue pengen lo tau apa alasan gue nggak pernah mau memakai jam
Karena gue takut, melihat waktu yang seakan sedang mengejar gue
Karena selama ini, gue mau selalu ada di samping lo
Tanpa ada ketakutan apapun...

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Caikers Family Official Blog. Design By: SkinCorner