Minggu, 03 April 2011

CINTAKU YANG SESUNGGUHNYA (Cerpen by Ira Siti Kulsum)

Oik terus berjalan tanpa arah sambil terus menggerutu. Sesekali dia menyepak batu-batu kerikil yang dia anggap menghalangi jalannya. Tas sekolahnya dia tinggalkan saja di kelas. Toh pulang sedikit telat tidak masalah, pikirnya. Karena kakak sepupunya yang biasanya khawatir jika dia pulang telat, pasti tidak akan mencarinya. Dia kan sedang sibuk dengan pacar barunya. Jika mengingat-ingat tentang pacar baru kakaknya, Oik makin merasa kesal. Itu artinya kakaknya pasti tidak akan perhatian dan sayang padanya lagi seperti saat masih jomblo dulu. Padahal di dunia ini cuma Rio seoranglah yang disukai, disayangi, dan mungkin saja dicintai oleh Oik. Tapi Rio malah jadian sama sang ketua Cheerleaders sekolah, si cantik Ify.
"Uhh, sebal sebal!" Entah sudah berapa kali Oik mengucapkan kata itu. Seperti mantra yang dikomat kamitkan agar Rio bisa putus dengan Ify dan hanya menjadi milik Oik seorang. Egois memang. Tapi bagaimanapun Rio adalah orang terdekatnya. Ayahnya selalu bepergian keluar negeri menjalankan bisnis dan hanya meninggalkannya berdua saja dengan Rio. Jika Oik sudah tidak perhatian lagi padanya, kepada siapa Oik akan berkeluh kesah dan bermanja-manja?

Wajahnya masih terus menekuk sebal. Belum lagi rona merah karena menahan marah. Rasanya ingin sekali mengacak-acak rambutnya sendiri. Oik belum pernah merasa sekesal ini seumur hidupnya. Seumur hidupnya? Tentu saja.


Walaupun sejak kecil dirinya yang lemah sering mendapat kesulitan dan sering diganggu oleh anak-anak nakal yang suka merebut permen dan makan siangnya, Rio selalu ada untuk menolongnya dan menjaganya. Sehingga Oik tidak pernah merasa kesal, marah, sebal, ataupun takut. Karena Rio pasti akan selalu ada untuknya. Rio itu mirip dengan tokoh pahlawan di anime-anime yang sering ditontonnya saat masih kecil.


Tapi kalau masalahnya seperti ini bagaimana? Rio pacaran dengan Ify. Oik merasa kesal karena hal itu. Jadi kepada siapa Oik harus mengadu? Kepada Rio? Tentu saja jawabannya adalah TIDAK.


Alhasil, Oik harus menyimpan rasa kesalnya untuk dirinya sendiri.


"Aaa, kenapa kak Rio lebih milih kak Ify daripada diriku?" rutuknya.


Oik cemberut. Perasaannya telah bercampur aduk. Mau marah, nangis, guling-guling di tanah sangkin sebalnya. Tapi yang akhirnya dia lakukan adalah mencabuti rumput-rumput liar tak bersalah tempat dia duduk sekarang ini. Dia tidak peduli lagi dengan seragamnya yang akan kotor. Dia benar-benar sudah tidak peduli lagi dengan apapun. Rio sudah direbut orang lain. Dan dia merasa kehilangan semangat hidupnya karena hal itu.
"Apa salah rumput itu sehingga kau mencabutinya?" Sebelumnya Oik menyukai suasana di taman samping sekolah yang sunyi dan jarang didatangi oleh siswa lain. Jadinya dia bisa menumpahkan kekesalannya disini. Tapi ternyata dia tidak sendirian. Suara barusan dia anggap telah mengganggu keinginannya untuk menyendiri. Dan ini membuat Oik semakin merasa kesal.Oik tidak mau menjawab pertanyaan orang itu. Mungkin saja jika Oik tidak menanggapinya, orang itu akan pergi.
"Hey! Jangan dicabuti lagi rumputnya," cegah orang itu sambil menarik tangan Oik agar menjauh dari rumput-rumput tersebut. Oik memandang orang itu dengan tatapan manusia paling menyedihkan sedunia. Wajahnya yang sendu dan matanya yang berkaca-kaca membuat orang itu mengernyitkan alisnya. Dia kemudian melepaskan tangan Oik.
"Kau ini kenapa?" tanya orang itu lembut. Oik mulai menangis. Sedikit demi sedikit air matanya mulai bercucuran. Tingkahnya mirip sekali seperti anak kecil yang tidak dibelikan permen. Orang itu makin bingung menghadapi Oik. Dia ingin menenangkan Oik, namun tidak tahu bagaimana caranya. Tentu saja menawarkan permen yang ada di sakunya bukanlah cara yang tepat.
"Kakakku p-pa..caran sa-ma o..orang lain," kata Oik di sela-sela tangisnya.
"Lalu kenapa kau sedih? Bukankah seharusnya kau senang kalau Kakakmu punya pacar?" tanya orang itu. Tangis Oik makin pecah. Sekarang tingkahnya mirip dengan anak kecil yang pesta ulang tahunnya gagal dirayakan.
  Orang itu hanya bisa garuk-garuk kepala. Dia tidak kenal dengan Oik. Jadi tidak mungkin baginya untuk memberikan sebuah pelukan yang akan menenangkan Oik. Akhirnya dia hanya diam saja sambil menunggu Oik berhenti menangis. Entah apa yang membuatnya penasaran ingin mendengarkan curahan hati Oik.
"Kau tidak mau cerita?" tanya orang itu lagi. Oik menghapus air matanya,
"Kenapa aku harus cerita padamu? Aku kan tidak mengenalmu?" Orang itu hanya menghela nafas,
"Kau tidak kenal aku?" Oik menggelengkan kepalanya.
"Aku ini Cakka." Akhirnya orang itu memperkenalkan dirinya kepada Oik.
"C-Cakka?Cakka Kawekas Nuraga?"
"Kau bilang kau tidak mengenalku."
"Memang tidak. Aku hanya tahu namamu. Itu juga karena teman-temanku yang sering menyebut-nyebut namamu," jelas Oik.
"Bagaimana bisa kau tidak tahu dengan siswa yang paling tampan se-SMA Icil ini?" tanya Cakka sambil menunjuk dirinya.
"Bagiku, siswa yang paling tampan se-SMA Icil adalah kak Mario Stevano Aditya Haling!" protes Oik. Cakka bengong. Baru kali ini ada seorang gadis yang terang-terangan tidak mengakui ketampanan Cakka. Dia malah lebih memilih Rio yang merupakan rivalnya dari segi tampang daripada dirinya.
"Oh. Jadi kau ini adiknya Rio?"
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Oik polos. Cakka menepuk jidatnya. Padahal jelas sekali tadi dia memanggil Rio dengan sebutan Kak Rio.
Cakka bangkit dari duduknya dan berniat untuk pergi. Namun langkahnya terhenti saat Oik menarik tangannya.
"Jangan pergi," pintanya.
"Memangnya kenapa?" tanya Cakka heran.
"Bukannya tadi kau menyuruhku untuk cerita?" jawab Oik.
"Bukannya tadi kau bilang tidak mau cerita pada orang yang tidak kau kenal?" balas Cakka.
"Tapi kita kan sudah berkenalan. Kau juga kenal dengan kakakku. Jadi aku bisa bercerita padamu." Cakka benar-benar bingung melihat gadis ini. 'Polos sekali,' pikirnya.Cakka kembali duduk menuruti permintaan Oik.
"Jadi?" tanya Cakka.
"Aku tidak suka kak Rio punya pacar."
"Kenapa?"
"Karena aku suka padanya. Kalau Kak Rio punya pacar, pasti Kak Rio tidak akan sayang dan peduli padaku lagi. Makanya aku tidak suka."
"Kau suka pada Kakakmu?"
"Iya."
"Begini Oik. Aku yakin Rio tidak akan lupa padamu. Bagaimanapun kau ini adiknya. Dan kau juga tidak boleh menyukai Rio lebih dari seorang kakak. Dia berhak punya pacar. Karena kau tidak mungkin menjadi pacarnya. Itu tidak boleh," jelas Cakka.
"Kenapa tidak boleh? Lagian kami kan cuma sepupu," protes Oik.
"Tetap saja tidak boleh. Karena mungkin saja apa yang kau rasakan itu hanya kekaguman saja. Bukan benar-benar suka. Sekarang aku ingin bertanya. Apa kau pernah merasa deg-degan saat Rio berada di dekatmu?" Oik menggeleng,
"Tidak."
"Lalu, pernahkah kau merasa malu saat melakukan hal yang konyol di depan Rio?" Oik menggeleng lagi,
"Tidak."
"Apa kau cemburu saat Rio dekat dengan gadis lain?"
"Tentu saja!" Cakka sadar kalau pertanyaannya yang terakhir adalah salah. Dia mencoba mencari pertanyaan lain yang dia yakini Oik akan menjawabnya dengan jawaban tidak.

Cakka nyengir. Dia mendekati Oik dan memperkecil jarak di antara mereka. Oik tersentak saat melihat wajah Cakka yang begitu dekat dengan wajahnya. Oik mencoba mengucapkan sesuatu, tapi tidak bisa. Suaranya tercekat di tenggorokannya.Oik hanya bisa memejamkan matanya saat bibir lembut Cakka mendarat di pipinya. Jantungnya mulai berdebar kencang. Dia juga merasa malu. Pasti ekspresi wajahnya konyol sekali saat ini. Alhasil, rona merah juga menjalar di kulit pipinya.
"Apa kau pernah merasa seperti ini saat dicium oleh Rio?" bisik Cakka di telinga Oik.
"T-Tidak."Cakka kembali ke posisinya semula. Meskipun jarak Cakka sudah tidak sedekat yang tadi, Oik tetap tidak berani menatap matanya.
"Dengan tiga kali menjawab tidak, itu artinya kau tidak benar-benar suka pada Rio. Kau hanya menyukai sosoknya sebagai seorang kakak." Oik memainkan kedua telunjuknya. Cakka benar. Apa yang dirasakan Oik saat berada di dekat Rio berbeda dengan saat dia berada di dekat Cakka.
"Tapi, aku suka sama Kak Rio."Cakka hanya menghela nafas. Entah kenapa dia merasa kalau dirinya harus bisa memberikan penjelasan kepada Oik tentang apa yang dirasakannya kepada Rio itu bukanlah cinta. Tapi bagaimana caranya? Sedangkan di hati gadis ini yang ada hanyalah Rio. 'Aku akan membuat gadis ini menyukaiku,' pikirnya.

.


.


.
.............
"Belum tidur?" tanya Rio saat memasuki kamar Oik.
"Belum bisa tidur," rengek Oik. Dia memang selalu seperti ini saat bicara dengan Rio. Jika sudah begitu, Rio pasti akan luluh dan memenuhi apapun yang diminta Oik.
"Apa ada masalah?" tanya Rio lagi.
"Tentu saja. Sudahlah. Kak Rio putus saja sama Kak Ify," ucap Oik blak-blakan.
"Jadi itu masalahnya. Kita kan sudah pernah membicarakan masalah ini. Ify itu gadis yang baik, dan aku suka padanya."
"Justru itu. Selain baik dia juga cantik dan populer. Dia pasti punya banyak pacar. Aku tidak suka kalau Kak Rio diselingkuhin." Rio tertawa pelan. Baginya perkataan Oik barusan begitu kekanak-kanakan.
"Bagaimana dengan dirimu? Kenapa tidak mencari pacar?" Rio mengalihkan pembicaraan. Rio benar-benar tidak peka. Padahal satu-satunya orang yang diharapkan Oik menjadi pacarnya adalah Rio. Tiba-tiba saja Oik teringat dengan Cakka. Kenapa harus Cakka?
"Ya sudah. Sebaiknya kau tidur. Ini sudah larut. Besok kan kita harus ke sekolah." Rio mengecup kening Oik sebagai ucapan selamat tidur. Oik merasa senang. Tapi dia tidak merasa deg-degan seperti saat Cakka menciumnya. Padahal Rio dan Cakka sama-sama laki-laki. Namun saat-saat bersama mereka berdua terasa begitu berbeda.

'Apa mungkin yang dikatakan Cakka benar?' tanya Oik dalam hati
.
.
.
.
Seminggu kemudian. Oik selalu bertemu dengan Cakka setiap hari di taman samping sekolah. Dan setiap mereka bertemu, pasti Cakka selalu meyakinkan Oik bahwa perasaannya kepada Rio itu bukanlah cinta.
"Masih belum bisa menerima kenyataan?" tanya Cakka.
"Pokoknya aku tetap tidak suka mereka pacaran," jawab Oik.
"Jangan egois seperti itu. Lebih baik kau juga mencari pacar. Jangan bergantung pada kakakmu terus," Cakka menyarankan.
"Mau pacaran dengan siapa? Aku kan sukanya cuma sama Kak Rio." Cakka menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Gadis ini lebih keras kepala dari yang dia duga.
"Tunggu sebentar ya! Aku mau ke toilet."
"Hmm." Cakka tidak bergerak dari tempatnya. Dia merasa heran. Kenapa dirinya mau terus berada disini untuk menunggu Cakka. Biasanya kan gadis-gadis yang selalu menunggunya. Sekarang keadaannya malah berbalik.

Tidak terlalu lama Cakka berkutat dengan pikirannya saat dia melihat Oik berlari ke arahnya sambil menangis. Cakka ingin berdiri menghampirinya. Namun Oik sudah berlutut duluan dan menangis di dada Cakka.


Cakka bingung harus berbuat apa. Ini bukan pertama kalinya dia melihat Oik menangis. Tapi tetap saja dia tidak tahu bagaimana menenangkan Oik saat seperti ini. Cakka mencoba menepuk-nepuk pundak Oik. Tangis Oik makin menjadi dan dia meremas kain seragam Cakka. Sepertinya dia benar-benar sedih.
"Ada apa?" tanya Cakka.
"Ta-di a…aku m-melihat Kak Rio men-cium Kak Ify," ucapnya sambil sesenggukan.
"Bukannya wajar kalau orang yang sedang pacaran itu berciuman?"
"Tapi aku tidak suka!" bentak Oik. Cakka terkejut. Kenapa dia yang harus menjadi pelampiasan amarah Oik? Namun Cakka mencoba untuk tetap bersikap tenang.
"Kau harus bisa menerima kenyataan, Oik. Rio hanya menganggapmu sebagai adik, tidak lebih. Dan kau juga seharusnya bisa membuka hatimu untuk orang lain. Pasti banyak yang mau menjadi pacar dari gadis manis sepertimu," jelas Cakka sambil mengelus lengan Oik.
"T-Tapi siapa?" rengek Oik.
"Apa selama ini tidak cukup jelas?" tanya Cakka.
"Maksudmu?" Oik tidak mengerti maksud dari perkataan Cakka. Cakka terus menatap Oik lembut. Seperti ingin menjelaskan sesuatu kepada Oik melalui matanya. Tapi tetap saja Oik tidak mengerti. Sekarang Oiklah yang tidak peka akan kehadiran Cakka selama ini di sampingnya.

Cakka memperkecil jaraknya dengan Oik. Kali ini, bibir lembutnya mendarat di bibir lembab Oik. Seperti es batu yang berada di bawah terik matahari, Oik meleleh saat saat bibir Cakka menempel dibibirnya.


Oik tidak punya pengalaman dalam urusan seperti ini. Dia sama sekali belum pernah mendapat ciuman di bibir dari seseorang. Orang yang sering memberikan ciuman padanya hanyalah Rio. Itupun kalau tidak di kening, ya di pipi. Maka ini adalah ciuman pertama bagi Oik.Cakka mencium Oik dengan lembut. Oksigen juga ikut-ikutan menuntut untuk dihirup.Cakkapun melepaskan ciumannya. Paru-paru bekerja ekstra, jantung berdegup cepat memompa darah untuk mengalirkan oksigen ke otak agar Oik mampu mencerna kejadian yang baru saja terjadi dengan cepat.


"Aku menyukaimu, Oik," ucap Cakka sambil mengelus pipi merah Oik.


Begitu Oik menyadarinya, dia menolak tubuh Cakka dan mulai berlari meninggalkan Cakka yang mencoba untuk mencegahnya. Namun terlambat.Oik lebih gesit dan berlari tanpa menoleh ke belakang.
"Apa yang kulakukan?" gumam Cakka.
.
.
.
Oik duduk meringkuk di atas kasurnya. Dia ingin menangis, tapi tidak bisa. Kejadian saat Cakka menciumnya terus terngiang-ngiang di pikirannya. Padahal Oik sudah menganggap Cakka seperti kakaknya sendiri. Sosok yang mampu menggantikan Rio sebagai orang yang mau mendengarkan keluh kesahnya saat Rio bukan merupakan orang yang tepat. Tapi apa benar perasaannya terhadap Cakka hanya sebatas sayang kepada seorang kakak? Belum lagi pernyataan suka Cakka terhadapnya. Dengan cara yang seperti itu, jelas sekali kalau dia menganggap Oik bukan sebagai adiknya. Tapi lebih. Oik makin menenggelamkan kepalanya di kedua lututnya. Dia tidak mampu menyatakan apa yang sedang dirasakannya saat ini. Apakah marah, kesal, sedih, atau mungkin senang? Oik tidak tahu pasti. Bahkan suara Riopun tak sanggup menghilangkan kegundahannya.
"Oik kau kenapa?" tanya Rio yang heran melihat kelakuan Oik.
"Kak Rio. Aku sedang bingung," jawabnya.
"Bingung kenapa?"
"Perasaanku. Aneh sekali. Aku sendiri juga tidak tahu apa namanya." Rio tersenyum. Sepertinya adiknya ini sedang jatuh cinta pikirnya. Rio mengelus-elus kepala Oik. Kebiasaannya saat Oik sedang gundah dan membutuhkan nasihatnya.
"Seperti apa rasanya?" tanya Rio
"Deg-degan. Kadang-kadang kesal, tapi sebenarnya senang. Dan juga aku selalu mengingat dia." Meskipun Oik tidak mengatakan siapakah 'dia', Rio sudah tahu kemana tujuan pembicaraan mereka.
"Itu karena kau sedang merindukannya."
"Apa Kak Rio juga begitu kepada Kak Ify?"
"Tentu saja. Percaya atau tidak, memang begitu rasanya jika kau sedang menyukai seseorang. Mengapa tidak mencoba berbicara saja padanya? Siapa tahu dia juga merasakan hal yang sama,"Rio memberikan saran.
"Iya," ucap Oik. Oik memeluk Rio. Sekarang dia sudah tahu bedanya. Mana yang hanya sekedar kagum, dan mana yang benar-benar suka. Akhirnya Oik bisa menyukai laki-laki lain selain kakaknya, Rio.
.
.
.
Cakka berdiri di bawah pohon tempat dia dan Oik biasa bertemu. Hari ini dia berniat untuk minta maaf atas kejadian kemarin. Dia benar-benar menyesal. Bukannya menghibur Oik, dia malah membuatnya makin sedih. Dia juga akan bilang bahwa dia tidak akan memaksakan perasaannya. Sudah lebih dari sejam Cakka menunggu kedatangan Oik. Namun Oik belum muncul juga.

'Dia pasti marah sekali padaku,' pikir Cakka.


Cakka merasa sangat tidak enak hati. Dia berniat untuk mencari Oik ke kelasnya. Bagaimanapun dia harus menyelesaikan masalah ini. Menjadi teman lebih baik daripada tidak sama sekali.


Begitu Cakka beranjak pergi, saat itu juga Oik muncul di belakangnya.
"Cakka!" panggilnya. Cakka langsung menoleh untuk melihat Oik yang sedang berlari ke arahnya. Dia terlihat bahagia. cakka merasa lega karena hal itu. Namun karena sibuk memikirkan Oik yang baik-baik saja, dia tidak sadar bahwa Oik mau melompat dan memeluknya.

BRUUUK
"Aduh, Oik. Sakit tahu!" protes Cakka. Oik hanya tertawa mendengarnya. Dia tidak bangkit dari posisinya yang berada di atas Cakka.

"Terima kasih, Cakka. Sekarang aku sudah tahu bedanya."


Cakka tersenyum mendengarnya. Tapi itu belum menjelaskan tentang perasaan Oik padanya.Cakka meletakkan tangannya di belakang kepala Oik dan menariknya untuk sebuah ciuman. Jika Oik menolaknya, berarti dia tidak menyukai Cakka. Begitulah kesimpulannya.


Namun Oik tidak menolak. Sepertinya misi Cakka membuat Oik berpaling dari Rio kepadanya telah berhasil.
"Aku juga menyukaimu, Cakka." Akhirnya semua berakhir indah.Rio tidak diuber-uber lagi oleh Oik supaya putus dengan Ify. Ify juga sudah bisa merasa lega karena Oik sudah menerimanya sebagai pacar Rio. Cakka juga senang karena bisa mendapatkan Oik. Dan Oik berhasil memberikan kebahagiaan untuk semuanya.



THE END

4 komentar:

SuperJuniorShinee_shawolElf_Soeunnie mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Anonim mengatakan...

ini bisa diganti ga karya nya? ini aku yang pernah post cerpen ini, tapi aku copas dan bukan buatan aku.. takutnya jadi salah paham sama yang punya cerpen ini... boleh aja di re-post, tapi bisa ditambahin dengan kata copas.. makasih

SuperJuniorShinee_shawolElf_Soeunnie mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Anonim mengatakan...

buat penjelasan, aku punya temen(sebenernya udah jadi musuh) yang suka cagni dan tau pass akunku terus dia copas karya orang dengan mengganti nama oik sama cakka di akun ku yang di fanfage C-luvers,(sekarang malah ga ada akunnya) dia ga nyantumin kata copas disana, dan aku ga tau, yang aku tau cuma dia ngomong kalau bikin cerita sendiri dan numpang post di aku.. dan yang balas komenannya juga dia, aku sumpah ga tau apa-apa... ketika di cek lagi ternyata itu copas dari cerpen. jadi aku mohon ganti nama karyanya,, aku sempet kaget, kok karya ini ada di sini.. jadi minimal, cantumin kata copas, buat ga salah pahamin buat yang bikin ini cerpen... makasihhh sebelumnya :)

Poskan Komentar

 

Caikers Family Official Blog. Design By: SkinCorner