Minggu, 03 April 2011

JANGAN BERAKHIR (Cerpen by Saraa Diragha)

Jangan berakhir, aku tak ingin berakhir,
Satu jam saja…
Ku ingin diam berdua, mengenang yang pernah ada…


                Malam ini cerah. Bintang-bintang tak henti-hentinya bergantian saling memancarkan sinarnya. Berlomba-lomba membentuk ratusan rasi dengan bermacam-macam gambar. Ursa Mayor, Sirius, Scorpion, Orion. Menjadi satu mengerubungi langit. Sementara sang bulan, terus saja memancarkan cahayanya. Menambah kesemarakan indahnya malam ini.
                Dan tepat hari ini pula, Cakka berulang tahun. Suasana malam yang dingin di taman tempat ia berdiri saat ini, menambah rasa cemas dan gelisah yang bergelut di dalam dadanya sejak tadi. Karena hari ini, ia genap berusia enam belas tahun. Angka yang sangat menakutkan baginya.

                Sudah setengah jam yang lalu sejak ia menunggu Oik. Wanita yang sudah menjadi sahabat baiknya selama lima tahun terakhir ini. Wanita yang sudah mau memberikan segala supportnya. Wanita yang sudah mau ada untuknya dalam keadaan apapun. Dan wanita yang menjadi salah satu alasannya untuk tetap bertahan hidup.  Dia Oik. Sahabat karibnya.
                Dan hari ini, gadis itu berjanji akan memberikan hadiah kejutan yang istimewa untuknya. Hadiah yang bisa membuat pikirannya berubah akan kesialannya di angka enam belas. Dan Cakka berharap itu berhasil, karena ia benar-benar membutukan itu saat ini.

                Tepat disaat ia sedang memikirkan sahabat baiknya  itu, sekelebat bayangan wanita muncul dari sisi sampingnya. Sepintas saja ia bisa mengetahui kalau itu Oik.
                “Happy birthday to you…. Happy birthday to you…. Happy birthday, dear Cakka, happy birthday to you….” ujar wanita itu bernyanyi. Sebuah kue black forrest dengan angka 16 berada manis di atas kedua tangannya. Ia lalu menyodorkan kue itu ke arah Cakka. “Tiup lilinnya, Cakka,” lanjutnya.
                Pria dihadapannya terdiam.
                “Oh iya, don’t forget to make a wish,” tambah Oik.
                Cakka tersenyum tipis. Memejamkan matanya sejenak, lalu membukanya kembali. Dan, fuuhh…!!
                “Yeay….!!” seru Oik senang.

                Cakka balas tertawa.
                “Aiya, gue punya sesuatu buat lo,” kata Oik teringat sesuatu. Menaruh kue yang di pegangnya di atas kursi taman, lalu merogoh tasnya. “Nah, ini dia,” lanjut wanita itu memperlihatkan sekotak kado bewarna biru tua yag diikat rapi.
                “Apa?” tanya Cakka.
                “Kado, buat lo.” Oik menyerahkan kado yang di pegangnya.
                “Buat gue?”
                Oik mangangguk.
                Cakka terdiam. “Apa isinya?” tanya cowok itu lagi.
                “Buka aja,” suruh wanita di hadapannya.

Cakka menurut dan membuka kado yang di berikan Cakka kepadanya. Ia sedikit terkejut saat tahu hadiah apa yang di berikan wanita itu untuknya.
                “Jam?” tanyanya.
                “Iya. Habis, lo kan nggak punya jam tangan, sementara jadwal lo padat. Makanya, gue beliin lo jam tangan biar lo inget waktu,” jawabnya ringan.
                Cakka menatap jam tangan bewarna hitam itu seraya tersenyum. Lalu memeluk Oik.
                “Thanks,” katanya singkat.
               Oik mengangguk. “Ya, sama-sama,” ujarnya lalu melepaskan pelukan Cakka.
                “And now, let’s eat the cake!” seru Oik sambil mengarahkan telunjuknya ke black forrest di samping mereka.
                Cakka tertawa. Mengacak-acak rambut Oik sebentar, lalu mengangguk.
                “Yeah, let’s start the war,” ujarnya, melirik ke arah wanita di depannya, lalu dengan cepat membawa black forrest itu kabur.
                “Hei! Cakka….!!” teriak Oik lalu mengejar sahabatnya yang kini sudah mulai menghilang dari pandangan.


Jangan berakhir, karna esok tak kan lagi,
Satu jam saja…..
Hingga ku rasa bahagia, mengakhiri segalanya.


                Pagi ini mendung. Angin dingin dan kabut menyelinap melewati jendela-jendela kecil rumah setiap orang. Membuat mereka terpaksa bermalas-malasan untuk melakukan aktivitasnya. Meski ada juga yang menganggap itu sebuah hiburan. Seperti Oik.
Rumah yang berunsurkan kayu dan kaca yang dimiliknya ini sudah mengembun sejak tadi. Membuat butiran-butiran uap air yang berjatuhan dengan indahnya di tepian kaca. Dan Oik mengamati semua itu seraya tersenyum dari balik meja makannya.

                “Dimakan rotinya, Oik,” kata Mama membuyarkan lamunan Oik.
                “Hmm…. Iya, Ma,” kata Oik langsung melahap kembali rotinya.
                Mama tersenyum. Duduk di depan putrinya. “Oiya, Cakka mana? Tumben belum dateng? Dia sarapan disini kan?” tanya Mama teringat sahabat anaknya.
                Yang ditanya hanya mengangkat bahu. 
                “Loh? Kok nggak tahu? Emang dia nggak ngasih tau kamu?”

                Oik menggeleng.
                “Kok tumben?” tanya Mama bingung.
                 “Nggak tau deh. Kalau nggak, nanti biar Oik aja yang samperin ke rumahnya,” kata Oik memberi saran.
                “Ehm, yaudah, terserah kamu aja.” Mama menyetujui.
                Oik tersenyum. “Yaudah kalau gitu, Oik berangkat sekarang ya, Ma. Biar nggak terlambat,” lanjut anak itu bangkit dari kursinya. Menyelempangkan tasnya sebentar, lalu mengecup pipi ibunya.
                “Dah Mama!” serunya berlari keluar rumah.

                Suasana diluar tak sedingin yang di bayangkan Oik. Sinar matahari yang mulai terbit, menyeimbangkannya. Membuat suhu udara menjadi tampak sejuk. Meski sesekali, tak luput Oik menggosokkan kedua telapak tangannya bersamaan.
                Untungnya, jarak rumahnya dengan rumah Cakka tidak terlalu jauh. Hanya beda beberapa blok. Sehingga ia tak perlu berlama-lama merasakan angin dingin yang sejak tadi menerpa kulitnya.

                Rumah Cakka tampak sepi saat ia datang. Tak ada Mang Ujang yang setiap pagi biasa membersihkan rumput liar di halaman. Tak ada pula Bi Nah yang biasa menyapu teras sebelum tuan mudanya berangkat ke sekolah. Dan yang anehnya lagi, mobil Chevrolet putih yang biasanya di gunakan Cakka untuk mengantar jemputnya kesekolah pun tidak ada. Rumah itu benar-benar seperti sudah di tinggal pemiliknya.

                “Cakka!! Cak….!! Lo di dalam kan?” teriak Oik dari depan pintu gerbang rumah Cakka.
                Tak ada jawaban.
                “Hallo!! Cakka! Bi Nah! Mang Ujang!!” teriak wanita itu sekali lagi. Berharap mendapat respon. Tapi sayangnya, nihil. Rumah itu tetap hening.
                Kesal, Oik mengeluarkan handphonenya. Menekan tombol dua. Panggilan cepat menuju nomor handphone Cakka. Tapi sayangnya, hanya mesin penjawab yang mengangkatnya.

                “Cak, ini gue Oik. Gue nggak tau apa yang terjadi sama lo. Tapi gue mohon, setelah lo terima pesan ini, telpon balik. Gue tunggu secepatnya.” Oik mengakhiri perkataannya. Menggenggam erat handphonenya.
                Ia mendesah. Menatap rumah di hadapannya, lalu mulai melanjutkan  kembali perjalanannya menuju sekolah. Diiringi dengan sepasang mata sedang mengamatinya dari dalam rumah yang kini sedang ia tinggalkan.


Tapi kini tak mungkin lagi, katamu semua sudah tak berarti,
Satu jam saja….
Itu pun tak mungkin, tak mungkin lagi.


                SMA Putra Bangsa sudah sepi saat Oik datang. Hanya tinggal beberapa anak yang sedang main basket di lapangan, atau yang sedang pacaran di pojok taman. Ya wajar saja, karna saat itu sudah jam setengah tiga sore. Mustahil kalau sekolah itu masih ramai.

                Seseorang datang dengan tiba-tiba dan mengagetkan Oik saat ia tengah berjalan menuju areal parkir. Seorang pria tinggi dengan pakaian basketnya berdiri disana. Ia tersenyum.
                “Alvin! Ngagetin aja lo,” ujar Oik sambil memukul pundak pria di hadapannya yang jauh lebih tinggi lima centi di bandingkan pundaknya.
                “Hehe, sorry.” Pria itu terkekeh.
                “Sendirian lo?” tanya Oik.
                Alvin mengangguk. “Lo sendiri?”
                “Sama nih. Lagian mau sama siapa?”
                “Keanu kemana?”
                Nadine terdiam, mencerna perkataan Alvin. “Maksud lo? Lo liat dia?”
                “Hm? Apaan sih?” tanya Alvin menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Cakka. Dimana dia?”
                “Loh, dia kan nggak masuk. Gue pikir lo kesini mau nganter surat.”
                “Nggak masuk?” tanya Oik tersentak kaget.
                Alvin mengangguk. “Barusan, gue mau tanya kenapa dia nggak masuk. Ternyata lo juga nggak tau.”
                Cakka terdiam terpaku. Kejadian tadi pagi, secara tiba-tiba berputar kembali di depannya. Tanpa basa-basi lagi, ia berlari meninggalkan pelataran parkir SMA Putra Bangsa.
                “Loh, Oik!” teriak Alvin berusaha mencegah Nadine pergi.
                Tapi sayangnya, wanita itu sudah berlari menjauh.

                “Cakka!! Cak….!! Jawab gue Ke! Lo ada di dalam kan?” teriak Oik saat sampai di depan rumah Cakka.
                “Cak, gue mohon jangan kayak gini. Jawab gue Cak!” tambah wanita itu. Matanya mulai berkaca-kaca. Rasa takut benar-benar sedang menyerangnya saat ini.
                Untuk sesaat, sepintas ide gila muncul di pikirannya. Dan tanpa basa-basi, ia lakukan ide itu. Melompati pagar tinggi rumah Cakka yang terkunci, dan mencari celah masuk ke dalam rumahnya. Mungkin tidak bisa masuk. Tapi setidaknya, ia bisa melihat dan memastikan kalau rumah di dalamnya masih dalam keadaan utuh.

                Agak sedikit sulit memanjat ke atas gerbang rumah Cakka. Selain tinggi, dikarenakan Oik masih tengah berpakaian sekolah saat itu. Untung suasana komplek sedang sepi, sehingga tak perlu susah-susah baginya menahan rasa malu.
 Sepuluh menit kemudian, ia berhasil sampai di halaman rumah Keanu. Sesaat baru ia sadari, rumput liar di halaman itu sudah mulai meninggi. Sekumpulan ilalang juga sudah mulai terlihat di sudut-sudut taman. Berdampingan dengan anggrek, tulip dan melati. Oik bergidik untuk sesaat. Ngeri membayangkan apa yang terjadi pada rumah sahabatnya. Dengan segera ia percepat langkah menuju pintu.

“Cakka! Buka pintunya Cak! Ini gue, Oik!” teriaknya seraya mengetuk pintu di depannya.
Masih tak ada jawaban.
Oik terdiam sejenak. Lalu teringat sesuatu. ‘Pintu dapur!’ serunya dalam hati, dan langsung berlari kecil menuju bagian belakang  rumah itu. Tapi sayangnya, keadaan pintu belakang tak berbeda jauh dengan pintu depan. Membuat Oik akhirnya berputus asa.
Namun, saat ia sedang berpikir untuk meninggalkan rumah itu, sebuah suara dari lantai atas mengagetkannya.
"Cakka!” serunya menatap kearah jendela kamar Keanu.
Hening.
“Cak, gue tau lo disana. Please, Cak. Izinin gue buat bantuin lo. Apapun masalah lo. Gue mohon Cak!”
Masih tak ada sahutan.
“Cak, gue minta maaf sama lo kalo gue ada salah sama lo. Tapi gue mohon, keluar. Gue nggak suka lo kayak gini!” bujuk Oik lagi. “Oke, mungkin lo nggak mau ngomong sekarang. Gue akan ngasih waktu sampe besok. Kalo sampe besok lo juga nggak ngasih kabar ke gue, gue nggak akan segan manggil orang-orang di komplek ini buat dobrak pintu rumah lo!” lanjut wanita itu mengancam, lalu meninggalkan rumah itu.

Namun tanpa ia sadari, ada seseorang yang sejak tadi mengamatinya dari dalam rumah besar itu. Sesosok pria bertubuh tinggi, dengan raut wajah pucat dan tirus, juga mata yang memerah. Kepalanya tersandar di dekat jendela. Tangannya yang kurus dan dingin, memegang erat dadanya yang terasa sesak. Air matanya menetes. Nanar mengamati seorang wanita yang kini berusaha memanjat gerbang yang tinggi.
Sosok itu menundukkan kepalanya. “Maafin gue, Ik. Maaf banget.  Bukan maksud gue untuk ngerusak persahabatn kita. Gue cuma nggak mau lo terlibat. Maaf Ik, ” lirihnya. Mencengkram erat sebuah kertas dan juga jam tangan hitam yang ada di dekatnya, dan memejamkan matanya. Berharap hari itu segera berlalu.


Jangan berakhir, ku ingin sebentar lagi,
Satu jam saja…..
Izinkan aku merasa, rasa itu pernah ada….


                Semuanya kembali berputar di hadapanku. Kejadian yang sudah lama sekali terjadi.  Aku masih ingat hari itu. Hari Rabu, tanggal 7 Juli tahun 2004. Saat itu, aku masih berumur 10 tahun. Dan akan berulang tahun yang ke 11 pada tanggal 11 Agustus nanti.
                Aku dan ibuku, sedang duduk di bangku ruang tunggu sebuah rumah sakit. Seharusnya aku tahu, bahwa hari itu akan menjadi hari terburuk untukku. Tapi, aku tidak mengerti. Dan tetap duduk diam sampai seorang dokter menghampiriku dan ibuku. Dan tetap menunggu di ruang tunggu saat ibuku bilang, kalau aku harus menunggu disana.

                Awalnya, aku kesepian. Karena, setengah jam ibuku berada di dalam, sedangkan aku, hanya di temani perasaan yang entah aku tak tahu bagaimana cara menggambarkannya. Sampai akhirnya, seorang wanita dengan rambut di kuncir dua, datang menghampiriku dengan tiba-tiba. Di tangannya, terdapat dua buah sandwich yang salah satunya di berikan kepadaku. Aku menerimanya dengan senang hati.

                “Siapa namamu?” tanyanya.
                “Cakka,” jawabku sambil terus mengunyah. “Kau sendiri?”
                “Oik Cahya Ramadlani. Panggil aku Oik.”
                “Nama yang bagus.”
                “Terima kasih.”

                Dan dari sanalah, aku mengenalnya. Oik Cahya Ramadlani. Seorang wanita keturunan Jawa yang cuek, berani, polos dan setia. Tipe teman yang dapat diandalkan. Bahkan saat aku akan melaksanakan operasiku yang pertama. Dia ada dan selalu ada di sampingku. Padahal, hari itu hari ulang tahunnya yang ke 13.
                “Lo udah siap?” tanyanya sambil mengiris kue ulang tahunnya.
                Aku mengangguk. “Lo sendiri?”
                “Apa?”
                “Siap kalo tiba-tiba ada sesuatu terjadi sama gue?”
                “Heh, Cakka Nuraga! Sekali lagi lo ngomong macem-macem, gue lempar lilin lo,” ancamnya.
                Aku terkekeh. “Gimana kalo kuenya aja? Kayaknya lebih enak.”
                Oik mendelik.

                Yah, Oik memang bukan hanya sahabat untukku. Ia sudah seperti kakakku sendiri. Meski terkadang, aku juga menganggapnya seperti adikku sendiri akibat tingkahnya yang suka kekanak-kanakkan.
                Setelah operasiku yang pertama, aku pikir, segalanya akan berubah menjadi lebih baik. Tapi, pikiranku salah. Dokter menyatakan, kalau tumor ganas yang menyerang otakku justru bertambah parah, karna kini sudah menyerang bagian vital otak itu sendiri. Pilihannya ada dua. Operasi dengan kemungkinan hidup 10% dan juga kelumpuhan mental, atau hidup untuk tiga tahun kedepan. Dan aku juga ibuku sepakat, untuk memilih yang kedua. Setidaknya, tiga tahun cukup untuk membayar semuanya.

                Dan Oik tidak pernah mengatahui hal ini. Bahkan hingga saat ini.



Jangan berakhir, karna esok tak kan lagi….
Satu jam saja….
Hingga ku rasa bahgia, mengakhiri segalanya.


                Suara ramai dari depan rumahnya membangunkan Cakka yang tertidur lelap. Bukan di atas kasur, melainkan di atas lantai kamarnya.
                Ia berusaha bangkit. Namun rasa sakit di kepalanya, membuatnya jatuh kembali. Terpaksa ia harus merangkak ke jendela  untuk melihat apa yang terjadi.  Dan disana, belasan warga tengah berusaha untuk membuka pintu gerbang rumahnya. Dan di tengah-tengah kerumunan itu, tampak pula Oik. Wanita itu ternyata memenuhi janjinya untuk memanggil para warga apabila ia tidak memeberi tahunya apa yang terjadi.

                Dan ini berarti sudah semalaman Cakka tertidur di lantai. Ya Tuhan, batin pria itu.
                Kini, kerumunan para warga itu sudah berhasil memasuki halaman depan rumahnya. Sudah mulai pula terdengar ketukan dari arah pintu depan. Disusul dengan dentuman-dentuman keras, yang sepertinya itu berarti mereka sedang mencoba mendobrak pintu tersebut.

                Tak lama setelahnya, terdengar suara Oik. Jelas sekali. Dan semakin lama semakin dekat. Sementara Keanu semakin tidak kuat untuk menahan kepalanya yang semakin terasa sakit.
                “Cakka!!” teriak Oik lagi. Suara itu kini terdengar dari depan kamarnya.
                Dan karna pria itu lupa mengunci pintu kamarnya, terpaksa ia harus melanggar janji pada dirinya sendiri untuk tidak memberitahukan pada Oik apapun yang terjadi.

                “Ya Tuhan, Cakka!” jerit Oik lalu menghampiri sahabatnya, yang tergeletak lemah di lantai.
                “Cak, lo kenapa jadi kayak gini Cak? Plis, bertahan Ke, gue janji akan bawa lo ke rumah sakit,” ujar Oik berusaha memapah tubuh Cakka, dibantu dengan warga yang lain.

                “Ik,” gumam Cakka lirih di telinga Oik.
                “Ya, Cak?”
                “Maafin gue. Gue… bukan sahabat yang… baik buat lo. Gue… nggak bisa… jagain lo, lebih lama lagi,” kata pria itu terbata-bata.
                “Tolong ya, Cak. Lo jangan ngomong macem-macem. Lo akan selamat, dan gue janji akan nyelametin lo.” Oik berusaha menahan air matanya.
                Sementara Cakka, kembali menundukkan kepalanya, dan segalanya berubah menjadi gelap.



Tapi kini tak mungkin lagi, katamu semua sudah tak berarti,
Satu jam saja….
Itu pun tak mungkin, tak mungkin lagi….


                Tubuh Cakka sangat lemah saat ku temukan. Wajahnya pucat dan bibirnya kering. Badannya juga kurus. Matanya sedikit sembab dan merah akibat menangis. Entah karna apa. Tapi yang jelas, menurut dokter, Cakka bisa dipastikan belum makan selama tiga hari terakhir ini.
                Ya Tuhan. Kalau saja aku tau apa yang terjadi dengan Cakka sebenarnya, tidak perlu menunggu hari ini aku mendobrak pintu rumahnya.

                Bi Nah datang dengan tergopoh-gopoh saat dokter baru saja menjelaskan apa keluhan Keanu kepadaku. Dan tanpa basa-basi kulancarkan ribuan pertanyaan padanya. Dan jawabannya, membuatku tercengang.

                Semenjak hari ulang tahunnya, Cakka sudah tau kalau penyakitnya akan kambuh dan malah semakin bertambah parah. Maka dari itu, saat itu juga, ia menyuruh Bi Nah dan Mang Ujang untuk pulang kembali ke kampungnya. Sudah berakli-kali Bi Nah bertanya apa masalahnya, tapi Cakka hanya menjawab kalau semua baik-baik saja dan ia sedang ingin sendiri.
                Tapi karena rasa sayangnya pada Cakka yang sudah ia anggap seperti anak sendiri, Bi Nah menyewa sebuah rumah yang tidak jauh dari rumah tuan mudanya untuk mengawasi apa yang terjadi.
                Dan esoknya, ia melihat Cakka menjual mobil Chevrolet putih kesayangannya. Ini membuat Bi Nah semakin penasaran. Hingga akhirnya ia melihat, tuan mudanya keluar dari sebuah rumah sakit dengan membawa secarik kertas, dan jugu lusinan obat di dalam kantung plastiknya.

                Dari sini Bi Nah ingat, kalau tuan mudanya itu mengidap penyakit tumor ganas, dan ingin menyelesaikan masalahnya sendiri.
                “…mungkin,” kata Bi Nah di akhir ceritanya.
                “Termasuk Tante Melissa? Apa dia tau hal ini?” tanyaku masih tidak percaya.
                “Kalau nyonya, saya nggak tau non. Tapi pas den Cakka ulang tahun, nyonya sempet nelpon dari Belanda buat ngucapin selamat ulang tahun. Selebihnya saya nggak tau.”

                Seorang suster tiba-tiba saja datang menghampiri kami tepat saat aku akan bertanya lebih jauh. Tapi berhubung aku ingat, aku sedang ingin melihat keadaan Cakka, terpaksa ku simpan dulu pertanyaan itu, dan langsung masuk ke ruang ICU tempat Keanu di rawat saat ini.

                Bau alkohol memenuhi ruangan saat aku masuk. Dan pemandangan seorang pria dengan selang oksigen dan infus darahnya menggetarkan hatiku. Saat itu juga air mataku tumpah.
                Aku mengenalnya sangat baik. Sosok pria yang sabar, tabah, dan dewasa. Sosok yang selalu ada saat aku butuh bantuan. Selalu mendampingi aku saat aku kesusahan. Dan selalu memberikan dukungannya saat aku terpojok.
                Aku salah kalau aku bilang aku adalah sahabat yang baik. Karena pada akhirnya, aku tidak tau apa yang terjadi pada sahabatku sendiri. Dan karna pada akhirnya, ia tidak percaya padaku. Ia tidak mau berbagi masalahnya padaku.

                “Ya Tuhan,” lirihku. “Ku mohon selamatkan Cakka. Aku mohon,” tambahku dan mulai terisak. Namun tangisanku berhenti saat itu juga, kala melihat tangan Keanu mulai bergerak dan matanya mulai terbuka. Ia mentapaku.
                “Ik,” ujarnya.
                Aku mengangguk.

                “Apa gue… sahabat yang baik?” tanyanya.
                Aku mengangguk lagi. Benar-benar tak mampu mengucapkan apapun.
                “Apa gue… menurut lo… udah maksimal ngejagain lo?” tanyanya lagi.
                Aku menghapus air mataku, menguatkan hatiku, dan menjawab pertanyaannya. “Ya, lo udah ngejagain gue dengan baik, Cak. Lo selalu ada buat gue. Lo selalu mau nolongin gue. Lo selalu mau menawarkan diri lo untuk jadi yang pertama saat gue butuh temen. Dan lo, bener-bener sahabat yang baik, Cak.”

                Ku lihat wajah Cakka tersenyum. “Kalo gitu, apa lo siap?”            
                “Apa?”
                “Siap kalo tiba-tiba… ada sesuatu yang terjadi sama gue?”
                Air mataku tumpah. Aku menunduk.
                “Ik, nggak selamanya gue akan jagain lo. Ada saatnya… dimana lo harus berdiri sendiri. Dan gue yakin… lo akan mendapatkan banyak sahabat yang jauh… lebih baik daripada gue.”
                “Tapi, Cak. Lo… mau kemana?” tanyaku. Ku dengar suaraku bergetar saat aku mengucapkannya.

                “Gue nggak akan kemana-mana, Ik. Selama lo inget gue… gue akan selalu ada… di hati lo.” Cakka menenangkanku.
                Bodoh. Pada saat seperti ini seharusnya aku yang menenangkannya.     
                “Janji ya?” tanyaku seperti anak kecil menagih janji untuk di belikan lollipop.
                Cakka mengangguk. “Asal… lo juga mau janji sama gue.”
                “Hm?”
                “Jangan… pernah lupain gue…. Dan ingatlah terus… kalau pernah ada… seorang Cakka Nuraga… yang pernah jadi… sahabat lo,” katanya. Suaranya semakin terdengar berat.
                Aku mengangguk. “Janji.”
                Ia tersenyum. Menarik tubuhku yang sejak tadi gemetar, dan memeluknya.

                “Bi Nah, makasih ya… udah mau jadi… Ibu buat Cakka… selama Mama sama Papa di Amsterdam,” ucapnya di balik bahuku. Dapat ku rasakan Bi Nah tersenyum dan mengangguk.
                Ia kembali berpaling kepadaku. “Ik, makasih ya… udah jadi… sahabat gue. Lo… yang terbaik,” katanya sambil tetap memelukku.
                Aku merendahkan tubuhku untuk balas memeluknya. “Sama-sama, Cak. Makasih juga untuk selama ini,” balasku. Air mataku memebanjiri bahunya.
                Cakka memepererat pelukannya. Tangannya yang kurus membelai lembut rambutku. Hingga akhirnya, aku merasakan pelukannya melemah, dan wajahnya terasa dingin. Suara hembusan nafasnya sudah mulai menghilang.

                Saat itu juga aku tau. Cakka, sudah pergi.
                “Den Cakka!” teriak Bi Nah di belakangku saat tau garis-garis pemancar jantung di monitor sudah bergerak lurus. Ia lalu berlari keluar ruangan. Entah untuk mencari suster atau apa.
                Tapi yang jelas, tubuhku sudah begitu lemah saat ini untuk berteriak. Dan yang kubisa lakukan saat ini hanya memeluk Cakka seerat yang aku bisa. Sahabatku, Cakka. Dia pergi.

Selamat jalan Cak. Gue janji nggak akan ngelupain lo. Dan akan selalu inget kalau pernah ada seorang Cakka Nuraga di dalam hidup gue. Gue janji. Tidur yang tenang ya, Cak. Gue sayang sama lo.



Jangan berakhir, ku ingin sebentar lagi….
Satu jam saja…..
Izinkan aku merasa, rasa itu pernah ada….

****

Ik, makasih ya...
Jam tangan hadiah lo itu bagus banget
Gue sadar gue emang nggak pernah ngasih tau lo apapun
tentang penyakit ini.
Bukan karena gue egois
Tapi karena gue takut ngeliat lo sedih
Maaf ya...
Satu hal lagi.
Gue pengen lo tau apa alasan gue nggak pernah mau memakai jam
Karena gue takut, melihat waktu yang seakan sedang mengejar gue
Karena selama ini, gue mau selalu ada di samping lo
Tanpa ada ketakutan apapun...

CINTAKU YANG SESUNGGUHNYA (Cerpen by Ira Siti Kulsum)

Oik terus berjalan tanpa arah sambil terus menggerutu. Sesekali dia menyepak batu-batu kerikil yang dia anggap menghalangi jalannya. Tas sekolahnya dia tinggalkan saja di kelas. Toh pulang sedikit telat tidak masalah, pikirnya. Karena kakak sepupunya yang biasanya khawatir jika dia pulang telat, pasti tidak akan mencarinya. Dia kan sedang sibuk dengan pacar barunya. Jika mengingat-ingat tentang pacar baru kakaknya, Oik makin merasa kesal. Itu artinya kakaknya pasti tidak akan perhatian dan sayang padanya lagi seperti saat masih jomblo dulu. Padahal di dunia ini cuma Rio seoranglah yang disukai, disayangi, dan mungkin saja dicintai oleh Oik. Tapi Rio malah jadian sama sang ketua Cheerleaders sekolah, si cantik Ify.
"Uhh, sebal sebal!" Entah sudah berapa kali Oik mengucapkan kata itu. Seperti mantra yang dikomat kamitkan agar Rio bisa putus dengan Ify dan hanya menjadi milik Oik seorang. Egois memang. Tapi bagaimanapun Rio adalah orang terdekatnya. Ayahnya selalu bepergian keluar negeri menjalankan bisnis dan hanya meninggalkannya berdua saja dengan Rio. Jika Oik sudah tidak perhatian lagi padanya, kepada siapa Oik akan berkeluh kesah dan bermanja-manja?

Wajahnya masih terus menekuk sebal. Belum lagi rona merah karena menahan marah. Rasanya ingin sekali mengacak-acak rambutnya sendiri. Oik belum pernah merasa sekesal ini seumur hidupnya. Seumur hidupnya? Tentu saja.


Walaupun sejak kecil dirinya yang lemah sering mendapat kesulitan dan sering diganggu oleh anak-anak nakal yang suka merebut permen dan makan siangnya, Rio selalu ada untuk menolongnya dan menjaganya. Sehingga Oik tidak pernah merasa kesal, marah, sebal, ataupun takut. Karena Rio pasti akan selalu ada untuknya. Rio itu mirip dengan tokoh pahlawan di anime-anime yang sering ditontonnya saat masih kecil.


Tapi kalau masalahnya seperti ini bagaimana? Rio pacaran dengan Ify. Oik merasa kesal karena hal itu. Jadi kepada siapa Oik harus mengadu? Kepada Rio? Tentu saja jawabannya adalah TIDAK.


Alhasil, Oik harus menyimpan rasa kesalnya untuk dirinya sendiri.


"Aaa, kenapa kak Rio lebih milih kak Ify daripada diriku?" rutuknya.


Oik cemberut. Perasaannya telah bercampur aduk. Mau marah, nangis, guling-guling di tanah sangkin sebalnya. Tapi yang akhirnya dia lakukan adalah mencabuti rumput-rumput liar tak bersalah tempat dia duduk sekarang ini. Dia tidak peduli lagi dengan seragamnya yang akan kotor. Dia benar-benar sudah tidak peduli lagi dengan apapun. Rio sudah direbut orang lain. Dan dia merasa kehilangan semangat hidupnya karena hal itu.
"Apa salah rumput itu sehingga kau mencabutinya?" Sebelumnya Oik menyukai suasana di taman samping sekolah yang sunyi dan jarang didatangi oleh siswa lain. Jadinya dia bisa menumpahkan kekesalannya disini. Tapi ternyata dia tidak sendirian. Suara barusan dia anggap telah mengganggu keinginannya untuk menyendiri. Dan ini membuat Oik semakin merasa kesal.Oik tidak mau menjawab pertanyaan orang itu. Mungkin saja jika Oik tidak menanggapinya, orang itu akan pergi.
"Hey! Jangan dicabuti lagi rumputnya," cegah orang itu sambil menarik tangan Oik agar menjauh dari rumput-rumput tersebut. Oik memandang orang itu dengan tatapan manusia paling menyedihkan sedunia. Wajahnya yang sendu dan matanya yang berkaca-kaca membuat orang itu mengernyitkan alisnya. Dia kemudian melepaskan tangan Oik.
"Kau ini kenapa?" tanya orang itu lembut. Oik mulai menangis. Sedikit demi sedikit air matanya mulai bercucuran. Tingkahnya mirip sekali seperti anak kecil yang tidak dibelikan permen. Orang itu makin bingung menghadapi Oik. Dia ingin menenangkan Oik, namun tidak tahu bagaimana caranya. Tentu saja menawarkan permen yang ada di sakunya bukanlah cara yang tepat.
"Kakakku p-pa..caran sa-ma o..orang lain," kata Oik di sela-sela tangisnya.
"Lalu kenapa kau sedih? Bukankah seharusnya kau senang kalau Kakakmu punya pacar?" tanya orang itu. Tangis Oik makin pecah. Sekarang tingkahnya mirip dengan anak kecil yang pesta ulang tahunnya gagal dirayakan.
  Orang itu hanya bisa garuk-garuk kepala. Dia tidak kenal dengan Oik. Jadi tidak mungkin baginya untuk memberikan sebuah pelukan yang akan menenangkan Oik. Akhirnya dia hanya diam saja sambil menunggu Oik berhenti menangis. Entah apa yang membuatnya penasaran ingin mendengarkan curahan hati Oik.
"Kau tidak mau cerita?" tanya orang itu lagi. Oik menghapus air matanya,
"Kenapa aku harus cerita padamu? Aku kan tidak mengenalmu?" Orang itu hanya menghela nafas,
"Kau tidak kenal aku?" Oik menggelengkan kepalanya.
"Aku ini Cakka." Akhirnya orang itu memperkenalkan dirinya kepada Oik.
"C-Cakka?Cakka Kawekas Nuraga?"
"Kau bilang kau tidak mengenalku."
"Memang tidak. Aku hanya tahu namamu. Itu juga karena teman-temanku yang sering menyebut-nyebut namamu," jelas Oik.
"Bagaimana bisa kau tidak tahu dengan siswa yang paling tampan se-SMA Icil ini?" tanya Cakka sambil menunjuk dirinya.
"Bagiku, siswa yang paling tampan se-SMA Icil adalah kak Mario Stevano Aditya Haling!" protes Oik. Cakka bengong. Baru kali ini ada seorang gadis yang terang-terangan tidak mengakui ketampanan Cakka. Dia malah lebih memilih Rio yang merupakan rivalnya dari segi tampang daripada dirinya.
"Oh. Jadi kau ini adiknya Rio?"
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Oik polos. Cakka menepuk jidatnya. Padahal jelas sekali tadi dia memanggil Rio dengan sebutan Kak Rio.
Cakka bangkit dari duduknya dan berniat untuk pergi. Namun langkahnya terhenti saat Oik menarik tangannya.
"Jangan pergi," pintanya.
"Memangnya kenapa?" tanya Cakka heran.
"Bukannya tadi kau menyuruhku untuk cerita?" jawab Oik.
"Bukannya tadi kau bilang tidak mau cerita pada orang yang tidak kau kenal?" balas Cakka.
"Tapi kita kan sudah berkenalan. Kau juga kenal dengan kakakku. Jadi aku bisa bercerita padamu." Cakka benar-benar bingung melihat gadis ini. 'Polos sekali,' pikirnya.Cakka kembali duduk menuruti permintaan Oik.
"Jadi?" tanya Cakka.
"Aku tidak suka kak Rio punya pacar."
"Kenapa?"
"Karena aku suka padanya. Kalau Kak Rio punya pacar, pasti Kak Rio tidak akan sayang dan peduli padaku lagi. Makanya aku tidak suka."
"Kau suka pada Kakakmu?"
"Iya."
"Begini Oik. Aku yakin Rio tidak akan lupa padamu. Bagaimanapun kau ini adiknya. Dan kau juga tidak boleh menyukai Rio lebih dari seorang kakak. Dia berhak punya pacar. Karena kau tidak mungkin menjadi pacarnya. Itu tidak boleh," jelas Cakka.
"Kenapa tidak boleh? Lagian kami kan cuma sepupu," protes Oik.
"Tetap saja tidak boleh. Karena mungkin saja apa yang kau rasakan itu hanya kekaguman saja. Bukan benar-benar suka. Sekarang aku ingin bertanya. Apa kau pernah merasa deg-degan saat Rio berada di dekatmu?" Oik menggeleng,
"Tidak."
"Lalu, pernahkah kau merasa malu saat melakukan hal yang konyol di depan Rio?" Oik menggeleng lagi,
"Tidak."
"Apa kau cemburu saat Rio dekat dengan gadis lain?"
"Tentu saja!" Cakka sadar kalau pertanyaannya yang terakhir adalah salah. Dia mencoba mencari pertanyaan lain yang dia yakini Oik akan menjawabnya dengan jawaban tidak.

Cakka nyengir. Dia mendekati Oik dan memperkecil jarak di antara mereka. Oik tersentak saat melihat wajah Cakka yang begitu dekat dengan wajahnya. Oik mencoba mengucapkan sesuatu, tapi tidak bisa. Suaranya tercekat di tenggorokannya.Oik hanya bisa memejamkan matanya saat bibir lembut Cakka mendarat di pipinya. Jantungnya mulai berdebar kencang. Dia juga merasa malu. Pasti ekspresi wajahnya konyol sekali saat ini. Alhasil, rona merah juga menjalar di kulit pipinya.
"Apa kau pernah merasa seperti ini saat dicium oleh Rio?" bisik Cakka di telinga Oik.
"T-Tidak."Cakka kembali ke posisinya semula. Meskipun jarak Cakka sudah tidak sedekat yang tadi, Oik tetap tidak berani menatap matanya.
"Dengan tiga kali menjawab tidak, itu artinya kau tidak benar-benar suka pada Rio. Kau hanya menyukai sosoknya sebagai seorang kakak." Oik memainkan kedua telunjuknya. Cakka benar. Apa yang dirasakan Oik saat berada di dekat Rio berbeda dengan saat dia berada di dekat Cakka.
"Tapi, aku suka sama Kak Rio."Cakka hanya menghela nafas. Entah kenapa dia merasa kalau dirinya harus bisa memberikan penjelasan kepada Oik tentang apa yang dirasakannya kepada Rio itu bukanlah cinta. Tapi bagaimana caranya? Sedangkan di hati gadis ini yang ada hanyalah Rio. 'Aku akan membuat gadis ini menyukaiku,' pikirnya.

.


.


.
.............
"Belum tidur?" tanya Rio saat memasuki kamar Oik.
"Belum bisa tidur," rengek Oik. Dia memang selalu seperti ini saat bicara dengan Rio. Jika sudah begitu, Rio pasti akan luluh dan memenuhi apapun yang diminta Oik.
"Apa ada masalah?" tanya Rio lagi.
"Tentu saja. Sudahlah. Kak Rio putus saja sama Kak Ify," ucap Oik blak-blakan.
"Jadi itu masalahnya. Kita kan sudah pernah membicarakan masalah ini. Ify itu gadis yang baik, dan aku suka padanya."
"Justru itu. Selain baik dia juga cantik dan populer. Dia pasti punya banyak pacar. Aku tidak suka kalau Kak Rio diselingkuhin." Rio tertawa pelan. Baginya perkataan Oik barusan begitu kekanak-kanakan.
"Bagaimana dengan dirimu? Kenapa tidak mencari pacar?" Rio mengalihkan pembicaraan. Rio benar-benar tidak peka. Padahal satu-satunya orang yang diharapkan Oik menjadi pacarnya adalah Rio. Tiba-tiba saja Oik teringat dengan Cakka. Kenapa harus Cakka?
"Ya sudah. Sebaiknya kau tidur. Ini sudah larut. Besok kan kita harus ke sekolah." Rio mengecup kening Oik sebagai ucapan selamat tidur. Oik merasa senang. Tapi dia tidak merasa deg-degan seperti saat Cakka menciumnya. Padahal Rio dan Cakka sama-sama laki-laki. Namun saat-saat bersama mereka berdua terasa begitu berbeda.

'Apa mungkin yang dikatakan Cakka benar?' tanya Oik dalam hati
.
.
.
.
Seminggu kemudian. Oik selalu bertemu dengan Cakka setiap hari di taman samping sekolah. Dan setiap mereka bertemu, pasti Cakka selalu meyakinkan Oik bahwa perasaannya kepada Rio itu bukanlah cinta.
"Masih belum bisa menerima kenyataan?" tanya Cakka.
"Pokoknya aku tetap tidak suka mereka pacaran," jawab Oik.
"Jangan egois seperti itu. Lebih baik kau juga mencari pacar. Jangan bergantung pada kakakmu terus," Cakka menyarankan.
"Mau pacaran dengan siapa? Aku kan sukanya cuma sama Kak Rio." Cakka menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Gadis ini lebih keras kepala dari yang dia duga.
"Tunggu sebentar ya! Aku mau ke toilet."
"Hmm." Cakka tidak bergerak dari tempatnya. Dia merasa heran. Kenapa dirinya mau terus berada disini untuk menunggu Cakka. Biasanya kan gadis-gadis yang selalu menunggunya. Sekarang keadaannya malah berbalik.

Tidak terlalu lama Cakka berkutat dengan pikirannya saat dia melihat Oik berlari ke arahnya sambil menangis. Cakka ingin berdiri menghampirinya. Namun Oik sudah berlutut duluan dan menangis di dada Cakka.


Cakka bingung harus berbuat apa. Ini bukan pertama kalinya dia melihat Oik menangis. Tapi tetap saja dia tidak tahu bagaimana menenangkan Oik saat seperti ini. Cakka mencoba menepuk-nepuk pundak Oik. Tangis Oik makin menjadi dan dia meremas kain seragam Cakka. Sepertinya dia benar-benar sedih.
"Ada apa?" tanya Cakka.
"Ta-di a…aku m-melihat Kak Rio men-cium Kak Ify," ucapnya sambil sesenggukan.
"Bukannya wajar kalau orang yang sedang pacaran itu berciuman?"
"Tapi aku tidak suka!" bentak Oik. Cakka terkejut. Kenapa dia yang harus menjadi pelampiasan amarah Oik? Namun Cakka mencoba untuk tetap bersikap tenang.
"Kau harus bisa menerima kenyataan, Oik. Rio hanya menganggapmu sebagai adik, tidak lebih. Dan kau juga seharusnya bisa membuka hatimu untuk orang lain. Pasti banyak yang mau menjadi pacar dari gadis manis sepertimu," jelas Cakka sambil mengelus lengan Oik.
"T-Tapi siapa?" rengek Oik.
"Apa selama ini tidak cukup jelas?" tanya Cakka.
"Maksudmu?" Oik tidak mengerti maksud dari perkataan Cakka. Cakka terus menatap Oik lembut. Seperti ingin menjelaskan sesuatu kepada Oik melalui matanya. Tapi tetap saja Oik tidak mengerti. Sekarang Oiklah yang tidak peka akan kehadiran Cakka selama ini di sampingnya.

Cakka memperkecil jaraknya dengan Oik. Kali ini, bibir lembutnya mendarat di bibir lembab Oik. Seperti es batu yang berada di bawah terik matahari, Oik meleleh saat saat bibir Cakka menempel dibibirnya.


Oik tidak punya pengalaman dalam urusan seperti ini. Dia sama sekali belum pernah mendapat ciuman di bibir dari seseorang. Orang yang sering memberikan ciuman padanya hanyalah Rio. Itupun kalau tidak di kening, ya di pipi. Maka ini adalah ciuman pertama bagi Oik.Cakka mencium Oik dengan lembut. Oksigen juga ikut-ikutan menuntut untuk dihirup.Cakkapun melepaskan ciumannya. Paru-paru bekerja ekstra, jantung berdegup cepat memompa darah untuk mengalirkan oksigen ke otak agar Oik mampu mencerna kejadian yang baru saja terjadi dengan cepat.


"Aku menyukaimu, Oik," ucap Cakka sambil mengelus pipi merah Oik.


Begitu Oik menyadarinya, dia menolak tubuh Cakka dan mulai berlari meninggalkan Cakka yang mencoba untuk mencegahnya. Namun terlambat.Oik lebih gesit dan berlari tanpa menoleh ke belakang.
"Apa yang kulakukan?" gumam Cakka.
.
.
.
Oik duduk meringkuk di atas kasurnya. Dia ingin menangis, tapi tidak bisa. Kejadian saat Cakka menciumnya terus terngiang-ngiang di pikirannya. Padahal Oik sudah menganggap Cakka seperti kakaknya sendiri. Sosok yang mampu menggantikan Rio sebagai orang yang mau mendengarkan keluh kesahnya saat Rio bukan merupakan orang yang tepat. Tapi apa benar perasaannya terhadap Cakka hanya sebatas sayang kepada seorang kakak? Belum lagi pernyataan suka Cakka terhadapnya. Dengan cara yang seperti itu, jelas sekali kalau dia menganggap Oik bukan sebagai adiknya. Tapi lebih. Oik makin menenggelamkan kepalanya di kedua lututnya. Dia tidak mampu menyatakan apa yang sedang dirasakannya saat ini. Apakah marah, kesal, sedih, atau mungkin senang? Oik tidak tahu pasti. Bahkan suara Riopun tak sanggup menghilangkan kegundahannya.
"Oik kau kenapa?" tanya Rio yang heran melihat kelakuan Oik.
"Kak Rio. Aku sedang bingung," jawabnya.
"Bingung kenapa?"
"Perasaanku. Aneh sekali. Aku sendiri juga tidak tahu apa namanya." Rio tersenyum. Sepertinya adiknya ini sedang jatuh cinta pikirnya. Rio mengelus-elus kepala Oik. Kebiasaannya saat Oik sedang gundah dan membutuhkan nasihatnya.
"Seperti apa rasanya?" tanya Rio
"Deg-degan. Kadang-kadang kesal, tapi sebenarnya senang. Dan juga aku selalu mengingat dia." Meskipun Oik tidak mengatakan siapakah 'dia', Rio sudah tahu kemana tujuan pembicaraan mereka.
"Itu karena kau sedang merindukannya."
"Apa Kak Rio juga begitu kepada Kak Ify?"
"Tentu saja. Percaya atau tidak, memang begitu rasanya jika kau sedang menyukai seseorang. Mengapa tidak mencoba berbicara saja padanya? Siapa tahu dia juga merasakan hal yang sama,"Rio memberikan saran.
"Iya," ucap Oik. Oik memeluk Rio. Sekarang dia sudah tahu bedanya. Mana yang hanya sekedar kagum, dan mana yang benar-benar suka. Akhirnya Oik bisa menyukai laki-laki lain selain kakaknya, Rio.
.
.
.
Cakka berdiri di bawah pohon tempat dia dan Oik biasa bertemu. Hari ini dia berniat untuk minta maaf atas kejadian kemarin. Dia benar-benar menyesal. Bukannya menghibur Oik, dia malah membuatnya makin sedih. Dia juga akan bilang bahwa dia tidak akan memaksakan perasaannya. Sudah lebih dari sejam Cakka menunggu kedatangan Oik. Namun Oik belum muncul juga.

'Dia pasti marah sekali padaku,' pikir Cakka.


Cakka merasa sangat tidak enak hati. Dia berniat untuk mencari Oik ke kelasnya. Bagaimanapun dia harus menyelesaikan masalah ini. Menjadi teman lebih baik daripada tidak sama sekali.


Begitu Cakka beranjak pergi, saat itu juga Oik muncul di belakangnya.
"Cakka!" panggilnya. Cakka langsung menoleh untuk melihat Oik yang sedang berlari ke arahnya. Dia terlihat bahagia. cakka merasa lega karena hal itu. Namun karena sibuk memikirkan Oik yang baik-baik saja, dia tidak sadar bahwa Oik mau melompat dan memeluknya.

BRUUUK
"Aduh, Oik. Sakit tahu!" protes Cakka. Oik hanya tertawa mendengarnya. Dia tidak bangkit dari posisinya yang berada di atas Cakka.

"Terima kasih, Cakka. Sekarang aku sudah tahu bedanya."


Cakka tersenyum mendengarnya. Tapi itu belum menjelaskan tentang perasaan Oik padanya.Cakka meletakkan tangannya di belakang kepala Oik dan menariknya untuk sebuah ciuman. Jika Oik menolaknya, berarti dia tidak menyukai Cakka. Begitulah kesimpulannya.


Namun Oik tidak menolak. Sepertinya misi Cakka membuat Oik berpaling dari Rio kepadanya telah berhasil.
"Aku juga menyukaimu, Cakka." Akhirnya semua berakhir indah.Rio tidak diuber-uber lagi oleh Oik supaya putus dengan Ify. Ify juga sudah bisa merasa lega karena Oik sudah menerimanya sebagai pacar Rio. Cakka juga senang karena bisa mendapatkan Oik. Dan Oik berhasil memberikan kebahagiaan untuk semuanya.



THE END

HE'S NOT MY BEST FRIEND ANYMORE! HE'S MY BOY FRiEND NOW (Cerpen by I'm is ME :p :b)

- POV OF OIK - 

Aku berjalan di sekitar kampus dengan membawa sebuah hadiah sederhana di kedua tanganku akan menuju ke tempat rahasia di mana sahabatku Cakka menungguku. Kami berencana untuk merayakan HUT 1 kami menjadi sahabat hari ini, dia yang mencetuskan ide itu pertama kali. 


"Apa itu Oik? Sebuah bom??" Tiba-tiba ia mengejekku dan tertawa kecil saat aku duduk di sampingnya."Ini bukan bom! Berhenti menggodaku sini!. buka saja jika kau ingin mengetahui apa yang ada didalamnya...." Aku memberinya hadiah sederhana yang kubawa sejak tadi, itu gelang. Aku tahu itu terdengar sederhana tetapi tahukah kalian?, aku menabung hanya untuk membeli hadiah kecil ini. 


"Sweet Terima kasih.. Hadiahku untukmu ada di mobilku. aku akan mengambilnya kau tunggu beberapa saat." Cakka memintaku untuk memakaikan gelang hadiahku di pergelangan tangannya dan aku mengikuti perintah-Nya. Jika aku tidak mengikuti perintah-Nya, aku yakin sekali bahwa dia akan mencubitku di pipi dengan dan memelukku kasar meski ia tidak melakukan itu jika berada dikampus. 


Aku telah mencintai sahabatku sejak hari aku bertemu dia. Dia menjeratku dengan pesona yang menakjubkan, tersenyum hangat, penampilan yang menarik dan mata yang biasa kusebut dengan 'melting killer eyes'. Oh . Aku suka segala sesuatu tentang dia walaupun kami ini bersahabat! Tapi itu tidak mungkin!. Seharusnya aku tidak mencintai sahabatku karibku. selain itu, ia tidak bisa mencintaiku dan itu hatiku berubah cukup rapuh.


"Hei Oik. sadar?" Ia mengayunkan tangan kirinya di depan wajahku, sementara lengan kanannya merangkulku. "Kamu dengar aku kan Ik? Melamun lagi?." Tebaknya. 


"Hah? Apa yang kamu katakan Maaf.? aku sulit berkonsentrasi belakangan ini." Aku meminta maaf sambil tertunduk. 


"Tidak ada. Tak apa." Cakka cemberut seperti anak kecil yang membuatku tersipu. OMG. Mengapa begitu lucu? Aku benci kalau dia menunjukkan wajah innocentnya kepadaku, Aku selalu merasa seperti di surga. Kedengarannya aneh sekali? Tapi aku sungguh-sungguh. 


"OH aku lupa. Ada sesuatu yang ketinggalan dikelasku. Aku akan mengambilnya. Tunggu aku di sini yah." Mataku terbelalak saat aku teringat sesuatu, aku cepat-cepat berlari menuju kelasku. Sementara berlari, aku menabrak seseorang dia Ozy teman sekelasku. 


"Oh maaf ya Zy aku gak sengaja. maaf." aku meminta maaf dan menundukkan kepala. 


"Its OK..Ngomong-ngomong hari ini anniverssary persahabatan kamu dengan Cakka kan? selamat yah... semoga persahabatan kalian terus terjalin." Ozy mengatakan dengan senyum di wajahnya. "Terima kasih." Aku tersenyum padanya. 


- POV OF CAKKA -
 

Aku lelah menunggu sahabatku jadi aku memutuskan untuk menyusulnya. Ketika aku sedang berjalan di koridor kampus, aku melihat Ozy memeluk tOik. 


"Aku harus pergi sekarang." Aku mendengar perkataan Ozy. 


Apa yang mereka lakukan? Apakah Oik suka pada Ozy? Mengapa dia tidak memberitahuku? Apa yang aku pikirkan? Ugh. Mengapa? Aku cemburu melihat mereka! Seharusnya aku datang kemari. AKu Ingin Lari! Lari sekencang-kecangnya ketika aku tahu aku jatuh cinta dengan sahabatku sendiri... ini tidak boleh! 


"Cakka apa yang kau lakukan?!" Aku mendengar suara Oik memanggilku dan mengejarku. Aku berlari dari dia dan mencoba menutupi perasaanku ini. Aku benar-benar cemburu dengan apa yang ku lihat tadi. 


- POV OF OIK - 

 
"Cakka! kenapa kau menghindar dariku?" Aku mengejar sahabatku Cakka , Aku menarik bahunya dan membuatku dekat sekali dengannya. Cakka sepertinya salting... Kamipun terdiam.
 
"Pergi Aku tidak ingin melihat kamu!!" Dia menatapku dengan mata aneh. 
 
* Apakah benar yang ku dengar? Apakah Cakka benar-benar mengatakan "pergi"? WHAAAAAT? Apakah Cakka tidak tahu kalau dia banyak menyakiti hatiku? Ugh. Aku ingin menamparnya di wajah dengan kekuatan penuh semampuku. Apakah dia tidak tahu bahwa aku mencintainya lebih dari seorang sahabat? Apakah dia tidak tahu betapa sulitnya mencintai sahabat seperti dia? Menyebalkan! * 
 
"Pergi kau kira akan menyelesaikan masalah? Kalau ada masalah katakan padaku!" Aku berteriak kepadanya, melepaskan semua rasa sakit yang aku rasakan. Aku berusaha menyembunyikan air mataku dan menjaga mataku agar tidak mengeluarkannya  namun air mataku masih terus bergulir di wajah lemah yang menyedihkan.
 
"Apakah kamu benar-benar ingin tahu alasannya? Alasan bodoh.. yang pada dasarnya dilarang!.."Katanya, aku hanya melihat ke bawah dan menunggu jawabannya ketika aku mendengar sebuah gerakan. Aku menatapnya dengan mata berlinang air mata,merah dan menyadari bahwa Cakka semakin dekat dan dekat denganku. Aku mundur sedikit tapi tetap saja dia terus berjalan ke arahku dan sampai .. BOOM! Aku sengaja terpaku di dinding bangunan dan sayangnya, aku terpojok oleh dia.
 
"Ya, aku ingin. Tahu." Aku mengangguk kepalaku sebagai jawaban. Aku melihat dia meletakkan tangannya di dinding dan menatapku dengan mata yang tajam. Aku benar-benar menggigil dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.
 
"Apakah kau buta atau tuli?" Dia bertanya padaku. "Tentu saja TIDAK!." Mataku terbelalak terkejut.
 
"Benar begitu?".
 "Trus kenapa kau tidak mendengar dan melihat hatiku menjerit setiap kali mendengar namamu?" Cakka mendekatkan wajahnya. wajah kami 5 cm dari masing-masing. Jantungku berdegup begitu cepat. Aku bisa mendengar sesuatu entah dari mana, rasanya seperti; BOOM! BOOM! BOOM!
 
"A-Apa yang kau dan aku-maksudmu?" Aku berkata dengan suara gemetar seolah-olah aku tidak punya tahu tentang apa yang ia katakan beberapa waktu yang lalu.
 
"Kau tidak mengerti Ck Bagaimana mungkin. Aku mengatakannya? Biarkan aku berpikir.."katanya.
 
"Kau sahabatku .. kita ulang tahun nya hari ini dan ku kira ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakan ini 5 kata ajaib AKU CINTA KAMU OIK CAHYA."
 
Apa? Dia mencintaiku? Bisakah ia mengulanginya? Aku tidak bisa .. Aku tidak percaya! Oh tolong.Bangunkan aku! Apakah saya bermimpi atau apa? Apakah dia benar-benar mengatakan kebenaran itu?
 
"Bisakah -.? Bisakah kamu mengulanginya? ." Aku ingin mendengarnya lagi dan membuat Cakka membuktikannya.
 
"I LOVE YOU lebih dari seorang teman TERBAIK UNTUKku...AKU CINTA KAMU .. LEBIH DARI ... sepanjang hidupku.." Cakka mengatakan kepadaku bibirnya mendekati bibirku, aku tidak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba ia melakukan hal yang tidak diinginkan, aku tidak punya pilihan selain untuk menciumnya kembali.
 
Setelah 20 detik ..
 
"Aku -. Aku minta maaf menciummu aku tidak bermaksud .. Tapi .. Ugh Tidak .!" Aku berteriak dengan perasaan kacau.
 
"Aku sungguh-sungguh Oik." Dia mengatakannya sambil tersenyum padaku. "Aku bilang I LOVE YOU dan hal itu benar." katanya.
 
"Kalau begitu kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya?" Aku bertanya-tanya.
 
"Ini karena akua tahu bahwa kita ini hanya sahabat, aku menyimpannya di dalam hatiku dan! Itu menyakitkanku apabila kau mencintai orang lain dan menolakku!aku tahu bahwa kau akan menolakku ! Maaf Oik... selama ini I Just Love you in the sillent. " Dia menarik napas dalam-dalam setelah mengatakan kalimat-kalimat menyentuh, hatiku meleleh.
 
"Aku mencintai orang lain apa maksudmu??"
 
"Lalu apa hubunganmu dengan Ozy." Tanyanya sambil meletakkan tangannya di saku. "Hah Siapa yang bilang??" Kataku.
 
"Aku melihat dia memelukmu sebelumnya dan aku cemburu." Dia menundukkan kepalanya karena malu."Tidak Kau salah Aku juga mencintaimu Cakka!" Aku hendak memegang tangannya ketika ia berkata "Buktikan itu." Aku segera menyeret tangannya dan pergi di depan orang banyak di lapangan meliputi kampus kita.
 
"Apa yang kita lakukan di sini?" Dia bertanya saat ia menyenggol punggungku.
 
"HEI SEMUA! cowok yang menggandeng tanganku ini.. Dia bukan sahabatku lagi!! He's My Boy Friend Now!" Aku mengumumkan di depan orang banyak. Mereka kaget dengan perkataanku.
 
"Aku  sangat mencintaimu Oik... You're my destiny, my one and only future. You're worth living for! Don't leave me or else I'm gonna die." Kata Cakka. OMFG. Wajahku berubah menjadi merah sekarang.
 
"Aku juga mencintaimu Cakka. Nothing's gonna change my love for you."



_the end_

DIA, GUE, LO -MAAF- (Cerpen by Karnia Sita)

berat ku rasa hari ini
masih terdengar di telingaku semua kata
tersadar ku tlah sakiti hatimu
meski bukan maksudku tuk lukai perasaan

*******

terdengar alunan sebuah lagu dengan di iringi petikan gitar yang indah di pojokan ruang aula. ku lihat Cakka yang sedang latihan bernyanyi dengan gitar kesayangannya untuk pentas seni besok, dan kurasa aku pernah mendengar alunan lagu itu, lagu itu sangat familiar di telingaku, dan lagu itu mengingatkan aku dengan sesosok cowok di dalam masa kecilku yang kini pergi meninggalkanku.

semua anak wajib menunjukan bakatnya masing-masing termasuk aku, tapi sampai sekarang aku bingung harus menunjukan bakat apa dalam pentas seni besok.

Rio pacarku mengusulkan kepadaku untuk bernyanyi, Rio bilang suaraku bagus dan indah, tapi tak mungkin, aku terlalu pemalu untuk bernyanyi di hadapan publik. tapi setelah aku fikirkan matang-matang, aku setuju dengan usulan Rio dan aku akan bertekad menyanyikan sebuah lagu untuknya.

*******

keesokan harinya.....

aku datang ke sekolah dengan berpakaian rapi untuk menunjukan bakatku. siswa-siswi yang lain juga sudah siap untuk menunjukan bakatnya, mereka juga sudah rapi dengan gaun-gaun dan jas-jas yang indah. seluruh pelosok sekolah sudah terhias rapi dan terlihat megah dan mewah dari sebelumnya. aku menuju keruangan aula, disana sudah ramai oleh penonton yang akan menonton pentas seni ini untuk siswa-siswi termasuk aku, Cakka dan Rio untuk menunjukan bakat-bakat kita.

karena sangat ramai aku sampai tak sadar Rio sudah berdiri di sampingku, dia menggenggam tanganku erat dan berkata...

"Aku selalu mendukungmu Ik, nanti aku akan menyanyikan sebuah lagu untukmu." kata Rio sambil menatap tajam kedua bola mataku.

"Makasih Yo, aku akan membuat sebuah kejutan untukmu nanti." balasku dengan memeluk Rio erat.

setelah itu aku mencoba untuk latihan di kelas, kelasku juga tak begitu jauh dengan aula. aku melewati lorong koridor kelas Cakka, terdengar lagi alunan lagu itu dengan petikan gitar yang indah, aku mau menghampiri kelasnya, tetapi tiba-tiba Shilla berlari menuju kelas Cakka lalu menyenggolku hingga aku tersungkur jatuh.

"Maaf ya gadis kecil, uuu kasian. HAHA." kata Shilla sambil menertawaiku.

"Kalau mau lari-lari jangan di lorong koridor kelas dong." terdengar suara seorang cowok dari belakang Shilla

"Cakka?!" kataku dan Shilla berbarengan.

"Shil, lain kali kalau mau lari-lari jangan di lorong koridor, kan kasihan tuh Oik sampai jatuh gitu kesenggol kamu." kata Cakka dengan suara lembutnya.

"Iyaiya Cak, maafin aku ya?" kata Shilla merasa bersalah tapi tak mau disalahkan.

tiba-tiba Cakka berjalan kearahku, dia mengulurkan tanganya untuk membantuku berdiri....

"Ayo berdiri, kita harus segera ke aula sebelum nama kita dipanggil." Kata Cakka sambil membantuku berdiri.

aku hanya terdiam dengan sikap Cakka yang baik, tak kusangka Cakka yang disekolah sering dibilang anak misterius itu ternyata baik banget. aku tau sejak kelas 1 SMA Shilla sudah memendam rasa ke Cakka tapi ia tak berani bertemu dengan Cakka karena takut reportasi dia sebagai anak paling cantik di SMA Idola rusak cuma gara-gara ia menyukai anak misterius seperti Cakka, jadi setiap ada acara seperti ini itulah kesempatan Shilla untuk mendekati Cakka, karena orang-orang sibuk dengan dirinya masing-masing.

sampai di aula Rio langsung menarik tanganku. aku kira Rio mau memarahiku kenapa aku bisa bersama Cakka, tapi syukurlah firasatku salah, Rio hanya mau bilang kalau abis ini dia yang akan tampil, dan meminta doa kepadaku agar penampilannya bagus. hufttt aku menarik nafas lega.

"Oke, berikan tepuk tangan yang meriah kepada ananda kita, Ify." kata Bu Ira yang sedang ditugaskan menjadi MC untuk acara kali ini.

prokk...prokk...prokkk.... suara tepuk tangan yang sangat meriah untuk Ify.

"selanjutnya saya akan panggilkan ananda kita, Mario Stevano." kata Bu Ira memanggil nama Rio

"Doain aku ya Ik, aku sayang kamu." kata Rio sebelum naik keatas panggung.

"Iya pasti aku doain kok, aku juga sayang kamu Yo." balasku.

Rio segera menaiki panggung, dan dia tersenyum manis kepadaku yang sedang berdiri di samping panggung.

"Lagu ini aku persembahkan buat seorang cewek yang sekarang lagi singgah dihatiku yaitu Oik." kata Rio sambil menunjuk kearahku.

semua penonton yang datang langsung melihat ke arahku, dan aku tersipu malu.
Rio pun mulai menyanyikan Lagu itu

----------
Akhirnya akhirnya aku temukan
Wajah yang mengalihkan duniaku

Membuat diriku sungguh-sungguh
Tak berhenti mengejar pesonanya
kan ku berikan yang terbaik
tuk membuktikan cinta kepadanya

Dia dia dia cinta yang ku tunggu tunggu tunggu
Dia dia dia lengkapi hidupku
Dia dia dia cinta yang ‘kan mampu mampu mampu
Menemaniku mewarnai hidupku
Dia dia dia…
Dia..

Baiknya putihnya bidadariku
Cantiknya hiasi hari-hariku
Membuat diriku sungguh-sungguh
Tak berhenti mengejar pesonanya
kan ku berikan yang terbaik
tuk membuktikan cinta kepadanya

Dia dia dia cinta yang ku tunggu tunggu tunggu
Dia dia dia lengkapi hidupku
Dia dia dia cinta yang ‘kan mampu mampu mampu
Menemaniku mewarnai hidupku
Dia dia dia cinta yang ku tunggu tunggu tunggu
Dia dia dia lengkapi hidupku
Dia dia dia cinta yang ‘kan mampu mampu mampu
Menemaniku mewarnai hidupku
Dia dia dia...
-----------

"Thank you." kata Rio selesai menyanyikan lagu itu.

semua orang berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah kepada Rio. di belakang panggung aku hanya bisa terbengong dan menahan air mata tanda terharu. Rio cowok yang sangat romantis pikirku sejenak.

setelah Rio, Bu Ira memanggil siswa-siswi yang lain untuk menunjukan bakatnya, mungkin namaku masih lama untuk di panggil jadi aku masih sempat untuk latihan.
tiba-tiba Cakka datang dengan membawa sebuahkotak kecil, aku tak tau apa isi kotak itu tapi sepertinya aku pernah melihat kotak ini. 

"Kamu baru boleh buka kotak ini saat aku menunjukan bakatku nanti, janji?" kata Cakka.

"hah? kotak? eh...hmmm.. iyaiya janji." jawabku dengan nada bingung.

setelah aku mengucapkan kata janji, Cakka langsung pergi meninggalkanku. dan Rio pun datang menghampiriku, Rio seperti kelihatan bingung dengan apa yang aku bawa, pasti dia bertanya-tanya dalam hatinya, kotak apa itu? dari siapa? apa isinya? dll. Rio anaknya emang romantis tapi dia juga termasuk anak yang cepat banget cemburuan.
belum sempat Rio samperin aku, Zevana mantan Rio duluan menghampirinya, sepertinya Zeva ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting kepada Rio, jadi aku biarkan saja mereka mengobrol.

"Sekarang kita panggil ananda Oik Cahya, kepada Oik silahkan naik." Kata Bu Ira memanggil namaku.

Aku pun segera menaiki panggung, dan menunjukan bakatku. sebelum tampil aku berdoa  semoga semuanya lancar. amin

"Aku akan menyanyikan sebuah lagu untuk Rio, ini lagu balasanku untukmu." kataku.
aku pun melai melantunkan lagu itu...

----------
Denganmu sepiku kan berganti
Berganti keindahan
Yang belum pernah kurasa
Kamu gelora di jiwaku
Taklukan keraguan
Dan ketakutan hatiku
Selamat datang cinta di hatiku
Ku sebut hadirmu
Berikan aku cinta rahasia kehidupan
Tanpa engkau cinta aku buta

tanpa kusadari aku bernyanyi dengan meneteskan air mata, entah kenapa bukan Rio yang aku fikirkan tetapi sesosok Cakka yang misterius itu. aku terus bernyanyi, aku sedikit melirik ke arah Rio dan Zeva. tak kusangka Rio memeluk Zeva, membelai rambut Zeva lembut, apakah yang aku liat ini benar? atau hanya mimpi?

Semua mata tertuju padaku, melihat itu semua air mataku tak sanggup lagi untuk di tahan, kurasakan semua orang di ruangan ini adalah setan, tubuhku gemetar, rasanya ingin ku memukuli sesuatu hingga diriku ini merasa puas. di pertengahan lagu aku berhenti bernyanyi dan berlari keluar ruangan untuk menenangkan diriku.

Rio sama sekali tak mengejarku ataupun menenangkanku tetapi ia malah sibuk dengan Zeva dan bercanda tawa, aku masih belum bisa menerima kenyataan ini. Rio, sesosok cowok yang selama ini aku sayang, yang selama ini ada disisiku saat aku menangis seperti ini malah pergi dan bercanda tawa dengan mantanya sendiri. perih hati ini melihat semua itu, rasanya aku tak berguna lagi, tak ada yang sayang sama aku lagi. Rio memang bener-bener tak ingat denganku, tak ingat ia tadi menyanyikan lagu untukku, secepat inikah aku hilang di hatinya? secepat inikah aku kehilangannya? aku bertanya-tanya dalam hatiku.

tiba-tiba Cakka datang, dan memberikan sebuah sapu tangan untukku..

"Hapus air matamu, tak sepantasnya kau menangisi cowok seperti dia." Kata Cakka memberikan sapu tangan itu.

"Makasih Cak, kamu udah buat aku tenang, boleh aku ..... " belum selesai aku berbicara, Cakka memotong pembicaraan itu...

"boleh aku meminjam bahumu, boleh banget Ik." Sambung Cakka, dia tau apa yang mau aku katakan tadi.

bersandarlah tubuhku di bahu Cakka dan tangisku membasahi bajunya. aku jadi merasa tenang, hatiku tak sedikitpun merasa emosi ketika Cakka ada di sebelahku, belum pernah aku merasakan ini sebelumnya saat "masih" bersama Rio, Rio tak bisa menenangkanku seperti ini.
tak lama kemudian, nama Cakka di panggil oleh Bu Ira, aku segera tersadar bahwa aku sedang berada di pelukan Cakka.

"Buka kotak ini saat aku bernyanyi nanti, kamu telah meninggalkan kotak ini tadi di deket panggung." Kata Cakka sebelum ia pergi menuju panggung.

"Iya aku janji, dan maaf aku telah meninggalkannya di deket panggung tadi." jaawabku ke Cakka.

Cakka menaiki panggung, dia tersenyum manis kepadaku. semua penonton bingung sebenarnya apa yang terjadi padaku tadi, kenapa tiba-tiba raut wajahku berubah saat aku melihat Cakka, mungkin sekarang penonton bertanya-tanya.

Cakka mulai memetik senar gitarnya dan mulai bernyanyi....

berat ku rasa hari ini
masih terdengar di telingaku semua kata
tersadar ku tlah sakiti hatimu
meski bukan maksudku tuk lukai perasaan

alunan lagu yang merdu keluar dari mulut Cakka, Cakka melihatku dan memberikan isyarat agar aku membuka kotak itu, aku membukanya dan ........... itu semua foto masa kecilku bersama dengan seorang cowok yang dulu sangat aku sayangi. YA! benar Cakka adalah sahabat kecilku yang dulu sangat aku sayangi, aku menyayanginya.

*flashback on*

"Ik, aku mau nyanyiin lagu buat kamu, sebelum aku pergi meninggalkanmu." Kata Cakka.

"Silahkan Cak." Jawabku sambil tersenyum sedih.

berat ku rasa hari ini
masih terdengar di telingaku semua kata
tersadar ku tlah sakiti hatimu
meski bukan maksudku tuk lukai perasaan

belum sempat Cakka menyelesaikan lagu itu untukku, Ibu Cakka berteriak memanggil Cakka untuk segera naik ke mobil karena mereka sudah ketinggalan pesawat 5 menit yang lalu.

"Ik, ini lagu aku untuk kamu sebagai permohonan maaf karena aku 'akan' ninggalin kamu, kalau kamu kangen aku baca text lagu ini ya." Kata Cakka memberikanku sepucuk surat.

"Makasih Cak, aku pasti akan selalu rindu kepadamu." balasku sambil meneteskan air mata melihat kepergian Cakka.

*flashback off*

Aku ingat lagu yang dinyanyikan Cakka itu, segera aku mengambil microfone yang ada di tangan Bu Ira dan aku menaiki panggung melanjutkan alunan lagu itu.........

kasih maafkanlah aku dan jangan kau membisu
karna kesalahanku, keegoanku
berikanku kesempatan tuk perbaiki semua
karna ku hanya ingin membuatmu bahagia

ku rindukan tawa dan candamu saat ini
yang biasa mengisi hariku, warnai hidupku
ku perlukan cintamu, hadirmu di sini
ku mohon kembalilah padaku seperti dulu

"Cakka kau sahabat lamaku yang selama ini aku cari, dan akhirnya ku menemukanmu kembali, aku sayang kamu Cak." Kataku menatap Cakka tajam.

"Aku yakin kau akan mengetahuinya, aku juga sayang kamu Ik." balas Cakka.

akhirnya Aku dan Cakka berduet menyanyikan lagu buatan Cakka waktu kita masih umur

berat ku rasa hari ini
masih terdengar di telingaku semua kata
tersadar ku tlah sakiti hatimu
meski bukan maksudku tuk lukai perasaan

kasih maafkanlah aku dan jangan kau membisu
karna kesalahanku, keegoanku
berikanku kesempatan tuk perbaiki semua
karna ku hanya ingin membuatmu bahagia

ku rindukan tawa dan candamu saat ini
yang biasa mengisi hariku, warnai hidupku
ku perlukan cintamu, hadirmu di sini
ku mohon kembalilah padaku seperti dulu

setelah selesai bernyanyi, Cakka mendekati ku,  mengecup keningku lembut di depan semua penonton yang hadir termasuk Shilla, Rio dan Zeva.

"Ik, ini lagu aku untuk kamu sebagai permohonan maaf aku karena 'udah' ninggalin kamu dulu." Kata Cakka mengunakan microfone dan membuat ku tersipu malu di hadapan penonton semuanya.

tak bisa ku menahan semua rasa bahagia ini, aku memeluk Cakka erat dan tak peduli semua penonton melihatku memeluk Cakka erat, semua siswa dan siswi yang ada di ruangan itu berseru.....

"CIIIIIIEEEEEEEEE CAKKA OIK!" teriak semua siswa dan siswi, kecuali Shilla, Rio dan Zeva.

"hahahhaha:D" aku dan Cakka hanya bisa tertawa dan malu.

*******

semenjak kejadian itu, aku dan Cakka dikenal dengan "Perfect Couple" kata orang banyak, krena aku yang cantik, dan juga Cakka yang ganteng. kamu juga dikenal dengan pasangan yang sangat romantis. aku sangat suka dengan Cakka, dia enggak terlalu melarangku untuk dekat dengan teman cowokku, dia juga enggak terlalu cemburuan.

Rio dan Zeva sekarang menjadi teman dekatku dan Cakka, aku sudah memaafkan semua kesalahan Rio dulu, emang bener cinta itu gak selamanya memihak ke kita, cinta juga gak harus memiliki.

-The End-
 

Caikers Family Official Blog. Design By: SkinCorner