Kamis, 17 Maret 2011

KAULAH HIDUP DAN MATIKU (Cerpen by Diani)

Kaulah darahku juga nadiku…
Kaulah nafasku juga jantungku…
Engkaulah hatiku dan jiwaku…


Bel tanda istirahat berbunyi,siswa di pulangkan lebih awal dari biasanya karena semua guru ada kepentingan mendadak. Seorang gadis rambutnya sebahu jalan terburu-buru menuju parkiran,kemudian temannya menghampiri.

“Oik mau kemana buru-buru amat sih?”Tanya Agni sambil membarengi langkah Oik.
“Ada kepentingan mendadak nih”jawab Oik sambil terus berjalan.
“Oh….”mereka berdua sampai diparkiran.
“Agni…aku balik dulu ya”pamit Oik yang sudah ada didalam mobilnya.
“Ok hati-hati ya”kata Agni.

Beberapa menit kemudian mobil Oik meninggalkan halaman parkir SMA Kartika,di jalan Oik memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Oik tak mau orang itu menunggu dirinya terlalu lama,sampai akhirnya mobil Oik berhenti di parkiran rumah sakit,kemudian dia berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit hingga langkahnya terhenti diruang C.18.

Dibuka pintu kamar tersebut.

“Maaf ya udah bikin nunggu kamu terlalu lama”kata Oik sambil mendekati orang yang duduk ditempat tidurnya.
“Gpp…kok cepet banget pulangnya ini kan baru jam 9”kata Cakka.
“Katanya para guru ada kepentingan jadi semua siswa dipulangkan lebih awal,dan aku langsung kesini takut kamu kelamaan nunggunya”jelas Oik.


Cakka hanya mengangguk mengerti.
“Tadi dokter bilang aku bisa pulang hari ini”kata Cakka memberi tau Oik. Sementara Oik hanya menanggapi dengan senyuman.
“Senang rasanya akhirnya aku bisa pulang,habis bosen dirumah sakit terus”Cakka tersenyum senang,Oik terdiam dalam hatinya perkataan Cakka barusan malah membuatnya miris.
“Makannya kamu cepet sembuh Kka!” Cakka hanya tersenyum simpul.
“Kita pulang sekarang Ik”kata Cakka yang udah nggak sabar sambil berdiri dari tempat tidurnya.
“Aku bisa jalan sendiri kok”seru Cakka saat Oik mengambil kursi roda untuknya.
“Kamu yakin?”tanya Oik,Cakka hanya mengangguk.
Oik menuntun Cakka menuju mobilnya yang ada ditempat parkir,lalu Oik membuka pintu depan mobilnya dan membantu Cakka masuk. Beberapa saat kemudian mobil Oik sudah meninggalkan parkir rumah sakit.


“Ini kan bukan jalan menuju rumahku…Oik”seru Cakka saat ada ditengah perjalanan pulang.
“Memang bukan kita kerumahku,lagian dirumah kamu kan nggak ada siapa-siapa pembantu kamu lagi pulang kampong kan,kalau pulang kerumahku setidaknya aku bisa merawat kamu”Oik membelai rambut Cakka. Cakka tersenyum pada Oik,itulah yang disukai Cakka dari sosok Oik peduli padanya.


Mereka berdua sampai dirumah Oik,Oik menuntun Cakka menuju rumahnya.
“Kamu bisa tidur disini,ini ruang tidur tamu kebetulan nggak ada yang nempati”jelas Oik sambil membantu Cakka berbaring ditempat tidur.
“Kalau gitu aku keluar dulu ya,sekarang kamu bisa istirahat”ucap Oik.
“Oik….”kata Cakka sambil menahan lengan Oik.
“Apa?”tanya Oik. Cakka menarik Oik kedalam pelukannya.
“Makasih ya untuk semuanya”kata Cakka tulus,Oik balas memeluknya.
“Nggak perlu berterima kasih segala,semua yang ku lakukan ini tulus karena aku bener-bener mencintaimu Cakka,aku nggak mau kehilanganmu”mata Oik mulai berkaca-kaca,segera mungkin ia menghapusnya karena tak mau Cakka melihatnya menangis.



Aku mau hidup denganmu…
Aku mau matipun karenamu…
Aku mau disisa waktuku bersamamu…

Sore hari langit yang tadinya cerah tiba-tiba berubah menjadi mendung,beberapa saat kemudian butiran-butiran air jatuh dari langit membasahi bumi dan bertambah lebat,suara gemuruh petir bersahut-sahutan diluar sana cukup mengerikan memang. Udara diluar cukup dingin sekali,Cakka segera bangkit dari tempat tidurnya karena ia ingin melihat suasana diluar seperti apa,membosankan memang jika cuman tidur-tiduran saja pikirnya.
“Hujan…”guman Cakka yang sudah berdiri dibalkon rumah Oik dilantai atas.
Pemandangan di sekitar tak terlalu jelas dimata Cakka karena tertutupi oleh lebatnya hujan,suara gemuruh petir tak membuatnya gentar.
Cakka menadahkan tangannya ke atas,seketika air hujan membasahi tangannya. Air itu terlalu dingin sampai terasa menusuk jantungnya buru-buru dia menarik tangannya kembali. Angin bertiup kencang.


Oik menuju kamar Cakka yang ada di lantai dua rumahnya sambil membawa makanan dan susu hangat karena dia tau daritadi pagi Cakka belum makan. Oik sampai di lantai atas kebetulan kamar Cakka terbuka dia langsung masuk saja,tapi Cakka tak ada disana.
“Cakka……..”panggil Oik namun tak ada jawaban. Oik keluar dari kamar Cakka di balkon dia melihat sosok lelaki berdiri disana Oik segera menghampiri.
“Kok malah diluar sih,kan udara cukup dingin nggak baik untuk kesehatan kamu”ucap Oik cemas.
“Aku gpp Oik,kamu nggak perlu khawatir kaya gitu”kata Cakka yang merasa dirinya baik-baik saja.
“Ya udah kita masuk dulu yuk,aku udah siapin makanan buat kamu. Daritadi pagi kamu belum makan kan”ajak Oik.
“Ini kamu makan dulu ya” kata Oik  sambil menyerahkan semangkuk bubur.Cakka geleng-geleng kepala tanda nggak mau makan.
“Ayo dimakan  dong,kan sejak tadi pagi kamu belum makan katanya mau sembuh”bujuk Oik.
“Iya aku makan tapi suapin ya”pinta Cakka manja. Dengan senang hati Oik akhirnya nyuapin Cakka ckckck.


Keesokan harinya Cakka membereskan semua pakaiannya yang ada dilemari.
“Kamu mau kemana Cakka?”tanya Oik heran saat melihat Cakka sambil membawa tas ranselnya.
“Hari ini aku mau pulang kerumahku sendiri Oik,lagian para pembokat juga udah balik lagi”jelas Cakka.
“Nggak…jangan hari ini”cegah Oik yang keberatan.
“Disini aku terlalu menyusahin kamu,mending aku pulang saja”.
“Kok gitu ngomongnya,kamu sama sekali nggak nyusahin aku”Oik menahan tangan Cakka.
“Lagian aku juga ingin lihat keadaan rumah seperti apa,besok aku balik kesini kok”bujuk Cakka.
“Ya udah kalau itu mau kamu,biar supir ku yang ngantar kamu pulang”Cakka hanya mengganguk.



Kaulah senyumku juga tawaku…
Kaulah damaiku juga bahagiaku
Engkaulah teduhku…
Tempat ku bernaung…

“Sebentar lagi ulang tahun Oik yang ke 17”kata Cakka sambil melihat kalender yang ada di meja kamarnya.
“Aku harus siapkan kado yang spesial buat Oik,mungkin ini kado terakhir buat kamu sayang”. Cakka segera menganti pakaiannya,beberapa saat kemudian dia sudah siap.
Cakka meminta supirnya untuk mengantarnya ke Mall,dia tak mungkin menyetir mobilnya sendiri dalam keadaan seperti ini.

______Kisah Hidupku________
 ‘Oik Cahya Ramadlani nama yang cukup indah bukan? Sebentar lagi usianya genap 17 tahun saat tanggal 12 Febuari. Dia adalah gadis yang spesial di hatiku,karena dialah aku masih bisa bertahan sampai sekarang ini di tengah kerapuhanku,dia jugalah yang menjadi penyemangat dalam hidupku. Entah sampai kapan aku bisa terus ada disampingnya? Jika boleh memilih aku ingin selalu bersama Oik selamanya tanpa ada kata ‘pisah’.

Kini aku mengidap suatu penyakit…….’Gagal jantung’ penyakit ini membuatku lemah dan putus asa,dan karena penyakit itu juga mama meninggal sesaat setelah aku di lahirkan. Dari kecil aku tak pernah merasakan bagaimana kasih sayang seorang ibu,papalah yang selalu merawat dan membesarkan ku seorang diri. Hingga usiaku beranjak 13 tahun aku harus menerima kenyataan pahit kehilangan seseorang yang berarti di hidupku…yupp papa meninggal karena kecelakaan tepat sehari sebelum ulang tahunku yang ke 13. Kini aku  hidup sebatang kara tapi untunglah masih ada pak Hardy dan bi’ Ellis yang masih setia bekerja dirumahku meskipun papa sudah nggak ada. Walaupun mereka cuman pembantu tapi sudah ku anggap sebagai orang tuaku sendiri.

Saat aku berusia 14 tahun,pagi itu entah kenapa tubuhku terasa lemah jangankan untuk jalan, bangun dari tempat tidur saja sulit bahkan aku mulai sesak nafas. Bi’ Ellis yang melihat keadaanku seperti itu langsung membawaku kerumah sakit.
Aku bener-bener syok saat dokter memberi tau penyakit yang ku derita ini,lengkap sudah penderitaanku kini. Dokter bilang aku hanya bisa bertahan untuk 2 tahun mendatang? Apa 2 tahun berarti aku hidup hanya sampai usia 16 tahun,kecuali jika ada seseorang yang mau mendonorkan jantungnya untukku. Hey…tapi adakah orang yang mau? Bukankan organ jantung yang dimiliki manusia cuman satu,jika di donorkan ke orang lain berarti dia harus siap mati.

Saat itulah sikapku jadi berubah,aku jadi suka menyendiri,pendiam dan selalu di penuhi rasa ketakutan (ketakutan tentang bayangan kematian yang selalu menghantuiku). Tapi setelah aku bertemu dengan Oik gadis cantik,imut dan ceria itu,membuat semangat hidupku kembali lagi dan karena dialah aku bisa bertahan sampai umurku memasuki 18 tahun. Tapi aku tak tau lagi kapan aku bisa terus bertahan,ku serahkan semua pada kuasa-Nya?!.
______End________

“Kira-kira hadiah apa ya yang cocok untuk Oik”kata Cakka sambil memikirkan sebuah kado yang akan dia berikan pada Oik.
“Menurut bapak kado yang cocok untuk Oik apa?”Cakka meminta pendapat pada supirnya.
“Gimana kalau sebuah liontin den”usul supirnya Cakka.
“Boleh juga usulnya”Cakka segera mencari liontin yang cocok untuk Oik,setelah dua jam mencari akhirnya dia menemukan kado yang cocok untuk hadiah ultah Oik.


Aku mau hidup denganmu…
Aku mau matipun karenamu…
Aku mau disisa waktuku bersamamu…

Di kelasnya Oik nggak konsen dengan pelajaran hari ini,entah apa yang ada dipikirannya yang jelas Oik mulai gelisah. Kemudian  bel tanda istirahat berbunyi.
“Oik lu mau kemana?”tanya Agni saat melihat Oik membereskan semua buku matpelnya kemudian mengcangklong tasnya.
“Aku mau pulang Ag”jawab Oik tanpa memandang kearah Agni.
“Kok pulang awal,lu sakit ya?”tanya Agni khawatir,Oik hanya menggeleng.
“Aku lagi nggak siap sama pelajaran hari ini,dari pada ngga konsen mending aku pulang”jelas Oik sambil berjalan meninggalkan kelas.

Didepan pintu gerbang Oik melihat supir Cakka disana,saat melihat Oik dia segera menghampiri.
“Ada apa pak kok kesini?”tanya Oik.
“Saya mau jemput non Oik,bisa ikut bapak sekarang”pintanya.
“Kemana pak?”tanya Oik heran.
“Ke rumah sakit,kemarin penyakit den Cakka kambuh lagi neng”jelasnya singkat.
“Apa kambuh…kok bisa pak?”tanya Oik kaget.
“Iya sehabis mencari kado buat ultah neng Oik kemarin”jelas supir Cakka.
“Kado buat saya? Hmm ya udah kita kerumah sakit sekarang saja pak”ucap Oik khawatir,di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit hati Oik diselimuti rasa gelisah.


Kau yang selalu setia menemaniku…
Meresapkan harumnya cinta dihatiku…
Kau yang menyayangiku setulusnya…

Oik berjalan terus menyusuri lorong-lorong rumah sakit,matanya mulai berkaca-kaca langkahnya terhenti di ruang ICU. Tangannya bergetar saat membuka pintu ruang tersebut,hingga air matanya jatuh membasahi pipinya yang chubby.
“Cakka…..”panggil Oik sambil mendekati Cakka yang terbaring koma,tak ada jawaban.
“Sebentar lagi aku ulang tahun,kita rayain sama-sama ya seperti tahun lalu pasti seru dan menyenangkan”ucap Oik yang seperti berbicara sendiri,tangannya mengenggam erat jemari Cakka.

Oik keluar dari kamar Cakka untuk menemui dokter Lia. Dia berjalan menuju ruang dokter yang menangani Cakka.
“Selamat siang dokter”sapa Oik saat masuk ke ruang dokter Lia.
“Siang juga,ada yang bisa saya bantu? Oh ya silahkan duduk dulu”sapa balik dokter Lia sambil mempersilahkan Oik duduk.
 “Terima kasih dokter”Oik kemudian duduk.
“Bagaimana keadaan Cakka dokter?  Terus kapan dia bisa sadar dari komanya?!”tanya Oik antusias.
“Saya tidak tau kapan dia sadar,lebih baik kamu berdoa saja. Kalau kondisinya sekarang ini jujur saat katakan terus memburuk,Cakka saat ini membutuhkan donor jantung tapi mencari pendonor itu tidak mudah,kalaupun ada  belum tentu cocok”jelas dokter Lia panjang lebar.
“Kalau gitu bagaimana kalau saya saja dokter yang menjadi pendonor untuk Cakka,saya bersedia kok,dan kalau bisa langsung sekarang saja.”kata Oik enteng tanpa berfikir dulu.
“Tidak semudah dan secepat itu Oik,saya juga harus meminta persetujuan dari keluarga kamu,itu pun belum tentu kalau hasilnya nanti cocok,dan kamu tau kan resikonya dari semua itu? Nyawa ”dokter Lia memberikan penjelasan pada Oik.
‘Kalau aku harus meminta persetujuan dulu dari papa mama pasti mereka nggak bakal setuju apalagi kak Dayat’batin Oik.
“Saya tidak perduli dengan resiko itu,yang penting Cakka bisa selamat”paksa Oik.
“Tidak bisa Oik”kata dokter Lia lagi.
“Tolong dokter biarkan saya mengikuti tes itu,saya nggak sanggup jika harus kehilangan dia”kata Oik memelas,dokter Lia yang melihat ketulusan Oik merasa iba.
“Baiklah kamu bisa melakukan tes itu”ucap dokter Lia akhirnya,Oik senang mendengarkannya.
“Terima kasih dokter”kata Oik,kemudian melakukan tes tersebut. Setelah selesai dari ruang labolatorium Oik menuju ruang dokter Lia lagi.
“Hasilnya bisa di lihat besok”terang dokter Lia.
“Kalau gitu saya permisi dulu dokter”Oik keluar dari ruang dokter Lia dan menuju kamar Cakka di ruang ICU.

Sesampainya di dalam Oik mendekati Cakka dan duduk di samping tempat tidurnya,Oik memperhatikan setiap guratan wajah Cakka yang terlihat tenang dan damai,hal itu membuat Oik semakin miris. Diraihnya tangan cowok itu.
“Sebentar lagi kamu bakal sembuh Cakka”kata Oik senang.
“Semoga hasilnya bisa cocok”ucap Oik optimis.

Karena bau alcohol bercampur obat yang memenuhi ruangan ICU membuat kepala Oik pusing dan akhirnya dia tertidur disamping Cakka.
Keesokan harinya suara suster yang memasuki ruangan membangunkan Oik ketiduran sejak tadi malam di ICU.
“Pagi….”sapa suster tersebut pada Oik.
“Pagi juga suster”kata Oik yang masih sedikit mengantuk nyawanya masih melayang belum sepenuhnya kembali.
“Ya ampun jadi sudah semalaman aku ketiduran disini”guman Oik dilihat jam tangannya waktu menunjukkan pukul 6.30 WIB.
“Aku pulang dulu ya sayang,nanti sore aku bakal balik lagi kesini”pamit Oik ke Cakka sambil mencium keningnya. Beberapa saat mobil Oik meninggalkan rumah sakit.


Siang harinya Oik teringat sesuatu…
“Oh ya….aku harus kerumah sakit sekarang juga untuk nemui dokter Lia”kata Oik kemudian dia segera menuju rumah sakit,sesampainya di sana Oik berjalan menuju ruang dokter Lia. Kebetulan dokter Lia ada diruangannya.
“Selamat siang dokter”sapa Oik.
“Siang juga Oik,silahkan duduk”sapa balik dokter Lia sambil mempersilahkannya duduk.
“Gimana hasil tesnya kemarin dokter Lia?”tanya Oik udah nggak sabar. Dokter Lia yang sudah tau maksud kedatangan Oik langsung membuka tumpukan mapnya dan mengambil selembar amplop berwarna coklat dan memberikan pada Oik.
“Ini hasil langsung dari labolatorium dan belum saya buka”jelas dokter Lia sambil menyerahkan amplop yang masih tersegel rapi.
“Tidak ada manupulasi apapun dalam tes itu,asli dari lab nya”Oik menerima amplop itu,dia sudah tak sabar ingin membukanya.
“Terima kasih dokter”kata Oik sambil membukanya…Dan Oik tak percaya setelah melihat hasilnya ‘Tidak Cocok’.

“Apa nggak cocok?”pekik Oik.
“Nggak…nggak mungkin,ini hasilnya pasti salah kan dokter”kata Oik tak percaya.
“Bukan Oik,hasil yang ada di situ memang asli,jantung kamu memang nggak cocok untuk Cakka,selain itu juga nggak ada kecocokan darah antara kamu dan Cakka”jelas dokter Lia.
Oik segera bangkit dari kursinya dan keluar dari ruangan dokter Lia dengan perasaan kecewa dan tak percaya.
“Oik…Oik….”panggil dokter Lia namun Oik tak menjawab apalagi menoleh.

Oik berjalan lunglai menuju keruangan tempat Cakka di rawat,air matanya jatuh bercucuran membasahi pipinya. Tangannya meremas kertas hasil tesnya barusan lalu membuangnya.
Didepan ruang Cakka Oik melihat seorang suster berbicara serius dengan bi’Ellis,Oik segera menghampiri.
“Kenapa bi…”seru Oik saat mendengar bi Ellis dengan suster tersebut membicarakan dirinya.
“Itu…den Cakka udah sadar dan dari tadi memanggil nama neng Oik terus”jelas bi Ellis.
“Udah sadar bi”kata Oik senang.
“Iya sebaiknya neng Oik masuk saja”suruh bi Ellis Oik menurut dan langsung masuk.
Oik mendekati Cakka.
“Cakka…kamu udah sadar”panggil Oik. Cakka menatap kedatangan Oik,dia tersenyum senang karena masih bisa melihat wajah itu. Perlahan tangannya membuka masker oksigen, agar ia lebih mudah berbicara.

“Oo…Oikkkkk….”rintihnya.
“Iya ini aku….Oik”tangan Oik membelai lembut rambut Cakka.
“Selamat ulang tahun ya,maaf mengucapakannya sekarang dan semoga apa yang kamu impikan selama ini bisa tercapai”suaranya Cakka terlihat jelas tidak seperti orang sakit lainnya.
“Kok kamu ngucapinnya sekarang kan ultahku sepuluh hari lagi”kata Oik sambil mengenggam tangan kanan Cakka.
“Karena aku nggak bisa menemani ultahmu seperti tahun lalu,oh ya aku juga udah mempersiapkan kado buat kamu”jelas Cakka,kini ditangan kirinya sudah memegangi sebuah kotak berwarna ungu.
“Nggak…jangan sekarang Cakka ultah ku bukan hari ini”tolak Oik. Cakka tak memperdulikan omongan Oik,dia segera menyerahkan kotak yang ditangannya itu ke Oik.
“Sekarang kamu bisa buka hadiah dari ku”suruh Cakka,Oik menurut.
“Liontin….”kata Oik.
“Kamu pakai ya terus ya liontin ini”kata Cakka,Oik memakainya.
“Hadiah dari kamu bagus banget”kata Oik sambil terisak menahan tangis.
“Kok malah nangis harus kamu senang kan bentar lagi mau ultah yang ke 17,jangan nangis lagi ya karena nanti aku tak kan sanggup lagi untuk menghapusnya”perintah Cakka sambil menghapus air mata Oik dengan tenaga yang masih tersisa.
“Aku senang dan nggak nangis lagi kalau kamu sembuh”Oik mempererat genggamannya.
Perlahan Cakka tertidur lagi bersamaan dengan datarnya garis dimonitor yang menunjukan kalau detak jantungnya sudah tak ada. Cakka pergi untuk selamanya.
“CAKKKKKKKKAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA”teriak Oik sambil memeluk tubuh Cakka yang sudah tek bernyawa.


Aku mau hidup denganmu…
Aku mau hidup denganmu…
Aku mau matipun karenamu…
Aku mau disisa waktuku bersamamu…
Hanya bersamamu….

Setelah kepergian Cakka,akhir-akhir ini Oik lebih sering mengurung diri di dalam kamarnya,saat ini dia tak ingin melakukan apapun. Dia terus saja melamun seperti orang yang  nggak punya semangat hidup.

Dayat masuk ke kamar Oik sambil membawakan makanan untuk adiknya itu,dia miris melihat keadaan adiknya sekarang ini yang berubah menjadi orang pendiam dan pemurung.
“Mau sampai kapan kamu terus kaya gini? Kamu harus bisa terima kenyataan ini,kalau Cakka udah pergi untuk selamanya”jelas Dayat,Oik tak menjawab.
“Oh ya besok kakak mau pergi ke Bali karena ada study tour,kamu baik-baik ya di rumah”ucap Dayat sambil membelai rambut adiknya itu. Kemudian dia segera beranjak dari kamar Oik.

Oik tak henti-hentinya memandangi foto dirinya bersama Cakka.
“Kenapa kamu ninggalin aku sendirian,kamu jahat…Cakka”umpat Oik,dia melihat liontin yang melingkar di lehernya.
“Gara-gara kado sialan ini kamu harus pergi secepat ini”Oik melepas paksa liontin yang melingkar di lehernya,liontin itupun putus.
“AKU BENCI HIDUP INIIIIIIIII………………..”teriak Oik sambil melemparkan liontin tersebut.
“Buat apa aku hidup jika nggak ada kamu lagi di dunia ini…Cakka”kata Oik putus asa,dia melihat pisau buah yang ada di mejanya. Oik segera mengambilnya.
“Tak ada yang bisa pisahkan kita meskipun kau telah tiada kan ku pastikan itu. Ku akan memeluk dan mencium mu di surga”kata Oik sambil mensayatkan pisau itu ke pergelangan tangannya.
“Awww….”rintih Oik menahan rasa perih akibat luka sayatan,darah segar menetes dari pergelangan Oik. Rasa perih itu tak sebanding dengan rasa perih di hatinya saat Cakka pergi untuk selamanya.
Kemudian pandang berubah menjadi gelap di mata Oik,dia pun jatuh pingsan,darah terus mengalir dari pergelangan tangannya.


Kaulah hidupku dan juga matiku…

Hari ini Dayat baru pulang setelah mengikuti study tour ke Bali selama 3 hari.
“Oik……”panggil Dayat namun tak ada jawaban,kebetulan pembantunya lagi pulang kampung jadi dirumahnya hanya ada Oik seorang diri.
“Kemana sih…Oik”guman Dayat karena sudah beberapa kali dia memanggil Oik namun tak ada jawaban. Dia memutuskan untuk ke kamar Oik kebetulan kamarnya juga tidak di kunci jadi Dayat langsung masuk saja.
“Oik kamu di dalam ya”panggil Dayat namun kamar Oik kosong sampai akhirnya….
Dayat menemukan tubuh Oik tergeletak dilantai kamarnya dalam keadaan sudah tak bernyawa di tangan kirinya memegangi secarik kertas,serta luka sayatan di pergelangan tangan Oik dan darah yang sudah mengering. Dayat menyesal karena meninggalkan Oik seorang diri,dan nggak nyangka kalau Oik bakal senekat ini.

Sehari setelah pemakaman Oik. Dayat membaca surat dari Oik yang ditulis untuk dirinya.

To:Kakak ku tersayang.
Maafin Oik ya kak,kalau Oik sudah melakukan hal sebodoh ini.
Setelah kepergian Cakka,aku nggak bisa menerima kalau dia udah nggak ada lagi disampingku lagi,kakak tau kan kalau aku sangat mencintai dia,aku nggak sanggup harus kehilangan Cakka.

Waktu penyakit Cakka kambuh saat itu aku menemui dokter Lia,dokter yang menangani nya untuk melakukan tes,aku ingin mendonorkan jantungku untuk dia walau ku tau kalau bayaran atas semua ini adalah NYAWA,aku mau asal Cakka bisa sembuh. Namun malang tak dapat di halang,ternyata hasil nggak cocok.

Buat apa aku hidup jika udah nggak ada Cakka lagi di sampingku…kak,cintaku hanya untuk dia seorang.
Semoga  aku bisa bahagia di sana ‘Di Alam Keabadian’ selamanya bersama Cakka tanpa ada kata perpisahan lagi.
Dan semoga  juga kakak bisa bahagia bersama dengan wanita yang kakak sayangi.


~~~~~~Selesai~~~~~~~

0 komentar:

Posting Komentar

 

Caikers Family Official Blog. Design By: SkinCorner