Kamis, 17 Maret 2011

KAU CAHAYAKU (Cerpen by Shindy C~LUVers! Cihuy)

Cahaya ..
Pernahkah kamu melihat satu cahaya yang begitu menyilaukan ??
Jika pernah, tolong ceritakan aku.

Pernahkah kamu tersenyum, disaat memandangi indahnya kilau warna pelangi yang dihasilkan biasan air hujan dengan mentari ?
Bila pernah, tolong beritau aku.

+++

Jujur. Sudah sangat lama aku tak pernah bisa melihat semua itu. Ya. Mungkin aku terkesan 'konyol'. Ingin memandangi sesuatu yang bagi orang banyak 'SEPELE'

Well. Andai mereka hidup sepertiku. Hanya gelap. Gelap, dan gelap. Aku terus dan terus hidup dalam kegelapan pekat tanpa setitik cahaya pun.

Lima tahun.
Bayangkan, lima tahun ! hal sesepele tadi bagiku moment yang luar biasa. Berawal dari kecelakan maut yang menimpaku dan kakakku satu-satunya, kak Alvin. Dengan sukses membuatku menjadi anak tunggal kini. Ya, kecelakaan itu merenggut nyawa kakakku yang paling ku hormati dan paling ku sayangi. Bukan hanya itu, mataku pun jadi korban terparah ! saat kecelakaan, mataku terkena pecahan beling yang berasal dari mobil kak Alvin. Alhasil, kornea kedua bola mataku rusak. Dan aku dinyatakan buta. Sungguh naas.

Tetapi, aku tetap bersyukur kepada Yang Maha Kuasa. Walau selalu hidup dalam kegelapan, aku tak pernah merasa gelap. Dua tahun yang lalu aku mulai mengenalnya. Makin lama ia semakin dekat denganku. Menemani dan selalu bisa menghibur hidupku yang sepi. Dialah cahayaku .. dialah penerang dalam kotak pengelihatanku kini.

Sebut saja Cakka Kawekas Nuraga, itulah dia. Cakka begitulah aku sering menyapanya. Ia selalu meluangkan waktu untuk menemaniku. Menceritakan pengalamannya disekolah atau sekedar bercerita hal-hal konyol. entah bagaimana lekuk wajahnya, namun aku yakin dia seorang yang tampan dan menyenangkan tentunya.

+++

''pagi yang cerah'' gumamku pelan.

Kini, aku tengah duduk dibangku taman rumahku. Tentunya, Dengan bantuan bunda aku bisa sampai disini. Yahh. Hanya taman yang sederhana. Dulunya bukan taman melainkan tempatku sering bermain basket dengan kakakku, kak Alvin pastinya.
 
Pagi yang cerah ..
Ku ulangi ucapanku dalam hati. Aku tersenyum sendiri mendengar perkataan itu.
Cerah ? darimana dia tau ?

Haha, pasti semua akan berkata seperti itu. Aku kan buta. Bagaimana bisa mengungkapkan kalimat tadi dengan begitu pede ?? ckck ..

Tapi jika benar-benar ada yang mendengarku dan bertanya seperti tadi, aku punya jawaban sendiri.

Buta. Buta pengelihatan bukan berarti buta hati. Bukan berarti aku juga buta dalam merasakan sesuatu. Ketahuilah Tuhan itu maha adil dengan setiap umatnya. Terkadang disaat seseorang terlihat memiliki banyak kelebihan, pasti ia juga memiliki suatu kekurangan. Dan sebaliknya. Orang sepertiku, yang punya banyak kekurangan, aku yakin masih memiliki satu kelebihan. Aku percaya itu.

Aku bisa merasakan pagi ini cerah, karena aku bisa merasakan tiap helaan nafas yang begitu menyejukkan. Aku bisa merasakan sapaan sinar mentari yang mulai masuk menembus kulitku. Dan aku juga bisa mendengarkan nyanyian ceria dari burung-burung gereja yang menari lues diatas sana. Seperti ingin ikut menyambut kedatangan sang penghangat hari.

+++

'duk..duk..duk..'

Terdengar suara seseorang mendrible bola yang melangkah kearahku.

Cplung ..
Kedengarannya bola tadi dengan mulus berhasil menerobos ring yang ada disebelah kiri taman sederhana ini.

'duk..duk..duk..'
Lagi-lagi ia mendrible bolanya dan berjalan kearahku.

"pagi nona Cahya." Sapanya lembut kepadaku.

Cahya ?
Hanya satu orang didunia ini yang memanggilku seperti itu. Cakka. Tapi ? tapi apa iya ? ini kan hari minggu. Biasanya cakka tak pernah menemui ku saat minggu pagi. Entah mengapa, aku tak pernah bisa tau.

"hei. Nona Cahya ? kamu melamun ?" sapanya lagi seraya duduk disampingku.

"tidak." Jawabku singkat.

"lalu ? mengapa nona Cahya terlihat begitu bingung ?" tanyanya dengan nada yang dibuat-buat. Ya Tuhan ! juka dia orang lain aku sudah menamparnya. Aku tidak terlalu suka dipanggil dengan nama itu. Sungguh.

Cahya ? cahya..cahya ?
Jika di fikir lagi, terdengar sangat lucu bukan ? haha .. nama yang memang tak cocok dengan sosok ku kini ya ?
Cahya berarti cahaya. Tapi aku malah hidup dalam gelap tanpa sentuhan cahaya. Setiap orang yang mengenalku takkan pernah memanggilku Cahya. Yah.. mungkin takut aku merasa tersinggung. Sampai sekarang hanya cakka yang masih sering menggoda dengan memanggilku cahya. Lagipula, namaku Oik Cahya Ramadlani. Jadi orang-orang lebih mengenalku dengan sebutan Oik, bukan Cahya.

"kamu marah ya, karna aku panggil cahya ?"
"maaf deh." Lanjut cakka agak memohon.

Aku tak merespon. Ya. Aku memang gak kesal. Tapi bukan itu yang menjadi permasalahannya. Ada hal lain yang membuatku bimbang.

"Oik. Percayalah. Jika suatu hari nanti nama Cahya akan menjadi nama terindah untukmu. Karna jika hari itu datang seluruh cahaya akan berlomba-lomba menghampiri dan memberikan sinarnya untuk kamu, Ik." Ungkap cakka.

Manis bukan ? sungguh kata-kata yang manis. Darimana ia mendapat kata-kata itu ? aku selalu ingin tau. Tapi ini bukanlah segampang menghafal rumus-rumus matematika atau menghafal alur-alur fotosintesis pada tumbuhan. Ini kehidupan. Ini satu kisah nyata yang tak kan mudah berputar, jika roda kehidupanku tertahan gumpalan lumpur, bukan ?? takkan ada seorang yang akan rela mendonorkan bagian dari matanya untuk orang lain.

"bukan. Bukan itu. Ada hal yang lain. Kenapa kamu kemari ? ini kan hari minggu pagi. Aku tau pasti kamu selalu sibuk setiap minggu pagi." Aku mulai melancarkan pertanyaanku ke cakka. Seperti sedang mengintrogasi seorang penjahat kelas kakap.

"memangnya tidak boleh ?"

"ya boleh saja. Tapi ini terlihat aneh, kamu tau ?"

"haha..ayolah. jangan terlalu difikirkan. Hari ini aku tidak sibuk, jdai aku datang kesini." Ucapnya santai dan kembali mendrible-drible bola basketnya.

'duk..duk..duk'

Beberapa saat berlalu dengan biasa-biasa saja.
Tapi kemudian.
Terdengar sesuatu yang terasa janggal. Ya, sungguh janggal !!

Brukkk.
Tiba-tiba bola basket itu terlempar tepat ke sisi kanan kakiku.
Ada apa ? ini sungguh aneh bagiku. Ya, oke. Walaupun aku tak bisa melihat, tapi setidaknya aku bisa merasakan kalau permainan cakka tak seburuk ini. ia cukup mahir bagiku. Tapi kenapa ?

Tunggu. Tunggu dulu. Aku mendengar satu rintihan kecil disana. Ya. Ditengah-tengah taman ini. siapa ? oh tidak. Itu rintihan kecil Cakka, aku tau itu.

"ada apa ? kamu kenapa ? cakka kamu tidak apa-apa ?" tanyaku dengan nada bicara yang benar-benar panik.

"tidak. Aku tidak apa-apa." Jawabnya terdengar masih menahan sakit.

"jangan berbohong. Aku tau kamu kenapa-napa." Ucapku agak keras dan bangkit dari posisiku.

"sudahlah. Aku Cuma sedikit kesemutan. Ayo masuk." Cakka meraih tanganku dan menuntunku masuk ke dalam rumah.

+++

Kesemutan ? yang benar saja. Apa tidak ada alasan yang lebih baik untuk berbohong ? dia benar-benar payah dalam berbohong. Walaupun pintar, bahkan kata Shilla sepupuku cakka adalah siswa terpopuler yang banyak dikejar-kejar teman-teman perempuan disekolahnya.
Seberuntung itukah aku ?
Tak semua orang bisa berbicara dan dekat dengannya. Tapi, apa cakka mempunyai rasa yang sama denganku ? maksudku, apa dia juga mencintaiku, seperti aku mencintainya ??
Ya. Aku memang mencintainya. Tapi aku juga tau diri untuk tetap menyimpan dan membiarkan rasa itu bertepuk sebelah tangan.

+++

Hari ini. apakah ini hari keberuntunganku ? barusan saja bunda membacakan sepucuk surat disampingku. Katanya itu dari rumah sakit. Ada seseorang yang ingin mendonorkan kornea matanya untukku. Oh Tuhan ! apa roda kehidupanku mulai berputar kembali ? apa semua kisah pahit ini akan menjadi indah pada akhirnya ?

"jadi siapa pendonornya ?" Tanya ku antusias.
". . ." tak ada sepatah katapun yang terlontar dari mulut bundaku itu. Ini benar-benar sangat aneh. Kemarin cakka, sekarang bunda. Apa semua ini ada hubungannya ?

"sudahlah. Kamu tidak perlu tau. Yang penting kamu bisa sembuh." Terdengar ucapan seorang gadis dari arah pintu masuk. Itu shilla, aku kenal suaranya.
"Shilla ?"

"hehe.. sebaiknya aku memberikan selamat bukan kepada sepupuku yang satu ini ?" ucap shilla cengengesan.

"Cakka mana ? kenapa tidak kesini ? ini kan hari rabu. Biasanya ia pasti kesini."

Lagi-lagi tak ada jawaban. Apa yang sebenarnya terjadi ? apa pertanyaanku sesulit itu sehingga tak mampu terjawab ?

"bunda mau kedapur dulu. Shill, temenin oik dulu ya." Pamit bunda dengan langkah makin memudar. Ia terdengar sedikit merintih.

+++

Aku duduk di sofa kamar. Lusa aku akan melakukan operasi pencangkokan kornea itu. Ini seperti mimpi untukku. Aku tak sabar ingin menceritakan semua ke cakka. Dan aku ingin orang yang pertama kulihat adalah dirinya.

Ckkllekk..
Seseorang membuka pintu kamarku pelan.

"Siapa ?" Tanyaku berdiri menghadap arah suara itu.

"oik." Panggilnya pelan. Itu cakka.

"cakka ? kamu kemana saja ? aku punya berita bagus untuk kamu. Lusa aku operasi pencangkokan untuk mata aku. Ada orang yang baik hati, mau mendonorkan korneanya untukku." Ceritaku antusias sekali.
". . ." tak ada respon.

Aku terkejut. Tiba-tiba cakka memelukku erat. Kenapa badannya begitu dingin ?? dingin sekali. Benar-benar dingin.

"cakka kamu kenapa ? badan kamu dingin sekali. Apa kamu sakit ?"

"tidak. Aku tidak apa-apa."

"aku tau kamu menyembunyikan sesuatu. Tolong jangan seperti ini." tegasku.

"hanya satu menit. Tolong tetaplah dalam pelukanku hanya satu menit."

Satu menit ? apa maksudnya ? memangnya ada apa setelah satu menit itu berlalu ? kenapa ?

"aku akan selalu ada untukmu, Oik. Apapun yang akan terjadi nanti. Berjanjilah untuk tetap tersenyum."

Kenapa lagi kali ini ? aku benar-benar bingung. Aku tak tau akan berkata apa, sungguh ! apa cakka juga mencintaiku ? apa karna itu dia mengatakan semua ini ? tunggu. Itu tidak mungkin. Seorang cakka yang sempurna tak mungkin menyukaiku yang hanya gadis buta.

+++

Sejak hari itu, cakka tak pernah kembali. Ia kemana aku tak pernah tau. Tapi kuharap saat mata ini terbuka kembali aku masih sempat melihat sosok yang selalu ada dihatiku itu.

"bagaimana, Ik ? apa kamu siap ? hari ini perban tebal di wajah kamu itu akan segera di lepas." Ucap Shilla yang duduk disampingku.

Ya. Aku memang sudah menjalankan operasi itu satu minggu yang lalu. Operasi dinyatakan berhasil, hanya tinggal menunggu perban tebal ini dibuka.

"aku siap." Ucapku sedikit tak bersemangat.

"kamu kenapa lagi ?" Tanya bunda.

"aneh, bun. Cakka kenapa tidak pernah menjengukku ? saat operasipun ia tak datang. Apa saat ini pun ia tidak akan kemari ?"

"tenang saja. Mungkin dia sedang sibuk. Tapi ia menitipkan salam untukmu." Jelas Shilla.

Benarkah ? wow. Setidaknya ia belum melupakanku.

+++
 
"selamat pagi bu'. Selamat pagi nak Shilla, selamat pagi nak Oik." Sapa seorang dokter menghampiriku dengan suster yang berjalan dibelakangnya.

"pagi dok." Ucap kami kompak.

"bagaimana ? sudah siap untuk membuka perbanmu sekarang, Oik ?" tanya dokter itu ramah.

"iyya dok, saya siap." Ucapku mantap.

Perlahan. Dokter itu membuka satu per satu perekat yang tertempel kuat di gulungan perban-perban yang memenuhi kepalaku. Dan membuka perban yang menjadi pusat keteganganku kini, sungguh.

"nah, sekarang. Coba buka mata kamu perlahan-lahan. Dan kedipkan beberapa kali." Tuntun dokter itu.

Seperti yang dokter itu katakan. Perlahan, ku coba membuka mataku. Ada setitik cahaya yang kulihat disana. Beberapa detik kemudian, cahaya itu membentuk cahaya-cahaya lain. Semakin banyak dan banyak. Ku coba kedipkan mataku, agar mulai terbiasa dengan kotak indra pengelihatan ku kini.
Tuhan. Aku bisa melihat. Semuanya begitu jelas, sungguh semua terlahat indah.

"bun, Oik bisa melihat lagi." Ucapku girang.

"selamat ya, Oik. Akhirnya kamu bisa melihat." Bunda memelukku.

"makasi ya dok." Ucapku kembali.

"ya sudah, kalau begitu saya dan suster permisi dulu."
Ckkllekk.. dokter dan suster itu menghilang dibalik pintu coklat ruanganku.

"selamat ya, Ik." Ucap seorang gadis cantik disebelah bundaku. Terdengar seperti suara Shilla. Itukah Shilla ?? ia sungguh menawan dengan senyum di wajah manisnya. Rambutnya panjang, badannya ramping seperti badan seorang model ternama.

"Shilla ?" ucapku tersenyum.

"lihat, wajah jelek mu di cerminku. Terlihat lucu bukan ? haha." Shilla menaruh cerminnya tepat dihadapanku.
Tadiku ku kira, benar-benar jelek. Tapi, cukup cantiklah. Tidak seburuk yang kubayangkan selama ini.

Wajah manis dengan rambut sebahu, yang mungkin kini cocok bersanding dengannya ??

+++

Sudah dua hari. Mungin cakka benar. Kini nama Cahya benar-benar nama yang cocok untukku. Hidup dengan jutaan, bahkan ratusan ribu cahaya setiap berkedip. Bukankah itu anugerah Tuhan yang luar biasa ?

Tapi kemana ? kemana dia ? aku merindukannya yang selalu mendrible bola basket saat kemari menemuiku. Kemana ? kemana dirimu kini ??

+++

Duk..duk..duk..

Itu suara drible-an bola basket. Tapi itu bukan cakka, aku dan shilla yang sedang bermain bola basket di taman rumahku.

"haha.. ayo, kamu pasti kalah dariku. Menyerahlah." Tawaku saat berhasil merebut bola dari tangan shilla.

Cplung.

Satu angka mutlak untukku. Yeah ! sorak ku gembira. Tapi kenapa ? apa ada yang salah dengan ucapanku ? kenapa shilla berubah menjadi murung ? seperti sedang menyembunyikan sesuatu dariku.

"Oik, aku ingin ada sesuatu yang haru kamu tau." Ucap shilla tiba-tiba.

"katakanlah."

"cakka. Cakka…" shilla menggantungkan kata-katanya sambil menyerahkan sebuah foto dan secarik kertas.

Apa ini ? foto siapa ? dalam foto itu terlihat seorang laki-laki tengah memangku gitarnya dengan gaya cool, keren, dan terlihat sangat tampan. Apa ini….

"ya, itu cakka. Kamu belum pernah melihatnya bukan ?" ucap shilla sedikit gemetar.

Aku hanya mengangguk dan memandangi secarik kertas yang diberikan shilla tadi.

"cakka..cakka..cakka..cakka.. udah pergi. Oik cakka udah meninggal, cakka udah pergi.. oik cakka udah gak ada.. oik.." shilla mengeluarkan semua yang ada dibenaknya. Terlihat matanya yang tadi hanya berkaca-kaca, kini tumpah sudah air matanya.

"kamu main-main kan ?" ucapku tak percaya.

Shilla menggeleng dan terus menangis.

Oh.. tidak.. jangan.. jangan lakukan ini Tuhan..
Aku morosot jatuh, kakiku seperti tak bertulang lagi. Air mataku dengan respon luar biasa langsung menyambar membasahi pipiku dengan kecepatan maksimum.

Dengan segala kekuatanku yang tersisa, ku beranikan membaca secarik kertas di genggamanku.

Dear Oik ..

Hai, nona Cahya ku ?? apakah kamu baik-baik saja ?
Aku benarkan ? sekarang kamu pasti sudah bisa melihat indahnya dunia lagi. Kamu pasti bahagia dengan hadiah aku ini kan ??

Aku tau, umur aku tinggal beberapa hari lagi, maka dari itu aku mendonorkan kornea mataku untukmu. Aku terkena kanker otak stadium akhir, dan sudah dipastikan tidak bisa sembuh.
Di hari-hari terakhirku, aku ingin memberikan sesuatu yang berharga kepadamu. Satu-satunya gadis yang ku sayangi dengan sepenuh hati. Satu-satunya gadis yang aku cintai selama ini.
Maafkan aku, tak bisa menjagamu sampai akhir. Tapi setidaknya aku menitipkan satu cahaya terang ke hidupmu kini.

Jangan menangis.. jangan pernah menangis..
Lewati harimu dengan penuh senyuman ..

'Cakka'

Hatiku serasa dijatuhi beribu-ribu kali lipat dari bom atom. Sungguh. Tubuhku serasa sama sekali tak bertulang lagi. Apa artinya semua cahaya ini, jika satu-satunya cahayaku yang terbesar telah pergi ???

"katakan ! katakan semua ini hanya lelucon, tolong shilla." Ucapku mulai menjatuhkan air mata lagi.

"aku harap begitu. Tapi ini kenyataan. Aku harap kamu bisa tegar." Shilla memelukku erat, mencoba memberikan ku yang terbaik.

"bagaimana ? bagaimana bisa ? cakka..cakka.. cakka.. aku mencintaimu.. sungguh sangat mencintaimu. Bahkan aku belum sempat memberitau nya, shilla." Lirihku.

Bagaimana bisa ?
Bagaimana bisa aku selalu tersenyum, saat apapun terjadi nanti ?
Bagaimana ?
Jika ribuan cahaya yang kulihat kini di tukar dengan kepergianmu,
Beritau aku cara menukarnya kembali..
Beritau aku ..
Beritau ..

*** THE END ***

1 komentar:

Anonim mengatakan...

keren

Poskan Komentar

 

Caikers Family Official Blog. Design By: SkinCorner