Kamis, 17 Maret 2011

JUST THE WAY YOU ARE (Cerpen by Adeline Suriadi *Adeloy*)

Dia selalu begitu, selalu minder, gak pede...
Dia anak yang pendiam, tertutup...
Dia sangat susah untuk bergaul, tetapi bukannya dia sombong...
Satu hal yang aku yakini, dia adalah anak yang baik...

****
Waktu kecil, kami sering bermain bersama, tertawa bersama, bercanda bersama...
Tetapi semuanya berubah, setelah kami berpisah...
Dia harus pergi, karena ada keperluan di Jakarta...
Aku sangat merindukannya, merindukan saat-saat bermain dengannya..
Merindukan masa kecilku, yang kurasa tidak ada beban...
Hari-hariku penuh dengan tawa dan candanya...
Tetapi sekarang? Hanya ada sepi dan hampa...
Tak ada yang bisa menggantikannya...

Tetapi sekarang dia kembali ke kehidupanku, satu sekolah denganku...
Tetapi kenapa? kenapa dia selalu menghindar dariku? Padahal aku mengharapkannya kembali seperti yang dulu...
Tadinya aku senang, saat dia kembali ke hadapanku...
Tetapi sekarang aku malah sedih dan kehilangan dirinya yang dulu...
Yang dapat tertawa lepas, tak ada beban...
Semua sudah hilang, semua sudah berubah..
Apakah aku harus menanyakan hal ini kepadanya? Aku akan mati penasaran jika tidak menanyakannya.
Aku sudah membuat keputusan bulat. Ya! Aku harus menanyakannya hari ini...

****
Pulang sekolah.....

"Oik?" tanyaku saat kelas sudah sepi dan tinggal hanya ada aku dan dia.
"Ya Cakka? Kenapa? aku buru-buru." Oik beranjak pergi, tetapi aku menahannya.
"Kamu oik kan? Teman masa kecilku?"
Oik terlihat kaget, tetapi ia langsung menunduk tanpa berkata apapun.
"Hei Oik, jawablah! kamu temen masa kecilku kan? Tapi kenapa kamu malah suka menghindar dari aku? Aku udah lama pengen ketemu sama kamu! Tapi disaat aku udah ketemu sama lkamu, kamu malah kayak gitu. Kenapa sih? cerita sama aku!" kataku tidak sabar.
"Cakka, kamu ga ngerti apa-apa! aku emang udah gabisa deket lagi sama kamu!"
"Iya tapi kenapa? Harus ada alasan yang kuat!"
Oik pun mulai bercerita sambil terkadang terisak...

****
"Oik?" suara berat itu memanggil.
"Ya, pa?"
"Papa harus ngomong sama kamu, nak."
"Ngomong apa? Ngomong aja...
"Tapi kamu janji ya, kamu jangan sedih."
"Iya pa, tapi kenapa emangnya?"
"Kamu ingat kan, waktu kamu kecil, kamu pernah kecelakaan?"
"Ya, Oik kehabisan banyak darah, dan butuh donor darah."
"Ya Oik, ternyata kamu masih ingat."
"Ya, lalu kenapa?"
"Apakah kamu lupa siapa yang mendonorkan darah ke kamu?"
"Hmm.. Oik ingat sedikir-sedikit, yang mendonorkan darah ke Oik itu..... salah satu perawat disana bukan?"
"Ya, betul, itu karena persediaan darah di rumah sakit telah habis, dan ada 1 perawat disana yang darahnya cocok dengan kamu, dan tanpa diperiksa terlebih dahulu, karena melihat kondisi kamu yang makin parah dan harus segera mendapatkan darah, maka darah perawat itu langsung diambil dan didonorkan ke kamu, tanpa diperiksa terlebih dahulu." Papa sengaja menekankan kalimat terakhir.
"Ya, lalu?"
"Apa kamu tau apa yang terjadi pada kamu setelah itu?"
"Pastinya Oik jadi sembuh dan sampai sekarang Oik masih bisa bernapas."
"Ya, kamu memang jadi sembuh, tetapi........"
"Tetapi?"
"Setelah diselidiki dan diperiksa, ternyata perawat itu terkena.......AIDS."
"M-Maksudnya?"
"Perawat yang mendonorkan darah ke kamu itu terkena penyakit AIDS, penyakit yang mematikan, sehingga darah yang didonorkan ke kamu itu mengandung AIDS dan otomatis....."
"Oik akan terkena AIDS, itu maksudnya?"
"Bukan akan lagi, tetapi sudah, dan sekarang, kamu sedang menjangkit penyakit AIDS."
"A-apa?"
"Maafkan papa, Oik, Papa juga gatau waktu itu..."
Oik segera masuk kamar, menangis...

****
"J-jadi?"
"Ya, cakka, aku sakit AIDS, aku mengidap AIDS! Aku gamau kamu tau! Karena kalo kamu tau aku terkena penyakit AIDS, aku yakin kamu pasti bakal menghindar dari aku!"
Aku pun memeluk Oik.
"Oik, aku ga akan meninggalkanmu, dalam keadaan apapun! Walaupun ternyata kamu sakit AIDS! Itu ga akan ngerubah perasaan aku sama kamu! Aku kangen banget sama kamu!"
"Tapi aku sakit AIDS, cakka, aku bakal mati!"
Aku melepas pelukanku.
"OIK! kamu gak boleh ngomong begitu! Kita harus berusaha oik!"
"T-tapi...."
"Oik, I love you, just the way you are...."
Oik pun menangis sejadi-jadinya dalam pelukanku.

****
4 tahun kemudian...

Sekarang aku sudah kuliah, dan Oik sudah dipanggil oleh Tuhan kemarin malam..
Aku memang sedih, tapi aku sudah berusaha dan dia juga sudah berusaha mempertahankan hidupnya sampai kemarin malam...
Yang aku tau, aku akan selalu ingat padanya karena dia yang telah mengajariku betapa pentingnya hidup ini...
Sebelum dia menghembuskan napasnya yang terakhir, dia berkata kepadaku, bahwa aku harus bisa meraih cita-citaku, dan aku tidak boleh melupakan semua kenangan kami berdua...
"Oik, aku akan selalu ingat padamu!! I love you! Just the way you are!" kataku sambil menengadah menatap langit.

****
Cakka....
Kamu jangan melupakan aku ya...
Aku juga ga akan melupakanmu...
Tidak ada yang dapat menggantikanmu dihatiku..
Karena hanya kamu yang dapat membuatku tertawa disaat aku sedih...
Dan hanya kamu yang dapat membantuku disaat aku susah..
Kamu adalah orang yang paling berarti dalam hidupku..
Kamu yang telah membantuku untuk bertahan hidup lebih lama lagi...
Aku melakukan semuanya untukmu...
Aku akan selalu merindukanmu...
Suatu saat kita pasti akan bertemu kembali...
Dan kita akan hidup bahagia selama-lamanya...
Makasih cakka, karena sudah mau menjadi pelindungku selama ini...
Satu kalimat yang sering kamu katakan, dan akan aku ingat selamanya...
'I love you, Just the way you are..'


THE END

0 komentar:

Posting Komentar

 

Caikers Family Official Blog. Design By: SkinCorner