Kamis, 17 Maret 2011

DIBALIK PENDERITAAN (Cerpen by Fara"dilla"(dilla) nuraga)

OIK’S P.O.V.

Penyiksaan, penghinaan, pengucilan, dan perendahan diri selalu menghampiriku. Tak pernah surut semenjak aku mulai duduk di bangku SMA. Aku yang kecil, rapuh, bodoh, jelek, culun, tidak gaul, pendiam, dan penyakitan selalu menjadi bahan olokan teman-teman. Tidak, mereka bukan temanku. Mereka hanya pengolokku, bukan temanku. Di sekolah aku tidak mempunyai teman. Aku hanya mempunyai guru yang sangat baik padaku, dia bu Ira. Dia perhatian dan selalu memberi semangat padaku. kini aku hanya tinggal sendiri tanpa orang tua. Hanya ada pembantu dan sopir pribadiku. Aku sangat sedih ketika bunda pergi untuk selamanya saat aku kelas 9 SMP. Lalu ayahku menikah lagi dengan wanita lain dan tinggal di kota lain. sedangkan aku di sini sendirian. Tak ada teman, apalagi sahabat. Hanya ada bi inah dan pak yono yang selalu menemaniku ketika aku kesepian.
……………….
Hari ini aku berangkat ke sekolah seperti biasa. Aku selalu berangkat pagi-pagi dan tempat yang aku kunjungi pertama kali adalah lapangan basket. Aku ke lapangan basket untuk melihat kakak cowok kelas 11 yang sering main basket di sini. Mungkin aku menyukainya. Tapi menyadari aku hanya seorang yang terkucil, aku hanya menjadi secret admirernya. Aku melihatnya mengendap-endap di balik tembok yang tak jauh dari lapangan basket. Lapangan basket di sekolah ini tertutup oleh jaring-jaring besi sehingga aku masih bisa melihatnya tanpa ketahuan. Dia terlihat sangat keren saat main basket. Wajahnya yang putih bersinar dan postur tubuhnya yang proporsional membuat semua orang bersimpati padanya. Tak heran ia menjadi idola sekolah. Ia bernama cakka. menurutku ia orang yang sangat cuek dan serius. Jarang sekali aku melihatnya tertawa. Namun dibalik kecuekannya itu, dia adalah orang yang sangat baik. Tapi itu pendapatku.
Aku masih menatapnya. Dan tanpa sadar dia mendekatiku. Aku segera berbalik badan mencoba bersembunyi.  Tapi bunyi sepatu kak cakka terdengar semakin dekat. Dan…….
“hei…sedang apa kau di sini?” tanya seseorang. Aku menoleh ke arahnya dan terperanjat kaget.
“eh…eng..tidak…aku…” aku gugup. Bahkan aku tak sanggup mengatakan apapun. Tapi kak cakka tersenyum manis padaku.
“kamu oik kan? Anak kelas 10 A?” tanya kak cakka. aku mengangguk canggung.
Lagi-lagi kak cakka tersenyum.”aku tau kau sering melihatku main basket bukan?” tanya kak cakka. sedangkan aku hanya tersenyum ragu.
“nggak papa kok…aku tahu kau sering diolok-olok kakak kelas dan juga teman-temanmu kan? Tapi tenang…aku nggak akan berbuat seperti mereka…” kata kak cakka lembut. Aku menundukkan kepalaku.
“sabar ya…aku yakin pasti kau bisa bangkit…percayalah…” kata kak cakka sambil mengelus lembut kepalaku. Aku sendiri kaget kak cakka mengelus kepalaku.
“terima kasih…” ucapku tulus. Lalu kak cakka pergi dari hadapanku. Aku berbalik memutar arah lalu pergi ke kelasku yang ada di dekat lapangan basket. Di perjalanan menuju kelas, aku tersenyum sendiri. Seandainya saja teman-temanku seperti kak cakka. walaupun ia orang yang cuek, setidaknya ia peduli.  
           Sesampainya di kelas, aku duduk di kursi paling belakang. Kelas masih sangat sepi. Hanya ada aku di kelas. seperti biasa aku sibuk membaca buku, buku pelajaran tentunya. Tak lama kemudian, ada seseorang yang masuk ke kelasku.
“eh, si jelek udah berangkat yah…” ledek seseorang itu, yang tak lain adalah Agni. Aku hanya tersenyum dengan paksa. Tapi aku tidak pernah merasa benci padanya, bagiku itu sudah biasa.
                Setengah jam kemudian, kelas sudah ramai. Dan inilah saatnya aku menderita.
“eh bego, ngapain lo duduk di situ? Lo tuh harusnya duduk di bawah!! Lesehan!! Minggir, gue mau duduk di situ!!” kata seorang cowok sambil berkacak pinggang. Aku pun mengambil tasku dan beranjak dari dudukku. Ku pandangi sekeliling. Dan aku menemukan sebuah kursi yang belum di tempati. Aku melangkah menuju kursi yang ada di depan itu, tapi tiba-tiba aku tersandung sesuatu.
“brukk….”
“aduh…” rintihku sembari memegangi lututku. Sedikit memar.
“hahahah…kasihan banget deh lo!! Jalan tuh lihat-lihat dong!!! Asal nyelonong aja!!” bentak seseorang. aku mendongakkan kepalaku ke atas. Dan yah, seperti biasa Ray –adik kak cakka- mengerjaiku bersama 2 temannya, Deva dan Ozy. Mereka memang selalu begitu. Selalu membuatku menderita. Tapi tak apa, itu juga sudah sangat biasa bagiku. Aku berdiri dan berjalan menuju kursi paling depan. Aku memastikan kursi itu tak berpenghuni. Dan memang kursi itu belum ada yang menempati. Aku pun duduk di kursi itu. tak lama kemudian bel masuk berbunyi. Semua berhamburan menuju kursi masing-masing.   
******
                Bel istirahat berbunyi. Bu Ira mengakhiri pelajaran hari ini dengan mengucapkan salam. Setelah itu beliau keluar dari kelas. aku membereskan buku ku lalu memasukkannya ke dalam tas. Kemudian aku mengambil bekal yang ada didalam tas. Ku buka tutup wadah bekal itu dan ku dapati sepotong roti berisi selai coklat. Aku mengambil roti itu dari wadah bekalku tapi seseorang merebut sepotong rotiku.
“ini buat gue aja ya…lo nggak usah makan!!” serobotnya sambil mengambil roti selaiku.
Aku tersenyum tipis,”baiklah ray…itu untukmu saja…” kata ku pasrah. Ku lihat ia menebarkan senyum kemenangan.
“dasar bodoh!!” gumamnya sambil pergi dari hadapanku.  
Aku hanya menggeleng pelan. Lalu aku mengambil buku Matematikaku di dalam tas dan mulai mempelajarinya.
******
                Satu jam sebelum bel pulang berdering, semua ribut karena guru tidak masuk hari ini. Jam terakhir adalah seni musik. Padahal aku sangat menyukai pelajaran itu. tapi berhubung Bu Uci sedang ada urusan, beliau tidak bisa masuk ke kelas. semua anak di kelasku banyak yang mengobrol, membaca komik atau novel dan ada juga yang bermain tebak-tebakan. Aku sendiri sedang memandang ke luar kelas, tepatnya lapangan basket. Ya, kak cakka sedang bermain basket. Dia sering bermain basket ketika pagi hari dan siang satu jam sebelum bel. Dia memang sangat tekun berlatih basket. Dia bisa bolos kapan saja karena dia adalah anak dari pemilik sekolah ini. Dan dia juga bisa meminta pada ayahnya untuk home schooling.
                Tiba-tiba seseorang menoyor kepalaku.
“aduh…” rintihku sambil memegangi kepalaku.
“ngimpi lo bisa dapetin kak cakka!!!” cibir Agni. aku hanya menatapnya tanpa ekspresi. Aku tidak pernah berharap mendapatkan kak cakka. aku hanya suka padanya, tidak, kagum mungkin. Ah apapun itu yang penting aku suka kak cakka.
“denger ya oik!! Nggak mungkin kak cakka itu suka sama lo!! Jadi jangan berharap deh lo!! Kak cakka itu udah jadi pacarnya kak shilla!! Kakak sepupu gue!!” bentak agni memperingati. Sedangkan aku hanya tersenyum kecut. Sampai pacar agni datang menghampiriku, Rio.
“udahlah ni…nggak usah ngebentak oik terus…nggak ada gunanya…” kata Rio lembut. Mungkin hanya Rio di kelasku yang membelaku walaupun secara tidak langsung.
“yaudah yuk io…orang kayak dia itu nggak usah diurusin!!” kata agni sambil menggamit lengan rio lalu mereka berlalu. Aku menelungkupkan kepalaku ke meja. Tak terasa air mataku mengalir.
‘andai aku bisa memiliki teman…satu saja…aku hanya ingin bisa bercanda dengan temanku seperti yang lain….’ batinku sedih.
*******
                Bel pulang pun akhirnya berdering dengan nyaring. Semuanya berhamburan keluar kelas. aku menunggu semuanya keluar. Setelah kelas kosong, aku beranjak dari dudukku lalu melangkah dengan gontai menuju sebuah tempat. Tapi langkah ku terhenti ketika aku melihat kak cakka dan Ray sedang bertengkar di tengah lapangan. Aku mendengarkannya dengan seksama di balik tembok.
“kak!! Kenapa sih kakak tuh nggak pernah di rumah?? Kakak nggak kasihan sama aku? Aku juga butuh temen kak!! Kenapa kakak selalu mikirin basket, basket dan basket!! Nggak pernah ada waktu buat ray!! Ray juga pengen kayak kakak adik yang lain!!” bentak ray pada kak cakka. sedangkan kak cakka hanya tersenyum kecut.
“kamu udah gede ray, kamu nggak perlu kakak…kamu bisa kan main sama temen kamu…kakak pergi…” kata kak cakka dengan ekspresi datar. Sedangkan ray mendengus kesal lalu pergi ke luar dari lapangan basket. Aku sendiri luput oleh kekesalan ray sehingga tak tahu kak cakka pergi kemana. Aku kembali fokus pada tujuanku saat ini. Aku melangkah dengan hati-hati menuju tempat tujuanku.
…………
                Sesampai di tempat tujuanku, yaitu atap gedung sekolah, tak ku sangka kak cakka juga sedang berada di situ. Sedang duduk dengan tangan melingkar di kakinya. Aku tersenyum lalu menghampirinya.
“siang kak…” sapaku ramah. Kak cakka menoleh ke arahku lalu tersenyum manis.
“siang juga…” balas kak cakka lalu menoleh ke depan kembali.
“maaf ya kalo aku mengganggu kakak..” kataku pelan.
“nggak kok…bahkan kehadiranmu membuatku sedikit lebih tenang…” ucapnya tulus. aku tersenyum tipis.
“kenapa kakak ke sini?” tanya ku hati-hati. Tidak etis memang pertanyaanku. Mengingat kak cakka adalah anak pemilik sekolah ini.
“tempat favorit…” jawabnya singkat.
“kok sama?” ucapku kelepasan.
“aku juga nggak tau…mungkin suatu kebetulan…” katanya sambil tetap memandang ke depan.
“oh ya, kamu kenapa ke sini?” lanjutnya.
“setiap aku sedih atau senang, aku pasti ke sini…menceritakan semua kesedihanku atau kebahagiaanku pada dunia…walaupun tidak ada yang mendengarnya….” Jawabku.
“kamu sedang sedih atau senang?” tanya nya sambil menatapku.
Aku menundukkan kepalaku.”sedih..” lirihku.
“ya sudah..ceritakan kesedihanmu…” suruhnya.
Aku menggeleng pelan,“ah..nggak…aku akan bercerita saat aku hanya sendiri…” ujarku.
“ayolah…mungkin aja aku bisa membuatmu lebih bahagia…” rajuknya.
“benarkah?” tanyaku. Kak cakka mengangguk mantap.
“baiklah..aku akan bercerita…” kataku akhirnya.
“baguslah…anggap aja aku nggak ada…” kata kak cakka. aku mengangguk kecil. Aku pun mulai bercerita.
“dunia…saat ini aku sedih…aku tak memiliki teman satupun…aku ingin memiliki sahabat yang baik…yang bisa membuatku bahagia…tapi mengapa tak ada satu pun yang mau berteman denganku? Apa salahku? Apa aku pernah berbuat salah? Apa aku jahat pada mereka? Ya Allah…berilah aku ketabahan untuk menghadapi semua cobaan yang kau berikan…..amin…”
                Kak cakka memandangiku dengan tatapan ngilu. aku jadi salah tingkah. Dia menatapku lekat.
“hmmh…sekarang Allah mengabulkan doa mu…aku akan menjadi temanmu dan juga sahabatmu…” kata kak cakka yang akhirnya membuka suara. Aku terkejut.
“apa kakak nggak salah? Mau berteman denganku? Adik kakak saja tak menganggapku teman…” kataku heran.
“nggak..aku nggak salah kok…aku janji akan jadi sahabatmu…” kata kak cakka tulus. mataku berbinar.
“terima kasih kak…..” kata ku yang tanpa sadar langsung memeluk kak cakka. tapi aku segera melepaskannya mengingat kak cakka bukan siapa-siapaku.
“maaf..” sesalku.
“tak  apa…” ujarnya sambil menyunggingkan seulas senyum.
“ng…kak..aku boleh tanya?” tanyaku.
“boleh…” jawab kak cakka singkat.
“kakak pacarnya kak shilla ya?” tanyaku hati-hati.
“hah? bukan…dia aja yang suka deket-deket…lagian kita kan cuma teman…” jawab kak cakka.
“oh..gitu yah….” Aku ber-oh-oh ria.
“ehm…kakak pergi dulu yah…ada sesuatu yang harus diurus…dah…” pamitnya lalu melenggang pergi.
“dah…” balasku sambil menatapnya sampai hilang dari pandangan. Lalu aku menatap lurus ke depan.
“ya Allah…terima kasih Engkau telah memberiku teman yang baik …aku sangat bahagia….” ucapku sambil tersenyum. Lalu aku beranjak dari dudukku dan pergi menuju gerbang depan.
……………..
                Baru saja aku turun dari gedung, kak shilla muncul dari balik tangga. Aku sedikit terkejut lalu mengangguk kecil bermaksud menghormati.
“ngapain tadi lo sama cakka? hah?” tanya kak shilla dengan nada tinggi. Aku menghela nafas.
“aku nggak ngapa-ngapain sama kak cakka…aku hanya……” belum aku menyelesaikan kalimatku, kak shilla sudah memotongnya.
“alah banyak bacot lo! Tadi lo meluk cakka kan?? Jawab!!” bentak kak shilla sambil menarik kerahku ke atas. Nafasku mulai tak teratur mendengar bentakan kak shilla yang cukup keras dan leherku sedikit tercekik. Aku mulai merasakan sakit di bagian dada, tepatnya aku sesak nafas.
“hhh…aku tadi….hhh…. nggak sengaja kak…hhh…”jawabku polos dengan nafas tak teratur.
*plaaak! Satu tamparan mendarat mulus di pipiku.
“maaf kak…” sesalku sambil menahan sakit dan tangis. Tangan kiriku memegang dada dan tangan kananku memegang pipi sebelah kanan.
“sakit ya?? Aduh mulai kan asma lo kambuh!! Kasihan…dasar penyakitan!! Makanya jangan berani-berani lo sama gue!!” kata kak shilla yang terkesan meledek. Pandanganku mulai kabur dan nafasku terasa sangat sesak. Tak terasa aku meneteskan air mata. Lalu kak shilla mendorongku hingga jatuh.
“brrukkk…..” aku ambruk dan jatuh ke lantai. Kepalaku pening. Dan tiba-tiba semuanya menjadi gelap.
…………..
                Ketika aku membuka mataku, yang pertama ku lihat adalah seseorang sedang menatapku dengan wajah yang sangat khawatir. Samar-samar namun pasti, aku yakin dia adalah kak cakka.
“kak, aku ada dimana?” tanyaku dengan suara parau.
Kak cakka tersenyum,”di rumahku..” kata kak cakka lembut.
“kok bisa? Tadi bukannya kak cakka sudah pulang?” tanyaku pelan sambil merubah posisiku menjadi duduk.
“iya, tapi aku merasa ada yang aneh jadi ku putuskan untuk kembali ke sekolah dan menemukanmu di lantai dekat tangga…” jawab kak cakka.
“terima kasih banyak yah kak…” ujarku sambil tersenyum. Kak cakka balas tersenyum.
“ini diminum dulu….pasti kamu haus…” kata kak cakka sambil menyodorkanku segelas teh hangat. Aku menerimanya dan meneguk sedikit teh hangat itu. lalu ku letakkan di atas meja kecil dekat ranjang yang aku duduki sekarang.
“oh ya, kalau ini rumah kakak, berarti ini rumah ………” aku menggantungkan kalimatku ketika seseorang masuk ke kamar ini.
“kak ca……..” seseorang itu menggantungkan kalimatnya ketika melihatku.
“elo? Ngapain lo ada di rumah gue? Mau numpang ?? pergi lo!! ” tanya nya sinis.
“ray…biarkan dia istirahat di sini dulu…dia masih lemas…” kata kak cakka.
“dia itu nggak pantes duduk di ranjang kakak…dia lebih pantes tidur di kolong jembatan…” sindirnya. Aku hanya tersenyum kecut.
“baiklah…aku akan pergi…” kataku sambil beranjak dari dudukku. Tapi kak cakka menahanku.
“jangan pergi…kamu masih lemas…aku takut kamu kenapa-napa…” kata kak cakka khawatir sambil mencekal tanganku. Aku melirik Ray. Dia membuang muka sambil tersenyum kecut.
“tapi ray nggak ingin aku ada di sini…aku harus pergi…” kataku sambil berusaha melepaskan pegangan tangan kak cakka.
“nggak, kamu nggak perlu peduliin dia..” kata kak cakka sambil melirik sinis Ray.
“huh..kakak nyebelin!!” seru Ray lalu keluar dari kamar.
“…….”
Aku dan kak cakka saling diam. Setelah lama saling diam, aku pun buka suara.
“ng…kak..ini jam berapa?” tanyaku.
“jam setengah 7..kamu mau pulang?” jawab kak cakka.
“iya udah…aku udah mendingan kok….” Aku lalu mencari tasku. Tapi tiba-tiba terdengar suara hujan turun dan suara petir yang sangat kencang.
“Bledeeeeeeeeggggg……..” *suara petir gimana sih? Gak tau hehe…*
“aaaaaaaah…….” Teriakku sambil spontan memeluk kak cakka.
“hiks…aku takut…hiks…” ucapku sambil menangis. kak cakka membalas pelukanku dan semakin erat memelukku.
“tenang…jangan takut…ada aku di sini…” kata kak cakka lembut sambil mengelus lembut kepalaku. Aku mulai tenang tapi tiba-tiba nafasku kembali sesak dan aku sudah tak sadarkan diri.
*******
Ketika aku bangun, aku mengerjapkan mataku dan memandang sekeliling. Sepertinya aku kenal ruangan ini. Dan setelah mataku benar-benar bisa melihat dengan jelas, aku tau ini adalah kamarku. Tapi yang aku herankan mengapa aku bisa ada di rumah? Apa kak cakka mengantarkanku ke rumah?
 Saat aku ingin turun dari ranjang, aku melihat sebuah kertas yang ada di meja kecil di samping ranjangku. Aku pun mengambil kertas itu. sepertinya surat. Dan setelah ku lihat, ternyata benar surat. Aku pun membaca surat itu.

To : Oik

Oik, aku antar kamu ke rumah tadi malam karena pembantu kamu mencari….
Aku tahu karena ponselmu berdering ada yang menelpon dan ternyata pembantu kamu….
Jadi ku putuskan untuk membawamu pulang….
Maaf kalo aku lancang sudah mengambil ponselmu di dalam tasmu….
Semoga cepat sembuh ya…..

Your best friend,
Cakka
                Aku tersenyum membaca surat itu. aku rindu saat-saat bersama sahabatku. Ya, dulu aku mempunyai sahabat, namanya Acha. tapi dia meninggalkan aku untuk selamanya saat aku masuk SMA. Dia tenggelam saat dia ingin menolongku ketika aku tercebur di danau. Tapi naas, malah acha yang tenggelam. Aku sendiri sangat menyesal. Mengapa tidak aku saja yang meninggal?
                Aku melirik jam weker  yang ada di atas meja kecil itu. ternyata jam menunjukkan pukul 04.30. aku rasa aku sudah pulih. Aku harus berangkat sekolah. Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada kak cakka.
…………………
                Setelah sarapan, aku pamit pada bi inah dan segera naik ke mobil. Lalu aku pun melesat ke sekolah. Seperti biasa sekolah masih sangat sepi. Aku berangkat pukul 06.00 tepat. Aku pun melenggang menuju tempat tujuan utamaku  , yaitu lapangan basket. Sesampainya di lapangan basket, ku dapati kak cakka sedang bermain basket. Aku menatapnya sambil tersenyum. Kemudian kak cakka sepertinya telah menyadari bahwa aku sedang melihatnya, dia menghampiriku sambil membawa bola basketnya.
“pagi oik…” sapa kak cakka sambil tersenyum.
“pagi juga kak…” aku menyapa balik.
“sudah sembuh ya?” tanya kak cakka.
“iya, lagi pula itu sudah biasa kak…oh ya kak, terima kasih yah tadi malam sudah mau mengantarku pulang ke rumah….” jawabku.
“iya sama-sama ik…” kata kak cakka.
“oh ya, kok kakak tau rumahku?” tanya ku.
“ng…kebetulan rumahmu itu dekat kan dengan rumah dayat..jadi kakak tau…” jawab kak cakka.”kakak ke kelas dulu ya….jaga kesehatan kamu…daaaah…..” pamit kak cakka sambil mengelus lembut kepalaku. aku mengangguk kecil.
“dah kakak….” Balasku sambil melambaikan tangan. Setelah kak cakka hilang dari pandanganku, aku pun masuk ke kelas.
…………………
Istirahat………..
                Ketika aku selesai memasukkan bukuku, tiba-tiba beberapa orang mendekatiku. Dan…….
Gebraaaaaaaaagk!! Ray menggebrak mejaku.
“heh, lo nggak usah sok ngerebut hati kakak gue yah!!!” bentak Ray padaku. aku hanya diam seribu bahasa. Aku tak bermaksud untuk mendekati kak cakka atau berusaha untuk merebut hati kak cakka.
Ray mendekat ke arahku dan tangannya mencengkeram kerah bajuku lalu menaikkan ke atas. Aku sampai tak bisa bernafas. Hiks…
“kalo lo berani buat ngerebut hati kak cakka, gue nggak akan segan-segan buat lo tambah menderita!” bentak ray didepan wajahku. Aku menutup mataku saking takutnya. Kemudian ray membantingku ke kursi.
“bruuuk…..” ya Allah…….Punggungku terasa sangat sakit menghantam kursi. Hiks…
“ayo cabut!” seru ray lalu pergi bersama kedua temannya. Kemudian beberapa orang di kelasku ikut mencibirku.
“dasar nggak tau diri!!”
“udah jelek banyak ngarep!!”
“penyakitan lagi!!”
“bodoh!!”
“nggak ngaca apa ya!!”
“semua kacanya pecah kalo ngelihat muka dia!!”
“dasar cumungut lo!!”

                Cibiran semua orang di kelasku mengalun indah di telingaku. Walaupun rasa sakit menyerang hatiku tapi ku biarkan saja. Lagi-lagi aku meneteskan air mata. Namun segera ku usap air mata itu. aku tak mau dibilang lemah walaupun kenyataannya memang benar.
…………………
                Bel pulang sekolah berdering. Seperti biasa aku menunggu semua orang di kelasku keluar. Setelah semuanya keluar, aku pun beranjak dari dudukku dan melangkah menuju pintu. Saat di tengah perjalanan menuju pintu, tiba-tiba seseorang muncul dan menutup pintu itu. aku segera berlari menuju pintu tapi hasilnya nihil. Pintu itu berhasil ditutup dan dikunci. Aku menggedor-gedorkan pintu itu berharap ia mau membukakan kembali.
“Ray…buka pintunya…jangan di tutup…aku mohon…maafkan aku…maaf…aku nggak akan deketin kak cakka lagi…buka pintu nya….hiks…jangan…hiks….” teriakku sambil menangis. ku dengar ray tertawa bersama teman-teman yang lainnya. Ku lihat jendela kelas juga semuanya tertutup. Dan aku tidak mungkin keluar dari kelas melalui jendela. Jendelanya terlalu kecil dan tinggi. Mana bisa aku melewatinya.
“kasihan deh lo…nginep aja lo disini…” teriak seseorang, aku tau itu suara Agni.
“iya, mending lo bantuin pak tukang sapu disini…lebih pantes…hahaha…” tambah seseorang lagi, dia Aren, teman dekat agni.
“puas lo!! Makanya jangan macem-macem sama gue!! Itu lah akibatnya….selamat menikmati ya cewek penyakitan…semoga asma lo kambuh terus mampus deh lo…hahahah….” Seru seseorang, pasti itu Ray. Suaranya yang masih terdengar seperti anak kecil membuatku mudah untuk menghafalnya.
“hiks…aku takut…aku nggak mau sendiri…tolong bukain….Ray, Agni, Aren, Deva, Ozy, Rio, semuanya tolong bukain…hiks….” Lirihku sambil menangis. aku memang penakut. Takut sendiri, takut gelap. Ingin rasanya aku mendobrak pintu. Tapi itu hal yang tidak mungkin. Tubuhku mulai terasa lemas. Nafasku sesak kembali.
“hhh….please…aku mohon…bukain pintunya,,hhh…” nafasku tersengal-sengal. Ku dengar gelak tawa mereka yang semakin menjadi.
“asma lo kambuh ya??? Kasihan……….hahahaha….” seru Ray. Aku mencari inhaler di tasku namun tak ketemu juga.
“hahaha…lo pasti cari inhaler kan?? Sayang banget inhalernya udah gue buang ke tong sampah tuh…” kata agni yang membuat ku terkejut. Apa? Inhalerku nggak ada? terus gimana dengan asmaku yang kambuh ini?? Aku tak yakin besok aku masih hidup.
“tolong…hhh…aku…hhh…bunda…hhh …hhh….” Nafasku sudah sangat tak teratur. Dadaku terasa sangat sakit. Aku tak sanggup untuk bertahan. Akhirnya aku terjatuh dan semuanya berubah menjadi gelap.
…………………
Author’s P.O.V.

                Satu jam sebelum bel pulang tadi, cakka sengaja tak bermain basket. Ia baru akan bermain basket pulang sekolah karena tadi ia ada ulangan. ia melangkahkan kaki menuju lapangan basket yang tak terlalu jauh dari kelasnya. Saat ia hendak berbelok, ia melihat segerombolan siswa kelas 10 termasuk adiknya, Ray, sedang berjalan berlainan arah dengannya. ia berhenti sebentar. Tak sengaja ia dengar Agni mengatakan sesuatu sebelum ia melewati gerombolan anak kelas 10 tersebut.
“kasihan banget ya dia dikurung di kelas…haha…” kata agni. kemudian cakka baru saja lewat ketika di belokan mereka bertemu. Agni menutup mulutnya ketika melihat cakka. Lalu semuanya menyapa cakka.
“siang kak cakka…..” koor segerombolan anak kelas 10 tadi. Cakka hanya menebar senyumnya tanpa mengatakan sepatah katapun lalu ia segera pergi ke lapangan basket.
                Ketika sampai di lapangan basket, ia merasa ada yang janggal. Ia perhatikan semua kelas masih terbuka kecuali kelas 10 A yang sudah tertutup rapat dan gembok yang terkunci. Cakka merasa ada yang aneh dengan kelas itu. ia pun memutuskan untuk ke kelas itu.
                Cakka memegang gembok pintu kelas itu. masih ada kuncinya. Tapi aneh. Mengapa hanya kelas 10A yang sudah di gembok? Cakka jadi penasaran, akhirnya ia membuka gembok itu. lalu membuka pintunya dan alhasil……………
“OIK?” cakka terkejut ketika mendapati oik sudah tergeletak lemas di lantai dengan tasnya yang berantakan. Seperti sehabis mencari sesuatu.
‘jangan-jangan ia dikurung sama ray dan teman-temannya itu? kalo iya, benar-benar keterlaluan!!’ batin cakka. lalu ia segera membopong oik dan membawanya ke UKS.
……………………

                Cakka masih menunggu oik yang tak kunjung sadar. Ia berusaha membangunkan oik dengan menempelkan inhaler di lubang mungil hidung Oik. Cakka jadi semakin khawatir. Kata penjaga UKS ia akan segera sadar jika cakka terus berusaha menempelkan inhaler di lubang hidung oik. Sampai 1 jam cakka menunggu, tiba-tiba oik berkata sesuatu.
“inhalerku…bunda….” Oik mengigau. Cakka membisikkan sesuatu.
“oik..bangun…inhalermu sudah ada…” bisik cakka. perlahan, oik membuka matanya.
“kak..cakka?” lirih oik. Cakka mengangguk lalu tersenyum. Oik mengambil alih inhalernya dari tangan cakka.
“kamu sudah baikan?” tanya cakka.
“sedikit…kenapa aku bisa ada di sini??” jawab oik lalu memandangi sekelilingnya.
“iya, tadi aku nemuin kamu pingsan di kelas…jadi aku bawa aja ke UKS…” jelas cakka.
“ooh…bukannya tadi aku……..” oik belum menyelesaikan kalimatnya, cakka sudah memotong.
“dikurung di kelas kan? Aku tau kok…nanti biar aku menegur mereka…” kata cakka. oik menggeleng cepat.
“jangan kak…nanti aku pasti semakin di benci dan dibuat menderita sama mereka…aku mohon jangan…” pinta oik.
“tapi ini sudah keterlaluan…nggak bisa dibiarin gitu aja…aku harus bilang sama ray!” geram cakka.
“tapi kak…aku takut mereka bakal berbuat yang lebih parah…biarin aja kak…” sergah oik.
“ok…kali ini aku nggak akan beri mereka peringatan…tapi kalau sudah lebih fatal lagi…aku nggak akan segan-segan buat ngedamprat mereka…!” kata cakka sedikit emosi.
“kakak nggak perlu khawatir…mereka nggak mungkin berbuat yang fatal kok…aku yakin…” kata oik mantap.
“ya sudah…kamu baik-baik ya…untuk beberapa hari ke depan, aku nggak bisa ngawasin kamu, aku harus pergi untuk tanding basket mulai besok…jadi,aku harap kamu hati-hati…” pesan cakka.
“iya kak…tenang saja…aku sudah terbiasa dengan yang seperti itu…hm…ya sudah, semoga kakak bisa menang ya…aku di sini selalu doain kakak…” kata oik sambil tersenyum. Cakka balas tersenyum lalu mengecup kening Oik.
“kamu sudah baikan kan?” tanya cakka. oik mengangguk. “ayo kita pulang…aku antar ya…” ajak cakka.
“iya kak…terma kasih ya…” ucap oik tulus. cakka tersenyum lalu membantu oik bangun dan turun dari ranjang. Kemudian mereka berjalan bersama menuju mobil cakka.
…………………..
                Sepulang dari mengantarkan oik ke rumah, cakka pulang ke rumahnya. cakka segera memarkirkan mobilnya ke garasi lalu kemudian masuk ke rumah dengan tergesa-gesa. Ia mencari seseorang.
“Raaaaay…” teriak cakka sembari melangkah menuju kamar Ray. Ray yang berada di kamarnya pun keluar.
“ada apa kak?” tanya ray.
“kamu kan yang udah ngunci oik di kelas? iya kan?? Jawab!!” todong cakka. Ray terkejut.
“nggak kok kak…aku…”
“alah…jangan bohong kamu! Kakak nggak suka kamu kayak gitu!” potong cakka. dia benar-benar marah pada adiknya itu.
“tapi kak….” Sergah ray.
“alah kamu nggak usah ngeles!! Kakak benci sama kamu!!” kata cakka lalu melengos pergi. Ray mendengus kesal sembari masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintu kamarnya.
“bruuukk!”
“apa-apaan!! Kenapa kak cakka lebih ngebela oik dari pada gue? Adik kandungnya?? Sialaaaaan!!” gerutu Ray sambil membanting tubuhnya ke ranjangnya. Sebenarnya gara-gara Ray juga yang telah mengenalkan oik pada cakka. mungkin karena cakka kasihan pada oik, jadilah cakka lebih membela oik daripada ia sendiri. Ray berpikir sejenak.
‘gue harus kasih oik pelajaran yang lebih parah supaya dia kapok! Mumpung besok kak cakka pergi …’ batin Ray lalu tersenyum sinis.
………………
                Keesokkan harinya, oik memutuskan untuk berangkat agak siang. Karena cakka pasti tidak masuk sekolah dan bermain basket setiap pagi seperti biasanya. Setelah ia selesai sarapan, ia berpamitan pada bi inah dan langsung pergi ke mobil. Kemudian ia melesat ke sekolah.
                Sesampainya di sekolah, oik berpamitan pada pak yono dan turun dari mobil. Kemudian ia melenggang ke kelasnya. Ada rasa sedikit sedih mengingat ia tak akan bertemu cakka hari ini dan hari berikutnya. Di perjalanan menuju kelasnya, oik tak henti-hentinya memikirkan apa yang akan terjadi jika ia di kurung lagi di kelas seperti kejadian kemarin. Siapa yang akan menolongnya? Tak ada cakka. satu-satunya harapan adalah bu Ira. Tapi semua tahu bu Ira sudah akan pulang pada jam terakhir  karena ia juga mengajar di SMA lain pada jam terakhir itu. apa yang harus ia perbuat? Oik segera melenyapkan pikiran negative itu. ia harus berpikir positif. Semoga saja hari ini adalah hari keberuntungannya.
                Oik baru saja masuk ke kelasnya ketika semua teman-temannya menghalangi oik untuk berjalan menuju kursinya. Oik sempat bingung. Tidak biasanya teman-temannya menghalanginya seperti ini. Tapi ia tak menemukan sosok Ray disana.
“ada apa?” tanya oik hati-hati. Keringat dingin mulai bercucuran. Pikiran negative muncul dibenaknya.
“lo nggak boleh masuk ke kelas!” ujar seseorang, yang tak lain adalah Aren.
“kenapa?” tanya oik lagi. ia semakin ketar-ketir mendengar ucapan aren. Apalagi semua yang menghalanginya menatapnya tajam.
“karena lo, gue dimarahin sama kak cakka!!” seseorang muncul dari gerombolan itu. oik terperanjat. Pasti cakka telah memarahi Ray. Oik jadi semakin bingung. Ia hanya diam menunggu Ray melanjutkan memakinya.
“oke gue kasih pilihan, lo pindah sekolah, atau lo tetep pertahanin sekolah di sini tapi lo bakal menderita!!” kata Ray memberi pilihan. Oik bingung. Kalau ia pindah sekolah, pasti ayahnya tak akan mengizinkan. Lagi pula ia tak ingin merepotkan ayahnya.
“hmm…aku akan tetap sekolah di sini…kalian boleh maki-maki aku…kalian boleh bikin aku menderita…kalian boleh ngelakuin apa aja yang kalian suka…bunuh aku kalau perlu….” Kata-kata oik mampu membuat semua temannya terpaku. Mereka sendiri sebenarnya kasihan pada oik. Tapi, mereka tetap bersikukuh dengan konsekuensi para pembenci oik.
“ok kalo itu mau lo…lo boleh duduk…” kata ray akhirnya. Oik tersenyum.
“makasih…” kata oik tulus. semuanya kembali ke tempat duduk masing-masing. Oik melangkahkan kakinya menuju kursinya yang terletak paling depan.
                Oik menghela nafasnya. Ia bersyukur teman-temannya tak memaksanya untuk tidak mengikuti pelajaran. Tak lama kemudian, bel masuk berdering dengan nyaring. Oik segera mengambil buku bahasa Inggris di dalam tasnya karena jam pelajaran pertama adalah mapel bahasa Inggris.
………………


“teeeeeet……teeeeeeet………” bel pulang sekolah berdering. Semua membereskan buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tas. Setelah itu berdoa kemudian semua berbondong-bondong untuk pulang. Tapi tidak dengan oik, ray, agni, aren, deva, ozy, rio, zevana, dan Alvin. Mereka masih berada di dalam kelas. entah apa yang direncanakan ray dkk lagi. oik sendiri bingung mengapa ray dkk tidak keluar kelas juga. Oik menunggu sangat lama hingga akhirnya ia beranjak berdiri. Tak disangka oleh oik, ray dkk mendekatinya. Oik berhenti melangkah.
“kata lo, kita boleh ngelakuin apa aja yang kita mau kan? Ayo ikut kita!!” serobot ray lalu menarik tangan oik dengan kasar. Oik menurut saja di bawa oleh ray dkk. Dia hanya bisa pasrah apa yang akan terjadi padanya. Semoga ada yang bersedia menolongnya jika ia butuh pertolongan.
                Ray dkk membawa oik ke ruangan kecil di sebelah laboratorium biologi. Sepertinya itu adalah ruangan dimana alat-alat olah raga seperti bola basket, bola voli, matras dll disimpan. Ray menyuruh oik duduk di matras. Oik pun menurut.
“apa yang akan kalian lakukan?” tanya oik. Matanya mulai berkaca-kaca.
“kan lo yang bilang sendiri kita boleh ngelakuin apa aja, jadi seterah kita dong….lo tinggal diem aja!!” bentak Agni. oik menundukkan kepalanya. Ia ketakutan.
“ikat dia!” perintah Ray. Zevana, agni, dan aren mengikat oik dengan tali tambang yang mereka bawa di dalam tas. Oik kaget ketika ray menyuruh teman-temannya untuk mengikatnya. Ia menunduk pasrah. Ia tak bisa berontak. Ia hanya sendiri dan tak mungkin melawan 8 orang.
“sekarang lo tau kan kita mau ngapain lo? Kita mau ngunci lo di sini…biar sekalian lo mampus!” kata ray sambil tersenyum sinis.
“hiks…tolong!!!” teriak oik seraya menangis.
“nggak akan ada yang mau nolong lo!! Tapi buat jaga-jaga tutup mulut  dia aja deh ren!” perintah ray. Aren mengangguk kemudian mengambil plester besar yang ada di tasnya. Lalu ia menyobek beberapa senti dan menempelkannya pada mulut oik. Oik menangis tersedu-sedu. Air matanya mengalir deras.
“yaudah deh yuk kita pulang aja…biar dia mampus disini…dadaaaaaah…….” Ajak Ray. Semuanya lalu meninggalkan oik sendirian yang menangis.
‘kalau aku mati sekarang, aku rela, tapi ku mohon agar aku bertemu kak cakka lebih dulu ya Allah…setelah itu Engkau boleh mengambil nyawaku….’ Kata oik dalam hati. Tak lama kemudian, ia merasakan sesak nafas dan akhirnya ia tak sadarkan diri. Selain berdebu, ruangan itu gelap dan tak ada ventilasinya. Jelas saja oik sesak nafas karena ia sangat butuh oksigen.
……………….

Pagi ini cuacanya sedikit tak mendukung. Awan mendung dan hujan rintik-rintik membuat para pelajar malas untuk bangun dari alam mimpinya. Ray sendiri masih betah memeluk bantal gulingnya dengan selimut yang masih menutupinya. Tapi tiba-tiba ia bangun dengan sendirinya. Rupanya ia bermimpi buruk.
‘kenapa gue mimpi kayak gitu? Apa gue udah jahat banget ya sama oik? Tapi gue masih belum terima kenyataan…’ kata ray dalam hati. Samar-samar ia melihat bayangan seseorang mengenakan pakaian putih sedang tersenyum menatapnya di jendela luar kamar Ray. Lalu Ray mengerjapkan matanya.
“pagi ray…bagaimana mimpimu? Indah bukan…? Aku kesini hanya ingin meminta maaf padamu…kalau aku banyak salah…tapi kalau kamu sudah sadar kalau kau telah menyakitiku…tolong selamatkan aku sebelum jam 12 siang….kalau tidak, aku akan selalu datang dalam mimpimu….aku tidak bergurau….” Kata bayangan seseorang itu. Bayangan itu lalu hilang bersama hembusan angin hujan. Ray yakin itu adalah bayangan oik. Ia bingung apa yang harus ia lakukan. Ia tak mau dalam mimpinya oik akan selalu menghantuinya. Ia juga tak mau menolong oik di dalam ruangan itu. sama saja menjilat ludah, pikirnya. Lalu dia bergegas mandi dan berganti pakaian seragam sekolah. Kemudian ia sarapan setelah itu berangkat ke sekolah.
………………..

                Sesampai di sekolahnya, ternyata masih sangat sepi. Wajar saja karena cuaca hari ini mendung dan hujan rintik-rintik. Ray menyusuri koridor kelasnya dan tak lama kemudian ia sampai di kelasnya. Ray duduk di kursinya sambil memandang kursi paling depan yang kosong. Ray memikirkan kata-kata yang diucapkan bayangan oik itu.
‘apa benar itu adalah bayangan oik? Kalau benar, ia sudah mati atau belum? Aku harus cari tau…! Eh tunggu, bukannya jam ketiga dan keempat adalah pelajaran olahraga? Bego!!’ kata ray dalam hati. Kemudian ia beranjak dari duduknya lalu mengajak agni dan aren yang kebetulan sudah berangkat. 
“agni, kita harus ke ruangan itu!! lo tau kan hari ini ada olah raga? Nanti kita bisa mampus kalo ketahuan!” bisik ray pada agni dan aren. agni dan aren menepuk jidatnya.
“yaudah buruan kita pindahin dia, mumpung masih sepi!” ajak agni lalu mereka bertiga berjalan tergesa-gesa menuju ruangan itu. mereka was-was kalau-kalau ada yang melihat mereka. Ray yang punya kunci cadangan ruangan itu pun mulai membuka kuncinya. Sedangkan agni dan aren berjaga-jaga kalau-kalau ada yang melihat mereka. Pintu pun terbuka.
“yaudah masuk, udah aman!” perintah agni. mereka bertiga pun masuk ke ruangan itu tapi ternyata mereka tak menemukan oik. Mereka mencari-cari oik tapi tak ketemu juga.
“dimana dia? Apa dia bisa kabur?” tanya agni.
Tiba-tiba pintu tertutup dengan sendirinya.
“bruukk…”
“eh pintu nya tertutup!!” teriak ray lalu berlari menuju pintu. Tapi sayang sekali pintu itu tak bisa terbuka kembali. Sepertinya ada yang sengaja menutupnya.
“sialan!! Kayaknya kita dikerjain deh!! Kalo gini tadi kita harusnya lihat dari luar dulu! Jangan langsung masuk!” gerutu agni.
“kan lo yang nyuruh kita masuk! Gimana sih?” protes ray.
“udah lah jangan berdebat! Yang penting gimana caranya kita bisa keluar dari sini!” lerai aren.
“ya udah kita harus nunggu bel masuk! Lagian kan pasti ada yang olah raga di jam pertama!” ujar ray.
“haduh…mana masih lama lagi! pengap nih disini…mana gelap, banyak debu, iiisshhhh…….” gerutu agni.
“udah nggak usah banyak omong deh!” bentak ray. Agni langsung diam.
……………………
                Bel masuk sudah berbunyi. Semua anak kelas 10B yang jam pertama adalah olah raga, berbondong-bondong ke ruang ganti. Kemudian setelah itu mereka berkumpul di lapangan basket yang ada di tengah-tengah gedung sekolah itu. setelah semuanya berkumpul, pak joe, guru olah raga mereka, menyuruh beberapa anak cowok untuk mengambil bola basket di ruangan kecil yang ada di sebelah lab. Biologi. Sebelum mereka masuk ke ruangan itu, mereka membuka kunci pintu ruangan itu. dan setelah mereka buka………..
“makasih yah udah mau bukain!! Dadah…” seloroh tiga anak kelas 10 A, siapa lagi kalau bukan ray, agni, dan aren. Mereka bertiga lalu berlalu. Beberapa anak cowok dari kelas 10B hanya cengo melihat kejadian itu.
“heh, udah buruan ambil bola basketnya! Jangan melongo!” ujar sang ketua kelas, Debo.
“iyaiya…” sahut anak buahnya lalu mengambil satu karung bola basket. Setelah itu mereka kembali ke lapangan basket.
…………………
                Ray, agni, dan aren baru saja masuk ke kelasnya. Ternyata guru belum masuk sehingga mereka bisa bernafas lega. Mereka pun duduk di kursinya masing-masing dengan nafas terengah-engah. Ketika ray sampai di kursinya, otomatis ia melihat bangku paling depan di sebelah pojok. Ray terkejut melihat oik sudah duduk dikursinya sambil membaca buku.
“kenapa dia bisa ada disini? Siapa yang sudah menolongnya??” gumam ray. Ia terus menatap oik.
Tak sengaja oik menoleh ke belakang dan tepat bertatapan dengan ray. Lalu ia tersenyum pada ray. Ray sendiri kaget dan bergidik ngeri.
‘jangan-jangan dia hantu lagi….hiiiii…ngeri….’ batin Ray. Lalu kemudian ia mengambil buku bahasa indonesianya di dalam tasnya karena bu Winda-guru bahasa Indonesia mereka- sudah masuk ke kelas.
………………….
                Jam pelajaran terakhir sudah berakhir. Ray menggeram dalam hati. Ia sangat marah pada oik. Pada jam istirahat tadi, ray dimarahi habis-habisan oleh bu Ira. Ternyata kemarin siang bu ira belum pulang karena jam terakhir beliau tidak pergi ke SMA lain yang beliau ajar karena ternyata SMA itu sudah memulangkan anak didiknya.
Flash back>>>>>>>>
                Bu ira baru saja keluar dari laboratorium biologi untuk mengembalikan gelas kimia karena pada jam terakhir tadi beliau gunakan untuk pratek. Tapi tiba-tiba saja ada suara yang aneh dari ruangan kecil di sebelah lab. Biologi tersebut. Seperti suara orang sesak nafas.*tau kan kalo orang asma itu suaranya kayak gimana kalo lagi tidur?*  Bu Ira yang masih memegang kunci  semua ruangan di sekolah itu pun mencari kunci ruangan kecil itu. di setiap kunci ada tulisannya sehingga mudah untuk mencarinya. Setelah beberapa menit mencari akhirnya ketemu juga. Ia pun membuka kunci pintu ruangan kecil itu. dan ketika ia masuk, ia menemukan seseorang sedang tergeletak lemas tak berdaya dengan ikatan di tubuhnya, kakinya dan tangannya. Ia segera menghampiri seseorang itu yang ternyata adalah……
“oik? Kamu diapain nak? Ya Allah…” bu Ira segera membopong Oik ke UKS. Bu Ira tahu betul siapa yang sudah berbuat seperti ini. Siapa lagi kalau bukan Ray dkk. Tapi semua guru tau tidak ada yang berani dengan ray dan juga cakka yang notabenenya adalah anak dari pemilik sekolah itu.
                Setelah beberapa jam kemudian, oik sadarkan diri dan segera dibawa pulang ke rumahnya oleh bu Ira. Karena Bu Ira tahu pasti oik belum makan dan minum obat.

Flashback end/p>
                Ray dkk berencana untuk mengikuti oik dan menghalanginya di koridor kelas yang sepi. Semua anak kelas10 harus melewati koridor kelas 12 yang sepi itu untuk mencapai gerbang paling depan. Ray dkk sudah menunggu di koridor kelas. sedangkan agni, aren, dan rio mengikuti oik dari belakang. Oik merasa agak risih. Tapi ia abaikan saja. Oik telah sampai di koridor kelas 12. Tiba-tiba beberapa anak muncul dari balik pintu dan menghalangi Oik.
“kalian? Mau ngapain lagi?” Tanya oik malas.
“kita mau lo pergi dari sekolah ini!!” seru Ray.
“kenapa kalian yang ngatur?” Tanya oik lemah.
“gue anak pemilik sekolah, jadi gue berhak nentuin!!” seru Ray lagi.
“aku bayar sekolah disini..aku juga tak pernah melanggar peraturan!” seru Oik. Kali ini oik berani membentak ray dkk.
“heh, denger ya bego, lo itu pembunuh! Jadi sama aja lo melanggar peraturan! Mana ada siswa di sini yang pembunuh!!” bentak Ray.
Oik tersentak. Otaknya memutar kembali memory 1 tahun yang lalu. Acha……..
“hiks…hiks…aku nggak pernah bunuh acha…” oik meneteskan air matanya mengingat acha yang telah meninggal karena menolongnya.
“lo yang bunuh dia!! Karena elo, dia jadi meninggal!! Berarti lo pembunuh!!” seru Agni. Ketika SMP dulu, acha, agni, ray, dan oik satu sekolah. Dan oik tahu bahwa ray menyukai acha.
“jadi karena itu kalian membenci ku? Karena acha menolongku dan akhirnya meninggal, kalian membenciku? Ya, aku akui memang aku penyebabnya, tapi aku tak pernah menginginkan acha meninggal!! Hiks…hiks….” Tanya oik sambil menangis. Semua temannya menatapnya tajam. Memang rata-rata di kelas 10A adalah alumni SMP Pelita, SMP oik dulu.
“dasar pembunuh lo!!” seru seseorang sambil melempar telor busuk kea rah baju oik. Baju oik pun kotor. Oik hanya bias diam sambil menangis.
“harusnya lo yang mati!” seseorang melempar sekantong tepung terigu ke arah wajah oik. Lalu beberapa anak lain juga melempari telor, tepung terigu dan air. Oik sendiri hanya bisa menahan emosinya. Sampai akhirnya ia merasakan pusing yang luar biasa dan ia pun jatuh pingsan. Semuanya jadi panic, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.  
……………..
                Cakka sedang menikmati perjalanan pulangnya menuju Jakarta setelah 2 hari berada di Bandung untuk pertandingan bersahabatan melawan SMA 5 Bandung. Sebenarnya seharusnya ia berada di bandung selama 3 hari, tapi ia memutuskan untuk pulang lebih awal karena ia sudah merasa khawatir dengan keadaan seseorang di Jakarta. Setelah 2 jam menempuh perjalanan, akhirnya ia sampai di Jakarta. Tepatnya di rumahnya. Tapi baru saja ia masuk ke kamarnya, ponselnya bergetar pertanda ada panggilan masuk. Ia pun mengambil ponselnya di dalam sakunya lalu kemudian menatap layer ponselnya.

Bu Ira calling…..

‘bu ira? Ngapain telpon? Nggak biasanya…paling kalau ada perlu buat OSIS deh….’ Batin cakka heran. Lalu ia segera mengangkat panggilan tersebut.

OTP cakka - Bu Ira
Cakka : “halo?”
Bu ira : “halo, cakka kamu masih di bandung?”
Cakka : “baru sampai di rumah bu, ada apa memangnya?”
Bu Ira : “oik kritis…sekarang ada di rumah sakit Caikers…”
Cakka : “apa? Oik kritis? Memangnya dia sakit apa bu?”
Bu ira : “ dia sakit asma dan jantungnya bocor…kamu cepat kesini ya? Ke UGD…”
Cakka : “ baik bu, cakka akan segera ke sana…”
Bu Ira : “ya sudah…hati-hati….”

~tut…tut…~

Panggilan diputus…

…………..

                Cakka bergegas menuju mobilnya lalu melesat ke rumah sakit caikers. Ia tak heran mengapa bu ira menelponnya karena bu ira tahu bahwa cakka sudah dekat dengan oik. Lagi pula bu Ira memang dekat dengan cakka. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, cakka terlihat sangat gelisah. Ia takut oik kenapa-napa. Ia takut kehilangan oik. Sebenarnya dari dulu cakka sudah tahu oik. Dulu memang oik adalah teman ray. Cakka juga sebenarnya sangat sayang pada oik sebelum akhirnya mereka bersahabat. Tapi karena cakka orang yang cuek, ia tak terlalu memikirkan hal itu.
                Akhirnya ia sampai di rumah sakit caikers, ia melangkah dengan tergesa-gesa menuju ruang UGD. Sesampai di depan ruang UGD, cakka menghampiri Bu Ira yang sedang duduk di kursi dengan wajah yang sangat gelisah.
“bu, oik masih kritis?” Tanya cakka.
“iya kka, dan ibu sedang menunggu kedatangan ayah oik….karena oik harus segera di operasi, kalau tidak kebocoran jantungnya akan lebih parah dan tidak bisa terselamatkan….” Jelas bu Ira. Cakka semakin khawatir dengan keadaan oik. Tak lama kemudian, ayah oik datang bersama istrinya.
“bu, bagaimana keadaan oik?” Tanya ayah oik.
“masih kritis pak…” jawab bu ira.
“oh ya, bapak di tunggu di ruang dokter…bapak harus menandatangani surat persetujuan untuk mengoperasi oik…” kata bu Ira.
“baiklah…saya akan ke ruang dokter…permisi…” pamit ayah oik lalu pergi ke ruang dokter.
……………………
                Keesokkan harinya di sekolah, cakka mengumpulkan semua anak kelas 10 A di lapangan basket pulang sekolah.
“ya sudah nggak usah basa-basi, siapa yang kemarin ngelabrak oik sampe dia bisa kritis kayak sekarang??!! Ayo jawab!!” bentak cakka. Semuanya diam. Tak ada yang berani menjawab.
“oke, kakak tahu pasti yang ngerencanain ini semua kamu kan RAY??” tuduh cakka. Ray terkejut.
“bu…bukan…kak…” jawab ray gugup.
“alah,,,kakak nggak percaya…lagi pula kakak tahu kalian semua kemarin ngelabrak oik kan?? Kalian tahu, oik itu sekarang kritis!! Sekarang ia sedang menjalani operasi!! Kalian nggak kasihan sama dia?? Apa sih yang bikin kalian benci sama oik?? Kenapa kalian tega nyiksa oik? Jawab!!” marah cakka. Ia sudah terlampau emosi. Tapi semuanya hanya diam membisu.
“pokoknya kakak nggak mau tahu, sekarang kalian harus ke rumah sakit, dan minta maaf ke oik!! Ayo cepat!” perintah cakka. Kali ini semua berbisik-bisik. Akhirnya mereka menuruti cakka. Semuanya pun berbondong-bondong menuju rumah sakit.
……………………
                Oik telah selesai di operasi. Ia sudah dipindahkan ke ruang rawat biasa. Ia pun kini sudah sadar. Tiba-tiba beberapa anak masuk ke ruang itu. Oik menoleh ke pintu ruang rawatnya. Senyumnya mengembang ketika melihat segerombolan teman-temannya dan juga cakka. Teman-temannya pun menghampiri Oik dengan wajah rasa bersalah.
“oik…ma..afin kita ya…selama ini…kita udah jahat banget sama kamu…kamu bukan pembunuh…maafin kita udah nuduh kamu seenaknya…” ucap ray tulus. Ia menundukkan kepalanya.
“nggak papa kok….aku memaklumi kalian benci sama aku…tapi aku bukan pembunuh…” kata oik lembut.
“kamu nggak marah sama kita ik?” Tanya agni. Oik menggeleng.
“nggak…aku nggak marah kok… kalian udah bikin aku kuat..makasih ya…” ucap oik tulus. Semua menatap oik. Takjub akan sifat oik yang begitu lembut, baik, dan tak emosian.
“kamu memang baik ik…” kata agni sambil memeluk oik. Oik membalas pelukan agni dan tersenyum. Agni pun melepaskan pelukannya.
“oik, aku mau Tanya, kemarin yang ngunciin kita bertiga di gudang siapa?” Tanya aren.
“ah? Ng…siapa ya? Nggak tahu…” jawab oik.
“terus siapa dong? Hiiii….jangan-jangan hantu lagi….” Agni  bergidik ngeri.
“eh iya, waktu aku baru bangun tidur, ada bayangan kamu ik di jendela kamarku, terus itu siapa?” Tanya ray. Oik tersenyum geli.
“kalo itu emang aku…hehehe…” jawab oik polos.
“iish..oik bikin aku takut aja deh…pake bilang sebelum jam 12 siang lagi…” gerutu ray sambil memanyunkan bibirnya.
“hahaha…untung aja kan aku bias selamat, kalo nggak, aku bakal menghantui kamu loh…” kata oik.
“isssh…nggak lucu ah…” ray semakin cemberut.

”hahaha…” semua jadi tertawa melihat ekspresi ray yang lucu. Mereka pun bercanda tawa layaknya sahabat yang sudah lamatak bertemu. Dari luar ruangan, cakka tersenyum melihat oik yang tersenyum bahagia. Ia jadi ikut tersenyum. Setelah lama bercanda tawa, teman-teman oik memutuskan untuk pulang karena sudah sore. Tetapi cakka masih ingin menemani oik di umah sakit. Setelah semuanya keluar, cakka masuk ke ruang rawat oik. Oik tersenyum melihat cakka yang sedari tadi sudah ia tunggu.
“kak cakka…” sapa oik.
“iya oik…kamu pasti sekarang senang kan…” kata cakka sambil tersenyum.
“iya kak…sekarang aku sudah mempunyai teman yang banyak…” kata oik.
“tapi kamu tetep nganggep aku sahabat kan?” Tanya cakka.
“iya lah kak…kakak tetep sahabat terbaikku…” jawab oik.
“hmm…ik…” panggil cakka pelan.
“iya kak?” sahut oik.
“sebenarnya, aku sayang sama kamu…apa kamu juga sayang aku?” Tanya cakka.
“ kakak kan sahabat aku, jadi aku sayang sama kakak…” jawab oik polos.
“bukan itu maksudku…maksud ku…would you be my girl?” Tanya cakka. Oik kaget mendengar perkataan cakka tadi.
“tapi…bagaimana dengan kak shilla?” Tanya oik.
“sudah ku bilang dia bukan siapa-siapaku oik…”gemas cakka.
“heheh…” oik terkekeh sendiri.
“ya udah, kamu mau kan jadi pacar kakak?” Tanya cakka lagi.
Oik tersenyum lalu menganggukan kepalanya.
“terima kasih yah ik….” Kata cakka sambil memeluk oik. Oik membalas pelukan cakka. Cakka jadi semakin erat memeluk oik. Hingga mereka bisa merasakan degub jantung orang yang mereka peluk.
“oik, selamanya aku akan cinta dan sayang sama kamu….dan apapun yang terjadi sama kamu, aku akan selalu ada  di samping kamu…selamanya….” ujar cakka.
“iya kak….oik juga sayang dan cinta sama kakak…selamanya….” Ujar oik.
Dari luar ruangan, terlihat seseorang menggunakan rok selutut dan t-shirt berwarna biru, ia menatap pasangan baru itu dengan perasaan campur aduk. Sedih, marah, kecewa, dan semuanya bercampur jadi satu.
“sudahlah  shilla…kamu masih bisa mendapatkan orang lain…kamu cantik dan pintar…masih banyak cowok yang lebih baik dari cakka…” ujar bu Ira sembari mengelus lembut kepala anaknya itu. Shilla hanya tersenyum miris. Hatinya begitu hancur melihat oik dan cakka sedang berpelukan mesra.
………………….
                Belajarlah menjadi orang yang sabar menghadapi cobaan. Karena sebenarnya dibalik cobaan ada hikmah dan keindahan yang luar biasa. Dan berlajarlah menghargai orang lain, maka kita akan dihargai pula. Jangan mencari musuh, karena mencari teman sebenarnya lebih sulit dibanding mencari musuh. karena Pertemanan lebih berharga dari pada permusuhan.




The end>>>>>>

0 komentar:

Posting Komentar

 

Caikers Family Official Blog. Design By: SkinCorner