Rabu, 02 Maret 2011

CINTA YANG TAK KAU SADARI (Cerpen by Rath)

Seorang gadis belia berjalan beriringan dengan seorang wanita paruh baya. Lorong-lorong rumah sakit mereka lewati. Bau-bauan khas rumah sakit pun telah tercium sedari tadi. Mereka berdua berbelok menuju ke sebuah ruangan dengan plakat RUANG KEMOTERAPHY.

Sang wanita paruh baya menyerahkan tas yang sedari tadi bertengger indah di bahunya kepada gadis belia tersebut. Gadis belia tersebut menerimanya dengan tersenyum manis sekali.

“Tante kemoteraphy dulu ya, Ik. Jangan ke mana-mana!” pesan wanita paruh baya tersebut.

Sang gadis belia mengangguk, “Iya, tante. Oik ke tempat biasa aja, ya. Ntar tante nyari Oiknya di sana aja” pesan gadis belia itu, Oik.

Wanita paruh baya tadi melenggang masuk ke dalam ruang kemoteraphy. Sedangkan Oik, berangsur menghilang, tertelan oleh puluhan punggung-punggung lain yang memadati lorong rumah sakit siang ini.

Oik kembali berbelok dan membuka pagar pembatas. Hamparan rerumputan tergelar indah di hadapannya. Oik menghirup udaranya dalam-dalam. Ini Jakarta! Jarang sekali ada tempat yang masih terpelihara keasriannya sepert ini!

Oik berjalan masuk ke dalam taman buatan tersebut. Seperti biasa, tempat ini sepi. Oik kembali melangkah menyusuri pepohonan pinus di hadapannya. Ia berjalan menuju ke sebuah telaga yang letaknya tepat di tengah-tengah taman.

“Eh, siapa di sana?” teriak Oik.

Kedua bola matanya menangkap sesosok laki-laki yang sedang terduduk di bibir telaga seraya tersenyum kecut ke arahnya. Tangan kanannya melambai ke arah Oik. Seolah menyuruh Oik agar menghampirinya dan duduk di sampingnya.

“Aku Alvin.. Kau?”

“Oik.. Mengapa kau bisa ada di sini?”

“Maksudmu?”

“Kau pasien di sini, bukan? Lalu, mengapa tak ada seorang suster pun yang mendampingimu di sini?”

Alvin tertawa renyah, “Suster? Aku menyuruhnya untuk jauh-jauh dariku. Aku sedang tak ingin diganggu”

“Benarkah? Aku pergi saja kalau begitu” Oik bangkit dari duduknya dan akan beranjak pergi.

“Ah, mau ke mana kau?” seru Alvin. Tangannya mencekal lengan Oik yang akan beranjak pergi, “Tetaplah di sini. Temani aku!”

Dahi Oik berkerut heran. Tapi akhirnya, ia berangsur duduk kembali di samping Alvin, “Bukannya kau sedang tak ingin diganggu?” Tanya Oik.

“Memang. Tapi tidak untukmu. Aku hanya malas dengan suster-suster di sini. Mereka terlalu berlebihan menanganiku. Hanya karena aku adalah cucu dari pemilik rumah sakit ini” celoteh Alvin.

Oik kembali terbelalak kaget. Bagaimana tidak? Laki-laki yang sekarang berada di sampingnya ini adalah cucu dari pemilik rumah sakit terbesar dan terbagus di Jakarta!

Tampak dari kejauhan seorang wanita paruh baya mengulum senyum tipis, “Oik! Ayo kita pulang!” teriaknya dari kejauhan.

Oik, yang merasa namanya dipanggil, menoleh ke arah sumber suara. Ia segera mengusap puncak kepala Alvin sekilas dan berbalik, menghampiri tantenya.

Oik kembali mengedik kea rah Alvin ketika ia menutup pagar pembatas, “Alvin! Get well soon, ya!” serunya riang. Alvin menganggukkan kepalanya.

Oik kembali kepada tantenya, “Loh, tante, kok teraphinya udahan sih?”

“Iya, Ik. Diundur jadi ntar malem. Dokternya ada operasi mendadak. Barusan ada orang kecelakaan. Parah banget keadaannya” tante Oik bergidik ngeri membayangkan keadaan korban kecelakaan tadi.

Oik melirik ke sebuah pasien rumah sakit yang didorong menggunakan kursi roda oleh suster. Oik kembali pada tantenya, “Oh.. iya deh, tante. Ntar malem Oik temenin ke sini lagi, ya?”

“Boleh. Oh iya, laki-laki tadi, itu siapa?”

“Itu Alvin, tante. Cucunya pemilik rumah sakit ini yang lagi opname gitu deh”

“Pacar kamu, Ik?” goda tantenya.

Pipi Oik bersemu merah, “Tante mah. Bukan kok!”

^^^

Oik turun dari mobilnya seraya menggandeng tangan tantenya. Mereka baru saja tiba di kediaman tante Oik. Oik memang tinggal bersama tentenya. Kedua orang tuanya tinggal di Salatiga. Oik lebih memilih untuk menemani tantenya yang sakit-sakitan ini di Jakarta.

“Pelan-pelan, tante, turunnya” peringat Oik. Tantenya tersenyum tipis.

Tantenya baru menyadari sesuatu. Dan sepertinya, Oik belum menyadarinya. Tantenya mengedikkan bahu ke arah teras rumah. Oik pun mengikuti arah pandangan tentenya. Seorang laki-laki seumuran Oik berdiri di sana. Tangan kanannya menenteng sebuah buket mawar merah.

“Hey! Cakka!” sapa Oik riang. Laki-laki tadi kembali mengeluarkan senyum mautnya.

“Udah, Ik, ampirin itu Cakka. Tante bisa ke kamar sendiri kok” ujar tantenya.

“Udah, ga apa-apa kok---”

“Sssstt! Udah ya, tante ga mau ganggu acaranya anak muda. Tante ke kamar aja.” guraunya, “Cakka, nitip Oik ya!” tante Oik pun berlalu meninggalkan kedua remaja belia tersebut.

“Cakk, di taman belakang aja, yuk?” ajak Oik. Cakka hanya menganggukkan kepalanya.

Oik menggandeng lengan Cakka dan menariknya menuju taman belakang rumah. Di sana ada sebuah kolam renang. Oik mengajak Cakka untuk duduk di tepinya. Keduanya pun mencelupkan kaki masing-masing ke dalam kolam.

Hening sejenak sampai Cakka mengingat sesuatu.

“Eh, Ik, aku lupa. Ini, buat kamu” ujar Cakka. Ia menyerahkan sebuket mawar merah tadi kepada Oik.

Oik menerimanya dengan senang hati, “Buat aku? Hehe, kirain buat tante” canda Oik.

Cakka geleng-geleng kepala. Ia segera menarik Oik ke dalam pelukannya. Kembali hening.

“Eh ya, Cakk, ngapain ke sini? Emang di Salatiga lagi libur ya SMA-nya?” tanya Oik polos.

“Iya, Ik. Ya udah, aku ke sini aja. Kangen sama kamu”

“Bisa aja kamu, haha. Gimana di Salatiga setelah aku pindah sini? Udah dapet sahabat baru?”

“Ga. Sahabatku tetep kamu kok”

“Cakka gombal ish! Kalau cewek? Punya, kan? Pasti dong.. Masa ga ada yang mau sama cowok cakep kayak kamu? Ga mungkin”

“Cewek? Ga punya kok” jawab Cakka datar. “Tadi bilang apa? ‘Masa ga ada cewek yang mau sama cowok cakep kayak kamu?’ ? Kayak aku, maksudnya? Secara ga langsung berarti kamu bilang kalau aku cakep”

“Lah? Kamu, kan, emang cakep!” seru Oik dengan polosnya.

Wajah Cakka memerah. Cakka segera mengalihkan pandangannya. Ide jahil muncul di kepalanya. Cakka pun menyirat-nyiratkan air kolam kepada Oik. Oik membalasnya. Jadilah keduanya basah kuyup karena saling menyiratkan air.

^^^

Keduanya sedang berada di kamar Oik. Oik masih sibuk membongkar almarinya. Mencarikan sebuah handuk untuk Cakka. Cakka duduk di bibir kasur Oik sambil menatap punggung sahabatnya itu.

“Jadi Cakk, kamu nginep sini?”

Cakka menganggukkan kepalanya, “Iya dong.. Tapi besok sore udah balik lagi ke Salatiga”

“Oh.. Eh, ntar malem jalan yuk? Mumpung Sabtu nih!” ajak Oik dengan semangat.

“Ga ah, Ik. Dikirain orang pacaran ntar. Ga enak” tolak Cakka halus.

Oik membalikkan badannya. Cakka duduk sambil menatapnya. Oik mengangsurkan sebuah handuk berwarna ungu cerah kepada Cakka. Setelah itu, Oik duduk di samping Cakka.

“Biarin, Cakk. Kita, kan, sahabat. Biar aja mereka ngira kalau kita pacaran”

“Ah, ntar cowok kamu marah lagi”

“Apaan sih, Cakka!” seru Oik, pipinya memerah.

Cakka tertegun. Jadi Oik sudah punya pacar? Ah Oik, andai kamu tahu. Eh? Oik? Andai dia tahu apa? Ga, ga! Kita, kan, sahabat. Sahabat selamanya jadi sahabat. Ga bakalan lebih. Mana mungkin Oik mau sama aku?

“Ehm, Ik, emang siapa?”

“Siapa apanya?”

“Cowok itu, cowok kamu”

“Aku ga punya cowok, Cakka” perlahan Oik membaringkan tubuhnya.

Cakka pun ikut membaringkan tubuhnya di sebelah Oik, “Tapi kalau orang yang kamu suka, ada dong?”

“Eh? Gimana ya? Ada sih, hihi”

Jlep! Wajah Cakka mendadak pucat. Hatinya sakit, “Ehm, siapa dia?”

“Aku baru ketemu dia pagi tadi di rumah sakit. Pasien di sana sekaligus cucu dari pemiliknya”

“Oh..”

“Iya, hehe.. Kenapa, Cakk?”

“Ga kok.. Love at the first sight ya, Ik?”

“Ga juga. Cuman tertarik aja. Kalau kamu?”

“Hah? Aku? Emang aku kenapa?”

“Ga ada gitu cewek yang kamu suka?”

“Ada sih, Ik..” wajah Cakka mendadak memerah padam. Bagaimana tidak? Perempuan yang telah membuatnya jatuh cinta sudah ada di sampingnya. Dan bodohnya, dia tak menyadarinya!

“Dia itu manis, cantik, mungil, baik. Tapi kayaknya dia ga suka, Ik, sama aku” lanjut Cakka dengan lesu.

Oik menepuk punggungnya pelan, “Sabar, ya! Cewek, kan, bukan cumin dia. Masih banyak yang lain. Apalagi yang suka sama kamu juga banyak” nasihat Oik.

Oik, Oik, andai kamu tahu kalau perempuan itu adalah kamu. Cakka kembali tersenyum miris.

Terdengar suara pintu dibuka. Cakka dan Oik segera melongok keluar kamar. Rupanya tente Oik. Beliau sudah berpakaian rapi. Beliau berjalan ke kamar Oik, menghampiri keponakan dan sahabatnya itu.

“Ik, tante ke Rumah Sakit dulu. Kamu baik-baik, ya, sama Cakka” pamitnya.

“Loh, tante mau kemo? Oik temenin, ya?” tawar Oik.

“Ga usah. Cakka nanti sendirian di rumah” tolak tantenya halus.

Cakka segera bangkit dari tidurnya, begitupula Oik, “Ga kenapa-kenapa kok, tante. Aku sama Oik sekalian mau jalan-jalan. Ya, kan, Ik?”

Oik menganggukkan kepalanya dengan semangat. Tangan kanannnya melingkar di leher Cakka, “Iya, tante. Jadi, nanti pas tante kemo, aku sama Cakka mau jalan-jalan. Tante ntar telpon aja biar kami jemput. Gimana, tante?”

Akhirnya tantenya menganggukkan kepala. Oik segera mengambil cardigan berwarna pink miliknya. Mereka bertiga melenggang menuju mobil. Cakka yang menyetir, Oik duduk di sebelahnya. Sedangkan tante Oik, duduk di belakang.

“Cakka nginep sini, ya?” tanya tante Oik, membuka pembicaraan.

“Iya, tante. Maaf ngerepotin” Cakka membalas sambil tetap focus ke jalanan.

“Ga kok. Biar Oik ada temennya” tantenya menyunggingkan senyum tipis.

Mobil yang dikemudikan Cakka tekah tiba di pelataran sebuah rumah sakit. Cakka mematikan mesin mobilnya untuk beberapa saat. Cakka turun dari mobil dan beralih membukakan pintu mobil untuk tante Oik.

“Ik, tante kemo dulu, ya” pamit tantenya.

Oik menganggukkan kepalanya seraya tersenyum tipis. Cakka pun menutup pintu mobil dan kembali ke kursi kemudia. Mobil kembali melesat, membelah jalanan kota Jakarta malam itu.

“Jadi, kita mau ke mana, Ik?”

Oik mengedik ke arah Cakka, “Terserah kamu aja. Kamu lagi pingin ke mana?”

“Ke coffee shop aja gimana? Lagi males ngapa-ngapain soalnya”

“Ga ah! Mumpung kamu di Jakarta nih! Masa cuman ke coffee shop sih? Ke mana kek gitu!”

“Oik mah, ntar kita dikirain pacaran! Ga, ga, aku ga mau”

Oik tersenyum jahil. Ia pun melingkarkan tangan kanannya di leher Cakka, “Loh, Cakka? Bukannya kita emang pacaran, ya?” goda Oik. Setelah itu, wajah Cakka berubah merah. Oik tertawa sepuas-puasnya.

Mobil berbelok ke arah Kemang. Cakka segera mengemudikan mobilnya memasukki sebuah café di sana. Oik sempat menolak, ia lebih memilih untuk berjalan-jalan ke mall dan menonton sebuah film ketimbang makan malan di café.

Cakka menyerah, “Iya, Ik, habis makan kita baru nonton. Oke? Di Blitz Megaplex atau Planet Hollywood?”

Oik bersorak riang layaknya anak kecil yang mendapatkan boneka disaat ulang tahunnya, “Planet Hollywood aja. Enakan di sana! Tapi pakai syarat, ya!”

“Syarat apaan?” tanya Cakka.

“Aku yang bayarin! Biar impas. Kan, kamu yang bayarin makan. Jadinya, aku yang bayarin nonton. Oke?”

Baru saja Cakka akan menolak, Oik sudah membuka kembali mulutnya “Ga pakai tapi! Ayo masuk! Kita dinner dan setelah itu, nonton!” Oik menarik lengan Cakka masuk ke dalam café.

Seorang pelayan café menyambut kedatangan Cakka dan Oik dengan manis. Pelayan tersebut mengantar mereka berdua ke sebuah meja yang masih kosong. Agak ke sudut café memang. Tapi suasanya begitu tenang. Atau, lebih bisa dibilang, romantis.

Pelayan café tersebut meninggalkan Cakka dan Oik. Mengambil daftar menu, dalihnya. Cakka dan Oik jadi salting sendiri. Pasalnya, para pengunjung café tersebut adalah pasangan-pasangan.

“Cakka sih! Ngapain pakai acara ke café beginian sih? Isinya, kan, orang pacaran semua!” bisik Oik. Matanya awas melihat ke sekeliling.

Cakka mencondongkan tubuhnya ke Oik, berbalik membisikkan sesuatu “Kamu sih! Aku kira ini café biasa! Mana aku tahu kalau ini café buat pacaran. Kamu sendiri, yang udah lumayan lama tinggal di Jakarta, kenapa bisa ga tahu?” Cakka berbalik menyalahkan Oik.


“Permisi, mbak, mas! Mau pesan apa?” seorang pelayan wanita menghentikkan acara saling menyalahkan Cakka dan Oik.

Pelayan tersebut menyerahkan sebuah daftar menu masing-masing ke Oik dan Cakka. Keduanya terlihat membaca setiap kata yang tertera di sana dengan serius. Pelayan tersebut masih sabar menunggu Cakka dan Oik membuka mulutnya.

“Tenderloin Steak sama Hot Chocolate” pesan Cakka dan Oik berbarengan.

Pelayan tadi menahan senyum sambil mencatat pesanan Cakka dan Oik, “Oke, dua Tenderloin Steak dan dua Hot Chocolate. Silahkan ditunggu sebentar” pelayan itu pun berlalu pergi dari hadapan Cakka dan Oik.

Sejenak, mereka berdua masih saling diam. Sampai akhirnya, “Huakakakakakakakakak!” keduanya tertawa sangat kencang.

Beberapa pengunjung yang merasa terganggu oleh laju tawa Cakka dan Oik pun menoleh ke keduanya dengan wajah menyeramkan. Cakka dan Oik berhenti tertawa saat itu juga. Suasana kembali hening. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Jadi, kamu masih tetep suka sama Tenderloin Steak dan Hot Chocolate?” tanya keduanya, kembali bersamaan seperti tadi.

Keduanya tersenyum simpul menyadari kekompakannya, “Kita emang sehati!” seru keduanya. Kembali bersamaan untuk yang kesekian kalinya.

Makanan pesanan mereka datang. Sang pelayan meletakkan pesanan tersebut di atas meja. Sebelum melenggang pergi, pelayan tersebut sempat berbicara “Spesial untuk pasangan yang sangat kompak seperti kalian” pelayan itu mengedikkan sebelah matanya dan pergi menjauh.

Cakka dan Oik cengo. Keduanya pun makan dalam diam.

^^^

“Yah, Cakka, emang harus pulang sekarang? Ga bisa diundur, gitu?” tanya Oik.

Keduanya sekarang sedang berada di kamar tamu rumah tabte Oik yang sementara waktu ditempati oleh Cakka. Oik membantu Cakka mengepak barangnya. Selesai. Cakka menurunkan kopernya dari atas kasur dan melenggang keluar kamar, diikuti oleh Oik di belakangnya.

“Ga bisa dong, Oik. Kan, aku udah pesen tiket pesawat sebelumnya” jelas Cakka.

Sebuah taxi sudah menunggu di depan rumah Oik. Oik mengantarkan Cakka sampai depan rumahnya. Sopir taxi tadi membantu Cakka menaikkan kopernya. Cakka berhenti sejenak dan sekarang, ia berhadapan dengan Oik.

“Cakka, sini aja dulu. Temenin aku” rengek Oik.

Cakka segera menarik sahabat karibnya tersebut ke dalam pelukannya, “Udah, besok-besok, kan, aku masih bisa ke sini lagi. Kalau ga, kamu yang gentian pulang ke Salatiga. Kita masih bisa telponan juga, kan?” hibur Cakka.

“Janji, ya? Ntar kalau udah sampai Salatiga langsung telpon Oik, ya?”

“Janji!” Cakka mengulum senyum manisnya.

Keduanya saling menautkan jari kelingking masing-masing, “Oh iya, ada yang ketinggalan!” seru Cakka.

“Apaan?” tanya Oik. Dahinya berkerut bingung.

“Sini, sini!” suruh Cakka.

Dengan bingung, Oik kembali mendekatkan tubuhnya ke Cakka. Ia kira Cakka akan membisikkannya sesuatu. Ternyata salah. Cakka kembali merangkulnya dan mencium keningnya pelan.

Setelah itu, Cakka kembali melepaskan rangkulannya dan berjalan masuk ke dalam taxi. Mesin taxi menyala. Cakka melambaikan tangan dari dalam taxi. Sepersekian detik kemudian, taxi sudah melesat menuju bandara.

Oik masuk ke dalam rumah tantenya dan mendapati tantenya sudah duduk manis di ruang tamu dengan tas jinjingnya. Oik menghampiri tantenya tersebut.

“Loh, tante mau ke mana? Oik anter aja, ya?” tanya Oik.

Sekarang giliran tantenya yang bingung. Tumben sekali Oik lupa dengan jadwalnya? Oh, atau mungkin, Oik masih kepikiran dengan Cakka yang baru saja pulang. Tantenya mengulum senyum tipis.

“Kamu lupa? Tante, kan, ada jadwal kemo sekarang!” ujarnya.

Oik menepuk jidatnya pelan. Ia segera berlari kecil menuju kamarnya. Tak berapa lama kemudian, ia keluar dari kamarnya dengan sudah mengenakan floral dress bernuansa pink yang jga senada dengan flat shoes yang ia gunakan.

“Ayo, berangkat sekarang aja, tante” ajaknya.

Keduanya melenggang menuju garasi. Sopir mereka sudah menunggunya. Mereka berdua masuk ke dalam mobil mobil melesat menuju rumah sakit yang sama dengan yang kemarin.

^^^

seorang suster berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit dengan nampan berisi makanan serta minuman di tangannya. Kali ini ia berbelok kanan. Dengan sanati, ia membuka kenop pintu ruang perawatan yang berlabel VVIP.

Ia masuk ke dalam dan meletakkan nampan tadi di meja sebelah ranjang pasien. Seorang laki-laki terbaring di sana. Matanya memandang kosong ke arah jendela. Suster itu mengeluarkan beberapa tablet obat dari dalam sakunya dan ikut meletakkannya di meja tadi.

“Alvin, makan dulu, yuk?” bujuknya.

Laki-laki itu, Alvin, mengedik ke arah suster tadi. Beberapa detik kemudian, ia kembali memandang kosong jendelanya, “Ga ah, suster. Males, ga nafsu” tolaknya dengan nada yang sangat datar.

Suster itu hanya geleng-geleng kepala melihat reaksi datar Alvin. Suster itu mengambil piring di atas nampan dan berusaha menyuapi Alvin, “Ga mau, suster!” bentak Alvin.

Suster itu kembali meletakkan piring di tangannya, “Terus Alvin maunya apa?”

Alvin bangkit. Ia duduk di tepi ranjangnya seraya menatap riang ke arah suster itu, “Alvin mau makan, tapi ada syaratnya!”

“Syarat apa?”

“Alvin maunya makan ditemenin sama Oik. Alvin ga mau makan kalau ga ada Oik”

“Oik siapa, Vin? Suster, kan, ga kenal” dalihnya.

“Oik ya Oik, suster! Yang Alvin tahu, Oik itu punya tante. Oik suka nemenin tantenya kemoteraphy di sini. Kalau lagi bosen nunggu tantenya, Oik suka ke taman belakang. Alvin ga mau tahu, suster harus cari Oik! Kalau ga ada Oik, Alvin ga mau makan!” ancamnya.

Suster itu menganggukkan kepalanya pasrah. Ia segera berjalan keluar dari ruang rawat Alvin dengan setengah jengkel, “Dasar Alvin! Banyak banget maunya! Coba aja dia ga sakit leukimia, aku ga bakalan mau ngerawat dia!” dumelnya.

^^^

“Ik, tante kemoteraphy dulu, ya? Kamu tunggu di tempat biasa, kan?”

Oik hanya mengangguk. Kemudian, tantenya masuk ke dalam ruang kemoteraphy. Oik berbalik dan berjalan menuju taman yang kemarin juga ia kunjungi. Untung saja taman sedang sepi.

Oik menghirup udaranya dalam-dalam. Ia duduk di salah satu bangku taman yang ada. Ia memejamkan matanya untuk beberapa saat. Ia terbangun oleh suara seseorang.

“Permisi, kamu Oik?” tanya wanita dengan seragam suster itu.

Oik memandangnya bingung. Tapi akhirnya, ia menganggukkan kepalanya.

“Boleh ikut saya? Alvin meminta saya untuk mencarimu dan mengantarkannya ke ruang rawatnya. Ia tak mau makan kalau tak ada kamu” bujuk sang suster.

Oik tersentak mendengar nama Alvin disebut-sebut. Jantungnya berdegup cepat. Cepat-cepat ia menganggukkan kepalanya. Suster tersebut tersenyum senang. Keduanya bangkit dan berjalan mengeluari taman itu.

“Suster, suster! Aku boleh tanya?” tanya Oik takut-takut.

Suster itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Ia melirik Oik, “Boleh. Mau tanya apa?” balasnya dengan ramah.

“Sebenarnya Alvin sakit apa sih, Sus?” tanya Oik kembali.

Suster tadi mendadak murung. Ia kembali melirik Oik, “Alvin.. Terkena leukimia, kanker darah. Sudah stadium akhir” lirihnya.

Kaki Oik terasa lemas. Sekuat mungkin ia menahan agar bulir-bulir itu tak jatuh dari kedua kelopak matanya, “Dokter pernah bilang ga, Sus, umur Alvin tinggal berapa bulan lagi? Oh, maksud aku, biasanya, kan, memang ada serangkaian tes untuk penderita leukimia seperti Alvin”

Mereka bedua telah sampai di depan ruang rawat Alvin. Suster itu sudah akan membuka pintunya, “Kata dokter, umur Alvin memang tak lama. Dan sesuai perkiraan dokter, hanya tinggal beberapa hari” sahutnya.

Pintu terbuka. Alvin melongok dari dalam. Oik masih berada di belakang punggung suster itu.

“Oik mana, Sus? Kan, aku sudah bilang kalau aku ga mau makan tanpa Oik”

Oik cepat-cepat menghampiri Alvin setelah terlebih dahulu ia hapus air matanya, “Cari aku, Vin?” sela Oik.

Suster tadi berpamitan. Tinggalah Alvin dan Oik di sini. Oik segera duduk di kursi sebelah ranjang Alvin. Ia melihat makanan yang masih utuh di atas meja. Oik mengambilnya.

“Kamu belum makan, ya, Vin?”

Alvin menggelengkan kepalanya, “Aku suapin aja, ya?” tawar Oik.

Alvin segera menganggukkan kepalanya dengan bersemangat. Keduanya lalu larut dalam tawa dan canda. Sejenak Alvin melupakan soal penyakitnya. Dan sejenak, Oik melupakan penuturan suster tadi soal umur Alvin yang tak panjang lagi.

‘Pantas saja Alvin terlihat sangat kurus dan pucat’ ujar Oik dalam hati.

^^^

Oik menghempaskan tubuhnya di ranjang. Bulir-bulir bening itu sudah bergantian menetes. Tiba-tiba saja ponselnya bergetar. Ia melihat layarnya ponselnya. Nama dan nomor Cakka muncul. Ia hapus bulir-bulir itu sebelum mengangkat panggilan dari Cakka.

“.....Iya, kenapa, Cakk?.....”

“.....Ga kok, aku ga lagi nangis.....”

“.....Aduh, siapa yang bohong sih?.....”

“.....Hehe, aku memang ga bakat bohong, ya?.....”

“.....Iya, iya, aku cerita.....”

“.....Ya gitu. Ternyata Alvin kena leukimia.....”

“.....Udah stadium akhir pula.....”

“.....Kamu lupa Alvin? Itu loh, cowok yang waktu itu aku ceritain.....”

“.....Iya, kamu istirahat aja.....”

Klik! Panggilan diputus. Oik kembali merebahkan tubuh mungilnya di kasur. Ia terlalu capek hari ini. Tak lama kemudian, ia sudah terlelap.

^^^

Cakka baru saja tiba di rumahnya. Ia segera membereskan barang bawaannya tadi dan meletakkannya di kamar. Rumahnya sedang sepi. Ia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.

Lima belas menit kemudian, Cakka keluar dari kamar mandi dengan boxer ungu miliknya dan handuk yang masih berada di bahunya. Ia berjalan menuju kasurnya. Ia ambil ponselnya dan kemudian, ia terlarut dalam pembicaraan di telpon.

“.....Halo, Oik?.....”

“.....Eh, kok suara kamu gitu sih? Nangis, ya?.....”

“.....Jangan bohong deh.....”

“.....Masih ngeles, lagi!.....”

“.....Iya, cerita deh sama aku.....”

“.....Ya udah, ayo cerita!.....”

“.....Emang udah stadium berapa?.....”

“.....Oh ya, emang Alvin siapa sih?.....”

“.....Ik, udahan, ya. Aku capek.....”

Cakka mendadak memanas ketika ia tahu bahwa Alvin-lah yang sudah membuat Oik tertarik. Ia segera beralasan pada Oik bahwa dirinya capek dan akan istirahat. Padahal itu hanya alibinya saja agar Oik tak terus-terusan membicarakan Alvin.

^^^

Pagi-pagi sekali Oik sudah dibangunkan dengan suara-suara berisik dari kamar tantenya. Oik terjaga. Ia segera berlari menuju kamar tantenya. Sudah ada pembantu dan sopirnya di depan kamar tantenya.

“Neng Oik, pintunya ga bisa dibuka” ujar salah satu pembantunya.

Oik kembali cemas. Ia takut terjadi apa-apa dengan tantenya itu, “Pak, dobrak aja pintunya!” komando Oik.

Sopir Oik pun segera mendobraknya. Oik berteriak kaget. Tantenya sudah terbujur kaku di dekat kasurnya. Wajanya pun pucat. Sopir Oik pun segera menggotongnya ke mobil. Dan kemudian, melesat munuju rumah sakit.

Setibanya di rumah sakit, tante Oik dilarikan menuju ICU. Oik menunggunya di luar. Tak lama, sebuah ranjang pasien melewatinya. Ia merasa familiar dengan pasien yang terbujur lemah di ranjang tadi.

Pasien itu dilarikan pula ke ICU, tepat di sebelah ICU tantenya. Kebetulan, seorang suster masih berada tak jauh darinya. Oik segera menghampirinya.

“Permisi, Suster. Itu tadi, Alvin bukan?” tanya Oik dengan canggung.

Suster itu menganggukkan kepalanya, “ia kritis. Umurnya memang tak lama lagi” ujar suster itu. “Oke, saya pergi dulu. Masih ada pasien lain. Permisi..” pamitnya.

Oik kembali terduduk lemas di bangku rumah sakit.

“Tuhan, jangan bawa tante dan Alvin. Aku sayang mereka, Tuhan” gumamnya.

^^^

Siang itu, Oik berada di sebuah acara pemakaman. Wajahnya sembab. Ia menatap nisan di dekatnya dengan tatapan pilu. Tantenya sudah tenang di sana. Begitupula Alvin. Mama dan papanya pun ikut dalam acara pemakaman ini.

Mamanya merangkul Oik dari samping, “Sudahlah, Oik. Tantemu sudah tenang di sana. Kamu kembali ke Salatiga saja, ya?”

Oik menganggukkan kepalanya dengan lemas. Karena hari yang juga sudah sore, mereka semua kembali ke rumah tante Oik. Malamnya, mereka kembali ke Salatiga dengan menggunakan pesawat.

^^^

Cakka menatap sedih ke seorang gadis mungil yang menatap kosong kolam ikan di depannya. Ia hampiri gadis tadi dan duduk di sebelahnya. Tiba-tiba saja gadis itu menyenderkan kepalanya di bahunya.

“Cakka, Alvin udah pergi” ujar Oik dengan parau.

“Jangan sedih. Alvin pasti ga mau lihat kamu sedih”

“Tapi aku sayang dia, Cakka”

“Masih banyak orang yang sayang sama kamu. Jangan kecewain mereka dengan sikap kamu yang berubah sedrastis ini”

“Aku ga berubah, Cakka!”

“Kamu berubah, Ik. Kamu udah ga kayak sahabat aku”

“Aku tetep sahabat kamu, Cakka” kata Oik dengan lirih.

Cakka kembali menarik gadis itu ke dalam pelukannya dan membiarkannya menangis tersedu-sedu. Ia tahu bahwa ia cemburu dengan Alvin. Alvin masih ada di hati gadis dalam pelukannya itu walaupun ia telah tiada.

^^^

Sepuluh tahun kemudian...

“Ayah, Ayah, Bunda ngapain di dalam? Lama sekali!” seorang gadis kecil berumur empat tahun menghambur ke dalam pelukan ornag yang ia panggil ‘Ayah’ tadi.

“Udah, Lani tunggu saja. Setelah ini, Lani akan punya adik” jawab laki-laki itu.

Tak lama, seorang suster keluar dengan membawa seorang bayi mungil dalam pelukannya. Ia menyerahkannya pada laki-laki tersebut, “Bapak sudah boleh masuk. Istri bapak juga sudah mulai sadar” pesannya.

Laki-laki itu menggendong bayi itu dan mengajak gadis kecil tadi masuk ke dalam. Seorang wanita manis terbaring lemah di ranjang rumah sakit bersalin ini. Laki-laki itu menghampirinya.

“Bunda!” seru gadis mungil tadi.

Wanita manis itu tersenyum, “Kenapa, Lani?” tanyanya.

Gadis mungil itu tak menjawab sepatah kata pun. Ia segera menghambur dalam pelukany bundanya.

“Hey, hey! Bunda masih lemas!” tegur laki-laki yang duduk di tepi ranjangnya.

“Udah.. It’s fine, Cakka” lerainya.

Laki-laki itu, Cakka, menghela napas sejenak, “Ya udah.. Jadi, namanya siapa?”

“Apanya sih, Cakka?”

“Ini.. Yang baru saja lahir”

“Terserah kamu, haha”

^^^

Kadang kala, orang yang kamu cintai adalah orang yang paling

menyakiti hatimu.....

Dan kadang kala teman yang membawamu di dalam pelukannya.....

Dan menangis bersamamu adalah cinta yang tidak kamu sadari.....

0 komentar:

Posting Komentar

 

Caikers Family Official Blog. Design By: SkinCorner